Kamis, 12 Juni 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 34

 

 Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 33 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 35

 

Ghazwah Bader al-Maw‘id (Perang Badar yang diJanjikan):

"Telah kami sebutkan bahwa Abu Sufyan pernah berjanji (kepada Rasulullah ﷺ) usai Perang Uhud untuk kembali berperang pada tahun berikutnya. Maka ketika bulan Sya‘ban tahun ke-4 Hijriyah tiba, Rasulullah ﷺ keluar menuju Badar sesuai dengan perjanjian itu. Beliau menetap di sana selama delapan hari menunggu kedatangan Abu Sufyan. Bersama beliau terdapat 1.500 pasukan dan sepuluh ekor kuda. Rasulullah ﷺ memberikan panji (bendera perang) kepada Ali bin Abi Thalib, dan beliau menunjuk Abdullah bin Rawahah sebagai pengganti (pemimpin) di Madinah selama beliau pergi."

"Adapun Abu Sufyan, maka ia keluar bersama dua ribu pasukan dan lima puluh ekor kuda, hingga sampai di Marr az-Zahrān [مر الظهران] dan menetap di Majannah [مجنة] — sebuah tempat terkenal yang memiliki sumber air di wilayah itu. Sejak awal keberangkatannya, ia sudah diliputi rasa takut, lalu ia berkata kepada para pengikutnya: 'Kalian tidak akan cocok berperang kecuali pada tahun yang subur, ketika kalian bisa menggembalakan hewan di pepohonan dan meminum susu. Adapun tahun ini adalah tahun kekeringan. Maka aku akan kembali, maka kembalilah kalian.' Mereka pun kembali dan tidak menunjukkan penolakan sedikit pun."

"Selama masa tinggal mereka di Badar, kaum Muslimin menjual barang-barang dagangan yang mereka bawa, dan memperoleh keuntungan dua dirham untuk setiap dirham. Kemudian mereka kembali dengan penuh wibawa, hingga setiap musuh merasa gentar terhadap mereka, dan keamanan menyebar ke segala penjuru. Bahkan lebih dari satu tahun berlalu tanpa ada satu pun musuh yang berani melakukan gerakan apapun. Berkat keamanan tersebut, Rasulullah ﷺ dapat fokus mengamankan wilayah perbatasan terjauh, hingga beliau keluar untuk menindak para perampok di Dawmatil-Jandal [دومة الجندل] pada bulan Rabiul Awwal tahun ke-5 Hijriyah, dan beliau berhasil menegakkan keamanan dan kedamaian di seluruh penjuru."


Perang al-Ahzab (Perang Sekutu):

Disebut perang Ahzab dikarena melibatkan gabungan berbagai kabilah Arab yang bersatu untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah.

"Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin hampir saja bisa berfokus menyebarkan agama mereka dan memperbaiki keadaan umat, setelah situasi menjadi tenang berkat strategi bijak yang diambil oleh Rasulullah ﷺ. Sejak Perang Bani Nadhir, tidak terjadi konfrontasi yang berarti selama lebih dari satu setengah tahun. Namun, begitulah tabiat kaum Yahudi — yang telah disebut oleh Al-Masih ‘Isa عليه السلام sebagai 'ular dan anak-anak ular' — mereka tidak senang melihat kaum Muslimin hidup dalam ketenangan. Setelah mereka menetap dan merasa aman di Khaibar, mereka mulai merancang berbagai konspirasi dan bergerak di balik layar, hingga akhirnya berhasil menggerakkan pasukan besar dari berbagai kabilah Arab untuk menyerang penduduk Madinah."

"Para ahli sejarah menyebutkan bahwa dua puluh orang dari para pemuka dan pemimpin mereka (Yahudi) pergi menemui kaum Quraisy untuk menghasut mereka agar menyerang Madinah, dan mereka menjanjikan kemenangan kepada kaum Quraisy. Maka kaum Quraisy pun menyambut seruan mereka. Kemudian mereka pergi kepada suku Ghathafān, dan suku itu pun menyetujui ajakan tersebut. Setelah itu, mereka berkeliling ke berbagai kabilah lainnya, dan sejumlah kabilah juga merespons dengan persetujuan. Lalu mereka menggerakkan seluruh kelompok tersebut di bawah satu rencana yang terkoordinasi, agar semuanya tiba di pinggiran kota Madinah dalam waktu yang bersamaan."


Musyawarah dan penggalian parit (khandaq):

"Ketika berita tentang berkumpul dan bergeraknya pasukan (musuh) sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ segera bermusyawarah dengan para sahabatnya. Maka Salman al-Farisi – raḍiyallāhu ‘anhu – mengusulkan untuk menggali parit (khandaq). Usulan itu disambut baik dan disepakati oleh semua."

"Karena Madinah dikelilingi oleh laabah [اللابات] yaitu kawasan berbatu hitam dari arah timur, barat, dan selatan — yang tidak memungkinkan pasukan untuk menyerang dari arah-arah tersebut — maka satu-satunya jalan masuk bagi pasukan adalah dari arah utara. Rasulullah ﷺ pun memilih lokasi di bagian utara yang merupakan celah tersempit antara laabah [اللابات] barat dan timur — lebarnya sekitar satu mil — lalu beliau menyambungkan kedua kawasan berbatu itu dengan menggali parit pada celah tersebut. Parit itu dimulai dari arah barat, di sebelah utara Gunung Sila‘, dan disambungkan ke arah timur pada ujung kawasan batu hitam timur di dekat benteng (rumah bertingkat) milik Bani Shaykhan [الشيخين ]."

Dan telah ditugaskan kepada setiap sepuluh orang laki-laki untuk menggali sepanjang empat puluh hasta. Rasulullah ﷺ pun turut serta bersama mereka dalam menggali parit dan mengangkut tanah. Mereka biasa melantunkan syair (rajaz) dan beliau menjawabnya; mereka bersyair dan beliau pun membalasnya. Selama penggalian itu, mereka menghadapi berbagai macam kesulitan, terutama dingin yang sangat dan rasa lapar yang luar biasa. Mereka diberi segenggam jelai yang dimasak dengan lemak yang baunya menyengat, lalu mereka memakannya meskipun sulit untuk ditelan. Mereka mengeluhkan rasa lapar kepada Rasulullah ﷺ dan menunjukkan kepada beliau batu yang mereka ikat di perut mereka (untuk menahan lapar), lalu beliau pun memperlihatkan kepada mereka bahwa beliau mengikat dua batu di perutnya.

Dan selama penggalian parit terjadi beberapa peristiwa yang menakjubkan (tanda-tanda kebesaran Allah). Jabir melihat kondisi lapar yang sangat pada diri Rasulullah ﷺ, lalu ia tidak tahan dan menyembelih seekor hewan miliknya, serta istrinya menumbuk satu sha‘ (sekitar 2,5–3 kg) jelai (sejenis gandum). Kemudian ia diam-diam mengundang Rasulullah ﷺ bersama beberapa orang sahabatnya. Namun Rasulullah ﷺ justru bangkit dan mengajak seluruh penghuni parit—jumlah mereka sekitar seribu orang. Mereka semua makan hingga kenyang, sementara panci (masakan) terus mendidih dan adonan roti terus dipanggang (tidak habis-habis).

Juga, saudari perempuan an-Nu‘man bin Basyir datang membawa segenggam kurma untuk ayah dan pamannya. Namun Rasulullah ﷺ menaburkan kurma itu di atas sehelai kain, lalu mengundang seluruh penghuni parit. Mereka semua makan dan kembali dalam keadaan kenyang, sedangkan kurma tetap jatuh dari pinggir-pinggir kain itu (tidak berkurang).

"Ketika Jābir dan para sahabatnya sedang menggali parit, mereka menghadapi tanah yang sangat keras. Maka Rasulullah ﷺ turun dan memukulnya dengan cangkul besar (alat pemecah), lalu tanah itu menjadi seperti pasir halus yang tidak bisa memadat. Barā’ dan sahabat-sahabatnya pun menghadapi batu besar, lalu Rasulullah ﷺ turun dan bersabda: 'Bismillāh.' Beliau memukul batu itu sekali, lalu pecah sebagian darinya dan keluar cahaya dari pukulan itu. Beliau bersabda: 'Allāhu Akbar, aku telah diberi kunci-kunci negeri Syam, dan sesungguhnya aku benar-benar melihat istana-istananya yang berwarna merah saat ini.' Kemudian beliau memukul yang kedua kali, dan memberi kabar gembira tentang kemenangan atas Persia. Lalu pukulan ketiga, beliau memberi kabar gembira tentang kemenangan atas Yaman, dan batu itu pun hancur sepenuhnya."


Di Antara Dua Ujung Parit:

Kaum Quraisy dan sekutu mereka datang dengan jumlah empat ribu orang, bersama mereka terdapat tiga ratus ekor kuda dan seribu unta. Mereka dipimpin oleh Abu Sufyan, dan pembawa bendera mereka adalah Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah al-‘Abdari. Mereka berkemah di tempat berkumpulnya al-Asyiyāl [الأسيال] dari daerah Rūmah [رومة], antara Al-Juruf [الجرف] dan Zaghābah [زغابة].

Sementara itu, kabilah Ghathafān [غطفان] dan sekutu mereka dari penduduk Najed datang dengan enam ribu orang, lalu mereka berkemah di Dzanab Naqmi [ذنب نقمي], di samping Gunung Uhud.

Kedatangan pasukan besar ini sampai ke gerbang kota Madinah benar-benar merupakan ujian berat dan sangat menakutkan, sebagaimana firman Allah – Ta‘ālā:

"Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika mata-mata menjadi terbelalak, dan hati-hati mencapai tenggorokan karena ketakutan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai prasangka. Di sanalah orang-orang mukmin diuji dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat dahsyat." (QS. al-Ahzāb: 10–11)

Namun Allah meneguhkan hati orang-orang beriman, sebagaimana firman-Nya:

"Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (pasukan sekutu), mereka berkata: 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita; dan benar Allah dan Rasul-Nya.' Dan hal itu tidak menambah pada mereka kecuali keimanan dan kepasrahan." (QS. al-Ahzāb: 22)

Adapun orang-orang munafik dan orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit, mereka berkata:

"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipuan belaka." (QS. al-Ahzāb: 12)

"Rasulullah ﷺ mengangkat Ibnu Umm Maktum sebagai pemimpin (wakil) di Madinah, dan beliau menempatkan para wanita dan anak-anak di dalam benteng-benteng (āṭām) [الآطام]. Kemudian beliau keluar (menuju medan perang) bersama tiga ribu kaum Muslimin. Mereka memposisikan punggung mereka menghadap ke Gunung Sala‘ [سلع] dan berlindung dengannya, sedangkan parit (khandaq) berada di antara mereka dan orang-orang kafir."

"Setelah kaum musyrikin menetap dan bersiap-siap, mereka maju menuju kota Madinah. Ketika mereka mendekati kaum Muslimin, mereka dikejutkan oleh adanya sebuah parit lebar yang menghalangi antara mereka dan kaum Muslimin. Mereka pun tercengang, dan Abu Sufyan berkata: 'Ini adalah strategi yang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab.' Lalu mereka mulai berkeliling di sekitarnya dengan kebingungan dan kemarahan, mencari titik yang bisa mereka lewati. Sementara itu, kaum Muslimin terus memanahi mereka dengan anak panah agar mereka tidak mendekat, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk menerobos atau menimbun parit dan membangun jalan di atasnya."

"Kaum musyrikin pun terpaksa memberlakukan pengepungan terhadap kota Madinah, sementara mereka sebenarnya tidak siap untuk itu, karena hal tersebut tidak mereka perhitungkan ketika mereka keluar (menuju perang). Maka mereka mulai keluar di siang hari berusaha menyeberangi parit, dan kaum Muslimin menghadapi mereka sepanjang garis pertahanan, berperang dan saling lempar batu. Kaum musyrikin berulang kali mengintensifkan usaha mereka dan terus melakukannya sepanjang hari. Hal itu memaksa kaum Muslimin untuk terus bertahan dalam perlawanan, sampai-sampai mereka—termasuk Rasulullah ﷺ—terluput dari melaksanakan salat-salat (tepat waktu), dan mereka tidak dapat menunaikannya kecuali setelah matahari terbenam atau menjelangnya. Saat itu, salat khauf (salat dalam kondisi bahaya) belum disyariatkan."

"Pada suatu hari, sekelompok pasukan berkuda dari kaum musyrikin keluar, di antara mereka terdapat ‘Amru bin ‘Abd Wudd, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, Dhirar bin Al-Khattab, dan lainnya. Mereka mendatangi bagian parit yang sempit, lalu menerobosnya, dan kuda-kuda mereka berkeliaran di tanah lapang antara parit dan Gunung Sala‘. Maka Ali bin Abi Thalib bersama sekelompok kaum Muslimin keluar menghadang mereka, dan memutus jalan kembali mereka ke tempat masuknya. ‘Amru bin ‘Abd Wudd menantang untuk berduel, dan dia dikenal sebagai orang yang sangat berani dan mematikan. Ali memancing emosinya hingga ia turun dari kudanya, lalu mereka saling menyerang dan berduel hingga akhirnya Ali berhasil membunuhnya. Sisa pasukan musyrikin pun melarikan diri dalam ketakutan yang amat besar, bahkan ‘Ikrimah meninggalkan tombaknya, dan Naufal bin ‘Abdullah terjatuh ke dalam parit lalu dibunuh oleh kaum Muslimin."

"Dalam peristiwa saling lempar (panah dan batu) tersebut, hanya sedikit yang terluka dari kedua belah pihak. Jumlah korban tewas dari pihak musyrikin mencapai sepuluh orang, sedangkan dari kaum Muslimin enam orang.

Sa‘d bin Mu‘ādz terkena panah yang memutus urat nadi lengannya (akḥilahu) [أكحله]. Maka ia pun berdoa kepada Allah agar dibiarkan hidup jika masih ada sisa peperangan melawan kaum Quraisy; namun jika tidak, maka jadikanlah kematiannya melalui luka tersebut. Lalu ia berdoa: ‘Dan janganlah Engkau matikan aku sebelum Engkau membuat mataku sejuk (senang) dengan (kemenangan atas) Bani Quraizhah [قريظة].’" 

 

Kembali ke bagian 33 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 35

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar