Rabu, 01 Januari 2025

Surat Al Lahab : Tafsir Al Qurtubi

 Tafsir Al Qurtubi

 

Surat Al Lahab / Al Masad

 

 ۞۞۞۞۞۞۞

 

وهي مكية بإجماع . وهي خمس آيات

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبْ
 

"Binasakanlah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa".
 

Mengenai ayat ini dibahas tiga masalah :

Pertama : Allah SWT berfirman, تَبَّتْ يَدَا أَبي لَهَبٍ "Binasakanlah kedua tangan Abu Lahab". Dalam kitab shahih Al Bukhari dan shahih Muslim disebutkan, sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, lafazh imam Muslim, Ibnu Abbas berkata : setelah diturunkannya firman Allah SWT, وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat". (Qs. At-Taubah : 214) ورهطك منهم المخلصين dan kaummu yang ikhlas Nabi SAW segera keluar dari rumahnya dan mendaki bukit shafa, lalu beliau berteriak, "Wahai shabahaah (panggilan kepada semua orang untuk memberitahukan suatu hal". Masyarakat di sekelilingnya pun terkejut dan bertanya-tanya, "Siapakah itu?" lalu dijawab oleh sebagian mereka, "Rupanya itu Muhammad". Mereka pun berkumpul ingin mencari tahu apa yang membuat Nabi SAW berteriak di pagi hari. Kemudian setelah beberapa orang berkumpul, Nabi SAW berkata lagi, "Wahai bani fulan, wahai bani fulan, wahai bani fulan, wahai bani Abdi Manaf, wahai bani Abdul Muthallib !" dan semakin banyaklah orang-orang yang berkumpul di sekitarnya, lalu beliau berkata, "Apa pendapat kalian apabila aku katakan ada seekor unta yang keluar dari bawah bukit ini, apakah kalian akan percaya kepadaku ?" mereka menjawab, "(Tentu kami akan percaya) karena Kami tidak pernah melihat engkau berbohong sebelumnya". Lalu Nabi SAW melanjutkan, "Maka dengarkanlah, karena aku baru saja diangkat oleh Allah sebagai pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang sangat keras". Mendengar hal itu Abu Lahab berkata, "Sial kamu wahai Muhammad, apakah kamu mengumpulkan kami semua disini hanya untuk memberitahukan hal itu ?" lalu ia berdiri dan pergi. Maka diturunkanlah surat ini kepada Nabi SAW : تَبَّتْ يَدَا أَبي لَهَبٍ (dengan tambahan kata qad sebelum kata tabb) "Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia telah binasa". (begitulah qira`ah yang dibaca oleh Al A'masy) hingga akhir dari surat ini. (HR. Bukhari)


Al Hamidi dan ulama hadits lainnya menyambungkan riwayat ini dengan riwayat lainnya, yaitu : setelah istri dari Abu Lahab mendengar apa yang terjadi dengan suaminya dan apa yang disebutkan di dalam Al Qur'an, ia mencari-cari Nabi SAW, yang pada saat itu sedang duduk di mesjid (mesjidil Haram) di dekat Ka'bah, ia duduk bersama dengan Abu Bakar ketika itu. Namun ketika istri Abu Lahab yang membawa sebongkah batu yang sangat keras itu tiba di mesjid, Allah mengambil penglihatannya atas Nabi SAW, yang ia lihat saat itu hanya Abu Bakar saja. lalu ia berkata kepada Abu Bakar, "Wahai Abu Bakar, aku mendengar sahabatmu telah menyindirku, aku bersumpah apabila aku bertemu dengannya maka aku akan pukul mulutnya dengan batu ini. Dengarkanlah syairku ini wahai Abu Bakar, 


Kepada mudzammam (orang yang tercela) kami menentang, dan segala perintahnya kami menolak, dan pada agama yang dibawanya kami membenci. 


Abu Bakar kebingungan sendirian setelah ditinggal oleh istri Abu Lahab, ia berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak melihat bagaimana ia tidak bisa melihatmu ?" Nabi SAW menjawab, "la memang tidak dapat melihatku, Allah telah mengambil penglihatannya terhadapku". 


Kata mudzammam yang disebutkan dalam syair istri Abu Lahab tersebut sering digunakan oleh kaum Quraisy untuk menghina Nabi SAW, mereka tidak memanggil beliau dengan menggunakan namanya, namun dengan panggilan mudzammam. Dan mengenai hal ini beliau pernah berkata, "Lihatlah bagaimana Allah telah menghilangkan cacian kaum Quraisy dariku, mereka telah mencela dan mencercaku dengan panggilan mudzammam, padahal namaku adalah Muhammad". 

Diriwayatkan, bahwa sebab diturunkannya surat ini adalah seperti yang diceritakan oleh Abdurrahman bin Zaid, yaitu bahwa pada suatu hari Abu Lahab datang kepada Nabi SAW dan berkata, "(Penghormatan macam) Apakah yang akan aku terima apabila aku beriman kepadamu wahai Muhammad ?" Nabi SAW menjawab, "Seperti yang diterima oleh kaum muslimin lainnya". Lalu ia berkata, "Apakah aku tidak akan memiliki kelebihan apapun dibandingkan mereka ?" Nabi SAW menjawab, "Apa yang sebenarnya engkau inginkan ?" ia berkata, "Celakalah yang mengikuti agama ini, bagaimana mungkin aku disama ratakan dengan orang-orang itu ?" lalu diturunkanlah firman Allah SWT, تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبٌ "Binasakanlah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa". 

Sedangkan riwayat ketiga dari Abdurrahman bin Kaisan menyebutkan, bahwa sebab diturunkannya ayat ini adalah : bahwa setiap kali ada utusan dari daerah lain yang ingin bertemu dengan Nabi SAW, Abu Lahab selalu menemui mereka terlebih dahulu, lalu ia bertanya-tanya tentang apa yang mereka ketahui dari diri Nabi SAW, mereka menjawab, "Tentu engkau lebih mengenalnya dibandingkan kami". Lalu Abu Lahab akan berkata, "Dia adalah seorang pendusta dan penyihir". Maka para utusan tersebut pun kembali ke daerahnya dan mengurungkan niat mereka untuk menemui Nabi SAW.

Pada suatu ketika datanglah satu utusan, dan seperti biasanya Abu Lahab pun mencegat mereka terlebih dahulu dan mengatakan apa yang selalu ia katakan. Namun berbeda dengan utusan lainnya, utusan kali ini berkata kepada Abu Lahab, "Kami tidak akan kembali ke daerah asal kami kecuali kami telah bertemu dengannya dan mendengar apa yang akan dikatakan olehnya". Maka Abu Lahab pun berkata, "Sesungguhnya kami ini masih menanganinya hingga saat ini, oleh karena itu celakalah dan kesengsaraan lah baginya". Lalu berita ini pun sampai ke telinga Nabi SAW, dan beliau merasa sangat sedih mendengarnya. Kemudian diturunkanlah firman Allah SWT, تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ "Binasakanlah kedua tangan Abu Lahab dan “sesungguhnya dia akan binasa" hingga akhir surat.

Diriwayatkan pula, bahwa ketika itu Abu Lahab berniat ingin melempar Nabi SAW dengan sebuah batu, lalu Allah mencegah batu itu sampai mengena di tubuh Nabi SAW, dan Allah SWT menurunkan firmannya : تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبٌ "Binasakanlah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa" yakni , kedua tangan yang melemparkan batu ke arah Nabi SAW.

Mengenai makna dari kata تَبَّ, Qatadah mengartikannya : merugilah. Ibnu Abbas memaknainya : kecewalah. Atha menafsirkannya : tersesatlah. Ibnu Jubair berpendapat : binasalah. Yaman bin Riab mengartikannya : mulutnya akan bersiul setiap kali ia mendengar suatu berita.

Adapun penyebutan tangan secara khusus untuk makna celaka, karena biasanya suatu perbuatan itu akan dilakukan dengan kedua tangan , maka tangan itu lah yang pertama kali akan terkena hukumannya. Dan maknanya adalah kedua tangan itu akan binasa bersama dengan pemiliknya.

Beberapa ulama berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan tangan pada ayat ini adalah memang benar-benar kedua tangan Abu Lahab.

Namun, masyarakat Arab terkadang menyebutkan kata tangan untuk mewakili seluruh tubuh , seperti juga yang disebutkan pada firman Allah SWT, ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ  "Yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu". (QS. Al Hajj : 10) Yakni, yang kamu lakukan terdahulu.

Ini adalah bentuk bahasa yang fasih dalam tata bahasa Arab, yaitu menyebutkan satu bagian dari sesuatu untuk mengungkapkan keseluruhannya,


seperti menyebutkan jari jemari namun yang dimaksudkan adalah tangan secara keseluruhan.


Al Farra mengatakan : kata تَبَّ yang pertama disebutkan pada ayat ini adalah doa, sedangkan yang kedua adalah pemberitahuan. Seperti ketika dikatakan : Allah SWT akan membinasakannya dan ia memang telah binasa.


Abdullah dan Ubai membaca kata di akhir ayat dengan menambahkan kata qad (yakni qad tabba). Adapun mengenai Abu Lahab, yang menjadi topik utama surat ini, memiliki nama asli Abdul Uzza, ia adalah anak dari Abdul Muthallib, yang otomatis menjadikan dia sebagai paman Nabi SAW. Sedangkan istrinya bernama Al Aura' (العوراء) Ummu Jamil, saudari kandung dari Abu Sufyan bin Harb. Kedua suami istri ini sama-sama sangat membenci dan memusuhi Nabi SAW.


Thariq bin Abdillah Al Muharibi pernah mengatakan : Ketika pada suatu hari aku berada di pasar Dzul Majaz, aku melihat seorang laki-laki mengatakan, "Wahai masyarakat sekalian, ucapkanlah kalimat laa ilaaha illallah, maka kamu akan manjadi manusia yang beruntung". Namun tiba-tiba ada seseorang di belakangnya melemparkan batu ke arahnya hingga membuat kedua kaki dan tumitnya berdarah, lalu si pelempar tadi berkata, "Wahai masyarakat sekalian, ia adalah seorang pendusta, janganlah kalian mempercayainya". Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku pun bertanya kepada orang yang berada di sampingku, "Siapakah mereka itu ?" ia menjawab, "Yang pertama adalah Muhammad, ia mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi. Sedangkan yang kedua adalah pamannya Abu Lahab, ia mengira bahwa Muhammad itu seorang pendusta".


Atha meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, ia berkata : Pada suatu hari Abu Lahab berkata, "Kalian telah disihir oleh Muhammad, jika salah satu dari kita memakan seekor kambing dan meminum satu kendi air susu maka kita belum merasa kenyang akibat sihir tersebut. Namun Muhammad dapat mengenyangkan perut-perut kalian dengan hanya memberikan satu paha kambing dan segelas susu. Bukankah itu sihir ?"


Kedua : Firman Allah SWT, أَبٕى لَهَبٕٕ "Abu Lahab". Dikatakan, bahwa sebutan Lahab (nyala api) untuk Abu Lahab disebabkan oleh kerupawanan dan wajahnya yang bersinar. Dan sekelompok orang menjadikan hal ini sebagai dalil untuk pembolehan memberi gelar kepada orang musyrik.


Ini adalah pendapat yang tidak benar, sebab Allah SWT menyebutnya dengan nama Abu Lahab menurut ulama untuk empat makna :

1. Nama aslinya adalah Abdul Uzza, dan Uzza itu adalah nama sebuah berhala (Abdul Uzza - hamba berhala), sedangkan Allah tidak akan menyebutkan penghambaan kepada berhala di dalam Kitab sucinya. 

2. Abu Lahab lebih dikenal dengan nama panggilannya ini dibanding namanya yang asli, oleh karena itu Allah menyebutkan nama itu. 

3. Nama yang asli itu lebih terhormat dari nama julukan (alias), oleh karena itu Allah menurunkan derajat Abu Lahab dengan menyebutkan nama yang lebih rendah kehormatannya. Itulah mengapa Allah memanggil para Nabinya dengan nama-nama mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang dipanggil dengan nama julukannya. Untuk lebih membuktikan bahwa nama asli itu lebih terhormat daripada nama julukan, lihatlah nama Allah azza wa jalla, hanya nama tidak ada julukan sama sekali, walaupun julukan itu sebenarnya untuk lebih memperjelas, namun julukan tetap tidak mungkin dinisbatkan kepada Allah, karena Allah Suci dari segala julukan. 

4. Bahwa Allah ingin memperlihatkan nisbat Abu Lahab yang sebenarnya, yaitu api neraka, dan makna dari nama Abu Lahab adalah bapaknya api neraka, sebagai nisbatnya yang hakiki, bukan seperti nisbat yang dibuat-buat olehnya sendiri.


Ada juga yang mengatakan bahwa nama panggilannya itu adalah nama aslinya, karena keluarganya memang memberi nama Abu Lahab semenjak lahir, karena terangnya sinar yang terpancar dari wajahnya, namun Allah menghendaki agar ia tidak diberi nama dengan kata sinonim yang lebih bagus, karena bisa saja ia diberi nama Abu Nuur atau Abu Dhiya (yang keduanya sama-sama bermakna bapaknya cahaya), namun Allah memilihkan nama yang buruk kepada kedua orang tua Abu Lahab untuk nama anak mereka, agar lisan-lisan yang menyebutkan namanya akan menisbatkan dia kepada lahab (nyala api) yang lebih memiliki konotasi buruk dan hina. Kemudian ditambah lagi dengan tempat tujuan abadinya yang telah ditetapkan oleh Allah untuknya, yaitu neraka Jahannam.


Beberapa ulama, di antaranya Mujahid, Hamid, Ibnu Katsir, dan Ibnu Muhaishin, membaca kata لَهَبٕٕ dengan menggunakan sukun pada huruf (هى) ha, namun mereka tidak berbeda dalam membaca kata yang sama pada ayat ketiga, yaitu dengan menggunakan harakat fathah pada huruf (هى) ha. Alasan mereka memberi harakat pada kata tersebut, karena kata itu terletak di penghujung ayat, hingga lebih mudah jika huruf (هى) ha memiliki harakat.


Ketiga : Ibnu Abbas mengatakan, Setelah Allah menciptakan Qalam, Ia berkata kepada Qalam tersebut, "Tulislah semua kejadian yang akan terjadi". Salah satu yang ditulis oleh Qalam tersebut adalah surat ini, yaitu firman Allah SWT, تبتْ يَدَا أَبي لَهَبٍ وَتَبٌ "Binasakanlah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa".


Manshur mengatakan : Al Hasan pernah ditanya mengenai surat ini, apakah ia termasuk yang dicatat di lauhil mahfuzh? Apakah Abu Lahab sebenarnya mampu untuk tidak masuk neraka? Ia menjawab : Aku bersumpah, ia tidak akan dapat menghindari neraka, karena itulah tujuan yang pasti akan dicapainya, jalannya telah tertulis dalam lauhil mahfuzh jauh sebelum Abu Lahab dan bahkan kedua orang tuanya dilahirkan.


Hal ini diperkuat oleh riwayat yang menceritakan tentang perkataan Nabi Musa kepada Nabi Adam, "Engkau adalah satu-satunya manusia yang diciptakan oleh Allah dengan Tangannya sendiri, ruh yang ada pada dirimu juga Allah yang meniupkannya, dan engkau juga diberi tempat yang penuh dengan kenikmatan di surga, bahkan para malaikatnya diperintahkan untuk bersujud kepadamu, namun sayang, engkau telah mengecewakan seluruh manusia, hingga mereka tidak dapat menikmati hidup di dalam surga sepertimu". Lalu Nabi Adam menjawab, "Ada apa denganmu wahai Musa, engkau adalah satu-satunya manusia yang diberi keistimewaan untuk dapat bercakap-cakap dengannya, dan engkau juga diberikan Kitab suci Taurat, bagaimana mungkin engkau dapat menyalahkan aku tentang suatu hal yang telah dituliskan (ditakdirkan) kepadaku sebelum langit dan bumi ini diciptakan". Setelah menceritakan kisah ini Nabi SAW berkata, "Akhirnya Nabi Musa tidak mampu untuk mengalahkan hujjah yang disampaikan oleh Nabi Adam".


Sedikit berbeda dengan riwayat yang disampaikan oleh Hammam , dari Abu Hurairah : Nabi Adam berkata kepada Nabi Musa , "Berapa tahun tenggang waktu yang engkau ketahui antara penulisan Kitab Taurat yang diwahyukan kepadamu sebelum akhimya Allah menciptakan aku ?" Nabi Musa menjawab, "Dua ribu tahun". Lalu Nabi Adam berkata, "Apakah di dalam Kitab suci itu tertiulis, وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى "Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia" (Qs. Thaahaa : 121). Nabi Musa menjawab, "Ada". Nabi Adam melanjutkan, "Lalu bagaimana mungkin kamu menyalahkanku atas suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah kepadaku untuk aku perbuat, sebelum dua ribu tahun setelahnya aku diciptakan oleh Allah". Akhirnya Nabi Musa tidak mampu untuk mengalahkan hujjah yang disampaikan oleh Nabi Adam.


Sedangkan pada riwayat yang disampaikan oleh Thawus, Ibnu Hurmuz, dan Al A'raj, dari Abu Hurairah, menyebutkan bahwa tenggang waktu antara penulisan Kitab suci dan penciptaan Nabi adam adalah empat puluh tahun saja.


Firman Allah :

 مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ 

Tidaklah berfaedah (berguna) kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (QS. Al-Lahab : 2) 


Untuk ayat ini hanya dibahas satu masalah saja, yaitu : segala harta yang ia miliki dan semua kehormatan yang ia cari, tidak akan dapat menyelamatkannya dari siksaan Allah.


Kata مَآ di awal ayat ini boleh jadi kata negatif (yakni : tidak berguna baginya) ,atau mungkin juga kata tanya (apakah akan berguna baginya ?). Sedangkan kata مَآ yang kedua (وَمَا كَسَبَ) juga memiliki dua kemungkinan, bisa jadi bermakna al-ladzi (yang), atau mungkin juga sebagai mashdar fi'il, yakni : tidak berguna baginya harta dan hasil usahanya. 


Mujahid menafsirkan, makna dari kata pada ayat ini adalah keturunan, karena keturunan juga hasil yang dapat diusahakan. 


Kata ini dibaca oleh Al A'masy menjadi : وما اكتسب (dengan menambahkan huruf alif dan ta bentuk khumasi). Al A'masy meriwayatkan qira`ah ini dari Ibnu Mas'ud.


Abu Ath-Thufail meriwayatkan : Pada suatu hari anak-anak Abu Lahab beradu argumen di rumah Ibnu Abbas, dan ketidak cocokan dalam berpendapat itu menyebabkan mereka berkelahi disana. Lalu Ibnu Abbas pun berdiri hendak melerai mereka, namun salah satu mereka malah mendorong Ibnu Abbas hingga terjatuh di atas tempat tidurnya, Ibnu Abbas pun akhirnya kesal dan berkata, "Keluarlah kalian الكسب الخبيث (hasil usaha yang buruk) dari rumahku !" yakni, anak-anak Abu Lahab.


Sebuah riwayat dari Aisyah menyebutkan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, إن أطيب ما أكل الرجل من كَسْبِهِ ، وإن ولده من كسبه "Sesungguhnya makanan yang paling baik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang didapat dari hasil usahanya sendiri. Dan anak-anaknya juga termasuk hasil usahanya". (HR. Abu Daud)


Ibnu Abbas meriwayatkan : Ketika Nabi SAW memberi peringatan keluarganya terhadap siksaan Allah, sesuai yang diperintahkan kepadanya pertama kali, Abu Lahab berkata, "Apabila apa yang dikatakan oleh keponakanku itu benar adanya maka aku akan menebus diriku dengan harta dan anak-anakku agar aku terbebaskan dari siksaan tersebut". Lalu turunlah firman Allah SWT, مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ "Tidaklah berguna kepadanya harta benda dan apa yang ia usahakan". Yakni, anak-anaknya.


Firman Allah :

 سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

"Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak". (QS. Al-Lahab : 3) 


Untuk ayat ini juga hanya dibahas satu masalah saja, yaitu : api yang berkobar dan menyala-nyala. Makna ini telah kami sampaikan sebelumnya pada tafsir surah al-Mursalat. 


Jumhur ulama membaca kata سَيَصْلَى dengan menggunakan harakat fathah pada huruf (ي) ya' (sayashlaa). Sedangkan Abu Raja' dan Al A'masy membacanya dengan menggunakan harakat dhammah (sayushlaa) Qira'ah ini diriwayatkan oleh Mahbub, dari Ismail, dari Ibnu Katsir, dan juga diriwayatkan oleh Husein, dari Abu Bakar, dari Ashim, dan diriwayatkan pula dari Al Hasan. Qira'ah yang berbeda juga disebutkan oleh Asyhab Al Uqaili, Abu Sammal Al Adawi, dan Muhammad As-Samaiqa', yaitu dengan menggunakan harakat dhammah pada huruf (ي) ya', harakat fathah pada huruf (ص) shad, dan tasydid pada huruf (ل) lam (sayushallaa).


Qira'ah ketiga ini asal katanya adalah tashliyah, seperti pada firman Allah SWT, وتَصْلِيَةُ جَحِيم "Dan dibakar di dalam neraka jahannam" (QS.Al Waaqi'ah : 94). Sedangkan asal kata untuk qira'ah yang kedua adalah الإصلاء (al-ishlaa), seperti pada firman Allah SWT, فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا "Maka kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka" (Qs. An-Nisaa : 30). Dan asal kata qira'ah yang pertama adalah ash-shaal, seperti pada firman Allah SWT, إِلَّا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ "kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala" (Qs. Ash-Shaffat : 163). Dan qira'ah inilah yang diunggulkan, menurut ijma' kaum muslimin.


Firman Allah : 

وَٱمْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ 

"Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar". (QS. Al-Lahab : 4)


Untuk ayat ini juga hanya dibahas satu masalah saja, yaitu : 

Firman Allah SWT, وَٱمْرَأَتُهُ "Dan isterinya" Yakni , yang bernama عوراء (Aura') أم جميل Ummu Jamil. 

Ibnu Al Arabi mengatakan : namanya adalah عوراء (Aura') أم قبيح (Ummu Qabih), yakni ibunya orang yang buruk, kebalikan dari Ummu Jamil yang maknanya (ibunya orang yang rupawan). Dan عوراء (Aura') memang benar-benar عوراء (aura'), yakni, berkelakuan buruk atau sering mengatakan kata-kata yang buruk). 


Firman Allah SWT, حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ "Pembawa kayu bakar". Beberapa ulama qira'ah membaca kata dengan menggunakan harakat dhammah pada huruf ta' marbuthah (hammaalatul hathab). Sedangkan Abu Qilabah membacanya dengan bentuk fa'il biasa, yaitu : haamilatal hathab.


Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah , dan As-Suddi, meriwayatkan : istri Abu Lahab ini senang memfitnah dan mengadu domba orang lain. Oleh karena itu disebut dengan sebutan حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ karena kata hathab menurut masyarakat Arab bermakna menghasut, yakni : selalu membawa keburukan bagi orang lain .


Aktsam bin Shaifi pernah berkata kepada anaknya : Jauhilah oleh kalian perbuatan adu domba, karena adu domba laksana api yang dapat membakar segala sesuatu di sekitarnya. Dan sesungguhnya seseorang yang senang melakukan adu domba itu jauh lebih buruk dari seorang penyihir, karena apa yang dilakukan pengadu domba dalam satu jam itu lebih buruk akibatnya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh penyihir dalam satu bulan.


Oleh karena itulah dikatakan dalam kata-kata mutiara, "api kedengkian itu tidak akan pernah padam" (berbeda dengan nyala api biasa yang dapat dipadamkan dengan air).


Sebuah hadits shahih menyebutkan, bahwa Nabi SAW bersabda, لا يدخل الجنة نمام "Tidak akan pernah masuk surga orang yang suka mengadu domba. (HR. Muslim)


Nabi SAW juga bersabda , "Orang yang bermuka dua tidak akan mendapat tempat di sisi Allah".

Dan beliau juga bersabda,

 مِنْ شَرِّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهِ ، وَهَؤلاء 

"Manusia yang paling buruk adalah manusia yang bermuka dua, yaitu orang yang berwajah (manis) di satu tempat dan di tempat lainnya dengan wajah yang berbeda". (HR. Bukhari)


Ka'ab Al Ahbar mengatakan : Bani Israel pernah mengalami musim paceklik yang sangat lama. Walaupun Nabi Musa dan para pengikutnya telah tiga kali berdoa agar mereka segera diguyur dengan hujan namun tetap saja hujan itu tidak kunjung datang. Lalu Nabi Musa mengadu kepada Tuhannya, "Ya Allah, mereka adalah hamba-hambamu". Allah menjawab , "Aku tidak akan menjawab doamu dan doa orang-orang yang bersamamu, karena di antara mereka ada seorang penyebar fitnah, yang suka mengadu domba orang lain". Lalu Nabi Musa berkata lagi, "Ya Allah, beritahukanlah kepada kami siapakah orang itu, agar kami dapat mengeluarkannya dari jamaah kami". Allah SWT menjawab, "Wahai Musa, bagaimana mungkin Aku melarangmu untuk berbuat adu domba, lalu Aku diperbolehkan untuk mengadu domba ?" lalu Nabi Musa memerintahkan seluruh kaumnya untuk bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, serta berjanji tidak akan mempunyai kemampuan untuk melakukan hal tersebut. Setelah tepat melakukannya, Hujan pun turun dengan derasnya.

Mengadu domba adalah salah satu dosa yang paling besar, tidak ada satu ulama pun yang berbeda pendapat mengenai hal ini. Bahkan Al Fudhail bin Iyadh mengatakan: tiga hal yang dapat membatalkan pahala amal baik, membatalkan puasa, dan membatalkan wudhu, yaitu: ghibah (gosip), namimah (adu domba), dan berdusta.

Atha bin Saib mengatakan : Aku pernah menyampaikan sebuah riwayat kepada Asy-Sya'bi tentang sabda Nabi SAW yang menyebutkan, "Tidak akan masuk surga para pembunuh  para pengadu domba, dan para pelaku riba. "Lalu aku juga bertanya kepadanya, "Wahai Abu Amru, mengapa pengadu domba disama ratakan dengan pembunuh dan pelaku riba?" ia menjawab , "Bukankah membunuh, merampas harta orang lain, dan mengobarkan segala sesuatu yang buruk , kecuali untuk mengadu domba?"

Qatadah dan ulama lainnya meriwayatkan, bahwa istri Abu Lahab selalu mencela kefakiran Nabi SAW dan membanding-bandingkan dengan dirinya yang kaya raya, namun dengan kekayaannya itu Ummu Jamil selalu membawa kayu bakar di atas punggungnya sendiri, karena kekikirannya. Kemudian, tanpa harus dibalas oleh Nabi SAW, Ummu Jamil dicela oleh orang lain karena kekikirannya itu. 


Ibnu Zaid dan Adh-Dhahhak meriwayatkan, bahwa pada setiap malam hari, Ummu Jamil selalu membawa kayu-kayu kecil yang tajam dan berduri untuk dilemparkan di jalan yang selalu dilalui oleh Nabi SAW dan para sahabatnya, agar mereka terkena duri-duri tersebut. Makna ini juga disampaikan oleh Ibnu Abbas. 


Ar-Rabi' menambahkan : akan tetapi Nabi SAW sama sekali tidak pernah terluka akibat duri tersebut, karena ketika Nabi SAW menginjaknya yang dirasakan oleh beliau adalah seperti menginjak sutra.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar