Rabu, 13 Agustus 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 33

 

TARIKH KHULAFA


Kembali 32 | IndeX | Lanjut 34

 

 

[Sebab Penamaannya dengan al-Fārūq raḍiyallāhu ‘anhu]

 

Abu Nu‘aim dalam Dalā’il, dan Ibnu ‘Asākir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

(Aku bertanya kepada ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu: “Mengapa engkau diberi julukan al-Fārūq [الفاروق] ?” Ia menjawab: “Hamzah masuk Islam tiga hari sebelumku. Lalu aku pergi ke masjid, tiba-tiba Abu Jahal mendahului dan mencaci Nabi ﷺ. 

Hamzah pun diberitahu tentang hal itu, lalu ia mengambil busurnya dan datang ke masjid menuju majelis kaum Quraisy yang di dalamnya ada Abu Jahal. Ia bersandar pada busurnya menghadap Abu Jahal, lalu memandangnya. 

Abu Jahl pun mengenali tanda kemarahan di wajahnya, lalu berkata: ‘Ada apa denganmu wahai Abā ‘Umārah?’ Maka Hamzah mengangkat busur itu dan memukul kedua pelipisnya hingga robek, lalu darah mengalir. 

Kaum Quraisy pun mendamaikan kejadian itu karena takut terjadi keburukan. Saat itu Rasulullah ﷺ bersembunyi di Darul Arqam [دار الأرقم] bin Abī Arqam al-Makhzūmī. Kemudian Hamzah pergi dan masuk Islam.

#. Bani Makhzum dikenal sebagai salah satu suku yang kuat dan berpengaruh di Mekah, dan beberapa tokoh penting dalam sejarah Islam berasal dari suku ini, seperti: Khalid bin Al-Walid dan Arqam bin Abi Al-Arqam

 

Setelahnya, tiga hari kemudian aku keluar; tiba-tiba ada seorang laki-laki Makhzūmī. Aku berkata kepadanya: ‘Apakah engkau meninggalkan agama nenek moyangmu dan mengikuti agama Muhammad?’ Ia menjawab: ‘Jika aku melakukannya… maka yang telah melakukannya terlebih dahulu adalah orang yang lebih besar haknya atasmu daripada aku.’ 

 

Aku bertanya: “Siapa dia?”

Ia menjawab: “Saudari perempuanmu dan iparmu.”

Maka aku pun pergi, lalu mendapati ada suara lirih (bacaan). Aku masuk dan berkata: “Apa ini?”

Kami terus berbicara hingga aku memegang kepala iparku, lalu memukulnya hingga berdarah. Kemudian saudariku berdiri mendekat kepadaku, memegang kepalaku, dan berkata: “Memang demikianlah adanya, meskipun engkau membencinya.” 

 

Maka aku merasa malu ketika melihat darah itu, lalu aku duduk dan berkata: “Tunjukkan kepadaku kitab itu.”

Saudariku berkata: “Kitab ini tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.”

Maka aku pun berdiri dan mandi. Lalu mereka mengeluarkan kepadaku lembaran yang di dalamnya tertulis:

[بسم الله الرحمن الرحيم]

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"

Aku berkata: “Nama-nama yang indah dan suci.”

[طه ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى إلى قوله: له الأسماء الحسنى]

"Ṭā-Hā. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar engkau celaka…" hingga firman-Nya: “…bagi-Nya nama-nama yang indah.”

Ia (‘Umar) berkata: “Maka ayat-ayat itu begitu agung di dadaku, lalu aku berkata: ‘Inikah yang membuat Quraisy lari?!’”

Maka aku pun masuk Islam, dan berkata: “Di mana Rasulullah ﷺ?”

Saudariku berkata: “Sesungguhnya beliau berada di Darul Arqam.” 

 

Maka aku pun datang dan mengetuk pintu. Orang-orang pun berkumpul. Lalu Hamzah berkata kepada mereka: “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab: “‘Umar!”

Hamzah berkata: “‘Umar? Bukakan pintu untuknya. Jika ia datang dengan niat baik, kita terima darinya; namun jika ia berpaling (menolak), kita bunuh dia.”

Lalu Rasulullah ﷺ mendengar hal itu, maka beliau keluar. ‘Umar pun mengucapkan syahadat, dan penduduk rumah itu bertakbir dengan takbir yang terdengar oleh penduduk Makkah. 

 

Aku berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran?”

Beliau menjawab: “Benar.”

Aku berkata: “Lalu mengapa kita bersembunyi?”

Maka kami pun keluar dalam dua barisan: aku di salah satunya dan Hamzah di yang lain, hingga kami masuk ke masjid. Ketika kaum Quraisy melihatku dan Hamzah, mereka tertimpa kesedihan yang mendalam.

Pada hari itulah Rasulullah ﷺ memberiku julukan al-Fārūq yaitu "yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan". 

 

Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Dzakwān, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Āisyah: “Siapa yang memberi julukan ‘Umar sebagai al-Fārūq?”

Ia menjawab: “Nabi ﷺ.” 

 

Ibnu Mājah dan al-Hākim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

“Ketika ‘Umar masuk Islam, turunlah Jibrīl dan berkata: ‘Wahai Muhammad, sungguh penduduk langit bergembira dengan keislaman ‘Umar.’” 

 

Al-Bazzār dan al-Hākim (dan ia mensahihkannya) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

“Ketika ‘Umar masuk Islam, orang-orang musyrik berkata: ‘Hari ini kaum itu telah berimbang kekuatannya dengan kami.’ Maka Allah menurunkan ayat:

[يا أيها النبي حسبك الله ومن اتبعك من المؤمنين]

"Wahai Nabi, cukuplah Allah (menjadi penolong) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu” 

 

Al-Bukhārī meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Kami senantiasa berada dalam keadaan mulia sejak ‘Umar masuk Islam.” 

 

Ibnu Sa‘di dan ath-Ṭabarānī meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

“Keislaman ‘Umar adalah suatu kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat. Sungguh, aku pernah melihat kami dahulu tidak mampu shalat di Ka‘bah hingga ‘Umar masuk Islam. Ketika ia masuk Islam, ia memerangi mereka hingga mereka membiarkan kami, lalu kami pun shalat.” 

 

Ibnu Sa‘ad dan al-Hākim meriwayatkan dari Ḥudzayfah, ia berkata:

“Ketika ‘Umar masuk Islam, Islam seperti seorang yang datang mendekat—tidak bertambah kecuali semakin dekat. Dan ketika ‘Umar dibunuh, Islam seperti seorang yang berpaling—tidak bertambah kecuali semakin jauh.” 

 

Ath-Ṭabarānī meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

“Orang pertama yang menampakkan (secara terbuka) Islam adalah ‘Umar bin Khaṭṭāb.” Sanadnya hasan. 

 

Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Ṣuhayb, ia berkata:

“Ketika ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu masuk Islam, Islam menjadi tampak, ia menyeru kepadanya secara terbuka, kami duduk melingkar di sekitar Ka‘bah, kami thawaf di Ka‘bah, dan kami membalas orang yang bersikap keras terhadap kami, serta mengembalikan kepadanya sebagian dari apa yang ia perbuat.” 

 

Ibnu Sa‘d meriwayatkan dari Aslam, maula ‘Umar, ia berkata:

“‘Umar masuk Islam pada bulan Dzulḥijjah, tahun keenam kenabian, ketika usianya dua puluh enam tahun.” 

 

Kembali 32 | IndeX | Lanjut 34

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar