Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 1 | IndeX | Lanjut ke bagian 3
Kelahiran Nabi Muhammad SAW :
"Nabi Muhammad SAW dilahirkan di Syi‘ib Bani Hasyim di kota Makkah, pada pagi hari Senin, tanggal 9 — dan ada yang mengatakan tanggal 12 — bulan Rabi‘ul Awwal, pada Tahun Gajah. Tanggal pertama (9 Rabi‘ul Awwal) adalah yang lebih kuat dari sisi keakuratan, sedangkan tanggal kedua (12 Rabi‘ul Awwal) lebih masyhur di kalangan umat. Kelahiran beliau bertepatan dengan tanggal 22 April tahun 571 M."
"Yang menjadi qabilah (bidan) Nabi Muhammad SAW — yaitu wanita yang membantu persalinan ibunya — adalah Asy-Syifā' binti ‘Amr, ibu dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika ibunya melahirkan beliau, keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana di Syam. Ia pun mengirim utusan kepada kakeknya, Abdul Muththalib, untuk memberitahukan kabar gembira tentang kelahiran beliau ﷺ. Maka datanglah Abdul Muththalib dengan penuh kegembiraan dan sukacita, lalu menggendong beliau, membawanya ke dalam Ka‘bah, bersyukur kepada Allah, berdoa, dan memberinya nama Muhammad, dengan harapan agar ia menjadi orang yang terpuji. Abdul Muththalib juga melakukan aqiqah untuknya, menyunat beliau pada hari ketujuh, serta memberi makan orang-orang, sebagaimana kebiasaan orang Arab kala itu."
"Yang menjadi pengasuh Nabi Muhammad SAW adalah Ummu Aiman, Barakah al-Habsyiyyah, mantan budak ayah beliau, Abdullah. Ia tetap hidup hingga masuk Islam, berhijrah, dan wafat lima atau enam bulan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW."
Masa Menyusui :
"Orang pertama yang menyusui Nabi Muhammad SAW setelah ibunya adalah Tsuwaibah, budak perempuan milik Abu Lahab, dengan susu dari anak laki-lakinya yang bernama Masruh. Ia (Tsuwaibah) juga telah menyusui sebelumnya Hamzah bin Abdul Muthalib, dan setelah Nabi Muhammad SAW, ia menyusui Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi. Maka mereka semua adalah saudara sesusuan Nabi Muhammad SAW."
"Abu Lahab telah memerdekakan budaknya ini (Tsuwaibah) karena gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, namun kemudian ia menjadi salah satu musuh terbesar beliau ketika beliau mulai berdakwah menyeru kepada Islam."
Pengasuhan di bani Sa'ad :
"Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab untuk mencari wanita penyusu bagi bayi-bayi mereka di pedalaman, agar mereka terhindar dari penyakit-penyakit kota, sehingga syaraf mereka menjadi kuat, dan agar mereka fasih dalam berbahasa Arab sejak masa bayi mereka."
"Dan Allah menakdirkan datangnya sekelompok wanita dari Bani Sa‘d bin Bakr bin Hawazin untuk mencari bayi-bayi yang akan mereka susui. Nabi Muhammad SAW ditawarkan kepada mereka semua, namun mereka menolak untuk menyusuinya karena beliau seorang yatim. Salah satu wanita—yaitu Halimah binti Abi Dzu’aib—tidak mendapatkan bayi lain, maka ia pun mengambil Nabi Muhammad SAW. Ia pun memperoleh keberkahan besar darinya, yang membuat wanita-wanita lain merasa iri."
"Nama Abi Dzu’aib, ayah Halimah, adalah Abdullah bin Al-Harits. Nama suaminya adalah Al-Harits bin Abdul ‘Uzza. Keduanya berasal dari Bani Sa‘d bin Bakr bin Hawazin. Anak-anak Al-Harits bin Abdul ‘Uzza, yang merupakan saudara sesusuan Nabi ﷺ, adalah: Abdullah, Anisah, dan Judhamah—yaitu Asy-Syaimā’, nama julukannya yang lebih dikenal daripada nama aslinya. Ia biasa mengasuh Nabi Muhammad SAW."
Berkah di rumah pengasuhan:
"Telah mengalir keberkahan kepada penghuni rumah itu selama Nabi Muhammad SAW tinggal bersama mereka. Di antara keberkahan yang diriwayatkan: ketika Halimah datang ke Makkah, saat itu adalah masa paceklik dan kekeringan. Ia membawa seekor keledai betina yang paling lambat jalannya di antara rombongan karena lemah dan kurus. Ia juga membawa seekor unta betina yang tidak mengeluarkan setetes pun susu. Dan ia memiliki seorang anak kecil yang menangis dan menjerit sepanjang malam karena lapar, tidak bisa tidur dan tidak membiarkan kedua orang tuanya tidur."
"Ketika Halimah membawa Nabi Muhammad SAW ke tempat tinggalnya dan meletakkannya di pangkuannya, tiba-tiba kedua payudaranya mengalirkan susu sebanyak yang diinginkan. Maka beliau pun menyusu hingga kenyang, dan anaknya yang kecil juga menyusu hingga kenyang, kemudian keduanya pun tertidur."
"Suaminya pun pergi ke unta betina itu dan mendapati bahwa unta tersebut penuh dengan susu. Maka ia memerah susu darinya, lalu mereka berdua minum hingga kenyang dan puas. Malam itu pun mereka lalui sebagai malam terbaik yang pernah mereka alami."
"Ketika mereka berdua (Halimah dan suaminya) kembali menuju perkampungan Bani Sa‘d, Halimah menaiki keledai betina itu dan membawa serta Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba keledai itu berjalan sangat cepat hingga mendahului seluruh rombongan, dan tidak ada satu pun keledai lain yang mampu menyusulnya."
"Ketika mereka sampai di kampung mereka — yakni kampung Bani Sa‘d, yang merupakan daerah paling kering di bumi — domba-domba mereka kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang, perutnya penuh dengan rumput, dan ambingnya penuh dengan susu. Maka mereka pun memerah susunya dan meminumnya, sementara tidak ada seorang pun selain mereka yang bisa mendapatkan setetes pun susu."
"Keduanya (Halimah dan suaminya) senantiasa merasakan limpahan kebaikan dan keberkahan dari Allah hingga masa penyusuan selesai. Setelah dua tahun berlalu, Halimah pun menyapihnya (berhenti menyusui), dan dalam kurun waktu itu beliau (Nabi Muhammad SAW) telah tumbuh kuat dan sehat."
"Tinggalnya Nabi Muhammad SAW di (perkampungan) Bani Sa‘d setelah masa penyusuan."
"Halimah biasa membawa Nabi Muhammad SAW kepada ibunya dan keluarganya setiap enam bulan sekali, kemudian membawanya kembali ke perkampungannya di Bani Sa‘d. Ketika masa penyusuan selesai dan beliau disapih, Halimah membawanya kepada ibunya. Namun karena Halimah melihat keberkahan dan kebaikan yang besar darinya, ia sangat ingin agar beliau tetap tinggal bersamanya. Maka ia meminta kepada ibu Nabi Muhammad SAW agar membiarkannya tinggal lebih lama sampai tubuhnya lebih kuat, karena ia khawatir terhadap penyakit yang ada di Makkah. Ibunya pun setuju, dan Halimah kembali ke rumahnya dengan penuh kegembiraan. Nabi Muhammad SAW pun tinggal bersamanya setelah itu selama kira-kira dua tahun. Lalu terjadi suatu peristiwa aneh yang membuat Halimah dan suaminya ketakutan, sehingga mereka mengembalikan Nabi Muhammad SAW kepada ibunya. Peristiwa itu adalah peristiwa pembelahan dada beliau, berikut ini penjelasannya."
Pembelahan dada :
"Anas bin Malik - رضي الله عنه - berkata: 'Sesungguhnya Rasulullah ﷺ didatangi oleh Jibril saat beliau sedang bermain dengan anak-anak, lalu Jibril mengambilnya, menjatuhkannya, dan membelah dada beliau. Kemudian ia mengeluarkan hati beliau, dan dari dalamnya ditemukan sebuah bagian berwarna hitam. Jibril berkata, 'Ini adalah bagian dari setan yang ada pada dirimu.' Lalu Jibril mencucinya dalam sebuah wadah dari emas dengan air Zamzam, kemudian ia menyatukan kembali dan memasukkannya ke dalam tempat semula.'"
"Dan datanglah anak-anak berlari menuju ibu beliau - yaitu ibu susuan beliau (Halimah as-Sa‘diyah) - seraya berkata: 'Muhammad telah dibunuh!' Mereka menemui beliau dalam keadaan pucat, yakni: warna wajahnya berubah (karena kejadian yang menakutkan tersebut)."
"Anas berkata: 'Dan aku pernah melihat bekas jahitan pada dada beliau.'"
Kembali kepada Ibunda tercinta :
"Setelah peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah dan tinggal bersama ibunya serta keluarganya selama kurang lebih dua tahun. Kemudian ibunya melakukan perjalanan bersamanya ke Madinah, ke tempat makam ayahnya dan keluarga dari pihak kakeknya, yaitu Bani ‘Adiy bin an-Najjār. Bersamanya ikut pula pengurusnya, Abdul Muthalib, dan pembantunya, Ummu Aiman. Mereka tinggal di sana selama satu bulan, lalu kembali ke Makkah. Namun, di tengah perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit, dan penyakitnya semakin parah hingga wafat di Abwa’, sebuah tempat antara Makkah dan Madinah, lalu dimakamkan di sana."
Dalam perlindungan kakeknya yang penyayang :
"Dan kakeknya, Abdul Muthalib, membawanya kembali ke Makkah, sambil merasakan dalam-dalam di relung hatinya kesedihan yang mendalam karena musibah baru (wafatnya Aminah). Ia pun menyayanginya dengan kasih sayang yang belum pernah ia berikan kepada salah satu dari anak-anaknya. Ia sangat memuliakannya, mendahulukannya atas anak-anaknya, dan memuliakannya dengan sebaik-baik pemuliaan. Ia mendudukkannya di atas alas duduk khusus miliknya, yang tidak pernah diduduki oleh siapa pun selain dirinya. Ia mengusap-usap punggungnya, bergembira melihat segala yang dilakukan cucunya, dan meyakini bahwa anak ini akan memiliki kedudukan besar di masa depan. Namun, Abdul Muthalib wafat dua tahun kemudian, ketika usia Nabi Muhammad SAW delapan tahun, dua bulan, dan sepuluh hari."
Dalam perlindungan paman yang penyayang :
"Pamannya, Abu Thalib — saudara kandung ayahnya — mengambil tanggung jawab mengasuh Nabi Muhammad SAW. Ia mengkhususkan beliau dengan kasih sayang dan cinta yang luar biasa. Meskipun Abu Thalib adalah orang yang sedikit hartanya, Allah memberkahi hartanya yang sedikit itu, hingga makanan yang cukup untuk satu orang bisa mengenyangkan seluruh keluarganya. Dan Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam hal qana'ah (menerima apa adanya) dan kesabaran, beliau mencukupkan diri dengan apa yang telah Allah tetapkan baginya."
Perjalanannya ke Syam dan (kisah) Bahira sang pendeta :
"Abu Thalib ingin pergi berdagang ke Syam bersama kafilah dagang Quraisy. Saat itu usia Nabi Muhammad SAW adalah dua belas tahun — dan ada yang mengatakan: dua belas tahun, dua bulan, dan sepuluh hari. Nabi Muhammad SAW sangat berat berpisah dengannya (Abu Thalib), maka Abu Thalib pun merasa iba kepadanya dan membawanya serta. Ketika rombongan kafilah sampai di dekat kota Busra, di perbatasan Syam, salah satu tokoh besar dari kalangan rahib Nasrani — yaitu Bahira sang rahib — keluar menemui mereka. Ia berjalan menyusuri rombongan hingga sampai kepada Nabi Muhammad SAW, lalu menggenggam tangannya dan berkata..."
"Ini adalah pemimpin seluruh alam, ini adalah utusan Tuhan semesta alam, ini adalah orang yang akan diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam."
"Mereka bertanya: Apa yang membuatmu mengetahui hal itu?"
"Bahira berkata: 'Ketika kalian tiba di dekat bukit (Aqabah), tidak ada batu atau pohon yang tersisa kecuali semuanya sujud. Dan mereka tidak sujud kecuali untuk seorang nabi. Saya mengenalnya melalui khātam an-nubuwwah (tanda kenabian) yang terletak di bawah tulang belikatnya, seperti bentuk buah apel. Kami memang menemukannya dalam kitab-kitab kami."
"Kemudian Bahira memuliakan mereka dengan menyuguhkan jamuan, dan ia meminta kepada Abu Thalib untuk mengembalikan Nabi Muhammad SAW dan tidak membawanya ke Syam, karena khawatir akan bahaya dari orang-orang Yahudi dan Romawi. Maka Abu Thalib pun mengembalikannya ke Makkah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar