Kamis, 10 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 52

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 51 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 53

 

 

Penghancuran Berhala ‘Uzzā, Suwā‘, dan Manāt:

Pada tanggal 25 Ramadan, Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin al-Walid bersama tiga puluh penunggang kuda ke Nakhlah untuk menghancurkan berhala al-‘Uzzā dan bangunannya. Maka ia pun pergi ke sana dan menghancurkannya. Al-‘Uzzā adalah berhala terbesar milik kaum musyrik.

 

Kemudian, Rasulullah ﷺ mengutus ‘Amr bin al-‘Āṣ pada Ramadan yang sama untuk menghancurkan berhala Suwā‘, yaitu berhala terbesar milik Bani Hudzail, yang bangunannya berada di Ruhāṭ, sekitar 150 km timur laut Mekkah. Ia pun pergi ke sana dan menghancurkannya, dan penjaga berhala tersebut masuk Islam setelah melihat betapa lemahnya berhala itu.

 

Selanjutnya, Rasulullah ﷺ mengutus Sa‘īd bin Zayd al-Ashhali – raḍiyallāhu ‘anhu – di bulan Ramadan yang sama untuk menghancurkan berhala Manāt bersama dua puluh penunggang kuda. Berhala ini berada di al-Mushallal dekat Qudayd, dan merupakan berhala yang disembah oleh Bani Kalb, Khuza‘ah, Ghassān, serta suku Aus dan Khazraj. Maka ia pun mendatanginya, memecahkannya, dan menghancurkan bangunannya.

 

Pengutusan Khalid bin al-Walid kepada Bani Jadzimah [جذيمة]:

Kemudian Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid pada bulan Syawwal kepada Bani Jadzimah untuk mengajak mereka masuk Islam. Ia pergi bersama 350 orang dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan Bani Sulaym.

Ketika Khalid mengajak mereka kepada Islam, mereka berkata: "Ṣabā’nā, ṣabā’nā" [صبأنا] (kami telah berpindah agama – ungkapan yang menunjukkan keislaman mereka, namun tidak dengan lafaz yang biasa). Maka Khalid pun membunuh dan menawan mereka. Bahkan, keesokan harinya ia memerintahkan agar setiap orang membunuh tawanan yang ada padanya. Namun Abdullah bin ‘Umar dan para sahabatnya menolak perintah itu.

Ketika mereka kembali dan menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ, beliau pun mengangkat kedua tangannya dan berkata sebanyak dua kali:

"Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan Khalid."

Kemudian Nabi ﷺ mengutus Ali bin Abi Thalib – raḍiyallāhu ‘anhu dengan membawa harta, untuk membayar diyat (tebusan) bagi korban yang terbunuh, dan memberikan ganti rugi atas harta mereka yang hilang. Bahkan ketika masih ada harta yang tersisa, Ali membiarkannya untuk mereka.

 

Terjadi pula pertengkaran antara Khalid dan Abdurrahman bin ‘Auf karena perbuatan Khalid itu. Ketika mereka kembali dan mengabarkan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

"Tenanglah, wahai Khalid. Jangan engkau menyakiti sahabat-sahabatku. Demi Allah, seandainya Gunung Uhud itu berupa emas lalu engkau infakkan di jalan Allah, niscaya engkau tidak akan bisa menyamai pahala satu pagi atau satu petang yang dilakukan oleh salah seorang sahabatku."

 

Perang Hunain

Ketika penaklukan Makkah telah selesai, para tokoh terkemuka dari suku-suku Qais ‘Ailān berkumpul untuk bermusyawarah, terutama dari kalangan Hawāzin dan Tsaqīf. Mereka berkata:

"Muhammad telah selesai memerangi kaumnya, dan kini tidak ada lagi yang menghalanginya untuk memerangi kita. Maka, mari kita serangnya sebelum dia menyerang kita."

Mereka pun sepakat untuk berperang, dan memilih Mālik bin ‘Awf an-Naṣrī sebagai pemimpin pasukan. Maka berkumpullah pasukan yang sangat besar, dan mereka turun di lembah Autās. Mereka membawa serta para wanita, anak-anak, dan harta benda mereka.

Di antara mereka terdapat Duraid bin aṣ-Ṣimmah, seorang tokoh tua yang terkenal akan kecerdasan dan pengalamannya. Ketika Duraid mendengar suara anak-anak dan ternak, ia bertanya kepada Mālik tentang hal itu. Mālik menjawab:

"Aku ingin menempatkan istri dan harta di belakang setiap prajurit, agar mereka berperang untuk membela mereka."

Duraid berkata: "Demi Allah, ini hanyalah pendapat seorang penggembala kambing. Orang yang kalah tidak akan bisa ditahan oleh apa pun! Jika peperangan berpihak padamu, maka hanya orang yang berpedang dan bertombaklah yang berguna. Tapi jika kamu kalah, maka kamu akan dipermalukan bersama keluargamu dan hartamu."

Duraid menyarankan agar wanita dan harta mereka dikembalikan ke kampung, namun Mālik menolak nasihat itu. Ia tetap mengumpulkan pasukan di lembah Autās, lalu membawa pasukan tempurnya ke lembah Hunain, di sebelah Autās, dan memasang pasukan penyergap (penyergapan tersembunyi/penyergapan mendadak).

 

Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui tentang pengumpulan pasukan musyrik, beliau keluar dari Makkah pada hari Sabtu, 6 Syawwal, bersama 12.000 prajurit. Beliau meminjam seratus baju zirah lengkap dengan peralatannya dari Ṣafwān bin Umayyah, dan menunjuk ‘Aṭāb bin Asīd sebagai gubernur Makkah.

 

Dalam perjalanan, kaum Muslimin melewati sebuah pohon besar (sidrah) yang biasa digunakan oleh bangsa Arab untuk menggantungkan senjata, berkurban, dan melakukan ibadah tertentu. Pohon itu disebut “Dzātu Anwāṭ”. Sebagian sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ:

“Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzātu Anwāṭ sebagaimana mereka memiliki Dzātu Anwāṭ.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Allāhu Akbar! Kalian telah mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh kaum Musa kepada Musa: ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan!’. Sungguh kalian adalah kaum yang bodoh. Sesungguhnya ini adalah kebiasaan terdahulu. Kalian pasti akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian.” 

 

Sebagian dari kaum Muslimin, karena melihat besarnya jumlah pasukan, berkata: "Hari ini kita tidak akan terkalahkan."

Ucapan itu menyakitkan hati Rasulullah ﷺ.

Menjelang malam, datang seorang penunggang kuda dan mengabarkan bahwa Hawāzin telah keluar bersama kaum wanita, unta, dan kambing mereka. Rasulullah ﷺ pun tersenyum dan bersabda: "Itu adalah harta rampasan bagi kaum Muslimin besok, insya Allah." 

 

Pada malam kesepuluh bulan Syawwal tahun ke-8 H, Rasulullah ﷺ tiba di lembah Hunain. Beliau menyusun barisan pasukannya pada waktu fajar sebelum memasuki lembah tersebut. Beliau menyerahkan: Panji kaum Muhajirin kepada Ali bin Abi Thalib, Panji kaum Aus kepada Usaid bin Hudhair, Panji kaum Khazraj kepada Hubab bin al-Mundzir, dan memberikan panji-panji kepada suku-suku lainnya.

Rasulullah ﷺ mengenakan dua lapis baju besi, serta helm besi dan pelindung kepala dari rantai baja (mighfar).

Kemudian, barisan depan pasukan Muslim mulai menuruni lembah Hunain, tanpa mengetahui bahwa musuh telah memasang penyergapan tersembunyi di sana.

Tiba-tiba, musuh melepaskan panah secara bertubi-tubi ke arah mereka, seperti hujan belalang yang tersebar, lalu mereka menyerbu dengan kekuatan penuh. Barisan depan kaum Muslimin kaget dan panik oleh serangan mendadak ini, sehingga banyak dari mereka lari terpencar, dan pasukan di belakang pun ikut mundur. Maka terjadilah kekalahan besar secara umum di awal pertempuran. 

 

Hal ini membuat senang sebagian kaum musyrik dan orang-orang yang baru masuk Islam.

Abu Sufyan berkata: "Mereka tidak akan berhenti lari sampai ke laut!"

Seorang saudara dari Ṣafwān berkata: "Hari ini, sihir itu telah lenyap!"

Orang lain berkata kepadanya: "Bergembiralah atas kekalahan Muhammad dan para sahabatnya. Demi Allah, mereka tidak akan bisa bangkit lagi!"

Namun Ṣafwān bin Umayyah—yang saat itu masih musyrik—dan ‘Ikrimah bin Abī Jahl—yang baru saja masuk Islam—marah kepada mereka berdua dan membentak mereka. 

 

Adapun Rasulullah ﷺ, beliau tetap tegar, ditemani segelintir sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan mulai memacu baghalnya ke arah musuh, sambil bersabda: 

"Akulah nabi, ini bukan dusta. Akulah putra ‘Abdul-Muthallib!"

 

Abu Sufyan bin al-Harist memegang kendali baghal (tunggangan) beliau, dan ‘Abbās memegangi pijakan kakinya, agar beliau tidak maju terlalu cepat ke arah musuh.

Kemudian Rasulullah ﷺ turun dari baghalnya, berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya.

Beliau pun memerintahkan al-‘Abbās, yang dikenal memiliki suara lantang, untuk memanggil para sahabatnya. Maka al-‘Abbās pun berseru, hingga memenuhi seluruh lembah dengan suaranya: "Wahai para sahabat ‘Samurah’ (yang berbaiat di bawah pohon)!"

Mereka pun berbalik mengikuti suara itu, seperti induk sapi yang mencari anaknya, sambil berseru: "Kami datang! Kami datang!"

Hingga ketika terkumpul sekitar seratus orang dari mereka, mereka langsung menghadapi musuh dan bertempur. 

 

Kemudian panggilan diarahkan kepada kaum Anshar, lalu kepada Bani Hārist bin Khazraj, dan pasukan-pasukan kaum Muslimin mulai berdatangan satu demi satu, hingga akhirnya berkumpul pasukan besar mengelilingi Rasulullah ﷺ.

Lalu Allah menurunkan ketenangan (sakinah) kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman, serta mengirimkan bala tentara dari langit yang tidak tampak oleh mereka.

Kaum Muslimin pun kembali menyerang dan pertempuran berkobar dengan sengit. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Sekarang pertempuran benar-benar memanas!" [الآن حمي الوطيس]

Beliau mengambil segenggam tanah, lalu melemparkannya ke arah wajah musuh sambil berseru: "Binasalah wajah-wajah itu!" [شاهت الوجوه]

Maka debu memenuhi mata mereka, dan kekuatan mereka mulai melemah, hingga mereka mulai lari dan porak-poranda.

Kaum Muslimin kemudian mengejar mereka, membunuh dan menawan musuh, hingga berhasil menangkap para wanita, anak-anak, dan banyak dari pasukan musyrik.

Pada hari itu, Khalid bin al-Walid mengalami luka parah dalam pertempuran.

Melihat bagaimana Allah menjaga dan menolong Rasul-Nya, banyak dari kaum musyrik Makkah masuk Islam. 

 

Kembali ke bagian 51 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 53

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar