رَوْضَةُ الأَنْوَار فِي سِيْرَةِ النَّبِيِّ المُختَارِ
Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
بسم الله الرحمن الرحيم
Mukadimah
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik rasul-Nya, penutup para nabi — Muhammad, yang jujur dan terpercaya, yang diutus kepada seluruh manusia, baik yang berkulit merah maupun hitam.
Juga kepada keluarganya dan para sahabatnya yang menjadi pembawa panji agama, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik — para imam, para pembimbing, para dai, orang-orang bertakwa, dan orang-orang saleh — serta kepada setiap orang yang menempuh jalan mereka hingga Hari Kiamat.
Adapun setelah itu:
#. (SWT : Subḥānahu wa Ta‘ālā - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ - "Maha Suci dan Maha Tinggi Allah."]
#. [SAW : ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam - صلى الله عليه وسلم - "Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepadanya."]
Perhatian terhadap kajian sirah Nabi ﷺ ini telah banyak diberikan sejak zaman dahulu hingga masa kini, baik dalam bentuk penelitian, penulisan, maupun penyusunan karya. Hal itu karena pekerjaan tersebut bersumber dari inti keimanan, serta dari naluri cinta dan pengabdian yang tulus kepada Rasulullah ﷺ.
Namun demikian, kebanyakan orang yang menulis atau meneliti tentangnya tidak memberikan haknya secara layak dalam hal penelitian dan verifikasi. Mereka sering memasukkan ke dalamnya hal-hal yang sesuai dengan pemikiran, kecenderungan, dan perasaan mereka sendiri, meskipun tidak memiliki dasar kebenaran atau keabsahan. Bahkan, sebagian dari apa yang mereka sampaikan bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok agama dan keluar dari batas-batas akal yang sehat.
Berdasarkan hal tersebut, sebagian saudara menyarankan kepadaku untuk menulis sebuah kitab baru dengan ukuran sedang, yang di dalamnya aku himpun hanya hal-hal yang sahih dan diakui oleh para ulama terkemuka dalam bidang ini, dengan tetap memperhatikan tingkat pemahaman para pelajar muda dan masyarakat umum. Aku pun berusaha menghindari sikap berlebihan maupun penyimpangan.
Maka aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik dan bimbingan, lalu aku mulai menyusun karya yang dimaksud, dengan bersandar kepada Al-Qur’an al-Karim dan tafsir-tafsirnya yang terpercaya, kemudian kepada kitab-kitab hadis dan sirah Nabi, seraya mengambil manfaat dari berbagai petunjuk dan bukti internal yang ada di dalamnya, serta dukungan dari bukti-bukti eksternal yang menguatkannya.
Aku juga memilih agar gaya bahasanya diambil langsung dari riwayat-riwayat dan perkataan ulama terdahulu sejauh mungkin, dengan tetap mengutamakan ringkasan dan pemilihan yang tepat.
Aku berharap semoga aku telah memenuhi tujuan tersebut dengan sebaik mungkin, dan aku berdoa kepada Allah Yang Mahasuci agar menjadikan karya ini bermanfaat bagi kaum Muslimin serta ikhlas semata-mata karena-Nya.
Dan shalawat, berkah, serta salam semoga tercurah kepada sebaik-baik makhluk Allah, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Muhammad ﷺ: Asal-usulnya, Masa Pertumbuhannya, dan Keadaannya Sebelum Kenabian
Nasab (garis keturunan) yang mulia:
Dan ‘Adnān merupakan keturunan dari Ismā‘īl bin Ibrāhīm -‘alaihimas-salām- menurut kesepakatan para ulama, namun jumlah dan nama-nama leluhur yang berada di antara ‘Adnān dan Ismā‘īl -‘alaihissalām- tidak diketahui secara pasti.
#. AS : 'alayhi salam "عليه السلام" - "Semoga Allah memberikan keselamatan kepadanya"
Adapun ibu Nabi ﷺ adalah Āminah binti Wahb bin ‘Abd Manāf bin Zuhrah bin Kilāb, sedangkan Kilāb adalah kakek kelima Nabi ﷺ dari jalur ayahnya. Maka ayah dan ibunya berasal dari satu keturunan, yaitu bertemu pada Kilāb. Nama aslinya adalah Ḥakīm, namun ada yang mengatakan ‘Urwah, hanya saja ia sering berburu dengan anjing, sehingga dikenal dengan sebutan Kilāb (anjing-anjing).
Suku atau kabilah Nabi Muhammad SAW :
Dan suku beliau ﷺ adalah suku Quraisy, yang dikenal dengan kemuliaan, kedudukan yang tinggi, kemegahan yang asli, dan kesucian tempatnya di antara seluruh bangsa Arab. Nama Quraisy diambil dari gelar Fihr bin Malik atau An-Nadhr bin Kinanah.
Setiap tokoh dari kabilah ini (Quraisy) adalah pemimpin dan bangsawan pada zamannya. Di antara mereka, Qushay (yang nama aslinya adalah Zayd) memiliki keistimewaan yang menonjol.
Dialah orang pertama dari Quraisy yang memegang kekuasaan atas Ka'bah, dengan memegang kunci Ka'bah dan bertanggung jawab atas penjagaan serta pengelolaannya.
Artinya, ia bisa membuka Ka'bah untuk siapa pun dan kapan pun ia kehendaki.
Ia yang memindahkan suku Quraisy ke tengah kota Makkah, dan menempatkan mereka di dalam kota, setelah sebelumnya mereka tinggal di pinggiran dan luar Makkah, tersebar di antara kabilah-kabilah lainnya.
Ia pula yang memulai tradisi siqayah [السقاية] dan rifadah [الرفادة]:
Siqayah adalah penyediaan air minum segar (seperti nabīż "rendaman" dari kurma, madu, atau anggur kering) yang disiapkan dalam wadah kulit besar, untuk diminum oleh jamaah haji.
Rifadah adalah penyediaan makanan bagi jamaah haji selama musim haji.
Qushay juga membangun sebuah rumah di sebelah utara Ka'bah yang dikenal dengan nama Dārun Nadwah, yaitu balai musyawarah Quraisy dan pusat kegiatan sosial mereka.
Di sana tidak ada akad nikah yang diresmikan, dan tidak ada keputusan penting yang diambil, kecuali melalui musyawarah di rumah itu.
Bendera peperangan dan komando militer berada di tangannya, sehingga tidak ada panji perang yang dikibarkan kecuali atas perintahnya.
Ia dikenal sebagai orang yang dermawan, cerdas, dan memiliki pengaruh besar di tengah kaumnya.
Keluarga Nabi Muhammad SAW :
Adapun keluarga beliau ﷺ dikenal dengan nama keluarga Hāsyimiyyah, yaitu keluarga yang dinisbatkan kepada kakeknya yang kedua, Hāsyim.
Hāsyim mewarisi dari Qushay beberapa jabatan penting, yaitu:
Siqayah (penyediaan air minum untuk jamaah haji), dan Rifādah (penyediaan makanan bagi jamaah haji).
Setelah itu, jabatan tersebut diwarisi oleh saudara Hāsyim, yaitu Muṭṭalib, lalu berpindah ke anak-anak keturunan Hāsyim, hingga datangnya Islam—mereka tetap memegang jabatan tersebut.
Hāsyim adalah orang terkemuka pada masanya.
Ia dikenal dengan kebiasaan menghancurkan roti dan mencampurkannya dengan daging untuk dijadikan tsarīd [ثريدًا] (semacam bubur daging dan roti), kemudian meninggalkannya agar bisa dimakan oleh orang-orang.
Karena kebiasaan itu, ia dijuluki Hāsyim, padahal nama aslinya adalah ʿAmru.
Dialah yang menginisiasi dua perjalanan dagang besar Quraisy, yaitu:
Perjalanan musim dingin ke Yaman, dan Perjalanan musim panas ke Syam (Suriah).
Ia juga dikenal dengan gelar Sayyidul-Baṭḥā’ [سيد البطحاء] — Pemuka Tanah Lapang Makkah.
Ia tinggal bersama Salmā untuk beberapa waktu, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Syam, sementara Salmā sedang mengandung.
Hāsyim meninggal di Gaza, wilayah di negeri Palestina, dan Salmā melahirkan seorang anak laki-laki di Madinah, lalu menamainya Syaibah, karena di rambutnya terdapat uban [شيب] sejak kecil.
Anak itu dibesarkan di antara keluarga ibunya di Madinah, dan paman-pamannya di Makkah tidak mengetahui keberadaannya, hingga ia berusia sekitar tujuh atau delapan tahun.
Kemudian paman dari pihak ayahnya, Muṭṭalib, mengetahui hal itu, lalu menjemputnya dan membawanya ke Makkah.
Ketika orang-orang melihat anak itu bersama Muṭṭalib, mereka mengira ia adalah budaknya, maka mereka berkata:
"Ini ‘Abdul Muṭṭalib" (budaknya Muṭṭalib), maka sejak itu ia dikenal dengan nama tersebut (padahal nama aslinya adalah Syaibah).
Abdul Muththalib adalah orang yang paling tampan, paling indah rupanya, dan paling mulia kedudukannya.
Ia meraih kemuliaan di zamannya yang tidak pernah dicapai oleh siapa pun sebelumnya.
Ia adalah pemimpin Quraisy, penguasa kota Makkah, seorang bangsawan yang ditaati, dermawan yang agung, hingga ia dijuluki al-Fayyāḍ karena kelapangan dan kemurahan hatinya.
Ia mengangkat makanan dari mejanya untuk diberikan kepada orang miskin, binatang liar, dan burung-burung, hingga ia dijuluki: “Orang yang memberi makan manusia di dataran, dan binatang serta burung di puncak-puncak gunung.”
Ia juga dimuliakan dengan menggalinya kembali sumur Zamzam, setelah sebelumnya suku Jurhum menimbunnya saat mereka meninggalkan Makkah.
Abdul Muththalib diperintah dalam mimpi untuk menggali kembali sumur tersebut, dan dalam mimpinya diberi petunjuk tentang letaknya.
Pada masa kepemimpinannya terjadi peristiwa Pasukan Gajah. Abrahah Al-Asyram datang dari Yaman bersama enam puluh ribu tentara Abyssinia (Habsyi), disertai beberapa ekor gajah, dengan tujuan menghancurkan Ka'bah. Ketika ia sampai di lembah Muhassir—antara Muzdalifah dan Mina—dan bersiap untuk menyerang Mekah, Allah mengirimkan kepada mereka burung-burung Ababil yang melempari mereka dengan batu-batu dari tanah liat yang terbakar. Maka Allah menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat (hancur lebur). Peristiwa ini terjadi kurang dari dua bulan sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Adapun ayah Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah, maka dia adalah anak Abdul Muththalib yang paling tampan, paling menjaga kehormatan, dan paling dicintai olehnya. Dia juga dikenal sebagai ‘adz-dzabîh’ (yang hampir disembelih). Ceritanya, ketika Abdul Muththalib menggali sumur Zamzam dan tanda-tandanya mulai tampak, kaum Quraisy pun menentangnya. Maka Abdul Muththalib bernazar, bahwa jika Allah memberinya sepuluh orang anak lelaki, lalu mereka tumbuh dewasa dan dapat membelanya, dia akan menyembelih salah satu dari mereka sebagai bentuk pengorbanan. Ketika jumlah itu tercapai, Abdul Muththalib mengundi di antara anak-anaknya, dan undian pun jatuh kepada Abdullah. Maka dia membawanya ke Ka’bah untuk disembelih. Namun Quraisy menahannya, terutama paman-paman dan bibi-bibinya dari pihak ibu. Lalu Abdullah ditebus dengan seratus ekor unta. Maka Nabi ﷺ adalah anak dari dua orang yang hampir disembelih, yaitu Ismail AS, dan Abdullah. Ismail AS, ditebus dengan seekor domba, sedangkan Abdullah ditebus dengan seratus ekor unta."
"Abdul Muththalib memilihkan untuk putranya, Abdullah, seorang istri bernama Aminah binti Wahb. Ia adalah wanita terbaik di antara wanita Quraisy dalam hal kemuliaan dan kedudukan. Ayahnya, Wahb, adalah pemimpin Bani Zuhrah dalam nasab dan kehormatan. Maka berlangsunglah khitbah (lamaran) dan pernikahan, dan Abdullah tinggal bersama Aminah di Makkah. Lalu, Aminah pun mengandung Nabi Muhammad SAW."
"Setelah beberapa waktu, Abdul Muththalib mengutus Abdullah (ayah Nabi Muhammad SAW) ke Yatsrib (Madinah) – atau ke Syam untuk berdagang – lalu ia wafat di Madinah dalam perjalanan pulangnya dari Syam, dan dimakamkan di rumah an-Nabighah adz-Dzubyani. Hal itu terjadi sebelum kelahiran Nabi ﷺ, menurut pendapat yang paling kuat."