Selasa, 22 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 62

 

Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 61 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 63

 

 

Delegasi (utusan) Hamdan dan pengutusan Khalid serta Ali:

Hamdan adalah sebuah kabilah yang terkenal di Yaman. Delegasi mereka datang pada tahun ke-9 Hijriah, setelah Rasulullah ﷺ kembali dari Perang Tabuk. Di antara mereka terdapat Mālik bin Namath, yang merupakan seorang penyair yang fasih dan piawai. Maka ia pun berkata:

Aku bersumpah demi Tuhan para wanita yang berjalan menuju Mina,

yang kembali bersama para penunggang unta dari bukit-bukit Qardad,

bahwa Rasulullah ada di tengah-tengah kami, dibenarkan (kebenarannya),

seorang utusan yang datang dari sisi Tuhan Arasy, dan ia berada di atas petunjuk,

maka tidak ada unta yang pernah membawa seseorang di atas pelananya,

yang lebih kuat dalam menghadapi musuh-musuhnya dibandingkan Muhammad.

 

Maka Rasulullah ﷺ menulis sebuah surat untuk mereka dan memberikan kepada mereka apa yang mereka minta. Beliau mengangkat Malik bin an-Namath sebagai pemimpin atas kaumnya yang telah masuk Islam. Kemudian beliau mengutus Khalid bin al-Walid untuk mengajak sisa mereka masuk Islam. Ia tinggal di tengah mereka selama enam bulan, namun mereka tidak masuk Islam. 

Lalu beliau mengutus Ali bin Abi Thalib dan memerintahkannya untuk menggantikan Khalid. Maka ia pun melakukannya. Ali membacakan kepada mereka surat dari Rasulullah ﷺ dan mengajak mereka masuk Islam, lalu mereka pun masuk Islam. Maka Ali menulis surat kabar gembira kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau pun sujud syukur. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan bersabda: 'Salam sejahtera bagi (suku) Hamdan, salam sejahtera bagi Hamdan.'

 

Delegasi Bani ‘Abdul Madān : 

Kemudian Rasulullah ﷺ mengutus Khalid bin Walid pada bulan Rabi‘ul-Akhir tahun ke-10 Hijriah ke Bani ‘Abdul Madān di wilayah Najran, Yaman, untuk mengajak mereka kepada Islam selama tiga hari. Jika mereka menolak, maka beliau diperintahkan untuk memerangi mereka. 

Ketika Khalid tiba di sana, ia mengirimkan para penyeru ke segala penjuru untuk mengajak mereka masuk Islam, sambil mengatakan: “Masuk Islamlah, niscaya kalian akan selamat.” Maka mereka pun masuk Islam.

Khalid menetap di tengah mereka untuk mengajarkan Islam, lalu menulis surat kepada Rasulullah ﷺ memberitahukan hal tersebut. Rasulullah pun mengirim pesan agar ia membawa serta delegasi mereka, dan Khalid melakukannya.

Ketika mereka berkumpul di hadapan Rasulullah ﷺ, beliau bertanya kepada mereka: “Dengan apa kalian mengalahkan musuh-musuh kalian di masa jahiliah?”

Mereka menjawab: “Kami bersatu dan tidak berpecah-belah, serta tidak memulai kezhaliman terhadap siapa pun.”

Beliau bersabda: “Kalian benar.”

Kemudian beliau mengangkat Qais bin Hushain sebagai pemimpin mereka. Mereka pun kembali ke kaumnya pada akhir bulan Syawwal atau awal Dzulqa‘dah.

Lalu Rasulullah ﷺ mengutus kepada mereka ‘Amer bin Hazm untuk mengajarkan agama, menyampaikan sunnah, memperkenalkan ajaran Islam, serta memungut zakat dari mereka. Beliau juga menulis surat kepadanya, dan surat itu sangat terkenal. 

 

 

Masuk Islamnya Bani Madhhij [مذحج] : 

Bani Madhhij juga merupakan kabilah dari Yaman. Rasulullah ﷺ mengutus Ali bin Abi Thalib kepada mereka pada bulan Ramadan tahun ke-10 Hijriah untuk mengajak mereka masuk Islam. Beliau memerintahkan agar Ali tidak memerangi mereka kecuali jika mereka memerangi lebih dahulu.

Ketika Ali sampai kepada mereka dan bertemu pasukan mereka, ia mengajak mereka masuk Islam, namun mereka menolak dan memanah kaum Muslimin. Maka Ali bersama para sahabatnya bersiap dan memerangi mereka hingga mengalahkan mereka.

Setelah itu, Ali menahan diri sejenak dari mengejar mereka. Kemudian ia menyusul mereka kembali dan menyeru mereka kepada Islam, maka mereka pun masuk Islam. Para pemimpin mereka berbaiat kepadanya dan berkata:

"Kami bertanggung jawab atas orang-orang di belakang kami dari kalangan kaum kami. Ini adalah zakat kami, maka ambillah hak Allah darinya." Maka Ali pun melakukannya.

Kemudian ia kembali kepada Rasulullah ﷺ dan menjumpai beliau di Makkah pada saat Haji Wada' (Haji Perpisahan). 

 

 

Delegasi (utusan) dari Azd Syanu’ah [أزد شنوءة]: 

Mereka juga merupakan sebuah kabilah yang terkenal di daerah Yaman. Mereka datang dipimpin oleh Shurad bin Abdullah al-Azdi, lalu mereka masuk Islam. Maka Nabi ﷺ mengangkatnya sebagai pemimpin atas mereka, dan memerintahkannya untuk berjihad bersama orang-orang yang telah masuk Islam dari kaumnya melawan orang-orang musyrik yang ada di sekitar mereka. 

 

 

Delegasi (utusan) Jarir bin Abdullah al-Bajali dan Penghancuran Dzul-Khalashah [ذي الخلصة]: 

Jarir bin Abdullah al-Bajali, salah satu sahabat Nabi ﷺ yang terkenal, datang menemui Rasulullah ﷺ. Kaumnya—Bajilah dan Khat’am—memiliki sebuah berhala dan kuil besar yang disebut Dzul Khalashah, yang mereka samakan dengan Ka'bah. Mereka menyebut Ka'bah di Makkah sebagai Ka'bah Syamiyah (Ka'bah wilayah utara), dan kuil mereka sebagai Ka'bah Yamaniyah (Ka'bah wilayah selatan).

Suatu hari, Rasulullah ﷺ berkata kepada Jarir: "Tidakkah engkau melegakan hatiku dari Dzul-Khalashah?"

Jarir mengeluhkan bahwa dirinya tidak bisa mantap menunggang kuda. Maka Rasulullah ﷺ meletakkan tangan mulianya di dada Jarir dan berdoa:

"Ya Allah, teguhkan dia, dan jadikan dia sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk."

Sejak saat itu, Jarir tidak pernah jatuh lagi dari kudanya.

Lalu Jarir berangkat menuju Dzul-Khalashah bersama 150 orang penunggang kuda dari kaumnya, yaitu Ahmas [أحمس]—sebuah cabang dari suku Bajilah. Mereka menghancurkan kuil itu, membakarnya, dan meninggalkannya seperti unta yang terkena kudis. Jarir kemudian mengutus Abu Artha’ah untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ pun mendoakan keberkahan untuk kuda-kuda dan kaum Ahmas sebanyak lima kali. 

 

 

Munculnya Musailamah Palsu dari Aswad al-‘Ansi dan Kematian-Nya : 

Ketika keamanan dan Islam telah mantap di wilayah Yaman, dan para petugas Rasulullah ﷺ tersebar di seluruh penjuru, tiba-tiba muncul seorang bernama Aswad al-‘Ansi dari daerah Kahf Hanan [كهف حنان] bersama 700 orang pasukan. Ia mengaku sebagai nabi dan pemimpin, lalu maju menuju Shan’a [صنعاء] dan berhasil merebutnya.

Keadaan pun memburuk, fitnahnya semakin meluas, dan kekuasaannya semakin kuat, hingga para petugas Rasulullah ﷺ terpaksa mundur ke wilayah al-Asy’ariyyin, dan kaum muslimin terpaksa memperlakukannya dengan taqiyyah (menyembunyikan iman karena takut fitnah). Kondisi ini berlangsung selama tiga atau empat bulan.

Akhirnya, Fairuz ad-Dailami dan rekan-rekannya dari kalangan bangsa Persia yang telah masuk Islam, membuat siasat untuk membunuhnya. Fairuz berhasil membunuhnya, memenggal kepalanya, dan melemparkannya ke luar benteng. Maka para pengikut Aswad pun tercerai-berai, dan Islam kembali muncul bersama para pemeluknya. Para utusan Rasulullah ﷺ pun kembali ke wilayah tugas masing-masing, dan mereka mengirimkan kabar tersebut kepada Nabi ﷺ. 

 

Pembunuhan Aswad al-‘Ansi terjadi sehari semalam sebelum wafatnya Nabi ﷺ. Lalu wahyu turun kepada Nabi ﷺ yang memberitahukan kejadian itu, dan beliau mengabarkannya kepada para sahabat. Kemudian surat resmi mengenai peristiwa tersebut sampai pada masa pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq – raḍiyallāhu ‘anhu. 

 

Kembali ke bagian 61 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 63

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar