Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 40 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 42
Masuknya (suku) Khuza'ah ke dalam perjanjian (perlindungan) kaum Muslimin :
Khuza‘ah memilih untuk berpihak kepada Rasulullah ﷺ dalam perjanjian ini, maka mereka pun masuk ke dalam perjanjiannya — padahal sejak masa Jahiliah mereka adalah sekutu Bani Hasyim — dan Bani Bakrin masuk ke dalam perjanjian Quraisy. Maka merekalah yang menjadi penyebab terjadinya Penaklukan Makkah, dan penjelasannya akan datang.
Penyelesaian masalah orang-orang yang lemah :
Adapun kaum Muslimin yang disiksa di Makkah, maka salah seorang dari mereka, bernama Abu Bashir, berhasil melarikan diri dan datang ke Madinah. Lalu kaum Quraisy mengirim dua orang kepada Nabi ﷺ untuk memintanya mengembalikannya, maka beliau pun mengembalikannya.
Ketika sampai di Dzul Hulaifah, Abu Bashir membunuh salah satu dari keduanya, dan yang satunya melarikan diri hingga sampai kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, 'Temanku telah dibunuh, dan aku pasti akan terbunuh juga.'
Kemudian datanglah Abu Bashir, namun Nabi ﷺ menegurnya, sehingga ia pun mengerti bahwa beliau akan mengembalikannya kepada mereka. Maka ia pun pergi hingga sampai ke daerah Syaif al-Baher (tepi pantai).
Lalu Abu Jandal pun berhasil melarikan diri dan menyusulnya.
Maka setiap orang dari kaum Quraisy yang telah masuk Islam pun ikut bergabung dengannya. Hingga mereka menjadi sekelompok orang, dan mulai menghadang setiap kafilah dagang kaum Quraisy yang menuju Syam, lalu mereka menyerangnya dan mengambil hartanya.
Maka kaum Quraisy pun mengirim surat kepada Nabi ﷺ memohon dengan nama Allah dan ikatan kekerabatan agar Nabi memanggil mereka ke Madinah. Maka Nabi ﷺ pun mengirim utusan kepada mereka, dan mereka pun datang. Maka masalah pun terselesaikan.
Dampak perjanjian damai :
Perjanjian damai ini memiliki dampak besar dalam memperlancar dakwah Islam. Kaum Muslimin mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan masyarakat Arab secara umum dan menyeru mereka kepada Allah. Maka orang-orang pun masuk Islam dalam jumlah besar.
Dalam dua tahun, jumlah yang masuk Islam melebihi jumlah yang masuk Islam selama sembilan belas tahun sebelumnya.
Tokoh-tokoh besar kaum Quraisy dan para bangsawannya seperti Amru bin ‘Ash, Khalid bin Walid, dan Utsman bin Talhah datang kepada Rasulullah ﷺ dengan sukarela dan penuh keinginan, bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Mereka membaiat beliau untuk masuk Islam dan mempersembahkan kepada beliau segala yang mereka miliki, baik yang berharga maupun yang murah, bahkan rela mengorbankan jiwa, nyawa, bakat, dan kemampuan mereka.
Ketika mereka datang, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Makkah telah melemparkan kepada kita belahan hatinya (orang-orang terbaiknya).'
Surat-Menyurat dengan Para Raja dan Penguasa :
Dan ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Umrah Hudaibiyah, setelah menjalin perjanjian damai dengan kaum Quraisy dan merasa aman dari gangguan mereka, beliau mulai mengirimkan surat-surat kepada para raja dan penguasa, menyeru mereka kepada Islam, serta mengingatkan mereka akan tanggung jawab besar yang mereka emban.
Berikut ini adalah ringkasan dari surat-surat tersebut:
1. Surat Rasulullah ﷺ kepada Raja Najasyi: Ashhamah bin Abjar, Raja Habasyah (Ethiopia):Isi suratnya:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Ini adalah surat dari Muhammad, Nabi Allah, kepada an-Najasyi al-Asham, penguasa Habasyah. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia tidak mengambil istri maupun anak. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Aku mengajakmu dengan ajakan Islam, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
Wahai Ahli Kitab! Marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah."
Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri kepada Allah). [Ali 'Imran: 64]
Jika engkau enggan, maka engkau akan menanggung dosa orang-orang Nasrani dari kaummu.
Beliau (Rasulullah ﷺ) mengirimkan surat tersebut melalui 'Amru bin Umayyah ad-Dhamri. Ketika Najasyi menerima surat itu, ia meletakkannya di kedua matanya (sebagai penghormatan), turun dari singgasananya, lalu masuk Islam melalui tangan Ja‘far bin Abi Thalib. Ia pun menulis surat kepada Nabi ﷺ untuk menyatakan keislamannya dan baiatnya.
Ia menikahkan Ummul Mukminin, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dengan Nabi ﷺ, dan memberikan mahar (mas kawin) sebanyak 400 dinar dari hartanya sendiri.
Ia mengirimkan Ummu Habibah bersama para muhajirin dalam dua kapal bersama ‘Amru bin Umayyah ad-Dhamri. Mereka tiba di tempat Nabi ﷺ saat beliau berada di Khaibar.
Raja Najasyi ini wafat pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah. Nabi ﷺ mengumumkan wafatnya pada hari kematiannya dan menyalatkannya dengan salat gaib.
Kemudian ia digantikan oleh Najasyi lain sebagai penguasa Habasyah. Maka Nabi ﷺ pun menulis surat kepadanya, mengajaknya kepada Islam. Namun tidak diketahui apakah Najasyi yang kedua ini masuk Islam atau tidak."
2. Surat Rasulullah ﷺ kepada al-Muqawqis, Raja Iskandariyah (Alexandria):
Rasulullah ﷺ menulis surat kepada al-Muqawqis, penguasa Mesir dan Iskandariyah, yang berbunyi:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya, kepada al-Muqawqis, penguasa agung bangsa Qibthi.
Salam sejahtera atas siapa yang mengikuti petunjuk. Amma ba‘du (adapun setelah itu):
Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Jika engkau masuk Islam, Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Namun jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa kaum Qibthi.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Wahai Ahli Kitab! Marilah kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri). (Ali 'Imran: 64)
Rasulullah ﷺ mengutus surat ini melalui Hâtib bin Abi Balta‘ah.
Hâtib menyampaikan surat itu dan berbicara langsung kepada al-Muqawqis. Al-Muqawqis pun menghormatinya, lalu meletakkan surat itu dalam kotak gading, menyegelnya, dan menyimpannya.
Ia kemudian menulis surat balasan kepada Nabi ﷺ, mengakui bahwa masih ada nabi yang akan datang, dan bahwa ia sebelumnya menyangka nabi itu akan muncul di Syam (Suriah), namun ia tidak masuk Islam.
Ia juga mengirimkan beberapa hadiah kepada Nabi ﷺ, yaitu dua budak wanita: Maria al-Qibthiyyah dan Sirin, keduanya memiliki kedudukan tinggi di kalangan bangsa Qibthi. Selain itu, ia juga mengirimkan pakaian dan seekor bagal (peranakan kuda dan keledai) bernama Duldul [دلدل].
Nabi ﷺ memilih Maria untuk dirinya, dan menjadikan Duldul sebagai hewan tunggangannya. Sedangkan Sirin dihadiahkan kepada Hassân bin Tsâbit – semoga Allah meridhainya.
3. Surat Rasulullah ﷺ kepada Kisra Abrawayz (Khosrau II), Raja Persia:
Beliau ﷺ menulis:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Dari Muhammad, utusan Allah, kepada Kisra, penguasa agung Persia.
Keselamatan atas siapa saja yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku mengajakmu dengan ajakan dari Allah, karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada seluruh umat manusia:
لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
'Agar dia memberi peringatan kepada siapa yang masih hidup dan agar ketetapan Allah berlaku atas orang-orang kafir.' (Yasin: 70)
Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat. Jika engkau menolak, maka dosa kaum Majusi ada di atas tanggunganmu.
Beliau ﷺ mengutus surat ini melalui Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi, dan memerintahkannya untuk menyerahkannya kepada penguasa Bahrain, agar penguasa Bahrain [البحرين] menyampaikannya kepada Kisra.
Namun ketika surat itu dibacakan kepada Kisra, ia merobeknya seraya berkata:
"Seorang hamba rendahan dari rakyatku menulis namanya mendahului namaku!"
Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Semoga Allah merobek kerajaannya."
#. Reaksi Kisra yang sombong menjadi sebab kehancurannya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ. Pasukannya kalah telak dari pasukan Romawi. Kemudian anaknya sendiri, Syirawaih (Shiruyeh), memberontak, membunuhnya, dan merebut kekuasaan. Setelah itu, kerajaan Persia terus melemah dan dilanda kekacauan, hingga akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab – semoga Allah meridhainya –, dan mereka tidak pernah bangkit kembali.
Kembali ke bagian 40 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar