Senin, 05 Mei 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 7

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

 Kembali ke bagian 6 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 8 



Berbagai Cara untuk Menghadapi Dakwah :

Dan ketika musim haji berakhir dan orang-orang Quraisy kembali ke rumah-rumah mereka, mereka merasa tenang seolah-olah mereka telah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah yang timbul karena Nabi Muhammad SAW memulai dakwahnya untuk menyembah Allah semata. Mereka berpikir dan berunding, kemudian memilih berbagai cara untuk menghadapi dan menghancurkan seruan ini. Kami akan menyebutkan cara-cara tersebut di bawah ini secara singkat.


Pertama: Melanjutkan ejekan dan olokan serta memperbanyaknya.

Tujuan dari tindakan ini adalah untuk melemahkan Rasulullah ﷺ dan para pengikutnya serta merusak semangat mereka. Kaum Quraisy menuduh beliau sebagai orang yang terkena sihir, penyair gila, dukun yang didatangi setan, penyihir pembohong, dan berbagai tuduhan serta hinaan lainnya.

Setiap kali mereka melihat Nabi ﷺ, mereka memandangnya dengan penuh kemarahan dan kebencian,

كما قال الله تعالى : ﴿وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهُ لَمَجْنُوْنٌ ﴾ [القلم : ٥١]

Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: "Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mereka ketika mereka mendengar peringatan (Al-Qur'an), dan mereka berkata: 'Sesungguhnya dia benar-benar orang gila.'" (QS. Al-Qalam: 51)

وكانوا إذا رأوه يتهكمون به ، ويقولون : ﴿أَهٰذَا الَّذِي يَذْكُرُ الهَتَكُمْ﴾ [الانيا : ٣٦]

Mereka juga mengejeknya dengan mengatakan: "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan kalian?" (QS. Al-Anbiya: 36)

قال : ﴿أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ﴾ [الانعام : ٥٣]

Dan apabila mereka melihat kaum Muslimin yang lemah, mereka berkata dengan nada mengejek, "Apakah orang-orang ini yang dikaruniai nikmat oleh Allah di antara kita?" (QS. Al-An'am: 53).

وكما قال الله تعالى : ﴿إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ ، وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَنْعَامِرُونَ ، وَإِذَا أَنقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ أنقَلَبُوا فَكِهِينَ ، وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلاء لَضَالُونَ﴾ [المطففين : ٢٩-٣٢]

Allah juga berfirman tentang bagaimana orang-orang yang berdosa memperolok-olok orang beriman:  

"Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati orang-orang beriman, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila mereka kembali kepada kaum mereka, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata, 'Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang sesat.'" (QS. Al-Mutaffifin: 29-32).

Mereka terus-menerus mengejek dan memperolok Nabi ﷺ dengan berbagai cara, hingga hal itu memberi tekanan batin kepadanya. Allah SWT mengetahui kesedihan yang dirasakan Nabi ﷺ.

كما قال الله تعالى : ﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ﴾ [الحجر : ٩٧]

Sebagaimana Allah berfirman: "Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka katakan." (QS. Al-Hijr: 97)

Namun, Allah SWT menguatkan hatinya dan menunjukkan cara untuk menghilangkan kesedihan tersebut,

فقال : ﴿فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ ، وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾ [الحجر : ٩٩،٩٨]

Maka Allah berfirman: "Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah di antara orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal)." (QS. Al-Hijr: 98-99)

Sebelumnya, Allah SWT juga telah memberikan ketenangan kepada Nabi ﷺ dengan firman-Nya:

حيث قال : ﴿اِنَّا كَفَيْنٰكَ الْمُسْتَهْزِءِيْنَۙ ، الَّذِيْنَ يَجْعَلُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ﴾ [الحجر : ٩٦،٩٥]

"Sesungguhnya Kami cukupkan (urusan) terhadap orang-orang yang memperolok-olok (kamu), (yaitu) orang-orang yang mengadakan tuhan lain selain Allah. Maka mereka kelak akan mengetahui (akibatnya).” (QS. Al-Hijr: 95-96)

Allah SWT juga mengingatkan bahwa ejekan kepada para rasul sudah terjadi sejak dahulu, tetapi akhirnya justru menjadi bencana bagi orang-orang yang mengejek:

فقال : ﴿وَلَقَدِ استهزى بِرُسُلِ مِن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ﴾ [الأنعام : ١٠]

"Dan sungguh, telah diperolok-olok beberapa rasul sebelum engkau, maka turunlah azab kepada orang-orang yang mencemooh mereka, sebagai balasan terhadap apa yang dahulu mereka perolok-olokkan." (QS. Al-An’am: 10)


Kedua: Menghalangi Orang-Orang dari Mendengar Nabi Muhammad SAW

Mereka memutuskan untuk membuat kekacauan, menimbulkan kegaduhan, dan mengusir orang-orang setiap kali mereka melihat Nabi ﷺ bersiap untuk berdakwah di tengah mereka. Mereka bersepakat untuk tidak membiarkan beliau memiliki kesempatan untuk menyampaikan ajarannya. Allah SWT berfirman:

قال الله تعالى : ﴿وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ﴾ [ فصلت : ٢٦ ]

"Dan orang-orang kafir berkata: Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh Al-Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka)." (QS. Fussilat: 26).

Mereka terus melakukan tindakan tersebut dengan keras dan tegas. Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya, Nabi Muhammad SAW berhasil melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an di hadapan mereka, yaitu Surah An-Najm. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan tahun kelima kenabian.

Setiap kali mereka mendengar Nabi Muhammad ﷺ membaca Al-Qur'an dalam shalatnya—terutama saat shalat malam—mereka mencaci maki Al-Qur'an, penciptanya, serta Rasul yang membawanya. Karena itulah, Allah menurunkan firman-Nya:

قال : ﴿وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا﴾ [الإسراء : ١١٠]

"Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS. Al-Isra: 110)

An-Nadr bin al-Harith pergi ke Al-Hirah dan Syam, di mana ia belajar berbagai kisah rakyat yang diceritakan tentang raja dan pangeran mereka, seperti kisah Rustum dan Isfandiyar. Ketika ia kembali, ia mulai mengadakan perkumpulan dan majelis untuk menceritakan kisah-kisah tersebut guna mengalihkan perhatian orang-orang dari mendengarkan Nabi Muhammad SAW .

Setiap kali ia mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW sedang duduk di suatu majelis untuk mengingatkan orang-orang kepada Allah, an-Nadr akan segera datang setelahnya ke majelis tersebut dan mulai bercerita. Kemudian ia berkata:

"Apa yang disampaikan Muhammad lebih baik dari ceritaku ini?"

Kemudian, an-Nadr bin al-Harith melangkah lebih jauh. Ia membeli seorang budak perempuan yang pandai bernyanyi. Setiap kali ia mendengar seseorang tertarik masuk Islam, ia segera membawanya kepada penyanyi tersebut dan berkata:

"Berilah dia makan, minum, dan hiburlah dia dengan nyanyian. Ini lebih baik daripada apa yang Muhammad serukan kepadamu."

Tindakan ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari dakwah Nabi ﷺ dan menjauhkan mereka dari ajaran Islam.

وفي ذلك أنزل الله تعالى : ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾ [لقمان : ٦]

Mengenai hal ini, Allah SWT menurunkan firman-Nya:

"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli lahw al-hadith (perkataan yang tidak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu, dan menjadikannya bahan olok-olokan. Mereka itu akan mendapat azab yang menghinakan." (QS. Luqman: 6)


Ketiga: Membangkitkan Keraguan dan Menyebarkan Propaganda Palsu

Mereka banyak menebarkan keraguan dan menciptakan berbagai propaganda untuk menyesatkan orang-orang dari kebenaran. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur'an hanyalah "mimpi yang tidak jelas" (أَضْغَاثُ أَحْلامٍ) yang dilihat oleh Nabi Muhammad ﷺ di malam hari dan kemudian diceritakannya di siang hari (Yusuf: 44).

يقولون : ﴿إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشر﴾ [النحل :١٠٣]

Terkadang mereka menuduhnya sebagai rekayasa dan buatan sendiri, atau mengatakan bahwa ada seorang manusia yang mengajarkannya (An-Nahl: 103).

قالوا : ﴿إن هَذَا إِلَّا إِفْكُ افْتَرَينَهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْم أَخَرُونَ﴾ [الفرقان : 4]

Mereka juga menuduhnya sebagai kebohongan yang dibuat bersama orang lain (Al-Furqan: 4).

 قال : ﴿وَقَالُوا أَسَطيرُ الأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بكْرَةً وَأَصِيلًا﴾ [الفرقان : ٥]

"Dan mereka berkata: 'Itu adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu, yang dimintanya untuk dituliskan, lalu dibacakan kepadanya pagi dan petang.'" (Al-Furqan: 5).

Ada juga yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ mendapat wahyu dari jin atau setan, seperti halnya para dukun. Namun, Allah membantah tuduhan ini dalam firman-Nya:

 قال : ﴿هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنزلُ الشَّيَاطِينُ ، تَنزلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ﴾ [الشعراء : ۲۲۲،۲۲۱]

"Maukah Aku beritahukan kepada kalian kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta dan orang yang banyak dosa." (Asy-Syu'ara: 221-222).

Maksudnya adalah bahwa setan hanya turun kepada pendusta dan orang yang bergelimang dosa. Sementara kalian (kaum Quraisy) tidak pernah menemukan kebohongan atau kefasikan dalam diri Nabi Muhammad SAW .

Jika demikian, bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari setan? Tuduhan itu tidak berdasar dan bertentangan dengan kenyataan!

Terkadang mereka juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW mengalami semacam kegilaan, sehingga ia membayangkan makna-makna tertentu, lalu menyusunnya dalam kata-kata yang indah dan luar biasa, seperti seorang penyair yang menggubah syair. Maka mereka menuduhnya sebagai seorang penyair, dan bahwa perkataannya hanyalah syair belaka.

Allah SWT membantah tuduhan mereka dalam firman-Nya:

﴿وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ ، وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ﴾ [الشعراء : ٢٢٤-٢٢٦]

"Dan para penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah (khayalan) dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan?" (QS. Asy-Syu'ara: 224-226)

Inilah tiga ciri yang melekat pada para penyair, tetapi tidak satu pun dari ciri-ciri tersebut ada pada Nabi Muhammad SAW. Orang-orang yang mengikuti beliau adalah para pembimbing yang bertakwa, saleh dalam agama, akhlak, perbuatan, tindakan, dan muamalah mereka. Mereka tidak memiliki sedikit pun sifat kesesatan dalam urusan apa pun. Nabi Muhammad SAW juga tidak mengembara di setiap lembah (khayalan) seperti para penyair, melainkan menyeru kepada satu Tuhan, satu agama, dan satu jalan yang lurus. Beliau hanya mengatakan apa yang beliau lakukan dan hanya melakukan apa yang beliau katakan. Maka, di manakah kesamaan antara beliau dan para penyair? Dan sejauh manakah perbedaan antara beliau dengan mereka?


 Kembali ke bagian 6 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 8 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar