Senin, 12 Mei 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 4

  TARIKH KHULAFA


Kembali 3IndeX | Lanjut 5

 

فصل

في صحبته ومشاهده

Bab tentang persahabatannya dan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa penting

 


Para ulama berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu bersahabat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sejak ia masuk Islam hingga Nabi wafat. Ia tidak pernah berpisah darinya, baik dalam perjalanan maupun di tempat tinggal, kecuali pada perkara yang diizinkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk ditinggalkan, seperti haji atau peperangan tertentu. Ia menyaksikan seluruh peristiwa penting (bersama Nabi), berhijrah bersamanya, meninggalkan keluarga dan anak-anaknya karena mengharapkan keridaan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia adalah teman beliau di dalam gua (saat hijrah). 

 قال تعالى: ثاني اثنين إذ هما في الغار إذ يقول لصاحبه لا تحزن إن الله معنا [التوبة: ٤٠]

 Sebagaimana firman Allah Ta‘ala: 'Ketika keduanya berada di dalam gua, lalu Nabi berkata kepada sahabatnya: Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' (QS. At-Taubah: 40)


Ia telah menolong Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di banyak tempat, dan ia memiliki jejak-jejak indah di berbagai peristiwa penting. Ia tetap teguh pada hari Uhud dan hari Hunain, ketika orang-orang lainnya lari, sebagaimana akan disebutkan dalam (bab tentang keberaniannya radhiyallahu 'anhu).


Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Para malaikat saling bergembira pada hari Perang Badar, lalu mereka berkata: ‘Tidakkah kalian melihat Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ‘Arisy (kemah panglima)?!’

#‘Arisy adalah kemah khusus yang dibangun untuk Nabi Muhammad SAW saat Perang Badar, tempat beliau berdoa dan mengatur strategi.

#Riwayat ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq di sisi para malaikat dan dalam peristiwa penting umat Islam.


Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku pada hari Perang Badar dan kepada Abu Bakar: ‘Bersama salah seorang dari kalian ada Jibril, dan bersama yang lain ada Mikail.’

#Riwayat ini menunjukkan keistimewaan Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, karena keduanya didampingi oleh malaikat mulia dalam peristiwa besar Perang Badar.


Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ibnu Sirin: Bahwa Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq pada hari Perang Badar berada bersama kaum musyrikin. Ketika ia masuk Islam, ia berkata kepada ayahnya (Abu Bakar): ‘Sungguh, engkau telah menjadi sasaran bagiku pada hari Badar, lalu aku berpaling darimu dan tidak membunuhmu.’ Maka Abu Bakar berkata kepadanya: ‘Akan tetapi, kalau engkau menjadi sasaran bagiku, aku tidak akan berpaling darimu.’

#Kisah ini menggambarkan ketegasan Abu Bakar dalam membela agama Allah, bahkan jika harus berhadapan dengan anaknya sendiri demi kebenaran.

#Abdurrahman bin Abu Bakar saat Perang Badar masih di pihak musyrikin, lalu masuk Islam setelah itu dan menjadi sahabat yang mulia.


Ibnu Qutaibah berkata: Makna ‘أهدفت’ (ahdafta) adalah ‘menjadikan sasaran yang tampak jelas.’ Dan dari kata itu pula dikatakan kepada bangunan yang tinggi: ‘هدَف’ (hadaf).

#Kata أهدفت artinya menjadikan sesuatu terlihat menonjol atau jelas, sehingga mudah menjadi sasaran. Dalam konteks riwayat sebelumnya, maksud Abdurrahman adalah bahwa Abu Bakar tampak jelas di hadapannya sebagai sasaran saat Perang Badar, namun ia memilih tidak menyerangnya.

 

 


فصل

في شجاعته وأنه أشجع الصحابة

Bab Tentang Keberanian Beliau dan Bahwa Beliau adalah Sahabat yang Paling Berani."

 

Al-Bazzar meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ali, bahwa ia berkata: ‘Beritahukan kepadaku, siapa orang yang paling berani?’ Mereka berkata: ‘Engkau.’ Maka Ali berkata: ‘Sesungguhnya aku tidak pernah berduel dengan seseorang kecuali aku berhasil mengalahkannya. Akan tetapi, beritahukan kepadaku siapa orang yang paling berani.’


Mereka berkata: ‘Kami tidak tahu. Siapa dia?’ Ali berkata: ‘Abu Bakar. Sesungguhnya, ketika terjadi Perang Badar, kami membuatkan sebuah ‘arisy (kemah perlindungan) untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata: Siapa yang akan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak ada seorang pun dari kaum musyrikin yang dapat menyerangnya? Demi Allah, tidak ada seorang pun yang mendekat kepada kami kecuali Abu Bakar, yang berdiri dengan pedang terhunus di atas kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang berani mendekat kepada beliau kecuali Abu Bakar pasti segera menyambutnya (menghadangnya). Maka, dialah orang yang paling berani.’

#Riwayat ini menunjukkan keutamaan keberanian Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang tak ragu mempertaruhkan nyawa demi menjaga Rasulullah SAW dalam situasi genting di Perang Badar — bahkan diakui langsung oleh Sayyidina Ali, yang sendiri dikenal sebagai panglima pemberani.


Ali berkata: ‘Sungguh, aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Quraisy menangkapnya. Ada yang mendorongnya, ada yang menarik-nariknya, sementara mereka berkata: ‘Apakah engkau yang menjadikan tuhan-tuhan kami menjadi satu Tuhan saja?’ Demi Allah, tidak ada seorang pun yang mendekat untuk membelanya selain Abu Bakar. Ia memukul orang ini, menyingkirkan yang itu, mendorong yang lain, sambil berkata: ‘Celakalah kalian! Apakah kalian hendak membunuh seorang laki-laki hanya karena ia berkata: Tuhanku adalah Allah?’


Kemudian (Ali) mengangkat selendang yang ada padanya, lalu menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. Kemudian ia berkata: ‘Aku bersumpah demi Allah, siapakah yang lebih baik: Mukmin dari keluarga Fir’aun atau Abu Bakar?’ Maka orang-orang pun diam. Lalu ia berkata: ‘Tidakkah kalian mau menjawab?’ Demi Allah, sesaat dari (keberanian) Abu Bakar lebih baik daripada (seluruh umur) Mukmin keluarga Fir’aun. Orang itu menyembunyikan imannya, sedangkan Abu Bakar menyatakan imannya terang-terangan.’

#Maksud “Mukmin keluarga Fir’aun” adalah seorang laki-laki dari kalangan istana Fir’aun yang beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, namun merahasiakan imannya sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an (lihat QS. Ghafir: 28). Sedangkan Abu Bakar RA, sejak awal menyatakan keimanan dan keberaniannya di hadapan musuh-musuh Islam.


Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Urwah bin Az-Zubair, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash tentang perbuatan paling kejam yang pernah dilakukan kaum musyrikin terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia menjawab: ‘Aku melihat Uqbah bin Abi Mu’ith datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sedang shalat, lalu ia meletakkan selendangnya di leher Nabi dan mencekiknya dengan cekikan yang sangat keras. Maka datanglah Abu Bakar hingga menyingkirkannya dari beliau, lalu berkata: ‘Apakah kalian hendak membunuh seorang laki-laki hanya karena ia berkata: Tuhanku adalah Allah, padahal dia telah datang kepada kalian dengan bukti-bukti yang nyata dari Tuhan kalian?’

#Kalimat yang diucapkan Abu Bakar ini mengutip ayat dari Al-Qur'an, yakni QS. Ghafir: 28. Ini menunjukkan keberanian Abu Bakar yang luar biasa dalam membela Nabi SAW bahkan di saat yang sangat genting, ketika orang-orang lain takut untuk menyatakan pembelaan.


Al-Haitsâm bin Kulayb meriwayatkan dalam Musnad-nya, dari Abu Bakar, ia berkata: ‘Ketika terjadi Perang Uhud, semua orang berpaling meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akulah orang pertama yang kembali (kepada beliau).’

#Riwayat ini menunjukkan keberanian dan keteguhan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang menjadi orang pertama kembali ke sisi Nabi SAW saat banyak sahabat terpaksa mundur karena kekacauan dalam Perang Uhud.


Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: 'Ketika para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkumpul, saat itu mereka berjumlah tiga puluh delapan orang. Lalu Abu Bakar terus mendesak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar menampakkan (dakwah) secara terang-terangan. Maka beliau bersabda: Wahai Abu Bakar, kita masih sedikit. Namun Abu Bakar terus mendesak hingga akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tampil (secara terbuka), dan kaum Muslimin pun berpencar di berbagai penjuru masjid, masing-masing di tengah kaumnya. Lalu Abu Bakar berdiri di hadapan orang banyak untuk berkhutbah, dan ia menjadi khatib pertama yang menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka kaum musyrikin pun menyerang Abu Bakar dan kaum Muslimin, lalu mereka memukul di berbagai penjuru masjid dengan pukulan yang keras.'

Akan datang kelanjutan hadits ini dalam biografi Umar radhiyallahu ‘anhu."


Dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Ketika Abu Bakar masuk Islam… dia menampakkan keislamannya, dan mengajak (manusia) kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.’

 

Kembali 3IndeX | Lanjut 5

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar