TARIKH KHULAFA
Kembali 31 | IndeX | Lanjut 33
Kholifah Umar bin Khaththab raḍiyallāhu ‘anhu
[13–23 H]
Beliau adalah ‘Umar bin Khaththab bin Nufail bin ‘Abd ‘Uzzā bin Riyāḥ bin Qurṭ bin Ruzāḥ bin ‘Adī bin Ka‘b bin Lu’ayy, Amirul Mukminin, Abū Ḥafṣ, al-Qurasyī, al-‘Adawī, al-Fārūq.
Beliau masuk Islam pada tahun keenam kenabian dalam usia dua puluh tujuh tahun, sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabī.
An-Nawawī berkata: “Umar lahir tiga belas tahun setelah Tahun Gajah. Ia termasuk tokoh terhormat di kalangan Quraisy, dan kepadanya diserahkan urusan kedutaan pada masa jahiliah. Apabila terjadi peperangan antara Quraisy dengan pihak lain, mereka mengutusnya sebagai duta — yakni utusan. Dan apabila ada yang menantang mereka dalam adu kebanggaan atau kehormatan, mereka mengutusnya untuk menghadapi tantangan itu.
Beliau masuk Islam pada masa awal, setelah (masuk Islamnya) empat puluh orang laki-laki dan sebelas orang perempuan. Ada yang mengatakan: setelah tiga puluh sembilan laki-laki dan dua puluh tiga perempuan; dan ada pula yang mengatakan: setelah empat puluh lima laki-laki dan sebelas perempuan. Maka tidak lama setelah ia masuk Islam, Islam pun tampak nyata di Makkah, dan kaum muslimin bergembira dengan keislamannya.”
Ia (Umar) adalah salah seorang as-sābiqūn awwalūn (orang-orang yang pertama masuk Islam), salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga, salah satu dari para khalifah yang mendapat petunjuk, salah satu mertua Rasulullah ﷺ, serta termasuk di antara ulama besar dari kalangan sahabat dan orang-orang zuhud di antara mereka.
Diriwayatkan olehnya dari Rasulullah ﷺ sebanyak lima ratus tiga puluh sembilan hadis.
Orang-orang yang meriwayatkan darinya antara lain: ‘Utsmān, ‘Alī, Ṭalḥah, Sa‘d, Ibn ‘Auf, Ibn Mas‘ūd, Abū Dzarr, ‘Amr bin ‘Abasah, putranya ‘Abdullāh, Ibn ‘Abbās, Ibn Zubair, Anas, Abū Hurairah, ‘Am'r bin ‘Āṣ, Abū Mūsā al-Asy‘arī, Barā’ bin ‘Āzib, Abū Sa‘īd al-Khudrī, serta banyak lagi dari kalangan sahabat dan selain mereka raḍiyallāhu ‘anhum.
Aku (penulis) berkata: “Di sini aku akan merangkum beberapa bagian yang memuat sejumlah faedah yang berkaitan dengan biografinya.”
Bab : Tentang riwayat-riwayat yang menyebutkan keislamannya
At-Tirmiżī meriwayatkan dari Ibn ‘Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai: ‘Umar bin Khaṭṭāb atau Abū Jah'l bin Hishām.” Riwayat ini juga dikeluarkan oleh aṭ-Ṭabrānī dari hadis Ibn Mas‘ūd dan Anas raḍiyallāhu ‘anhum.
Ḥākim meriwayatkan dari Ibn ‘Abbās bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar.”
Ḥākim juga meriwayatkan dari ‘Āisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan khususnya ‘Umar bin Khaṭṭāb.” Riwayat ini juga dikeluarkan oleh aṭ-Ṭabrānī dalam al-Awsaṭ dari hadis Abū Bakar aṣ-Ṣiddīq, dan dalam al-Kabīr dari hadis Ṡaubān.
Aḥmad meriwayatkan dari ‘Umar, ia berkata:
"Aku keluar untuk menghadang Rasulullah ﷺ, namun ternyata beliau telah mendahuluiku menuju masjid. Maka aku berdiri di belakang beliau, lalu beliau memulai membaca Surah al-Ḥāqqah. Aku pun mulai merasa takjub dengan susunan al-Qur’an, lalu aku berkata: ‘Demi Allah, ini adalah seorang penyair, seperti yang dikatakan Quraisy.’ Maka beliau membaca: “Sesungguhnya ia adalah perkataan seorang utusan yang mulia. Dan ia bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kalian beriman …” hingga ayat-ayat berikutnya. Saat itu Islam pun meresap dalam hatiku sepenuhnya.”
Ibn Abī Syaibah meriwayatkan dari Jābir, ia berkata:
"Awal mula keislaman ‘Umar adalah ketika ia berkata: ‘Suatu malam, saudara perempuanku mengalami sakit hendak melahirkan, maka aku keluar dari rumah. Lalu aku masuk ke dalam selubung Ka‘bah. Kemudian Nabi ﷺ datang, masuk ke dalam Hij'r, dan beliau mengenakan kain penutup paha (tubān). Beliau shalat selama yang Allah kehendaki, lalu beranjak pergi. Aku mendengar sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Beliau keluar, maka aku pun mengikutinya. Beliau bertanya: “Siapa itu?” Aku menjawab: ‘Umar.’ Beliau berkata: “Wahai ‘Umar, engkau tidak membiarkanku siang ataupun malam?” Aku khawatir beliau akan mendoakan keburukan untukku, maka aku berkata: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan engkau adalah Rasulullah.’ Beliau berkata: “Wahai ‘Umar, rahasiakanlah (hal ini).” Aku menjawab: ‘Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku akan mengumumkannya sebagaimana aku dahulu mengumumkan kemusyrikan’.”
[Kisah ‘Umar dengan iparnya dan saudarinya raḍiyallāhu ‘anhum]
Ibn Sa‘d, Abū Ya‘lā, Ḥākim, dan Baihaqī dalam ad-Dalā’il meriwayatkan dari Anas raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
"‘Umar keluar sambil membawa pedang yang tergantung di bahunya. Lalu ia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Orang itu bertanya: ‘Hendak ke mana engkau, wahai ‘Umar?’ ‘Umar menjawab: ‘Aku ingin membunuh Muhammad.’ Orang itu berkata: ‘Bagaimana engkau merasa aman dari Bani Hāsyim dan Bani Zuhrah jika engkau telah membunuh Muhammad?’ ‘Umar menjawab: ‘Sepertinya engkau juga telah murtad (meninggalkan agama nenek moyang kita).’ Orang itu berkata: ‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih mengherankan? Sesungguhnya iparmu dan saudari perempuanmu telah murtad, meninggalkan agamamu!’"
Maka ‘Umar berjalan menuju keduanya (ipar dan saudarinya), dan di tempat mereka ada Khabbāb. Ketika Khabbāb mendengar suara langkah ‘Umar, ia pun bersembunyi di dalam rumah. ‘Umar masuk dan berkata: “Apa suara lirih yang kudengar itu?” — ketika itu mereka sedang membaca surah Ṭāhā.
Mereka menjawab: “Tidak ada, hanya percakapan biasa di antara kami.”
‘Umar berkata: “Sepertinya kalian berdua telah keluar dari agama (nenek moyang kita)?”
Iparnya berkata: “Wahai ‘Umar, bagaimana jika kebenaran itu ada di luar agamamu?”
Mendengar itu, ‘Umar meloncat menyerangnya dan menginjakinya dengan keras. Saudarinya datang untuk membela suaminya, namun ‘Umar menamparnya dengan satu pukulan tangan hingga wajahnya berdarah.
Saudarinya yang sedang marah berkata: “Bagaimana jika kebenaran itu memang ada di luar agamamu? Aku bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
‘Umar berkata: “Berikan kepadaku kitab yang ada pada kalian agar aku membacanya.” — ketika itu ‘Umar memang bisa membaca tulisan.
Saudarinya berkata: “Engkau najis, dan kitab ini tidak akan disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci. Maka bangkitlah dan berwudhulah (atau mandi).”
‘Umar pun berdiri lalu berwudhu. Setelah itu ia mengambil lembaran tersebut dan membacanya: “Ṭāhā…” hingga sampai pada ayat:
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
‘Umar lalu berkata: “Tunjukkan aku kepada Muhammad.”
Ketika Khabbāb mendengar ucapan ‘Umar, ia keluar dari persembunyian dan berkata: “Bergembiralah, wahai ‘Umar. Sesungguhnya aku berharap engkau adalah orang yang dimaksud dalam doa Rasulullah ﷺ pada malam Kamis: ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin Khaṭṭāb atau dengan ‘Am'r bin Hishām.’”
Ketika itu Rasulullah ﷺ berada di rumah yang terletak di kaki Bukit Shafā. ‘Umar pun berangkat hingga sampai ke rumah tersebut. Di pintunya ada Ḥamzah, Ṭalḥah, dan beberapa orang lainnya.
Ḥamzah berkata: “Itu ‘Umar. Jika Allah menghendaki kebaikan untuknya… ia akan masuk Islam. Tetapi jika Allah menghendaki selain itu… membunuhnya bagi kita akan menjadi perkara yang mudah.”
Saat itu Nabi ﷺ berada di dalam, sedang menerima wahyu. Beliau keluar hingga menemui ‘Umar, lalu memegang kerah bajunya dan tali pedangnya seraya berkata:
“Wahai ‘Umar, tidakkah engkau mau berhenti sampai Allah menurunkan kepadamu kehinaan dan siksaan seperti yang Dia turunkan kepada Walīd bin Mughīrah?!”
Maka ‘Umar berkata: “Aku bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa engkau adalah hamba dan utusan-Nya.”
Al-Bazzār, aṭ-Ṭabrānī, Abū Nu‘aim dalam al-Ḥilyah, dan al-Baihaqī dalam ad-Dalā’il meriwayatkan dari Aslam, ia berkata:
‘Umar berkata kepada kami: "Aku adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap Rasulullah ﷺ. Pada suatu hari yang panas terik di waktu tengah hari, aku berada di salah satu jalan di Makkah. Tiba-tiba aku bertemu seorang laki-laki yang berkata: ‘Sungguh mengherankan engkau, wahai Ibn Khaṭṭāb! Engkau mengaku begini dan begitu (dalam memusuhi Muhammad), sementara urusan itu telah masuk ke rumahmu sendiri!’
Aku bertanya: ‘Apa maksudmu?’
Ia menjawab: ‘Saudari perempuanmu telah masuk Islam.’
Maka aku pulang dengan marah, hingga aku mengetuk pintu rumahnya. Mereka bertanya: ‘Siapa itu?’
Aku menjawab: ‘Umar.’
Mereka pun buru-buru bersembunyi dariku, sementara mereka sebelumnya sedang membaca lembaran mushaf di hadapan mereka. Lembaran itu mereka letakkan atau mereka lupakan.
Saudariku berdiri untuk membuka pintu. Aku berkata kepadanya: ‘Wahai musuh bagi dirinya sendiri, apakah engkau telah keluar dari agama nenek moyangmu?!’
Lalu aku memukul kepalanya dengan sesuatu yang ada di tanganku, hingga darah mengalir dan ia menangis.
Kemudian ia berkata: ‘Wahai Ibn Khaṭṭāb, apa pun yang hendak engkau lakukan… lakukanlah! Karena aku memang telah keluar (dari agamamu) dan masuk Islam.’"
‘Umar berkata: "Aku masuk lalu duduk di atas dipan, kemudian aku melihat lembaran mushaf. Aku berkata: ‘Apa ini? Berikan kepadaku.’
Saudariku berkata: ‘Engkau bukan termasuk orang yang layak menyentuhnya. Engkau tidak suci dari junub, dan ini adalah kitab yang tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci.’
Aku terus mendesaknya hingga akhirnya ia memberikannya kepadaku. Lalu aku membukanya, ternyata di dalamnya tertulis: Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm.
Ketika aku melewati salah satu dari nama-nama Allah Ta‘ālā, aku merasa gentar, lalu aku meletakkan lembaran itu. Namun aku kembali sadar, lalu aku mengambilnya lagi.
Ternyata di dalamnya tertulis: [سبح لله ما في السماوات وما في الأرض] "Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah". Aku kembali merasa gentar, lalu aku terus membacanya hingga sampai pada ayat: [بالله ورسوله] "…kepada Allah dan Rasul-Nya".
Maka aku berkata: ‘Aku bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) yang berhak disembah selain Allah.’
Mereka pun keluar menemuiku dengan tergesa-gesa dan bertakbir, lalu berkata: ‘Bergembiralah, karena Rasulullah ﷺ pernah berdoa pada hari Senin: Ya Allah, muliakanlah agama-Mu dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai: Abū Jahal atau ‘Umar.’
Lalu mereka menunjukkan kepadaku tempat Nabi ﷺ berada, yaitu di sebuah rumah di bawah Bukit Shafā."
Maka aku keluar hingga sampai ke rumah itu dan mengetuk pintunya.
Mereka bertanya: "Siapa itu?"
Aku menjawab: "Ibn Khaṭṭāb."
Mereka telah mengetahui betapa keras permusuhanku terhadap Rasulullah ﷺ, sehingga tidak seorang pun berani membuka pintu, hingga Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukakan pintu untuknya."
Mereka pun membukakan pintu untukku, lalu dua orang memegang lenganku hingga membawaku kepada Nabi ﷺ.
Beliau bersabda: "Lepaskan dia."
Kemudian beliau memegang kerah bajuku dan menarikku mendekat seraya berkata:
"Masuk Islamlah, wahai Ibn Khaṭṭāb. Ya Allah, berilah dia petunjuk."
Maka aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Kaum muslimin pun bertakbir dengan takbir yang terdengar hingga ke celah-celah lembah Makkah.
Ketika itu mereka masih bersembunyi, namun aku tidak menginginkan bila ada orang lain yang dipukul dan memukul sementara aku tidak merasakan hal yang sama.
Maka aku mendatangi pamanku — yang merupakan orang terpandang — lalu aku mengetuk pintunya.
Ia bertanya: "Siapa itu?"
Aku menjawab: "Ibn Khaṭṭāb, dan aku telah masuk Islam."
Ia berkata: "Jangan lakukan itu!" Kemudian ia masuk dan menutup pintu rapat-rapat di hadapanku.
Aku berkata: "Ini tidak ada gunanya."
Lalu aku pergi kepada seorang tokoh besar Quraisy, aku memanggilnya dan ia pun keluar menemuiku. Aku berkata kepadanya sebagaimana yang aku katakan kepada pamanku, dan ia pun menjawab sebagaimana jawaban pamanku, lalu masuk dan menutup pintu rapat-rapat di hadapanku.
Aku berkata: "Ini tidak ada gunanya. Sesungguhnya kaum muslimin dipukul, sedangkan aku tidak dipukul!"
Lalu seseorang berkata kepadaku: “Apakah engkau ingin orang-orang tahu bahwa engkau telah masuk Islam?”
Aku menjawab: “Ya.”
Ia berkata: “Jika orang-orang telah berkumpul di Ḥij'r, maka datanglah kepada si Fulan — seorang laki-laki yang tidak pandai menyimpan rahasia — lalu katakan kepadanya secara rahasia: ‘Aku telah meninggalkan agamaku (masuk Islam).’ Karena hampir tidak pernah ia bisa menyembunyikan rahasia.”
Maka aku pun datang, ketika itu orang-orang telah berkumpul di Ḥij'r. Aku berkata kepadanya secara diam-diam: “Aku telah meninggalkan agamaku.”
Ia bertanya: “Apakah benar engkau telah melakukannya?”
Aku menjawab: “Ya.”
Maka ia pun berteriak dengan suara lantang: “Sesungguhnya Ibnu Khaṭṭāb telah meninggalkan agamanya!”
Orang-orang pun segera mendatangiku, lalu aku terus memukul mereka dan mereka memukulku, hingga orang-orang berkerumun di sekelilingku.
Pamanku bertanya: “Ada apa dengan keramaian ini?”
Orang-orang menjawab: “‘Umar telah meninggalkan agamanya.”
Maka paman pun berdiri di atas Ḥij'r dan memberi isyarat dengan lengan bajunya seraya berkata: “Ketahuilah, aku telah memberikan perlindungan kepada keponakanku.”
Lalu mereka pun bubar dariku. Namun setiap kali aku melihat seorang muslim dipukul dan memukul, aku berkata: “Ini tidak ada gunanya sampai aku sendiri merasakannya.”
Maka aku mendatangi pamanku dan berkata: “Perlindunganmu aku kembalikan kepadamu.”
Setelah itu aku terus memukul dan dipukul hingga Allah memuliakan Islam.
Kembali 31 | IndeX | Lanjut 33
Tidak ada komentar:
Posting Komentar