Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 17 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 19
Tahun Kesedihan
Wafatnya Abu Thalib:
Adapun sakit yang diderita Abu Thalib, semakin hari semakin parah hingga akhirnya datang saat wafatnya. Rasulullah ﷺ datang menjenguknya, dan saat itu di sisinya ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah. Maka Rasulullah ﷺ berkata:
"Wahai Paman! Ucapkanlah 'Lā ilāha illā Allāh' (Tiada tuhan selain Allah), sebuah kalimat yang akan aku jadikan hujjah (alasan pembelaan) bagimu di hadapan Allah."
Namun Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata kepadanya:
"Wahai Abu Thalib! Apakah engkau akan berpaling dari agama Abdul Muththalib?"
Mereka terus mengulangi perkataan itu kepadanya, hingga akhirnya ucapan terakhir yang keluar dari mulutnya adalah:
"(Aku tetap) di atas agama Abdul Muththalib."
Maka Nabi ﷺ pun bersabda:
"Sungguh, aku akan memohonkan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang untuk itu."
فنزلت : ﴿ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ ﴾ [القصص : ٥٦]
Kemudian turunlah ayat:
"Tidaklah pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun mereka adalah kerabat sendiri, setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang itu adalah penghuni neraka." (QS. At-Taubah: 113)
Wafatnya Abu Thalib terjadi pada bulan Rajab atau Ramadan tahun kesepuluh kenabian, yaitu enam bulan setelah kaum Muslimin keluar dari lembah (Syi'b Abu Thalib). Ia adalah penopang dan pelindung Rasulullah ﷺ, serta benteng tempat berlindung dakwah Islam dari serangan para pembesar dan orang-orang bodoh. Namun, karena ia tetap berada di atas agama nenek moyangnya, maka ia tidak meraih keberuntungan yang sempurna.
Abbas berkata kepada Nabi ﷺ:
"Apa yang bisa engkau berikan manfaat untuk pamanmu? Bukankah dia telah melindungimu dan membelamu?"
Nabi ﷺ menjawab:
"Dia berada di lapisan neraka yang dangkal (ringan), dan kalau bukan karena aku, niscaya dia berada di dasar neraka yang paling bawah."
Khadijah Kembali ke Rahmat Allah :
Luka hati Rasulullah ﷺ akibat wafatnya Abu Thalib belum juga sembuh, hingga Ummul Mu’minin Khadijah –raḍiyallāhu ‘anhā– wafat pada bulan Ramadan di tahun yang sama, yaitu tahun kesepuluh kenabian. Ia wafat sekitar dua bulan setelah wafatnya Abu Thalib, atau hanya berselang tiga hari saja. Khadijah adalah pendukung sejati Rasulullah ﷺ dalam Islam. Ia membantu beliau dalam menyampaikan risalah, mengorbankan diri dan hartanya, serta berbagi dalam penderitaan dan kesusahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ia beriman kepadaku saat orang lain mengingkariku, membenarkanku saat orang lain mendustakanku, mengorbankan hartanya untukku saat orang lain menahannya dariku, dan Allah menganugerahkan kepadaku anak darinya, sedangkan tidak dari wanita lain.”
Disebutkan pula dalam keutamaannya bahwa Malaikat Jibril –‘alaihis salām– datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah! Itu Khadijah datang kepadamu, bersama dia ada bejana berisi lauk, makanan, atau minuman. Jika ia telah datang kepadamu, sampaikan salam dari Rabb-nya, dan berilah kabar gembira bahwa dia akan mendapatkan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang tidak ada kebisingan dan tidak ada kepayahan di dalamnya.”
Nabi ﷺ selalu mengenangnya, mendoakannya dengan penuh rahmat, dan hatinya dipenuhi belas kasih dan kelembutan setiap kali mengingatnya. Beliau biasa menyembelih kambing lalu membagikannya kepada para sahabat Khadijah. Khadijah memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan yang agung.
Kesedihan yang menumpuk :
Setelah wafatnya sang paman, Abu Thalib, dan istrinya Khadijah –raḍiyallāhu ‘anhā–, penderitaan Rasulullah ﷺ dari kaumnya semakin berat. Mereka mulai berani menyakitinya secara terang-terangan dan terbuka. Rasulullah ﷺ pun sangat terpengaruh oleh semua itu, bahkan terhadap gangguan yang lebih kecil dan ringan dari sebelumnya.
Sampai-sampai salah satu orang bodoh dari kalangan Quraisy menaburkan debu di atas kepala beliau. Salah satu putri beliau pun membersihkannya sambil menangis. Maka Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:
"Jangan menangis, wahai anakku! Sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu."
Dan beliau juga bersabda di sela-sela itu:
"Quraisy tidak pernah berani menyakitiku dengan sesuatu yang aku benci sampai Abu Thalib wafat."
Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Saudah dan kemudian dengan Aisyah –raḍiyallāhu ‘anhumā– :
Pada bulan Syawwal –yaitu bulan setelah wafatnya Khadijah– Rasulullah ﷺ menikah dengan Saudah binti Zam’ah –raḍiyallāhu ‘anhā–, yang sebelumnya adalah istri dari sepupunya, As-Sakran bin ‘Amr –raḍiyallāhu ‘anhu–. Keduanya termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Mereka sempat hijrah ke Habasyah (Etiopia), lalu kembali ke Makkah. Setelah suaminya, As-Sakran bin ‘Amr, wafat di Makkah, dan masa iddahnya selesai, Rasulullah ﷺ pun menikahinya. Beberapa tahun kemudian, Saudah memberikan gilirannya kepada Aisyah.
Adapun pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Aisyah –raḍiyallāhu ‘anhā– juga terjadi pada bulan Syawwal, tetapi setahun setelah pernikahannya dengan Saudah. Beliau menikahinya di Makkah saat Aisyah berusia enam tahun, dan mulai tinggal serumah dengannya di Madinah pada bulan Syawwal tahun pertama Hijriyah, saat ia berusia sembilan tahun. Aisyah adalah istri yang paling dicintai Rasulullah ﷺ, dan merupakan wanita paling berilmu di kalangan umat ini. Ia memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan.
Rasulullah ﷺ pergi ke Thaif
Dalam situasi penuh tekanan dan kesedihan itu, Rasulullah ﷺ pergi menuju Thaif dengan harapan agar penduduknya menerima dakwah beliau, atau setidaknya memberi perlindungan dan bantuan dalam menyebarkan risalah Islam. Beliau berjalan kaki menuju Thaif, ditemani oleh maula (mantan budaknya yang telah dimerdekakan), Zaid bin Haritsah.
Sepanjang perjalanan, setiap kali melewati suatu kabilah, beliau mengajak mereka masuk Islam, hingga akhirnya tiba di Thaif. Di sana, beliau singgah di tempat tiga bersaudara dari para pemimpin Bani Tsaqif, dan menyampaikan ajakan kepada Islam serta permohonan bantuan dalam menyampaikan dakwahnya.
Namun, mereka menolak dengan kasar dan menghina beliau. Maka Rasulullah ﷺ pun meninggalkan mereka dan mendatangi tokoh-tokoh lainnya, satu per satu, mengajak mereka masuk Islam dan mendukung dakwahnya. Beliau tidak melewatkan satu pun tokoh di sana, semuanya diajak berbicara. Selama sepuluh hari penuh, beliau melakukan hal itu, namun tidak ada satu pun yang menerima ajakannya.
Sebaliknya, mereka berkata dengan kasar:
"Keluarlah dari negeri kami!",
dan mereka menghasut anak-anak, orang-orang bodoh, dan para budak mereka untuk menyakiti beliau.
Ketika Rasulullah ﷺ bersiap meninggalkan Thaif, mereka menghadang beliau, berbaris di dua sisi jalan, lalu mulai menghina, mencaci, dan melemparkan batu ke arah beliau. Sampai tumit dan kedua kaki beliau terluka, dan sandal beliau berlumuran darah. Zaid bin Haritsah –raḍiyallāhu ‘anhu– berusaha melindungi beliau dengan tubuhnya, sehingga kepalanya terluka parah karena lemparan batu.
Penganiayaan itu terus berlangsung hingga Rasulullah ﷺ sampai di kebun milik ‘Utbah dan Syaibah, dua anak Rabi’ah, yang terletak sekitar tiga mil dari Thaif. Beliau masuk ke dalam kebun tersebut untuk berlindung, dan barulah setelah itu mereka meninggalkan beliau.
Nabi ﷺ duduk di dalam kebun itu, berteduh di bawah pohon anggur, sambil bersandar pada dinding, dalam keadaan sangat terpukul oleh perlakuan yang beliau alami. Lalu beliau pun berdoa kepada Allah dengan doa yang sangat menyentuh hati dan terkenal:
"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu atas lemahnya kekuatanku, sedikitnya kemampuanku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih, Engkau adalah Rabb bagi orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan diriku ini? Kepada orang jauh yang memandangku dengan benci, atau kepada musuh yang Kau beri kekuasaan atas diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Namun, keselamatan (dari-Mu) lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan, dan dengan-Nya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau terkenanya kemurkaan-Mu atasku. Hanya untuk-Mu segala rida hingga Engkau meridai, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu."
Pertemuan Rasulullah ﷺ dengan ‘Addās
Kedua putra Rabi‘ah melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan seperti itu (terluka dan kelelahan), maka mereka merasa iba kepadanya. Lalu mereka mengirimkan setandan anggur kepada beliau melalui seorang budak mereka yang beragama Nasrani (Kristen) bernama ‘Addās.
Ketika Rasulullah ﷺ mengulurkan tangannya untuk memakan anggur itu, beliau mengucapkan: "Bismillāh", lalu memakannya. Maka ‘Addās pun terkejut dan berkata:
"Ucapan seperti itu tidak biasa diucapkan oleh penduduk negeri ini."
Rasulullah ﷺ lalu bertanya kepadanya: "Dari negeri manakah engkau? Dan apa agamamu?"
‘Addās menjawab: "Aku seorang Nasrani, dari negeri Ninawa."
Rasulullah ﷺ berkata: "Dari negeri seorang lelaki saleh, yaitu Yunus bin Matta?"
‘Addās heran dan bertanya: "Bagaimana engkau bisa mengetahui tentang Yunus bin Matta?"
Rasulullah ﷺ menjawab: "Itulah saudaraku. Ia adalah seorang nabi, dan aku juga seorang nabi."
Lalu beliau membacakan kisah Nabi Yunus عليه السلام dari Al-Qur’an kepadanya.
Maka, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, ‘Addās pun memeluk Islam.
Kemudian Rasulullah ﷺ keluar dari kebun itu dan melanjutkan perjalanannya menuju Mekah dalam keadaan sedih, murung, dan penuh kegelisahan. Ketika beliau sampai di Qarnal Manāzil (sebuah tempat antara Thaif dan Mekah), datanglah awan menaungi beliau, dan di dalamnya terdapat Malaikat Jibril bersama Malaikat Gunung.
Rasulullah ﷺ pun mengangkat kepalanya, lalu Jibril memanggil beliau dan berkata:
"Sesungguhnya Allah telah mengutus Malaikat Gunung kepadamu, agar engkau memerintahkannya sesuai kehendakmu."
Kemudian Malaikat Gunung memberi salam dan berkata:
"Wahai Muhammad! Aku ada di bawah perintahmu. Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung besar itu ke atas mereka."
(Dua gunung itu adalah Gunung Abu Qubais dan gunung yang berhadapan dengannya, yakni dua sisi kota Mekah.)
Namun Rasulullah ﷺ menjawab dengan penuh kasih dan harapan:
"Tidak. Aku justru berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."
Perkataan itu menunjukkan kemuliaan akhlak dan kesabaran luar biasa Nabi ﷺ, meskipun baru saja menerima perlakuan yang sangat menyakitkan.
Setelah itu, beliau merasa tenang dan terhibur dengan datangnya pertolongan dan penghiburan dari langit. Beliau pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di daerah Nakhlah, dan tinggal di sana selama beberapa hari.
Di sana terjadi peristiwa yang luar biasa:
Ketika beliau sedang mengerjakan salat Subuh bersama para sahabatnya, sekelompok jin datang karena tertarik mendengar bacaan Al-Qur’an, lalu mereka diam-diam mendengarkannya. Setelah selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pembawa peringatan (dakwah), dan mereka beriman kepada beliau ﷺ.
Rasulullah ﷺ tidak mengetahui kehadiran mereka, hingga Allah menurunkan wahyu tentang kejadian tersebut, berupa:
- Beberapa ayat dari Surah al-Aḥqāf
- Dan juga ayat-ayat dalam Surah al-Jinn
#Kembalinya Rasulullah ﷺ ke Mekah dalam Perlindungan al-Muṭ'im bin 'Adiyy
Setelah beberapa hari di Nakhlah, Rasulullah ﷺ keluar dari sana menuju Mekah, dengan hati penuh harap kepada Allah agar diberikan jalan keluar dan pertolongan. Namun beliau juga khawatir terhadap keburukan dan kekejaman Quraisy, sehingga beliau berikhtiar untuk melindungi diri.
Ketika hampir tiba di Mekah, beliau berhenti terlebih dahulu di gua Hira', lalu mengirim seseorang kepada al-Akhnas bin Shurayq untuk meminta perlindungan (jārah). Namun al-Akhnas menolak dengan alasan bahwa ia hanyalah sekutu (ḥalīf), dan seorang sekutu tidak memiliki hak memberi perlindungan.
Kemudian beliau mengirim utusan kepada Suhail bin 'Amr, namun Suhail juga menolak dengan alasan bahwa ia berasal dari Bani 'Āmir bin Lu'ayy, sementara Muhammad ﷺ dari Bani Ka‘b bin Lu’ayy, dan mereka tidak biasa saling memberi perlindungan antar kabilah yang berbeda garis keturunannya.
Lalu beliau mengirim utusan kepada al-Muṭ‘im bin ‘Adiyy, yang berasal dari Bani Nawfal bin ‘Abd Manāf — satu garis keturunan dengan kakek beliau, Hāsyim bin ‘Abd Manāf. Dan ‘Abd Manāf adalah salah satu cabang Quraisy yang paling terpandang.
al-Muṭ‘im pun menerima permintaan itu dengan tegas, berkata: "Ya, aku melindunginya."
Ia pun bersenjata bersama anak-anaknya, lalu mengutus orang untuk menjemput Rasulullah ﷺ. Maka beliau masuk ke Mekah, bertawaf di Ka‘bah, dan melaksanakan dua rakaat salat. Kemudian beliau pulang ke rumah, diiringi oleh al-Muṭ‘im bin ‘Adiyy dan anak-anaknya yang bersenjata lengkap, mengawal beliau dengan penuh kewaspadaan.
al-Muṭ‘im juga telah menyatakan kepada Quraisy secara terbuka bahwa ia memberi perlindungan kepada Muhammad ﷺ, dan mereka menerima hal itu darinya, tanpa menentangnya.
Kembali ke bagian 17 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar