Jumat, 15 Agustus 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 35

 

TARIKH KHULAFA


Kembali 34 | IndeX | Lanjut 36

 

 

[Larinya setan dari Sayyidina ‘Umar ra]

 

Ibnu ‘Asākir meriwayatkan dari ‘Āisyah ra, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya setan lari ketakutan dari ‘Umar."

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari hadits Buraydah bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya setan benar-benar lari ketakutan darimu, wahai ‘Umar."

 

Ibnu ‘Asākir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās ra, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Tidak ada malaikat di langit kecuali ia menghormati ‘Umar, dan tidak ada setan di bumi kecuali ia lari ketakutan dari ‘Umar."

 

At-Ṭabarānī dalam al-Awsaṭ meriwayatkan dari Abū Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah membanggakan penduduk ‘Arafah secara umum, dan membanggakan ‘Umar secara khusus."


Dan beliau meriwayatkan yang semisalnya dalam al-Kabīr dari hadits Ibnu ‘Abbās ra. 

 

At-Ṭabarānī dan al-Daylamī meriwayatkan dari al-Faḍ'l bin al-‘Abbās, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Kebenaran setelahku bersama ‘Umar, di mana pun ia berada." 

 

Al-Syaikhān (al-Bukhārī dan Muslim) meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Abū Hurairah ra, keduanya berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku berada di sebuah sumur yang di atasnya ada timba. Aku menimba darinya sesuai yang dikehendaki Allah. Lalu Abū Bakar mengambilnya, ia menimba satu atau dua timba, dan dalam timbaannya ada kelemahan—semoga Allah mengampuninya. Kemudian datang ‘Umar, ia menimba, maka timba itu berubah di tangannya menjadi timba besar. Aku tidak pernah melihat orang yang begitu kuat dan cakap seperti dia, hingga orang-orang puas minum dan mereka menetap di tempat air itu."

 

Al-Nawawī dalam Tahdzīb-nya berkata:

(Para ulama mengatakan: Hadis ini merupakan isyarat kepada kekhalifahan Abū Bakar dan ‘Umar, banyaknya penaklukan, dan tersebarnya Islam pada masa ‘Umar).

 

At-Ṭabarānī meriwayatkan dari Sudaysah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya setan tidak pernah bertemu ‘Umar sejak ia masuk Islam… kecuali ia jatuh tersungkur dengan wajahnya."

 

Al-Dāruquṭnī meriwayatkannya dalam al-Afrād melalui jalur Sudaysah dari Ḥafṣah.

 

At-Ṭabarānī meriwayatkan dari Ubay bin Ka‘ab ra, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Jibril berkata kepadaku: Hendaklah Islam menangis atas wafatnya ‘Umar."

 

At-Ṭabarānī dalam al-Awsaṭ meriwayatkan dari Abū Sa‘īd al-Khudrī ra, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa membenci ‘Umar, maka sungguh ia telah membenciku. Dan barang siapa mencintai ‘Umar, maka sungguh ia telah mencintaiku. Sesungguhnya Allah membanggakan manusia pada sore hari ‘Arafah secara umum, dan membanggakan ‘Umar secara khusus. Dan tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali di tengah umatnya ada seorang muhaddats (orang yang dibisiki/diilhamkan). Dan jika ada di antara umatku orang seperti itu, maka dialah ‘Umar."

Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah maksud muhaddats [محدث]?"

Beliau menjawab: "Malaikat berbicara melalui lisannya."
Sanadnya hasan.

 

Bab: Ucapan para sahabat dan orang-orang terdahulu tentang beliau (‘Umar ra)

 

Abū Bakr al-Ṣiddīq ra berkata:

"Tidak ada seorang pun di atas permukaan bumi yang lebih aku cintai daripada ‘Umar."

(Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asākir).

 

Abū Bakar pernah dikatakan ketika beliau sakit: "Apa yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu ketika engkau telah mengangkat ‘Umar (sebagai khalifah)?"

Beliau menjawab: "Aku akan berkata kepada-Nya: Aku telah mengangkat atas mereka orang yang terbaik di antara mereka."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d).


‘Alī ra berkata:

"Jika disebut orang-orang saleh… maka sambutlah ‘Umar. Kami tidak meragukan bahwa ketenangan (sakīnah) berbicara melalui lisan ‘Umar."

(Diriwayatkan oleh al-Ṭabarānī dalam al-Awsaṭ).


Ibnu ‘Umar ra berkata:

"Aku tidak pernah melihat seorang pun setelah Rasulullah ﷺ, sejak beliau wafat, yang lebih bersungguh-sungguh dan lebih dermawan daripada ‘Umar."

(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d).

 

Ibnu Mas‘ūd ra berkata:

"Seandainya ilmu ‘Umar diletakkan di satu sisi timbangan, dan ilmu seluruh penduduk bumi yang masih hidup diletakkan di sisi yang lain, niscaya ilmu ‘Umar akan lebih berat daripada ilmu mereka. Bahkan mereka meyakini bahwa ‘Umar telah pergi dengan membawa sembilan persepuluh ilmu."

(Diriwayatkan oleh al-Ṭabarānī dalam al-Kabīr dan al-Ḥākim).


Hudzaifah ra berkata:

"Seakan-akan seluruh ilmu manusia itu tersimpan di sebuah lubang bersama ‘Umar."

 

Hudzaifah juga berkata:

"Demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang tidak takut celaan orang dalam (menegakkan) agama Allah, kecuali ‘Umar ra."

 

‘Āisyah ra —ketika menyebut ‘Umar— berkata:

"Demi Allah, ia adalah seorang yang cakap, lincah, dan tiada duanya."

 

Mu‘āwiyah ra berkata:

"Adapun Abū Bakar… ia tidak menginginkan dunia dan dunia pun tidak menginginkannya. Adapun ‘Umar… dunia menginginkannya tetapi ia tidak menginginkannya. Adapun kami… kami bergelimang di dalamnya, luar-dalam."

(Diriwayatkan oleh al-Zubayr bin Bakkār dalam al-Muwafaqiyyāt).

 

Jābir ra berkata:

"‘Alī masuk menemui ‘Umar yang saat itu sudah terbujur (meninggal), lalu berkata: Semoga Allah merahmatimu. Tidak ada seorang pun yang lebih aku sukai untuk aku temui Allah dengan membawa catatan amalnya, setelah bersahabat dengan Nabi ﷺ, selain orang yang terbujur ini." (Diriwayatkan oleh al-Ḥākim).

 

Ibnu Mas‘ūd ra berkata:

"Jika disebut orang-orang saleh… maka sambutlah ‘Umar; sesungguhnya ‘Umar adalah orang yang paling berilmu di antara kami tentang Kitab Allah, dan paling faqih dalam agama Allah Ta‘ālā." (Diriwayatkan oleh at-Ṭabarānī dan al-Ḥākim).

 

Ibnu ‘Abbās ra pernah ditanya tentang Abū Bakar, ia berkata:

"Ia seperti seluruh kebaikan yang terkumpul."

Lalu ditanya tentang ‘Umar, ia berkata:

"Ia seperti burung yang sangat waspada, yang merasa di setiap jalan ada duri yang siap melukainya."

Kemudian ditanya tentang ‘Alī, ia berkata:

"Ia penuh dengan tekad, ketegasan, ilmu, dan keberanian." (Diriwayatkan dalam al-Ṭuyūriyyāt).

 

At-Ṭabarānī meriwayatkan dari ‘Umayr bin Rabī‘ah bahwa ‘Umar bin Khaṭṭāb berkata kepada Ka‘ab al-Aḥbār:

"Bagaimana engkau menemukan sifatku (dalam kitab-kitab terdahulu)?"

Ia menjawab: "Aku mendapat sifatmu sebagai ‘tanduk dari besi’."

‘Umar berkata: "Apa maksud ‘tanduk dari besi’ itu?"

Ka‘ab menjawab: "Seorang pemimpin yang tegas, yang tidak takut celaan siapa pun dalam (menegakkan) agama Allah."

‘Umar bertanya: "Kemudian apa?"

Ka‘ab menjawab: "Kemudian akan ada setelahmu seorang khalifah yang dibunuh oleh kelompok yang zalim."

‘Umar bertanya lagi: "Lalu apa?"

Ka‘b menjawab: "Kemudian akan datang masa ujian (bala’)."

 

Aḥmad, al-Bazzār, dan at-Ṭabarānī meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd ra, ia berkata:

"‘Umar bin Khaṭṭāb memiliki keutamaan atas manusia dalam empat hal:

Tentang tawanan perang Badar: ia memerintahkan agar mereka dibunuh, lalu Allah menurunkan firman-Nya: 

 لَوْلا كِتَابٌ مِنَ اللَّهِ سَبَقَ

“Kalau bukan karena ketetapan Allah yang telah terdahulu…” (QS. al-Anfāl: 68).

Tentang ayat hijab: ia memerintahkan istri-istri Nabi ﷺ untuk berhijab, lalu Zainab berkata kepadanya: ‘Apakah engkau ingin mengatur kami, wahai Ibnu Khaṭṭāb, padahal wahyu turun di rumah-rumah kami?’, lalu Allah menurunkan ayat: 

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ 

“Dan apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka, maka mintalah dari balik tabir…” (QS. al-Aḥzāb: 53).

Tentang doa Nabi ﷺ: ‘Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan (masuk Islamnya) ‘Umar’.

Tentang pandangannya terhadap Abū Bakar: ia adalah orang pertama yang berbaiat pada Abū Bakar."

 

Ibnu ‘Asākir meriwayatkan dari Mujāhid, ia berkata:

"Kami dahulu berbincang bahwa para setan terbelenggu pada masa kekuasaan ‘Umar. Ketika ia wafat… mereka pun dilepaskan (bebas)."

 

Beliau juga meriwayatkan dari Sālim bin ‘Abdillāh, ia berkata:

"Kabar tentang ‘Umar terlambat sampai kepada Abū Mūsā, maka ia mendatangi seorang wanita yang di dalam tubuhnya ada (gangguan) setan. Ia bertanya kepadanya tentang ‘Umar. Wanita itu menjawab: ‘Tunggu sampai setanku datang.’ Lalu setannya datang, dan ia menanyakannya tentang ‘Umar. Setan itu menjawab: ‘Aku meninggalkannya sedang memakai kain selendang, meminyaki unta-unta sedekah. Ia adalah orang yang tidak dilihat setan kecuali pasti jatuh tersungkur di hadapannya. Malaikat berada di antara kedua matanya, dan [روح القدس] Rauhul Quddus berbicara melalui lisannya.’" 

 

Kembali 34 | IndeX | Lanjut 36

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar