Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar
Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy
Kembali ke bagian 47 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 49
Perang Mu’tah
(pada bulan Jumadil Awwal tahun 8 H)
Telah disebutkan sebelumnya dalam kisah surat-surat Rasulullah ﷺ kepada para raja dan penguasa bahwa Syurahbil bin ‘Amru al-Ghassani telah membunuh Harits bin ‘Umair – raḍiyallāhu ‘anhu – pembawa surat Rasulullah ﷺ kepada penguasa Busra. Kejadian ini dianggap sebagai deklarasi perang.
Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat terpukul karenanya. Maka beliau pun mempersiapkan pasukan yang terdiri dari tiga ribu orang prajurit, dan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan mereka. Beliau bersabda:
“Jika Zaid gugur, maka Ja’far (bin Abi Talib) yang memimpin. Jika Ja’far gugur, maka ‘Abdullah bin Rawahah.”
Beliau pun mengikat sebuah panji putih, yang kemudian dibawa oleh Zaid bin Haritsah.
Beliau (Rasulullah ﷺ) berwasiat kepada mereka agar menuju ke tempat terbunuhnya Harits bin ‘Umair, lalu mengajak penduduknya kepada Islam. Jika mereka menolak, maka perangilah mereka.
Beliau bersabda: "Berperanglah kalian dengan nama Allah, di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah.
Jangan berkhianat, jangan berbuat curang (dalam rampasan perang), jangan membunuh anak kecil, wanita, orang tua yang sudah sangat renta, atau orang yang menyendiri di tempat ibadahnya.
Jangan pula menebang pohon kurma, atau memotong pohon lain, dan jangan merobohkan bangunan.
Rasulullah ﷺ mengiringi pasukan hingga ke Tsaniyyatul Wada‘ [ثنية الوداع], kemudian beliau berpamitan kepada mereka. Maka berangkatlah pasukan itu hingga sampai di Ma‘an [معان] – di selatan Yordania. Di sana mereka mendapat kabar bahwa Hirokla (Kaisar Romawi) sedang berada di Ma’ab [بمآب] bersama seratus ribu tentara Romawi, dan bergabung pula seratus ribu orang Arab Nasrani.
Mereka pun bermusyawarah selama dua malam: apakah mereka menulis surat kepada Rasulullah ﷺ dan meminta bala bantuan, atau mereka langsung maju untuk menghadapi peperangan?
Lalu ‘Abdullah bin Rawahah menyemangati mereka, seraya berkata:
"Apa yang kalian takutkan – yaitu mati syahid – justru itulah yang kalian cari. Kita bukan berperang karena jumlah, kekuatan, atau banyaknya pasukan. Kita berperang demi agama ini, yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Dan tidak lain, ini adalah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau kesyahidan."
Maka mereka pun berkata : "Benar, demi Allah, apa yang dikatakan Ibnu Rawahah."
Mereka pun melanjutkan perjalanan, sampai di Mu’tah, dan mempersiapkan diri untuk berperang.
Lalu terjadilah sebuah pertempuran yang dahsyat, mengerikan, dan luar biasa dalam sejarah manusia:
Tiga ribu prajurit Muslim menghadapi pasukan besar berjumlah dua ratus ribu, namun mereka tetap bertahan.
Pasukan besar yang lengkap dengan persenjataan itu menyerang mereka sepanjang hari, banyak dari mereka yang gugur, termasuk para pahlawan mereka, namun mereka tidak berhasil memukul mundur kaum Muslimin.
Zaid bin Haritsah mengambil panji kaum Muslimin, lalu berperang dan terus berperang, kemudian berperang lagi dan terus berperang, hingga tubuhnya tercabik oleh tombak-tombak musuh, lalu ia gugur sebagai syahid di jalan tuhan-nya.
Setelah itu, panji diambil oleh Ja‘far bin Abi Thalib. Ia pun berperang dan terus berperang, hingga ketika pertempuran makin berat, ia meloncat turun dari kuda putihnya dan menyembelihnya (agar tidak ditunggangi musuh), lalu terus berperang hingga tangan kanannya terputus, maka ia pun memegang panji dengan tangan kirinya. Tak lama kemudian, tangan kirinya juga terputus, maka ia mendekap panji itu dengan kedua lengan atasnya, tetap mengibarkannya tinggi di angkasa, hingga ia gugur sebagai syahid, setelah tubuhnya menerima sekitar sembilan puluh lebih luka tikaman dan lemparan, semuanya mengenai bagian depan tubuhnya (menunjukkan bahwa ia tidak mundur).
Kemudian tibalah giliran ‘Abdullah bin Rawahah, ia pun mengambil panji itu dan maju ke depan, meloncat ke tengah-tengah pertempuran, dan terus berjuang hingga ia pun gugur.
Agar panji tidak jatuh, Tsabit bin Arqam segera mengambilnya, lalu berkata kepada kaum Muslimin:
"Sepakatlah kalian untuk memilih seorang pemimpin!"
Maka mereka pun sepakat menunjuk Khalid bin Walid. Dengan demikian, panji berpindah ke tangan 'Pedang di antara Pedang-Pedang Allah'.
Khalid bin Walid pun maju ke medan tempur, dan berperang dengan pertempuran yang tiada tandingannya, hingga sembilan pedang patah di tangannya.
Di hari yang sama, Rasulullah ﷺ memberitahukan kepada para sahabat di Madinah tentang gugurnya ketiga komandan dan berpindahnya komando kepada Khalid bin Walid, dan beliau menyebutnya sebagai ‘Pedang di antara Pedang-Pedang Allah’.
Ketika hari mulai berakhir, kedua pasukan kembali ke tempat masing-masing. Lalu, keesokan paginya, Khalid bin al-Walid – raḍiyallāhu ‘anhu – mengubah susunan pasukan: ia menjadikan barisan belakang sebagai barisan depan, barisan depan menjadi barisan belakang, sayap kiri menjadi sayap kanan, dan sayap kanan menjadi sayap kiri.
Musuh pun menyangka bahwa bala bantuan telah datang kepada kaum Muslimin, sehingga rasa takut pun menyelimuti mereka.
Setelah terjadi kontak ringan antara kedua pasukan, Khalid mulai menarik mundur kaum Muslimin secara perlahan, namun musuh tidak berani maju, karena mereka khawatir itu hanyalah sebuah tipu muslihat.
Akhirnya, kaum Muslimin berkonsolidasi di Mu’tah, dan mereka berdiam selama tujuh hari, saling melakukan serangan ringan terhadap musuh. Setelah itu, kedua belah pihak saling menahan diri, dan pertempuran pun terhenti.
Pasukan Romawi mengira bahwa bala bantuan terus berdatangan kepada kaum Muslimin, dan bahwa mereka sedang diperdaya untuk diseret ke padang pasir, di mana mereka tidak bisa selamat.
Dengan strategi ini, posisi kaum Muslimin menjadi unggul dalam pertempuran ini.
Dalam pertempuran ini, 12 orang Muslim gugur, sedangkan jumlah korban dari pihak musuh tidak diketahui, namun jumlah mereka yang terbunuh sangat banyak.
Ekspedisi Dzatus-Salasil [ذات السلاسل]:
Melihat sikap suku-suku Arab Syam dalam Perang Mu’tah, Rasulullah ﷺ memandang perlu untuk melakukan langkah bijak guna mencegah mereka membantu Romawi dan berpihak kepada mereka. Maka beliau mengutus ‘Amru bin ‘Ash – raḍiyallāhu ‘anhu – bersama 300 sahabat, serta 30 ekor kuda, untuk menarik hati mereka, karena ibu ‘Amru berasal dari kabilah Bali [بلى], yaitu salah satu suku dari daerah itu.
Namun, jika mereka menolak, maka ia diperintahkan untuk memberikan pelajaran keras atas keberpihakan mereka kepada Romawi.
Ketika Amru bin ‘Ash mendekati wilayah mereka, ia mendengar bahwa musuh memiliki pasukan besar, maka ia meminta bala bantuan dari Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah mengirimkan 200 orang tambahan, yang terdiri dari tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar, dipimpin oleh Abu ‘Ubaidah bin Jarrah.
Namun komandan utama tetap Amru bin ‘Ash, dan dialah yang menjadi imam dalam salat.
Amru bin ‘Ash menggempur wilayah Bani Qudā‘ah, hingga akhirnya bertemu dengan pasukan musuh. Ketika menyerang mereka, musuh pun lari dan tercerai-berai.
Adapun Dzatus-Salasil adalah nama sebuah daerah dan sumber air di belakang Wadi al-Qurā, dan ekspedisi ini dinisbatkan ke tempat itu karena kaum Muslimin berkemah di sana.
Peristiwa ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 8 H, yakni sebulan setelah Perang Mu’tah.
Kembali ke bagian 47 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 49
Tidak ada komentar:
Posting Komentar