Kamis, 17 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 57

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 56 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 58

 

 

Penghancuran Masjid Dhirar: 

Kaum munafik telah membangun sebuah masjid di Qubā’ dengan tujuan sebagai tempat untuk menimbulkan kerusakan, kekufuran, memecah belah kaum mukmin, dan sebagai tempat persembunyian bagi orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Mereka kemudian meminta Rasulullah ﷺ untuk salat di dalam masjid itu, saat beliau sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Tabuk. 

Maka beliau bersabda: “Kami sedang dalam perjalanan, namun jika Allah menghendaki, kami akan mampir sepulang nanti.”

Ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Tabuk dan singgah di Dzu Awan [ذي أوان] —sebuah tempat yang hanya berjarak sehari atau kurang dari sehari perjalanan dari Madinah—turunlah Jibril ‘alayhis-salām membawa wahyu tentang hakikat masjid tersebut. Maka Rasulullah ﷺ mengutus orang untuk membakar dan merobohkan masjid itu. 

 

Penyambutan Rasulullah ﷺ oleh Penduduk Madinah: 

Ketika tanda-tanda kota Madinah mulai tampak bagi Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Ini adalah Ṭābah [طابة] (nama lain Madinah), dan ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya.”

Orang-orang pun mendengar kabar kedatangan beliau, maka para wanita, anak-anak, dan para pelayan keluar menyambut beliau sambil melantunkan nasyid: 

طلع البدر عـلينا ، من ثنيات الوداع ، وجب الشكر علينا ، ما  دعا  لله داع

“Telah muncul bulan purnama kepada kami, dari arah celah-celah Wada‘. Wajib bagi kami bersyukur, selama ada orang yang berdoa kepada Allah.” 

 

Hingga beliau ﷺ masuk ke masjid, lalu salat dua rakaat di dalamnya dan duduk menyambut orang-orang. 

 

Orang-orang yang Tertinggal : 

Orang-orang munafik yang tertinggal (dari perang Tabuk) datang mengajukan alasan dan bersumpah (membela diri). Maka Nabi ﷺ menerima alasan lahiriah mereka, sementara isi hati mereka diserahkan kepada Allah.

Kemudian datanglah tiga orang mukmin yang jujur, yang juga telah tertinggal dari ikut perang. Mereka adalah: Ka‘b bin Malik, Murārah bin Rabi‘, dan Hilāl bin Umayyah.

Mereka berkata jujur dan tidak mengajukan alasan palsu. Maka Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk menunggu hingga Allah memberikan keputusan-Nya. Beliau juga memerintahkan kaum Muslimin untuk tidak berbicara dengan mereka. Maka masyarakat menjauhi mereka, bumi terasa asing bagi mereka, dan jiwa mereka terasa sempit, dunia pun seolah menjadi gelap bagi mereka.

Ketika masa ujian itu berlangsung selama 40 hari, Nabi ﷺ memerintahkan mereka juga untuk tidak mendekati istri-istri mereka. Hingga setelah genap 50 hari, Allah menurunkan wahyu yang menyatakan bahwa tobat mereka diterima. Allah berfirman:

وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّواْ أَن لاَّ مَلْجَأَ مِنَ اللّهِ إِلاَّ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ 

“Dan (Allah menerima tobat) terhadap tiga orang yang ditangguhkan, hingga apabila bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, dan mereka merasa bahwa tidak ada tempat lari dari Allah selain kepada-Nya, lalu Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118) 

 

Maka kaum Muslimin pun bergembira, dan orang-orang yang tertinggal (yang jujur) pun merasa sangat lega dan bahagia. Mereka menerima kabar gembira dan memberikan kabar gembira kepada yang lain, mereka diberi penghargaan, dan mereka bersedekah. Hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidup mereka. 

 

Kemudian turunlah ayat-ayat Al-Qur'an yang membongkar kemunafikan para munafik, menyingkap rahasia orang-orang yang berdusta, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang jujur. Maka segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 

 

Rasulullah ﷺ kembali dari Tabuk pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah. Pada bulan yang sama, wafatlah Raja Najasyi, Ashhamah bin Abjar, penguasa Habsyah (Ethiopia). Maka Rasulullah ﷺ menyalatkannya dengan salat ghaib di Madinah. 

 

Kemudian, pada bulan Sya‘ban tahun yang sama (9 H), wafat putri beliau, Ummu Kultsum – raḍiyallāhu ‘anhā –. Beliau menshalatinya dan menguburkannya di pemakaman Baqi‘ [البقيع]. 

Rasulullah ﷺ sangat bersedih atas wafatnya, dan berkata kepada ‘Utsmān bin ‘Affān – raḍiyallāhu ‘anhu –: “Seandainya aku memiliki anak perempuan ketiga, niscaya aku akan menikahkannya denganmu.” 

 

Pada bulan Dzulqa‘dah tahun 9 H pula, wafatlah pemimpin kaum munafik, ‘Abdullah bin Ubay. Rasulullah ﷺ memohonkan ampun untuknya dan menshalatkannya. 

Umar – raḍiyallāhu ‘anhu – sempat berusaha mencegah beliau untuk menyalatkannya, namun Rasulullah ﷺ tetap melakukannya. Setelah itu turunlah wahyu Al-Qur'an yang melarang menyalatkan kaum munafik. 

 

 

Sepatah Kata tentang Perang 


Dalam masa jahiliah, kata "perang" identik dengan pembunuhan, kebiadaban, pembakaran, penghancuran, penjarahan, perampasan, pelecehan kehormatan, penyebaran kerusakan di muka bumi, serta pemusnahan tanaman dan keturunan, tanpa ada belas kasih atau toleransi sedikit pun.

Namun, ketika Islam datang, makna perang diubah secara menyeluruh. Islam menjadikan perang sebagai jalan untuk menolong orang-orang yang tertindas, menahan kezaliman para penindas, sarana untuk menegakkan keamanan dan kedamaian di bumi, wasilah untuk menegakkan keadilan, menyelamatkan kaum lemah dari cengkeraman kaum kuat, serta untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata, dan dari ketidakadilan berbagai agama menuju keadilan Islam. 

 

Bukanlah watak (kebiasaan) orang Arab untuk tunduk kepada siapa pun, seberapa pun lamanya peperangan berlangsung, dan seberapa pun mahalnya harga yang harus dibayar.

Perang antara Bani Baker dan Bani Taghlib dalam Perang al-Basūs [البسوس] berlangsung selama empat puluh tahun, dengan korban sekitar tujuh puluh ribu prajurit, dan tidak satu pun dari keduanya tunduk kepada yang lain.

Begitu pula peperangan antara suku Aus [الأوس] dan Khazraj [الخزرج] yang berlangsung lebih dari seratus tahun, namun tidak ada satu pihak pun yang tunduk kepada pihak lainnya.

Inilah watak orang Arab sebelum datangnya Islam: melanjutkan peperangan dan tidak mau menyerah kepada musuh. 

 

Kemudian datanglah Nabi ﷺ membawa ajaran Islam, dan bangsa Arab pun menghadapinya dengan cara yang sama seperti kebiasaan mereka—yakni mengajaknya ke medan perang. Namun beliau ﷺ menghadapi mereka dengan cara yang berbeda, yaitu dengan kebijaksanaan.

Beliau berhasil menaklukkan hati mereka sebelum menaklukkan negeri mereka. Jika engkau membandingkan hasil dari peperangan dan ekspedisi militer beliau ﷺ dengan hasil perang-perang pada masa jahiliah, niscaya engkau akan menyaksikan sesuatu yang sangat menakjubkan.

Jumlah keseluruhan korban jiwa dari seluruh peperangan dan ekspedisi beliau ﷺ — baik dari kalangan Muslim, musyrik, Yahudi, maupun Nasrani — hanyalah sekitar seribu orang. Padahal semua peperangan itu terjadi dalam rentang waktu tidak lebih dari delapan tahun.

Namun dalam waktu yang singkat itu, dan dengan darah yang tertumpah sangat sedikit, beliau telah berhasil menundukkan hampir seluruh Jazirah Arab dan menegakkan keamanan serta kedamaian di seluruh pelosok dan wilayahnya.

Apakah mungkin semua ini tercapai hanya dengan kekuatan pedang? Terutama jika kita ingat bahwa bangsa Arab saat itu rela mati dalam peperangan hanya demi urusan-urusan remeh, dan mereka biasa mengorbankan ribuan nyawa tanpa pernah terpikir untuk menyerah?

Tidak begitu, Sesungguhnya ini adalah (bukti) kenabian dan rahmat, risalah dan hikmah, dakwah dan mukjizat, serta anugerah dan nikmat (karunia) dari Allah. 

 

Kembali ke bagian 56 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 58

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar