Selasa, 08 Juli 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 50

 

 Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 49 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 51

 

 

Abu Sufyan di hadapan Rasulullah ﷺ: 

Ketika itu Abbas – semoga Allah meridainya – sedang menunggang bighal (bagal/kuda campuran keledai) milik Rasulullah ﷺ dan berkeliling (di sekitar pasukan). Tatkala ia mendengar suara (seseorang), ia mengenalinya, lalu berkata:

"Apakah itu engkau, Abu Hanzhalah?"

Orang itu menjawab: "Apakah engkau Abu al-Fadl?"

Ia berkata: "Ya."

Lalu ia bertanya: "Apa yang terjadi? Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu."

Ia menjawab: "Ini Rasulullah ﷺ bersama pasukan manusia! Sungguh, celakalah pagi ini bagi Quraisy, demi Allah!"

 

Ia (Abbas) berkata: "Lalu, apa yang akan terjadi padamu? Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu."

Lalu ia (Abbas) berkata: "Demi Allah, jika mereka menangkapmu, pasti mereka akan memenggal lehermu. Maka naiklah di belakangku di atas bighal (bagal) ini, agar aku dapat membawamu kepada Rasulullah ﷺ."

Maka Abu Sufyan pun naik di bagian belakang bighal tersebut. Ketika mereka melewati Umar bin Khattab, Umar melihat dan berkata:

"Abu Sufyan?! Musuh Allah?! Segala puji bagi Allah yang telah memberimu kepada kami tanpa perjanjian dan tanpa jaminan!"

Lalu Umar bergegas pergi kepada Rasulullah ﷺ, sementara Abbas pun memacu bighalnya lebih cepat hingga mendahului Umar dan menemui Rasulullah ﷺ terlebih dahulu.

Kemudian Umar masuk dan meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk memenggal leher Abu Sufyan,

namun Abbas berkata: "Sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepadanya!"

Ia (Abbas) pun memegang kepala Rasulullah ﷺ dan berkata:

"Malam ini tidak ada seorang pun yang boleh berbicara dengan beliau kecuali aku!"

Umar terus mendesak, sementara Rasulullah ﷺ diam (tidak menjawab).

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abbas:

"Bawalah dia ke rumahmu. Lalu esok pagi bawalah dia kepadaku."

#. Abbas memegang kepala Rasulullah ﷺ sebagai isyarat kedekatan, kasih sayang, sekaligus bentuk permohonan yang kuat agar tidak ada yang mengganggu Rasulullah malam itu. Ini menunjukkan kedudukan tinggi Abbas di sisi Nabi ﷺ, sebagai paman dan sahabat terpercaya.

 

Ketika Abbas membawanya (Abu Sufyan) pada pagi hari, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

"Celaka kamu, wahai Abu Sufyan! Belumkah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah?"

 

Maka Abu Sufyan menjawab: "Betapa penyantun, mulia, dan penyambung silaturahmi engkau ini! Seandainya ada tuhan lain selain-Nya, pasti ia bisa menolongku sedikit pun setelah ini."

 

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda lagi: "Celaka kamu, wahai Abu Sufyan! Belumkah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah?"

 

Abu Sufyan menjawab: "Adapun yang ini (pengakuan engkau sebagai utusan), maka dalam diriku masih ada sedikit ganjalan terhadapnya sampai saat ini."

 

Maka Abbas berkata: "Masuklah Islam sebelum lehermu dipenggal!"

Lalu Abu Sufyan pun masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat.

 

Maka Abbas berkata: "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang menyukai kebanggaan (suka merasa punya kehormatan dan kedudukan), maka berikanlah kepadanya sesuatu (yang bisa membuatnya bangga).”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Ya, siapa yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Siapa yang menutup pintunya (tidak keluar untuk melawan), maka ia aman. Dan siapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, maka ia aman."

 

Masuknya Rasulullah ﷺ ke Kota Makkah: 

Pada pagi hari, Rasulullah ﷺ bergerak maju menuju Makkah, dan beliau memerintahkan Abbas agar menahan Abu Sufyan di celah sempit lembah, di dekat tebing gunung, agar ia bisa melihat pasukan Allah ketika mereka lewat.

Maka Abbas pun melaksanakan perintah itu. Pasukan-pasukan pun mulai lewat di hadapan Abu Sufyan, masing-masing dengan panji (bendera) dan formasi kabilahnya.

Setiap kali satu kabilah melewati Abu Sufyan, ia berkata: "Wahai Abbas, siapa mereka ini?"

Maka Abbas menjawab: "Bani Fulan (misalnya: Bani Sulaim)."

Abu Sufyan pun berkata: "Apa urusanku dengan Bani Fulan?"

(dalam arti: mereka semua datang untuk memerangi kami).

Hingga akhirnya lewat pasukan besar dari kalangan Anshar, yang panjinya dibawa oleh Sa'ad bin 'Ubadah, maka ia berkata: "Wahai Abu Sufyan! Hari ini adalah hari pembantaian! Hari ini Ka'bah akan dihalalkan (untuk diserbu)!"

Mendengar itu, Abu Sufyan berkata kepada Abbas: "Wahai Abbas, betapa mengerikannya hari ini!"

(dalam arti: “Ini adalah hari kehancuran” — يوم الذمار berarti hari kebinasaan atau pembalasan yang berat).

 

Kemudian Rasulullah ﷺ pun lewat bersama pasukannya yang disebut "al-Katibah al-Khadra’" (Pasukan Hijau) — di dalamnya terdapat kaum Muhajirin dan Anshar — dan tidak terlihat dari mereka kecuali besi (karena penuh dengan baju zirah dan senjata).

Maka Abu Sufyan berkata: "Subhanallah! Wahai Abbas, siapa mereka ini?"

Abbas menjawab: "Ini adalah Rasulullah ﷺ bersama kaum Muhajirin dan Anshar."

Abu Sufyan berkata: "Tidak ada seorang pun yang mampu menghadapi mereka, dan tidak ada kekuatan yang dapat menandingi mereka. Sungguh, kekuasaan anak saudaramu (Muhammad) telah menjadi sangat besar."

Abbas berkata kepadanya: "Wahai Abu Sufyan, ini adalah kenabian."

Maka Abu Sufyan pun berkata: "Kalau begitu, iya (aku mengakuinya)."

 

Kemudian Rasulullah ﷺ diberi tahu tentang ucapan Sa'ad bin 'Ubadah, maka beliau bersabda:

"Sa’ad telah keliru (bohong). Hari ini adalah hari di mana Allah memuliakan Ka'bah, dan hari di mana Ka'bah akan diberi kain penutup (disucikan), bukan hari pembantaian."

Lalu beliau mengambil panji dari Sa'ad dan memberikannya kepada anaknya, Qais.

 

Setelah Rasulullah ﷺ melewati Abu Sufyan, Abu Sufyan bergegas masuk ke Makkah, lalu berseru dengan suara paling lantang:

"Wahai kaum Quraisy! Ini Muhammad, telah datang kepada kalian dengan kekuatan yang tidak sanggup kalian hadapi! Barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, maka dia aman!"

Mereka (Quraisy) berkata: "Semoga Allah membinasakanmu! Apa gunanya rumahmu bagi kami?"

Maka Abu Sufyan berkata: "Dan siapa yang menutup pintunya, maka dia aman! Dan siapa yang masuk ke Masjidil Haram, maka dia aman!"
Maka manusia pun segera berlarian ke rumah-rumah mereka dan ke Masjidil Haram, mencari perlindungan.

 

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Dzi Thuwa [ذي طوى], beliau memerintahkan Khalid bin Walid, pemimpin pasukan sayap kiri, untuk masuk ke Makkah dari arah bawah melalui jalan Kudaa [كدى]. Beliau bersabda bahwa jika ada yang menghadangnya, hendaklah ia menyerang mereka hingga bertemu kembali dengan beliau di Bukit Shafa.

Beliau juga memerintahkan Zubair, pemimpin pasukan sayap kanan dan pembawa panji Rasulullah ﷺ, untuk masuk dari arah atas melalui jalan Kadaa [كداء], dan agar menancapkan benderanya di al-Hajun [الحجون], serta tidak beranjak dari sana hingga Rasulullah ﷺ datang kepadanya.

Beliau memerintahkan Abu Ubaidah, pemimpin pasukan pejalan kaki dan orang-orang yang tidak bersenjata, untuk mengambil jalur lembah, hingga mereka turun langsung di hadapan Rasulullah ﷺ.

 

Suku Quraisy mengutus gerombolan dari kalangan rakyat kecil di kawasan Khundamah [الخندمة], mereka berkata: "Jika Quraisy menang, kita bersama mereka. Jika tidak, kita akan memberikan apa yang diminta dari kita."

Ketika Khalid melewati mereka, ia Menyerang dua belas orang dari mereka dalam pertempuran ringan. Sisanya melarikan diri. Setelah itu Khalid terus bergerak menyusuri Makkah hingga bertemu Rasulullah ﷺ di Bukit Shafa. Dari pasukan Khalid, dua orang terbunuh karena tersesat dari rombongan dan terpisah darinya.

 

Adapun Zubair, maka ia menancapkan bendera (panji) di al-Hajun dekat Masjid al-Fath, dan ia mendirikan tenda di sana yang di dalamnya terdapat Ummu Salamah dan Maimunah – semoga Allah meridhai keduanya. Ia tidak beranjak dari tempat itu hingga Rasulullah ﷺ datang.

Rasulullah ﷺ kemudian beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan. Di samping beliau ada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang berbincang dengannya, sementara Rasulullah ﷺ membaca Surah al-Fath.

Beliau pun masuk ke Masjidil Haram, dan di sekeliling beliau terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau menyentuh Hajar Aswad, lalu thawaf mengelilingi Ka'bah di atas untanya. Saat itu beliau tidak dalam keadaan ihram.

Di sekitar Ka'bah terdapat 360 berhala, lalu beliau menusuk-nusuk berhala itu dengan tongkat yang ada di tangan beliau sambil membaca:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81)

قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ

“Katakanlah: Telah datang kebenaran. Dan yang batil itu tidak dapat memulai dan tidak (pula) mengulang.” (QS. Saba’: 49)

Berhala-berhala itu pun roboh satu per satu menelungkup ke tanah.

 

Kembali ke bagian 49 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 51

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar