TAFAHHUM QUR'ANI
Tafsir Surah An - Naba'
Ayat 31-40
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ( ٣١ ) حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ( ٣٢ ) وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا ( ٣٣ ) وَكَأْسًا دِهَاقًا ( ٣٤ ) لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا ( ٣٥ ) جَزَاءٌ مِّن رَّبِّكَ عَطَاءٌ حِسَابًا ( ٣٦ ) رَّبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَنِ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا ( ٣٧ ) يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا ( ٣٨ ) ذَلِكَ الْيَوْمُ الحَقُّ فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَابًا ( ٣٩ ) إِنَّا أَنذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنتُ تُرَابًا ( ٤٠ )
-MUNASABAH AYAT
Setelah Allah Ta'ala menceritakan tentang orang-orang kafir dan berbagai macam siksa yang mereka dapatkan di hari kiamat di ayat-ayat sebelumnya, maka disini Allah menceritakan orang-orang iman dengan segala jenis kenikmatan yang mereka dapatkan di surga.
Ini adalah keistimewaan keterangan dalam al-Qur'an, yaitu tawaazun fit tashwiir (seimbang dalam memberi penjelasan), maksudnya : setiap Allah bercerita tentang orang kafir pasti di gandeng dengan cerita orang iman, setiap menerangkan surga pasti di gandeng dengan neraka, setiap ada ancaman pasti ada janji dan setiap ada perintah pasti ada larangan...
Keseimbangan dalam menceritakan hari kiamat disini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dan lengkap tentang kehidupan akhirat. Dengan mengetahui gambaran yang jelas tentang surga dan neraka, manusia diharapkan dapat lebih memahami tujuan hidup dan memilih jalan yang benar menuju kebahagiaan abadi .
-TAFSIR AYAT
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ( ۳۱ )
Sesungguhnya orang - orang yang bertakwa mendapat tempat keberuntungan dan kemenangan. Mereka masuk kedalam surga yang merupakan tempat segala nikmat dan kesenangan. Lafadz Mafaaza mengandung arti kemenangan setelah perjuangan yang panjang, yaitu hasil dari amal salih dan kesabaran mereka dalam kehidupan dunia.
Dalam ayat ini Allah ta'ala menyatakan bahwa mereka tidak hanya selamat dari marabahaya dan penderitaan di hari kiamat, tapi juga mendapatkan berbagai kenikmatan di surga, hal ini menunjukkan sempurnanya rahmat Allah yang mereka dapatkan.
حَدَائِقَ وَأَعْتَبًا ( ٣٢ )
(Yaitu) kebun-kebun dan kebun anggur. Lafadz hadaa'iq merujuk pada kebun yang indah dan terjaga, biasanya dikelilingi tembok, berisi pepohonan yang rindang, bunga, dan aliran air.
Di sini, ini adalah gambaran kenikmatan surga bagi orang bertakwa. Allah memberikan gambaran fisik yang bisa dibayangkan oleh manusia untuk menunjukkan keindahan dan ketenangan surga. Kebun-kebun ini akan membuat siapapun yang masuk kedalamnya tersanjung dan bahagia.
Dan buah anggur di sebut khusus dalam ayat ini menunjukkan keistimewaannya mengalahkan buah-buah yang lain.
وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا ( ۳۳ )
Dan gadis-gadis remaja yang sebaya. Secara istilah, kawa'ib merujuk kepada gadis yang sudah mulai tumbuh dewasa dan memiliki bentuk tubuh yang sempurna, terutama bagian dada.
Ini merupakan ungkapan dalam bahasa Arab untuk menggambarkan keindahan fisik wanita yang masih muda dan belum menikah.
Sedang ma'na atraaba maksudnya : mereka memiliki usia yang sama, tidak ada perbedaan mencolok dalam umur, sehingga serasi satu sama lain.
ayat ini termasuk dalam rangkaian gambaran kenikmatan surga yang Allah sediakan bagi orang-orang bertakwa. Setelah menyebutkan kebun-kebun, anggur, dan gelas-gelas yang penuh minuman, ayat ini menyebutkan bahwa di surga juga ada bidadari-bidadari muda yang sebaya dengan penghuni surga, sebagai bentuk kemuliaan dan kenikmatan bagi mereka.
Ini adalah bentuk penghormatan dan kesempurnaan nikmat secara fisik dan emosional bagi penghuni surga, sesuai dengan fitrah manusia yang menginginkan pasangan yang elok dan sepadan.
Meskipun ayat ini menggambarkan kenikmatan jasmani, para ulama mengingatkan bahwa : Ini bukan sekadar materi sensual, tapi bentuk keindahan dan kepuasan yang suci, tidak mengandung syahwat rendahan, karena di surga tidak ada nafsu kotor sebagaimana di dunia.
Penggambaran ini dimaksudkan untuk menarik perhatian dan mendorong manusia beramal demi kenikmatan yang kekal dan jauh lebih mulia dari dunia yang fana.
وَكَأْسًا دِهَاقًا ( ٣٤ )
Dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman)
Kata ka'san meksudnya gelas berisi minuman, khususnya minuman yang memabukkan.
Kata dihaaqan berarti penuh melimpah, yakni gelas itu penuh berisi minuman yang menyenangkan, juga bisa bermakna mengalir atau terus dituangkan, yakni tersedia tanpa habis.
Dalam konteks Al-Qur'an ketika menyebut nikmat surga, ini bukan dalam arti negatif, tapi simbol kelezatan dan kenikmatan bagi penghuni surga, yang tidak menimbulkan dampak buruk seperti mabuk atau hilang akal.
Syaikh as-Sa'dy Rahimahullah berkata dalam tafsirnya :
Minuman dalam surga tidak seperti khamr duniawi. Di surga, khamr tidak memabukkan, tidak membuat pusing, dan tidak menimbulkan dosa. Maka, minuman ini benar-benar merupakan nikmat murni, penuh cita rasa dan kenyamanan. (Tafsir as-sa'dy )
Ayat ini menggambarkan minuman surga yang disajikan dalam gelas-gelas yang penuh melimpah, disiapkan untuk para penghuni surga. Minuman ini menyenangkan, tidak ada efek negatif seperti minuman dunia. Ini adalah bentuk kesempurnaan nikmat yang Allah siapkan bagi orang-orang bertakwa.
لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغُوا وَلَا كِذَّبًا ( ٣٥ )
Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak pula ucapan dusta.
Ayat ini menggambarkan suasana surga bagi orang-orang bertakwa, Di surga, mereka hidup dalam kedamaian dan kenikmatan yang sempurna, salah satunya adalah tidak adanya ucapan yang buruk.
Lafadh Laghw adalah ucapan yang sia-sia, tidak bermanfaat, omong kosong, atau yang menyakitkan hati.
Kalimat Kizzāban bisa berarti ucapan dusta atau pendustaan terhadap kebenaran.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
Allah membersihkan suasana surga dari segala keburukan akhlak dan kata-kata menyakitkan, yang biasa ditemukan di dunia . Semua pembicaraan di surga adalah baik dan mulia. (tafsir ibnu katsir).
Jadi Surga bukan hanya tempat kenikmatan fisik, tetapi juga tempat ketenangan hati dan jiwa, itulah kenikmatan yang paling lengkap serta sangat sempurna.
جَزَاء مِّن رَّبِّكَ عَطَاءٌ حِسَابًا ( ٣٦ )
Sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.
Ayat ini menjelaskan bahwa segala kenikmatan surga yang disebut sebelumnya adalah bentuk penghargaan dari Allah atas amal perbuatan hamba-Nya yang bertakwa di dunia.
Pengertian Athaa'an hisaban adalah : Pemberian yang berlimpah dan mencukupi. Artinya, balasan tersebut sesuai dengan kemurahan Allah, bukan semata-mata sesuai amal hamba. Ini adalah pemberian dengan kemurahan yang melampaui perhitungan manusia.
Hal ini berbeda dengan yang ditujukan untuk orang-orang yang kafir di ayat sebelumnya (jazaa'an wifaaqa), neraka sebagai balasan yang setimpal dengan dosa mereka, yang menunjukkan keadilan Allah, bahwa siksa neraka itu sesuai dengan dosa, tidak lebih dan tidak kurang.
Sedangkan Untuk ahli surga disini ('athaa'an hisaaban) balasan berupa pemberian yang penuh rahmat dan kemurahan, bahkan melampaui amal mereka , Ini menunjukkan sifat Ar-Rahim dan Al-Karimnya Allaht1a'ala.
ربِّ السَّمَاواتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَن لا يَمْلِكُونَ مِنْهُ عِظَابًا ( ۳۷ )
Tuhan yang menguasai langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih. Mereka tidak mampu berbicara dengan-Nya
Allah menegaskan bahwa Dialah Rabb ( Penguasa, Pencipta , dan Pemelihara ) langit, bumi, dan seluruh isi alam semesta. Ini menunjukkan kekuasaan dan keagungan-Nya yang mutlak.
Penyebutan nama Allah Ar-Rahman (Maha Pengasih) setelah penegasan kekuasaan menunjukkan bahwa kekuasaannya disertai rahmat dan kelembutan, bukan penindasan atau kezaliman.
Pada hari itu tidak ada siapapun yang mampu berbicara kepada-Nya kecuali dengan idzin-Nya, hal Ini menggambarkan keheningan dan ketundukan total makhluk di hadapan Allah saat keputusan akhir ditetapkan.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
Ayat ini menunjukkan bahwa, keagungan dan ketakutan dahsyat pada hari itu, sehingga semua tunduk dan tidak berani menyela atau membela diri tanpa izin Allah. (Tafsir ibnu katsir).
Ayat ini juga sebagai penegasan untuk ayat sebelumnya, siapa Tuhan itu? Dialah Ar-Rahman, Penguasa mutlak seluruh alam, yang berhak mutlak memberikan balasan dan menetapkan keputusan.
Ini juga menegaskan bahwa semua balasan, baik nikmat surga maupun siksa neraka, hanya datang dari kehendak dan keadilan Allah, yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapaun.
يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ والتكتيكه صَفًّا لا يتكلمون إلا من أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا ( ۳۸ )
Pada hari ketika Ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.
Di hari kiamat, di mana Ruh dan para malaikat berdiri dalam barisan yang tertib, penuh ketundukan kepada Allah.
Ar-Ruuh menurut banyak mufassir adalah malaikat Jibril 'alaihissalam, karena ia disebut secara khusus disebabkan keagungan dan kedudukannya yang istimewa.
Ada juga pendapat yang mengatakan ruh adalah makhluk khusus selain malaikat, yang sangat agung, hanya Allah yang benar-benar mengetahui hakikatnya
Pada saat itu tidak ada yang berani berbicara, hal ini menggambarkan kedahsyatan dan ketakutan yang luar biasa di Hari Kiamat.
Kecuali yang diberi izin oleh Allah Yang Maha Pemurah, menandakan bahwa izin Allah adalah syarat mutlak bagi siapa pun yang ingin berbicara saat itu
Dan yang berbicara itu hanya akan mengatakan yang benar. Tidak ada lagi kebohongan, hujah yang bathil, atau dalih yang menyesatkan.
Ayat ini menggambarkan bagaimana para malaikat dan makhluk agung seperti Jibril tunduk dan berdiri teratur di hadapan Allah. Ini pelajaran tentang ketaatan total kepada perintah Allah, bahkan oleh makhluk yang tidak berdosa.
Juga menunjukkan Keheningan Hari Kiamat karena tidak sembarang makhluk dapat berbicara.
Itu semua karena kehebatan dan kekuasaan mutlak Allah atas semua makhluk-Nya. Siapa pun yang ingin bicara, harus dengan izin dan hanya boleh menyampaikan kebenaran.
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut nama - Nya dengan "al-Jabbar" atau "al-Qahhar", melainkan dengan "ar-Rahman" (Yang Maha Pemurah). Ini isyarat bahwa rahmat Allah meliputi segalanya, bahkan dalam hari yang sangat dahsyat itu, hanya dengan rahmat-Nya seseorang bisa bicara.
ذلِكَ الْيَوْمُ الحَق فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَتَابًا ( ۳۹ )
Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.
Maksudnya, Hari Kiamat itu adalah hari yang pasti terjadi, bukan khayalan, bukan dugaan , tapi kenyataan mutlak.
Disebut "al -haqq" (yang benar), karena janji Allah pasti terlaksana juga bermakna Hari itu menjadi pembeda antara kebenaran dan kebatilan dan menjadi hari pembalasan yang adil.
Kalimat, siapa yang mau, silakan menempuh jalan kembali kepada Rabb-nya, Ini adalah bentuk tawaran penuh kasih sayang dari Allah, memberi pilihan, tetapi jelas konsekuensinya, yaitu menjadikan Allah sebagai tempat kembali, bertobat, beramal saleh serta konsisten menempuh jalan lurus menuju ridha Allah.
إِنَّا أَنذَرْتَكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ الْمَرْهُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَلَيْتَنِي كُنتُ تُرباً ( ٤٠ )
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, "Alangkah baiknya aku menjadi tanah saja.
Yaitu dengan Allah telah memberi peringatan melalui wahyu , rasul , dan ayat-ayat-Nya tentang azab yang mendekat.
Disebut qariban (dekat), walaupun Hari Kiamat belum terjadi, karena dalam pandangan Allah dan dibandingkan dengan kehidupan abadi, waktu dunia sangat singkat
Juga bisa bermakna bahwa kematian pun dekat, dan itu awal dari azab bagi yang tidak beriman. pada hari itu manusia akan melihat sendiri amal-amalnya, baik atau buruk, nyata di hadapannya.
Maa qaddamat yadaahu, maksudnya kiasan yang menunjukkan segala yang telah ia lakukan dalam hidupnya : ucapan, tindakan, niat, keputusan.
Dan ini terjadi pada saat pembongkaran total amal seseorang, tidak ada yang tersembunyi.
Dan saat itulah orang kafir menyesal sedalam-dalamnya. Ia berharap seandainya saja ia dulu hanyalah tanah, tidak pernah diciptakan sebagai manusia.
Menurut sebagian ulama tafsir, saat itu hewan-hewan dibangkitkan juga, lalu setelah selesai diadili , mereka dikembalikan menjadi tanah. Maka orang kafir, saat melihat itu, berharap seandainya nasibnya seperti hewan : mati lalu selesai.
Ini adalah puncak kehinaan dan penyesalan, karena ia tahu siksa yang kekal kini tak bisa dihindari.
-FAIDAH DAN HIKMAH
1- Kemenangan yang sejati bukanlah kesuksesan dan kekayaan dunia, tapi keselamatan dari neraka dan masuk surga.
2- Orang yang bertakwa hidup penuh kendali, hati-hati serta mawas diri dan Allah jadikan itu sebagai jalan menuju kebahagiaan, Dalam dunia yang penuh godaa, takwa adalah perisai, dan di akhirat, takwa adalah tiket keselamatan dan keberuntungan.
3- Surga digambarkan dengan kenikmatan lahir dan batin, menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memberi pahala, tapi memuliakan. Kenikmatan surga sesuai fitrah manusia yang senang dengan tempat yang indah , penuh kasih , dan kehangatan.
4- Dunia yang melelahkan akan diganti dengan tempat istirahat abadi, Kenikmatan dunia yang haram hanya sesaat, namun di surga tersedia yang jauh lebih suci dan kekal abadi
5- Allah maha tahu apa yang benar-benar membahagiakan manusia , dan itu disiapkan untuk mereka yang bersabar dan taat. Hiburan halal dan mulia hanya bagi mereka yang menjaga diri dari hiburan haram di dunia.
6- selain kenikmatan fisik di dalam surga juga di dalamnya penuh ketenangan jiwa, karena surga adalah tempat ketenangan sempurna , bebas dari omong kosong, dusta, dan kebisingan dosa.
7- Hati yang selama di dunia sering disakiti oleh ucapan manusia akan diobati sepenuhnya di dalam surga.
8- Jika ingin masuk ke tempat mulia itu didik lisan dan jaga tutur kata di dunia, karena Sia- sia dan dusta merusak jiwa, dan orang bertakwa menjauh darinya bahkan sejak di dunia.
9- sebenarnya amal kita sebanyak apapun tidak layak untuk membeli surga, tapi rahmat Allah-lah yang menjadikan kita pantas mendapatkan surga, hal Ini mengajarkan rendah hati dalam amal dan harapan tinggi pada rahmat-Nya.
10- Hari Kiamat adalah hari penuh wibawa, bahkan malaikat pun berdiri terdiam, tak seorang pun berani bicara, kecuali yang Allah izinkan, Keangkuhan dunia di hari kiamay akan ditundukkan sepenuhnya.
11- Hari Kiamat adalah kenyataan yang pasti, bukan omong kosong, Tak ada yang bisa lari darinya, tak bisa dibatalkan atau dinegosiasikan, maka Orang bijak akan selalu menyiapkan diri untuk hari yang pasti, bukan hanya hari esok saja, karena Hidup bukan sekadar berputar di dunia, tapi menuju pengadilan yang sangat nyata.
12- Surah ini menggambarkan dua sisi : balasan bagi yang bertakwa dan azab bagi yang lalai, dan dengan ini di harapkan bisa mengetuk hati yang hidup, dan menggugah jiwa yang tidur. Karena orang cerdas bukan yang punya banyak rencana di dunia, tapi yang paling serius mempersiapkan bekal untuk akhiratnya.
تفهم حديث نبوي
TAFAHHUM HADIST NABAWI
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ - رضي الله عنه - أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ ، وَرُزِقٌ كَفَافًا ، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
"Sungguh telah beruntung orang yang berserah diri ( masuk Islam ), diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana'ah terhadap apa yang diberikan-Nya." (HR. Muslim)
-JUDUL HADITS
DENGAN TIGA SYARAT
kebahagiaan terpegang erat
-BIOGRAFI PEROWI
Nama lengkapnya : Abdullah bin Amr bin Al-Ash bin Wa'il As-Sahmi, Ayahnya : Amr bin Al-'Ash, salah satu panglima besar Islam.
Abdullah bin Amr Termasuk sahabat yang masuk Islam lebih dulu dari ayahnya, beliau lahir sekitar 7 tahun sebelum hijrah.
Di kenal Ahli Ibadah dan Zuhud
Rasulullah pernah bersabda :
"Sesungguhnya Abdullah bin Amr adalah orang yang paling rajin ibadah di antara kalian." (HR. Bukhari)
la juga dikenal rajin puasa dan shalat malam, bahkan Nabi sempat menasihatinya agar tidak berlebihan dalam ibada.
Beliau juga Pencatat Wahyu dan Hadits serta dikenal juga sebagai sahabat pertama yang menulis hadits dari Nabi. Ia memiliki kumpulan hadits yang disebut "Ash-Shahifah Ash-Shadiqah".
Nabi bersabda padanya :
"Tulislah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak keluar dariku kecuali kebenaran." (HR. Abu Dawud, sanad shahih)
Beliau Sangat Berbakti kepada Orang Tua
Pernah hendak ikut jihad , tapi dilarang oleh ayahnya, lalu Nabi menyuruhnya taat kepada ayahnya.
Beliau sangat cerdas dan Cepat Hafal bahkan Termasuk dari kalangan huffazh (penghafal Al-Qur'an) di zaman sahabat.
Selain itu juga perawi Hadits yang Andal la meriwayatkan sekitar 700-an hadits, dan banyak dikutip dalam Shahihain
Abdullah bin Amr wafat sekitar tahun 65 H di kota Thaif, dalam usia lebih dari 70 tahun.
Abdullah bin Amr adalah contoh pemuda shaleh, ilmuwan hadits, dan ahli ibadah dari kalangan sahabat. Kecintaannya pada ilmu dan kejujuran dalam meriwayatkan hadits menjadikannya teladan abadi bagi para penuntut ilmu.
-KEDUDUKAN HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, sehingga ia termasuk dalam derajat hadits shahih, dan dijadikan hujjah oleh jumhur ulama. Hadits ini membahas tentang tiga syarat keberuntungan hakiki menurut Rasulullah SAW, yang tidak diukur dengan harta dan kedudukan, melainkan dengan tiga pilar utama : keislaman, kecukupan, dan qana'ah.
-MAKNA GLOBAL HADITS
Hadits ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada melimpahnya dunia, tetapi pada :
- Keislaman yang benar (iman dan amal),
- Kecukupan hidup (tanpa berlebih tapi tak kekurangan),
- dan Hati yang puas dan ridha dengan takdir Allah. Inilah puncak kebahagiaan yang membebaskan seseorang dari kelelahan dunia dan kegelisahan.
-LAFADZ HADITS :
[ قَدْ أَفْلَحَ ]
Sungguh telah beruntung ; aflaha berarti berhasil meraih keselamatan, keberhasilan, kebahagiaan dan kemenangan.
[ مَنْ أَسْلَمَ ]
Orang yang masuk Islam dan tunduk sepenuhnya kepada Allah bukan hanya status, tapi keislaman yang hakiki.
[ وَرُزِقَ كَفَافًا ]
Diberi rezeki yang mencukupi, pas-pasan, tidak berlebih dan tidak kekurangan. Kata kafaf bermakna pas sesuai kebutuhan.
Allah menjadikannya qana'ah, yaitu ridha dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah, tidak tamak dan tidak berkeluh kesa .
[ وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ ]
Allah menjadikannya qana'ah, yaitu ridha dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah, tidak tamak dan tidak berkeluh kesah.
Suatu hari, Umar bin Khattab RA berjalan dan melihat seorang lelaki miskin yang sedang makan roti kering dan garam. Umar berkata padanya :
"Bagaimana keadaanmu ?"
Lelaki itu menjawab :
"Aku dalam kenikmatan dan kebaikan." Umar menangis , lalu berkata :
"Inilah yang disebut Nabi : qana'ah."
Mereka miskin di mata dunia, tapi kaya dalam jiwa. Tak gundah, tak rakus, karena hatinya telah penuh dengan ridha terhadap Allah.
-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata :
"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta tapi hati yang selalu merasa cukup (qana'ah)."
-Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata :
"Kami hidup dalam kenikmatan yang jika para raja mengetahuinya , mereka akan memerangi kami untuk merebutnya : yaitu qana'ah . "
FAIDAH DAN HIKMAH :
1- Islam adalah fondasi keberuntungan. Tanpa Islam, semua harta dan kedudukan adalah fatamorgana.
2- Kecukupan itu nikmat besar, karena rezeki yang cukup menjauhkan dari beban berat hisab dan penyakit hati seperti iri dan tamak.
3- Qana'ah adalah kekayaan yang sejati. Orang qana'ah selalu lapang, sementara orang rakus selalu merasa sempit meski hartanya tak habis tujuh turunan.
4- Ketika hal ini bersatu akan membuat hati tenang, pikiran jernih dan hidup ringan. Tidak bergantung pada pujian, dan tidak tenggelam dalam dunia.
5- Qana'ah bukan pasrah tanpa usaha, tapi ridha atas hasil setelah ikhtiar.
TEMATIK ISLAMI
PENGORBANAN untuk menggapai Keridhoan
Ada cinta yang diuji dengan waktu..
Ada cinta yang diuji dengan kehilangan..
Dan ada cinta yang diuji dengan pengorbanan..
Inilah kisah Nabi Ibrahim alaihissalam menyembelih buah hati sendiri demi taat kepada Ilahi
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail' alaihimus - salam yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an, bukan sekadar cerita, tapi pelajaran untuk mereka yang ingin benar-benar mencintai Allah.
Ketika Ismail beranjak remaja, anak yang lama dinanti akhirnya tumbuh di depan mata. Tiba- iba, datanglah mimpi kepada Ibrahim :
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
"Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu..." (QS. Ash-Shaffat : 102)
Mimpi para Nabi adalah wahyu . Dan wahyu ini sungguh berat :
Menyemmbelih putra tercinta , Namun yang lebih mengejutkan adalah respon sang anak :
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS . Ash-Shaffat : 102)
Apa yang kita lihat di sini adalah dua jiwa yang dipenuhi iman, tunduk total pada perintah Tuhan meski nyawa jadi taruhan.
Cinta sejati kepada Allah lebih tinggi daripada cinta kepada makhluk, Nabi Ibrahim tidak mencintai Ismail melebihi cintanya kepada Allah. Ia tidak membiarkan cinta dunia menyaingi ketaatan kepada Rabb-nya.
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Katakan sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah..." (QS. Al-An'am : 162)
Siapa pun yang kita cintai, jangan sampai melebihi kecintaan kita kepada Allah. Jika cinta itu menghalangi ketaatan, maka cinta itu menjadi hijab / penghalang
Puncak keikhlasan adalah ketika hati tunduk saat logika tak sanggup menjelaskan.
Bukan logika yang memimpin kisah ini, melainkan iman dan tunduk kepada wahyu.
Nabi Ibrahim tidak bertanya "mengapa" - ia hanya menjawab" kami dengar dan kami taat ".
وَإِذِ أَبْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ .... (QS. Al-Baqarah : 124)
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah), lalu ia melaksanakannya dengan sempurna..."
Ikhlas itu tidak selalu mudah, tapi ia terasa indah ketika hati telah pasrah. Pendidikan iman dalam keluarga.
Lihat bagaimana Nabi Ismail menerima perintah ini dengan sabar, karena ayahnya telah mendidik dengan tauhid, bukan sekadar kasih sayang
Pendidikan spiritual dalam keluarga akan menghasilkan anak-anak yang kokoh menghadapi ujian, bahkan jika harus menyerahkan hidupnya demi Allah.
Allah tidak butuh darah, tapi butuh hati yang tunduk.
Akhir dari kisah ini begitu indah :
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
"Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS. Ash-Shaffat : 107)
Allah tidak menginginkan darah Ismail , tapi ketundukan Ibrahim dan anaknya. Maka pengorbanan itu diganti, bukan dengan kematian, tapi dengan kemuliaan abadi.
Setiap kita punya "Ismail" dalam hidup :
• harta yang kita cintai,
• cita - cita yang kita agungkan,
• orang yang kita kasihi,
• ambisi yang kita kejar.
Maukah kita "menyembelih" semua itu jika Allah memerintah untuk meninggalkannya?
Kisah ini bukan hanya tentang Nabi Ibrahim.
Ini tentang kita - dan bagaimana kita mencintai Allah di atas segalanya.
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ
"Sungguh , ini adalah ujian yang nyata." (QS. Ash-Shaffat : 106)
Imam as - Syafi'i berkata :
إِنْ صَحَ مِنْكَ الوُدُّ فَكُلُّ هَيِّنُ , وَكُلُّ الَّذِي فَوْقَ التُّرَابِ تُرَابُ
"Jika darimu ada cinta yang tulus, maka segalanya menjadi mudah, Karena segala yang ada di atas tanah pada akhirnya hanyalah tanah."
Cinta yang jujur dan tulus membuat segala ujian dan pengorbanan terasa ringan.
dunia dan segala isinya hanya sementara dan nilainya tak begitu berarti.. maka jangan sampai memperberat hati.. sehingga tidak bisa menggapai ridha Ilahi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar