TARIKH KHULAFA
فصل
في إسلامه
Bab tentang keislamannya
Telah meriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam 'Shahih'-nya, dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata: Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: 'Bukankah aku orang yang paling berhak atasnya?! Bukankah aku orang pertama yang masuk Islam?! Bukankah aku yang melakukan ini?! Bukankah aku yang melakukan itu?!'
Dan telah meriwayatkan Ibnu ‘Asakir melalui jalur Al-Harits, dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar.
Dan telah meriwayatkan Khaitsamah dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Arqam, ia berkata:
Orang pertama yang shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Dan telah meriwayatkan Ibnu Sa’d dari Abu Arawah Ad-Dausi — seorang sahabat radhiyallahu ‘anhu — ia berkata:
"Orang pertama yang masuk Islam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq."
Dan telah meriwayatkan ath-Thabarani dalam al-Kabir dan Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid az-Zuhd, dari asy-Sya’bi, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas: 'Siapakah manusia yang pertama kali masuk Islam?' Ibnu Abbas menjawab: 'Abu Bakar ash-Shiddiq. Tidakkah kamu mendengar perkataan Hassan (bin Tsabit):'
إذا
تذكرت شجوا من أخي، ثقة فاذكر أخاك أبا بكر بما فعلا، خير البرية، أتقاها
وأعدلها، إلا النبي، وأوفاها بما حملا، والثاني التالي المحمود مشهده، وأول
الناس منهم صدق الرسلا
Jika engkau mengingat rasa rindu dan duka kepada seorang saudara terpercaya, maka ingatlah saudaramu Abu Bakar atas apa yang telah ia lakukan.
Dialah sebaik-baik manusia, paling bertakwa dan paling adil di antara mereka, kecuali Nabi, dan yang paling sempurna dalam menunaikan apa yang dipikulnya.
Ia adalah yang kedua, yang menemani Nabi — yang terpuji kedudukannya.
Dan orang pertama dari mereka yang membenarkan para Rasul.
#Ini
adalah pujian Hassan bin Tsabit (penyair Nabi) untuk Abu Bakar
ash-Shiddiq — tentang ketakwaan, keutamaannya, persahabatannya dengan
Nabi SAW di gua saat hijrah, serta menjadi orang pertama yang
membenarkan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Dan Abu Nu’aim meriwayatkan dari Furāt bin as-Sā’ib, ia berkata: Aku bertanya kepada Maimun bin Mihrān, aku berkata: 'Menurutmu, siapakah yang lebih utama, Ali ataukah Abu Bakar dan Umar?' Maka ia gemetar hingga tongkatnya jatuh dari tangannya, lalu ia berkata: 'Aku tidak pernah menyangka akan hidup di zaman di mana orang-orang menyamakan seseorang dengan keduanya. Semoga Allah merahmati keduanya! Keduanya adalah pemimpin Islam.'
#Ini
menunjukkan betapa besarnya kedudukan Abu Bakar dan Umar di mata para
tabi'in, sampai Maimun bin Mihran terkejut ketika mendengar ada yang
menanyakan perbandingan semacam itu
Aku berkata: 'Lalu siapa yang lebih dulu masuk Islam, Abu Bakar atau Ali?' Ia menjawab: 'Demi Allah, sungguh Abu Bakar telah beriman kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada masa Buhaira sang rahib, ketika Nabi melewati (Buhaira), dan Abu Bakar turut menyelesaikan urusan antara Nabi dengan Khadijah hingga menikahkannya dengan Khadijah, dan itu semua terjadi sebelum Ali dilahirkan.'
#Riwayat
ini menunjukkan pandangan sebagian ulama tabi'in tentang keutamaan dan
kedahuluan Abu Bakar dalam keimanan sebelum kenabian secara resmi
diumumkan, saat peristiwa perjalanan dagang Nabi ke Syam bersama Buhaira
sang rahib.
Dan telah dikatakan: bahwa dia adalah orang pertama yang masuk Islam menurut sejumlah besar sahabat, tabi'in, dan selain mereka, bahkan sebagian dari mereka mengklaim adanya ijma' (kesepakatan) atas hal itu. Dan ada yang mengatakan: orang pertama yang masuk Islam adalah Ali, dan ada juga yang mengatakan Khadijah.
Dan pendapat-pendapat itu dapat dikompromikan (dihimpun) dengan mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan laki-laki, Ali adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak, dan Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam dari kalangan wanita. Orang pertama yang menyebutkan cara penggabungan (kompromi) ini adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah, yang diriwayatkan darinya…
Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Salim bin Abi Al-Ja‘d, ia berkata: Aku berkata kepada Muhammad bin Al-Hanafiyyah: 'Apakah Abu Bakar orang pertama yang masuk Islam di antara mereka?' Dia menjawab: 'Tidak.' Aku bertanya: 'Lalu, kenapa Abu Bakar menjadi yang paling utama dan disebut-sebut hingga tidak ada yang disebut selain Abu Bakar?' Dia menjawab: 'Karena sejak dia masuk Islam hingga wafat menemui Tuhannya, dia adalah yang paling utama di antara mereka dalam keislamannya.'
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Muhammad bin Sa‘d bin Abi Waqqash, bahwa ia berkata kepada ayahnya, Sa‘d: 'Apakah Abu Bakar Ash-Shiddiq orang pertama di antara kalian yang masuk Islam?' Sa‘d menjawab: 'Tidak, tetapi ada lebih dari lima orang yang masuk Islam sebelum dia. Namun, dia adalah yang terbaik di antara kami dalam keislamannya.'
Ibnu Katsir berkata: 'Yang tampak (jelas) adalah bahwa ahli bait (keluarga dekat) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beriman sebelum siapa pun: istrinya Khadijah, budaknya Zaid, istri Zaid yaitu Ummu Ayman, Ali, dan Waraqah.' Selesai.
Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari ‘Isa bin Yazid, ia berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata: 'Aku pernah duduk di pelataran Ka‘bah, dan saat itu Zaid bin ‘Amr bin Nufail sedang duduk. Lalu lewatlah Umayyah bin Abi Shalt, lalu berkata: ‘Bagaimana keadaanmu, wahai pencari kebaikan?’ Zaid menjawab: ‘Baik.’ Umayyah bertanya: ‘Apakah engkau telah menemukannya?’ Zaid menjawab: ‘Belum.’ Lalu dia berkata…'
كل دين يوم القيامة إلا ما قضى الله في الحنيفة بور
Setiap agama pada hari kiamat akan binasa, kecuali agama yang telah ditetapkan Allah dalam Hanifiyyah (agama lurus).
#Hanifiyyah
di sini maksudnya adalah agama tauhid murni, agama Nabi Ibrahim
‘alaihissalam, yang kemudian disempurnakan dalam Islam.
Kemudian dia (Umayyah) berkata: 'Apakah nabi yang sedang dinantikan itu berasal dari kami atau dari kalian?' Aku (Abu Bakar) berkata: 'Sebelumnya aku belum pernah mendengar tentang nabi yang sedang dinanti atau akan diutus.' Maka aku pun pergi menemui Waraqah bin Naufal — dia adalah orang yang sering memandang ke langit dan banyak berbicara dalam hati. Aku menahannya, lalu menceritakan kepadanya peristiwa itu. Waraqah berkata: 'Benar, wahai anak saudaraku. Kami adalah ahli kitab dan para ulama. Ketahuilah, nabi yang sedang dinantikan itu berasal dari kabilah Arab yang paling tengah nasabnya — dan aku memiliki pengetahuan tentang nasab — sementara kaummu adalah yang paling tengah nasabnya di antara orang Arab.' Aku berkata: 'Wahai paman, apa yang akan disampaikan nabi itu?' Dia menjawab: 'Dia akan menyampaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia tidak akan berbuat zalim dan tidak pula dizalimi.' Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, aku beriman kepadanya dan dan membenarkannya.
Dan Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Al-Hushain At-Tamimi, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 'Tidaklah aku mengajak seseorang pun kepada Islam, melainkan dia mengalami keraguan, berpikir-pikir, dan menimbang-nimbang terlebih dahulu — kecuali Abu Bakar. Dia tidak ragu sedikit pun ketika aku menyampaikan kepadanya, dan tidak pula berpaling darinya.'
Lafadz [عتم] berarti tinggal, menetap, atau berlama-lama.
Baihaqi Berkata :
Ini karena dia telah melihat tanda-tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendengar jejak-jejak (berita dan tanda-tanda) beliau sebelum beliau diutus (secara resmi sebagai Nabi). Maka ketika beliau mengajaknya (kepada Islam), sebelumnya ia telah lebih dahulu memikirkan dan merenungkannya, sehingga ia langsung masuk Islam saat itu juga.
Kemudian diriwayatkan dari Abu Maysarah:
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau keluar (menuju tempat yang sepi atau lapang), beliau mendengar suara yang memanggilnya: 'Wahai Muhammad!' Maka setiap kali beliau mendengar suara itu, beliau pun berlari ketakutan. Lalu beliau merahasiakan hal itu kepada Abu Bakar, yang merupakan sahabat karibnya di masa jahiliah.
Abu Nu'aim dan Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 'Aku tidak pernah berbicara kepada seseorang pun tentang Islam melainkan ia akan menolak atau mendebatku, kecuali Ibnu Abi Quhafah (yakni Abu Bakar). Sesungguhnya aku tidak pernah berbicara kepadanya tentang sesuatu pun (dari perkara Islam), melainkan dia langsung menerimanya dan berpegang teguh kepadanya.’
Dan Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Darda, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 'Maukah kalian membiarkan sahabatku untukku? (jangan ganggu dia). Sesungguhnya ketika aku berkata: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua — kalian berkata: 'Engkau dusta.' Sedangkan Abu Bakar berkata: 'Engkau benar.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar