Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 48 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 50
Kemenangan Terbesar : Penaklukan Makkah al-Mukarramah
Sebab, Persiapan, dan Kerahasiaan:
Pada bulan Ramadan tahun ke-8 Hijriah, Allah Ta‘ala menganugerahkan kemenangan kepada Rasul-Nya ﷺ dengan penaklukan kota Makkah al-Mukarramah. Inilah yang disebut sebagai al-Fath al-A‘zham (kemenangan terbesar). Melalui kemenangan ini, Allah memuliakan agama-Nya dan Rasul-Nya, menyelamatkan rumah-Nya (Ka‘bah) dan negeri-Nya (Makkah), para penduduk langit bergembira karenanya, dan manusia pun mulai masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Adapun sebabnya adalah bahwa Bani Bakar telah bergabung dengan Quraisy dalam perjanjian Hudaibiyah. Antara mereka dan suku Khuza‘ah terdapat pertumpahan darah dan dendam lama di masa Jahiliah, yang apinya sempat padam dengan munculnya Islam. Namun ketika perjanjian Hudaibiyah berlangsung, Bani Bakar memanfaatkannya untuk menyerang Khuza‘ah pada malam hari di bulan Sya‘ban tahun ke-8 Hijriah, saat mereka berada di sebuah sumber air bernama al-Watīr. Mereka membunuh lebih dari dua puluh orang dari Khuza‘ah, bahkan mengejar mereka hingga ke Makkah dan menyerang mereka di sana. Quraisy pun membantu mereka secara diam-diam dengan mengirim orang-orang dan senjata.
Khuza‘ah telah masuk ke dalam perjanjian Hudaibiyah bersama kaum Muslimin, dan sejumlah dari mereka telah memeluk Islam. Maka mereka pun menyampaikan berita itu kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:
"Demi Allah, sungguh aku akan melindungi kalian sebagaimana aku melindungi diriku sendiri."
Quraisy pun menyadari betapa buruknya perbuatan mereka dan merasa takut akan akibatnya. Maka mereka segera mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperkuat perjanjian dan meminta perpanjangan waktu.
Ketika Abu Sufyan tiba di Madinah, ia menginap di rumah putrinya, Ummul Mu’minin Ummu Habibah – semoga Allah meridainya. Saat ia hendak duduk di atas kasur Rasulullah ﷺ, Ummu Habibah melipatnya menjauh darinya. Ia pun berkata :
"Wahai putriku! Apakah engkau enggan aku duduk di atas kasur ini, atau engkau enggan kasur ini digunakan olehku?"
Ia menjawab : "Ini adalah kasur Rasulullah ﷺ, dan engkau adalah seorang musyrik najis."
Ia berkata : "Demi Allah, telah datang keburukan kepadamu setelah kepergianku."
Kemudian Abu Sufyan datang menemui Rasulullah ﷺ dan berbicara dengannya, namun beliau tidak memberikan jawaban apa pun. Maka ia pun pergi menemui Abu Bakar untuk membantunya berbicara kepada Rasulullah ﷺ, tetapi Abu Bakar menolak. Lalu ia mendatangi Umar, namun Umar pun menolak dan bahkan berkata dengan lebih keras. Ia pun datang kepada Ali, tetapi Ali meminta maaf dan menyarankannya agar ia sendiri berusaha menjalin perdamaian di antara manusia lalu kembali ke tempat asalnya. Maka ia pun melakukan saran tersebut.
Adapun Rasulullah ﷺ, beliau pun bersiap-siap untuk berangkat berperang, dan memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap pula. Beliau juga menyeru kaum Arab Badui di sekitar Madinah agar turut serta, dan beliau merahasiakan tujuan sebenarnya. Lalu beliau berdoa:
“Ya Allah, sembunyikanlah mata-mata dan berita dari Quraisy, hingga kami dapat mengejutkan mereka di negeri mereka.”
Sebagai tambahan dalam upaya menyembunyikan tujuan, beliau mengutus Abu Qatadah – raḍiyallāhu ‘anhu – pada awal Ramadan ke daerah Bathn Iḍam [بطن إضم], sekitar 36 mil dari Madinah, agar orang-orang menyangka bahwa beliau hendak menuju ke arah sana.
Namun, Hāṭib bin Abī Balta‘ah menulis sebuah surat kepada Quraisy yang isinya memberitahukan bahwa Rasulullah ﷺ sedang menuju ke arah mereka. Ia memberikan surat tersebut kepada seorang wanita dengan imbalan tertentu.
Allah pun memberitahukan hal itu kepada Rasulullah ﷺ dari langit. Maka beliau mengutus ‘Alī, Miqdād, Zubair, dan Marthad al-Ghanawī – semoga Allah meridai mereka – seraya bersabda:
“Pergilah kalian ke Rawḍah Khākh [روضة خاخ]. Di sana ada seorang wanita membawa surat, ambillah darinya.”
Mereka pun pergi ke tempat yang dimaksud dan memintanya menyerahkan surat itu. Si wanita berkata, “Aku tidak membawa surat apa pun.” Mereka pun berkata:
“Demi Allah, engkau harus mengeluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu.”
Akhirnya ia mengeluarkan surat tersebut dari sanggulan rambutnya, lalu mereka membawanya kepada Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bertanya kepada Hāṭib: “Apa ini, wahai Ḥāṭib?”
Ḥāṭib pun meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia memiliki keluarga, kerabat, dan anak-anak di Makkah, namun tidak memiliki keluarga Quraisy yang akan melindungi mereka. Maka ia ingin memiliki jasa yang dapat membuat mereka melindungi keluarganya. Ia menegaskan bahwa perbuatannya bukan karena murtad dari Islam, dan bukan pula karena ridha terhadap kekufuran.
Umar pun berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya! Ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan sungguh ia telah munafik.”
Namun Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya ia telah ikut serta dalam Perang Badar. Dan tahukah kamu, barangkali Allah telah memandang para peserta Badar lalu berfirman: ‘Lakukanlah apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”
Maka mengalirlah air mata Umar, dan ia berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Dalam Perjalanan Menuju Makkah:
Pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriah, Rasulullah ﷺ berangkat meninggalkan Madinah menuju Makkah, bersama sepuluh ribu orang dari kaum Muslimin. Beliau menunjuk Abu Ruhm al-Ghifārī sebagai pemimpin sementara di Madinah.
Ketika beliau sampai di al-Juhfah [الجحفة], beliau bertemu dengan pamannya, ‘Abbās, yang datang bersama keluarganya sebagai seorang Muslim yang hijrah. Di Abwā’, beliau bertemu pula dengan sepupunya Abū Sufyān bin al-Ḥārith dan sepupu dari pihak ibu ‘Abdullāh bin Abī Umayyah. Namun Rasulullah ﷺ berpaling dari mereka karena keduanya dahulu sangat menyakitinya dengan celaan dan ejekan.
Umm Salamah berkata kepada beliau :
“Jangan sampai sepupumu dan sepupu dari pihak ibumu menjadi orang yang paling celaka karena dirimu.”
Ali pun berkata kepada Abu Sufyan:
“Datangilah beliau dari arah wajahnya langsung, dan ucapkan seperti yang diucapkan saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf:
تَاللَّهِ لَقَدْ آثَرَكَ اللَّهُ عَلَيْنَا وَإِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ
" Demi Allah, sungguh Allah telah memilihmu atas kami, dan kami sungguh telah bersalah" (Yusuf: 91)
Lalu ia pun melakukannya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda :
لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"Tidak ada celaan atas kalian pada hari ini. Allah akan mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang" (Yusuf: 92)
Lalu Abu Sufyan membacakan beberapa bait syair yang isinya memuji Rasulullah ﷺ dan meminta maaf atas perbuatannya di masa lalu.
Ketika Rasulullah ﷺ sampai di tempat bernama Kudayd [كديدًا], dan beliau melihat bahwa puasa terasa berat bagi orang-orang, beliau pun berbuka dan memerintahkan orang-orang untuk berbuka. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan sampai tiba di Mar az-Zahrān [مر الظهران] pada malam hari. Di sana beliau memerintahkan pasukan untuk menyalakan sepuluh ribu api unggun, masing-masing kelompok menyalakan satu api, dan beliau menugaskan Umar bin Khattab – raḍiyallāhu ‘anhu – sebagai penjaga malam.
Sementara itu, Abu Sufyan keluar dalam keadaan takut dan penuh kehati-hatian tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia ditemani oleh Ḥakīm bin Ḥizām dan Budayl bin Warqā’. Ketika mereka melihat kobaran api yang begitu banyak, Abu Sufyan berkata :
“Aku belum pernah melihat kobaran api dan pasukan sebanyak malam ini.”
Budayl berkata : “Itu mungkin pasukan Khuza‘ah.”
Namun Abu Sufyan menjawab : “Khuza‘ah terlalu sedikit dan terlalu lemah untuk memiliki api dan pasukan sebanyak itu.”
Kembali ke bagian 48 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar