التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
الباب الأول
Bab Pertama
في أَطْرَافِ مِنْ فَضِيلَةِ تِلَاوَةِ الْقُرْآن وَحَمَلَتَهِ
Beberapa pembahasan tentang keutamaan membaca Al-Qur'an dan para penghafalnya
قال عز وجل : ﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَبَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَوَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَرَةً لَّن تَبُورَ - لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورُ ﴾ [ فاطر : ٢٩ ] .
Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an), mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan suatu perdagangan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambahkan kepada mereka karunia-Nya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (menghargai amal hamba-hamba-Nya)." (QS. Fathir: 29–30)
وروّينا عن عثمان بن عفان - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله ﷺ : خيركم من تعلم القرآن وعلّمه .
Dan kami meriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
'Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.'"
رواه أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم البخاري في صحيحه الذي هو أصح الكتب بعد القرآن .
Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang merupakan kitab paling sahih setelah Al-Qur'an.
وعن عائشة - رضي الله عنها - قالت : قال رسول الله ﷺ : « الَّذِي يَقْرأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ ، مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ يَتَتَعْتَعُ فِيهِ ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌ لَهُ أَجْرَانِ » .
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang membaca Al-Qur'an dan ia mahir membacanya, maka ia akan bersama para malaikat pencatat wahyu yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca Al-Qur'an sedangkan ia terbata-bata dalam membacanya dan merasa kesulitan, maka baginya dua pahala."
رواه البخاري وأبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما .
Hadist ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Abu Husain yaitu Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi dalam kedua kitab Shahih mereka.
وعن أبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله ﷺ : مثل المؤمن الذي يقرأُ القُرآن مثل الأترجة ريحها طيّب ، وطعمها طيّب .
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seperti utrujjah (sejenis jeruk), aromanya harum dan rasanya pun enak."
وَمَثَلُ المؤمن الذي لا يقرأ القرآن مثل التمرة ، لاربيح لها طعمها طيّب حلو .
Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti kurma, tidak memiliki aroma, tetapi rasanya enak dan manis."
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ، مَثَلِ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seperti raihanah (tanaman yang harum), aromanya harum, tetapi rasanya pahit.
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ، كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seperti buah hanzhalah; tidak memiliki aroma dan rasanya pahit.
[الحنظلة - buah yang terkenal sangat pahit rasanya]
رواه البخاري ومسلم .
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim
وعن عمر بن الخطاب - رضي الله تعالى عنه - أن النبي ﷺ قال : « إن الله تعالى يرفع بهذا الكلام أقواما ، ويَضَعُ به آخرين » . رواه مسلم
Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ta'ala 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah Ta'ala mengangkat derajat suatu kaum dengan kalam (Al-Qur'an) ini, dan merendahkan dengannya kaum yang lain." Hadist riwayat Muslim
وعن أبي أمامة الباهلي رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله ﷺ يقول : « اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأصحابه » . رواه مسلم
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya Al-Qur'an akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.'"
وعن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي ﷺ قال : « لا حَسَدَ إلا في اثنتين :
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Tidak boleh hasad (iri) kecuali pada dua perkara..."
۱ - رجل آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيلِ وَآنَاءِ النَّهَارِ .
1. Seorang laki-laki yang Allah anugerahkan kepadanya Al-Qur'an, lalu ia membacanya dan mengamalkannya pada waktu-waktu malam dan siang.
٢ - وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ .
2. Dan seorang laki-laki yang Allah anugerahkan harta kepadanya, lalu ia menginfakkannya pada waktu-waktu malam dan siang."
رواه البخاري ومسلم
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim
وروينا أيضاً من رواية عبد الله بن مسعود - رضي الله عنه - بلفظ « لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ » :
Dan kami juga meriwayatkan dari jalur riwayat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu dengan lafaz: 'Tidak ada hasad (iri) kecuali pada dua perkara'.
١ - رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ بالْحَق
1. Seorang laki-laki yang Allah anugerahkan harta kepadanya, lalu Allah memberinya kemampuan untuk membelanjakannya dalam jalan yang benar.
٢ - وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
2. Dan seorang laki-laki yang Allah anugerahkan kepadanya hikmah, lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya.
وعن عبد الله بن مسعود - رضي الله عنه - قال : قال رسول الله ﷺ : « مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَلَهُ حَسَنَةٌ ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، لا أَقُولُ ، أَلَمْ حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ ، وَلَامٌ حَرْفٌ ، وَمِيمٌ حَرْفٌ .
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur'an), maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa 'Alif Lam Mim' itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."
رواه أبو عيسى محمد بن عيسى الترمذي . وقال : حديث حسن صحيح .
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, dan beliau berkata: 'Hadist ini hasan sahih.'
وعن أبي سعيد الخدري - رضي الله عنه - عن النبي ﷺ قال : « يقول سبحانه وتعالى : ﴿ مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ ﴾ . وَفَضْلُ كَلَامِ اللهِ - سُبحانَه وَتَعَالى - عَلَى سَائِرِ الْكَلامِ ، كَفَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ » . رواه الترمذي وقال حديث حسن غريب .
Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
‘Barang siapa disibukkan oleh Al-Qur'an dan zikir kepada-Ku sehingga ia tidak sempat meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta.’
‘Keutamaan kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala atas seluruh perkataan lainnya adalah seperti keutamaan Allah Ta'ala atas seluruh makhluk-Nya.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad ibn Isa al-Tirmidhi, dan beliau berkata: “Hadist hasan gharib.”
وعن ابن عباس - رضي الله عنهما - قال : قال رسول الله ﷺ : «إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِه شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيتِ الْخَرِبِ . رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح .
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak ada sedikit pun Al-Qur'an, bagaikan rumah yang rusak (kosong dan terbengkalai).”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadist hasan sahih.”
وعن عبد الله بن عمرو بن العاص - رضي الله عنه - عن النبي ﷺ قال : « يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ، وَارْتَقِ، وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا » . رواه أبو داود والترمذي والنسائي ، وقال الترمذي حديث حسن صحيح .
Dari Abdullah ibn Amer bin 'Ash radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Akan dikatakan kepada orang yang senantiasa bersama Al-Qur'an: ‘Bacalah, naiklah (ke derajat yang lebih tinggi), dan bacalah dengan tartil sebagaimana dahulu engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada ayat terakhir yang engkau baca.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Muhammad bin Isa at-Tirmidhi, dan Ahmad bin Shu'ayb an-Nasa'i. Imam At-Tirmidzi berkata: “Hadis hasan sahih.”
وعن سهيل بن معاذ عن أبيه معاذ رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال : « مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ، وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَيْهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ، فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا، فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا » . رواه أبو داود .
Dari Suhail bin Mu'adz, dari ayahnya Mu'adh bin Jabal radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa membaca Al-Qur'an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Kiamat. Cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia. Maka bagaimana menurut kalian (kemuliaan) orang yang mengamalkan Al-Qur'an itu sendiri?”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.
وروى الدارمي بإسناده عن عبد الله بن مسعود - رضي الله عنه - عن النبي ﷺ قال : « اقْرَؤُوا القُرْآنَ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يُعَذِّبُ قَلْبًا وَعَى القُرْآنَ ، وَإِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللَّهِ، فَمَنْ دَخَلَ فِيهِ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَلْيُبْشِرْ » .
Dan Abdullah bin Masud radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dengan sanadnya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak akan mengazab hati yang menyimpan (menghafal dan menjaga) Al-Qur'an. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah jamuan Allah. Barang siapa masuk ke dalamnya, maka ia akan aman. Dan barang siapa mencintai Al-Qur'an, hendaklah ia bergembira.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdur-Rahman ad-Darimi.
وعن عبد الحميد الحماني قال : سألت سفيان الثوري عن الرجل يغزو أحبُّ إليك أو يقرأ القرآن ؟ .
"Dan dari Abdul Hamid Al-Hammani, ia berkata: Aku bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, 'Menurutmu, manakah yang lebih engkau sukai: seseorang pergi berjihad (berperang di jalan Allah) atau membaca Al-Qur'an?'”
فقال : يقرأ القرآن لأن النبي ﷺ قال : « خَيْرُكُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرآنَ وَعَلَّمَهُ »
Maka beliau menjawab: “Membaca Al-Qur'an (lebih aku sukai), karena Nabi ﷺ bersabda: ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.’”
وعن ابن عباس - رضي الله تعالى عنهما - قال : جاء رجل إلى رسول الله ﷺ قال : يا رسول الله إني رأيت في هذه الليلة فيما يرى النائم ، كأني أصلي خلف شجرة ، فرأيت كأني قرأت سجدة ، فرأيت الشجرة كأنها تسجد لسجودي ، فسمعتها وهي ساجدة ، وهي تقول : اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ .
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ta'ala 'anhuma, ia berkata:
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata:
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi malam aku bermimpi, seakan-akan aku sedang shalat di belakang sebuah pohon. Kemudian aku membaca ayat sajdah, lalu aku sujud. Aku melihat pohon itu juga sujud mengikuti sujudku. Aku mendengarnya ketika sujud mengucapkan:
‘Ya Allah, tuliskanlah untukku dengan sebab sujud ini pahala di sisi-Mu,’ ‘dan jadikanlah ia sebagai simpanan pahala bagiku di sisi-Mu,’ ‘dan hapuskanlah dariku dengan sebabnya dosa,’ ‘dan terimalah sujud ini dariku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu, Dawud.’”
قال ابن عباس : قرايتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ قرا السَّجْدَةَ فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ مِثْلَ مَا قَالَ الرَّجُلُ عَنْ كَلَامِ الشَّجَرَةِ . رواه الترمذي وابن ماجه وابن حبان في صحيحه واللفظ له .
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
“Kemudian aku melihat Rasulullah ﷺ membaca ayat sajdah, lalu beliau sujud. Aku mendengar beliau ketika sedang sujud mengucapkan seperti apa yang diceritakan oleh laki-laki itu dari ucapan pohon tersebut.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Isa at-Tirmidhi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya, dan lafaz di atas adalah lafaz riwayat beliau.
أَقُولُ: أَصَبْتُ أَنْ أُوشِحَ هَذَا المَوْضُوعَ بِنَظْمِ الإِمَامِ البُوصِيرِيِّ، مَأْرَبُهَا القُرْآن الكَرِيم لِتَتِمَّ الفَائِدَةُ حَيْثُ قَالَ:
Saya berkata: Saya memandang baik untuk menghiasi pembahasan ini dengan syair karya Muhammad al-Busiri yang bertemakan Al-Qur'an Al-Karim, agar faedahnya menjadi lebih sempurna. Beliau berkata:
دَعْنِي وَوَصْفِيَ آيَاتٍ لَهُ ظَهَرَتْ ۞ ظُهُورَ نَارِ الْقِرَى لَيْلاً عَلَى عَلَمِ
Biarkan aku berbicara tentang ayat-ayat (tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat) yang tampak padanya, yang jelas terlihat seperti nyala api jamuan bagi tamu pada malam hari di atas sebuah tempat yang tinggi.
فَالدُّرُّ يَزْدَادُ حُسْناً وَهْوَ مُنْتَظِمٌ ۞ وَلَيْسَ يَنْقُصُ قَدْراً غَيْرَ مُنْتَظِمِ
Mutiara itu bertambah indah ketika tersusun rapi dalam untaian, namun nilainya tidak berkurang meskipun tidak tersusun.
فَمَا تَطَاوُلُ آمَالِ الْمَدِيحِ إِلَى ۞ مَا فِيهِ مِنْ كَرَمِ الأَخْلاَقِ وَالشِّيَمِ
Maka bagaimana mungkin cita-cita dan kemampuan pujian dapat menjangkau apa yang ada padanya berupa kemuliaan akhlak dan sifat-sifat yang luhur?
آيَاتُ حَقٍّ مِنَ الرَّحْمَنِ مُحْدَثَةٌ ۞ قَدِيمَةٌ صِفَةُ الْمَوْصُوفِ بِالْقِدَمِ
(Al-Qur'an itu adalah) ayat-ayat yang benar dari Ar-Rahman; ia diturunkan (kepada makhluk) secara berangsur, namun ia merupakan sifat dari Dzat yang bersifat dengan keazalian (Allah Yang Maha Dahulu).
لَمْ تَقْتَرِنْ بِزَمَانٍ وَهْيَ تُخْبِرُنَا ۞ عَنِ الْمَعَادِ وَعَنْ عَادٍ وَعَنْ إِرَمِ
Ia (ayat-ayat Al-Qur'an) tidak terikat oleh waktu, padahal ia mengabarkan kepada kita tentang hari kembali (akhirat), tentang kaum 'Ad, dan tentang Iram.
دَامَتْ لَدَيْنَا فَفَاقَتْ كُلَّ مُعْجِزَةٍ ۞ مِنَ النَّبِيِّينَ إِذْ جَاءَتْ وَلَمْ تَدُمِ
Al-Qur'an tetap ada di tengah-tengah kita, maka ia mengungguli setiap mukjizat para nabi; karena mukjizat-mukjizat itu datang lalu berlalu (tidak terus berlangsung).
مُحَكَّمَاتٌ فَمَا يُبْقِينَ مِنْ شُبَهٍ ۞ لِذِي شِقَاقٍ وَمَا يَبْغِينَ مِنْ حَكَمِ
Ayat-ayat itu kokoh dan jelas (muhkamat), sehingga tidak menyisakan sedikit pun keraguan bagi orang yang membangkang; dan tidak memerlukan hakim (penengah) selain dirinya.
مَا حُورِبَتْ قَطُّ إِلاَّ عَادَ مِنْ حَرَبٍ ۞ أَعْدَى الأَعَادِي إِلَيْهَا مُلْقِيَ السَّلَمِ
Tidaklah Al-Qur'an itu diperangi sama sekali, melainkan musuh yang paling keras permusuhannya terhadapnya akhirnya kembali dengan meletakkan senjata dan menyerah kepadanya.
رَدَّتْ بَلاَغَتُهَا دَعْوَى مُعَارِضِهَا ۞ رَدَّ الْغَيُورِ يَدَ الْجَانِي عَنِ الْحُرَمِ
Keindahan dan ketinggian balaghahnya telah mematahkan klaim orang yang hendak menandinginya, sebagaimana orang yang penuh kecemburuan menjaga kehormatannya dengan menolak tangan penjahat dari kawasan yang suci.
لَهَا مَعَانٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ فِي مَدَدٍ ۞ وَفَوْقَ جَوْهَرِهِ فِي الْحُسْنِ وَالْقِيَمِ
Al-Qur'an memiliki makna-makna yang terus mengalir laksana gelombang lautan yang tiada habisnya; bahkan ia lebih tinggi daripada mutiara laut itu dalam keindahan dan nilainya.
فَمَا تُعَدُّ وَلاَ تُحْصَى عَجَائِبُهَا ۞ وَلاَ تُسَامُ عَلَى الإِكْثَارِ بِالسَّأَمِ
Maka keajaiban-keajaibannya tidak dapat dihitung dan tidak dapat dibatasi; dan ia tidak menimbulkan kebosanan meskipun dibaca, diulang, dan dipelajari berkali-kali.
قَرَّتْ بِهَا عَيْنُ قَارِيهَا فَقُلْتُ لَهُ ۞ لَقَدْ ظَفِرْتَ بِحَبْلِ اللهِ فَاعْتَصِمِ
Sejuk dan tenteramlah mata pembacanya karenanya (Al-Qur'an), maka aku berkata kepadanya: 'Sungguh engkau telah memperoleh tali Allah, maka berpegang teguhlah dengannya.'
إِنْ تَتْلُهَا خِيفَةً مِنْ حَرِّ نَارِ لَظَى ۞ أَطْفَأْتَ حَرَّ لَظَى مِنْ وِرْدِهَا الشَّبِمِ
Jika engkau membacanya karena takut terhadap panasnya api Lazha (neraka), niscaya engkau akan memadamkan panas api itu dengan airnya yang sejuk yang engkau jadikan wirid.
[Wirid adalah amalan ibadah, seperti dzikir, doa, atau kutipan ayat Al-Qur'an, yang dibaca dan diamalkan secara rutin dan berkesinambungan pada waktu serta jumlah tertentu]
كَأَنَّهَا الْحَوْضُ تَبْيَضُّ الْوُجُوهُ بِهِ ۞ مِنَ الْعُصَاةِ وَقَدْ جَاءُوهُ كَالْحُمَمِ
Seakan-akan Al-Qur'an itu seperti telaga (Nabi ﷺ), yang dengannya wajah-wajah menjadi putih berseri, bahkan wajah para pendosa yang mendatanginya sebelumnya dalam keadaan hitam kelam seperti arang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar