TARIKH KHULAFA
Kembali 37 | IndeX | Lanjut 39
Tentang izin masuk rumah: Hal itu terjadi ketika seorang pelayan masuk menemui Nabi ﷺ sementara beliau sedang tidur. Maka beliau berdoa: “Ya Allah, haramkanlah masuk (tanpa izin).” Lalu turunlah ayat tentang istidzān (izin masuk) [الاستئذان].
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٢٧) فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (٢٨) لَّيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ (٢٩)
27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian (selalu) ingat.
28. Jika kalian tidak mendapati seorang pun di dalamnya, maka janganlah kalian memasukinya sebelum mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian, "Kembalilah," maka hendaklah kalian kembali. Itu lebih suci bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
29. Tidak ada dosa bagi kalian memasuki rumah yang tidak dihuni, yang di dalamnya ada keperluan bagi kalian. Dan Allah mengetahui apa yang kalian nyatakan dan apa yang kalian sembunyikan.
(Surah An-Nūr ayat 27–29)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِّن قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ وَمِن بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُم بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٥٨)
Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya yang kamu miliki dan anak-anak yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari): sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari, dan setelah salat Isya. Itulah tiga waktu aurat bagi kamu. Tidak ada dosa bagi kamu dan tidak pula bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu, mereka sering keluar masuk melayani kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
(Surah An-Nūr ayat 58)
Ucapannya tentang orang-orang Yahudi: (“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang gemar berbuat dusta dan tuduhan.”)
Firman Allah Ta‘ala: “Segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan segolongan besar pula dari orang-orang kemudian.” (QS. al-Wāqi‘ah: 39-40).
ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ ، وَثُلَّةٌ مِنَ الآخِرِينَ
"Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu (umat sebelum nabi Muhammad), dan segolongan besar (pula) dari orang-orang yang kemudian (umat nabi muhammd hingga akhir zaman) ." (QS. Al-Wāqi‘ah: 39–40)
Aku (penulis) berkata: Ibnu ‘Asākir meriwayatkan kisahnya dalam Tārīkh-nya dari Jabir bin Abdullah, dan kisah itu juga terdapat dalam Asbābun Nuzūl.
“Penghapusan bacaan ayat: (Laki-laki tua dan perempuan tua apabila berzina, maka rajamlah keduanya …).”
“Ucapannya (Umar) pada hari Uhud, ketika Abu Sufyān berkata: ‘Apakah si Fulan ada di tengah-tengah kalian?’ Umar berkata: ‘Tidakkah kita menjawabnya?’ Maka hal itu disetujui oleh Rasulullah ﷺ.”
Aku (penulis) berkata: kisah ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya.
Riwayat lainnya:
Dinisbatkan pula kepada hal ini riwayat yang dikeluarkan oleh ‘Utsmān bin Sa‘īd ad-Dārimī dalam kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah [في كتاب: الرد على الجهمية], dari jalur Ibn Syihāb, dari Sālim bin ‘Abdillāh, bahwa Ka‘ab al-Ahbār berkata: “Celakalah raja bumi dari (murka) Raja langit.” Maka Umar berkata: “Kecuali bagi orang yang menghisab dirinya (merenung dan memperbaiki amalnya).” Ka‘ab menjawab: “Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya hal itu ada dalam Taurat persis seperti yang engkau katakan.” Maka Umar pun tersungkur bersujud.
#. [ملك الأرض] Maksudnya: setiap penguasa atau pemimpin di muka bumi.
#. [ملك السماء] Yakni Allah ﷻ, Raja segala raja, Pemilik kerajaan langit dan bumi.
Kemudian aku melihat dalam al-Kāmil karya Ibnu ‘Adī dari jalur Abdullah bin Nāfi‘ – yang dinilai lemah – dari ayahnya, dari Ibnu Umar:
Bahwa Bilāl, ketika mengumandangkan azan, ia mengucapkan: “Asyhadu an lā ilāha illallāh, hayya ‘alaṣh-ṣhalāh” [أشهد أن لا إله إلا الله ، حي على الصلاة] Maka Umar berkata kepadanya: “Ucapkanlah setelah itu: Asyhadu anna Muhammadan Rasūlullāh” [أشهد أن محمدا رسول الله].
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Ucapkan sebagaimana yang dikatakan Umar.”
فصل
في كرامات عمر
Bab tentang Karāmah-karāmah ‘Umar
[يا سارية الجبل]
[Kisah seruan “Wahai Sāriyah, (ke) gunung!”]
#. Ketika ‘Umar bin Khaṭṭāb رضي الله عنه sedang berkhutbah di Madinah, beliau tiba-tiba berseru di tengah khutbahnya:
[يَا سَارِيَةُ الْجَبَل، يَا سَارِيَةُ الْجَبَل، يَا سَارِيَةُ الْجَبَل]
(“Wahai Sāriyah, (ke) gunung! Wahai Sāriyah, (ke) gunung! Wahai Sāriyah, (ke) gunung!”).
#. Sāriyah adalah komandan pasukan kaum Muslimin yang sedang berperang jauh di wilayah Persia. Pasukannya hampir kalah, lalu tiba-tiba mereka mendengar suara yang memperingatkan mereka agar berlindung ke gunung. Mereka mengikuti arahan itu, sehingga bisa mengubah keadaan dan memenangkan pertempuran. Setelah kembali, Sāriyah mengonfirmasi kejadian itu kepada ‘Umar.
Diriwayatkan oleh al-Bayhaqī dan Abū Nu‘aym, keduanya dalam Dalā’il an-Nubuwwah [دلائل النبوة], juga oleh al-Lālikā’ī dalam Syarh as-Sunnah [اللالكائي في شرح السنة], ad-Dīra‘qūlī dalam Fawā’id-nya, Ibn al-A‘rābī dalam Karāmātil Awliyā’ [كرامات الأولياء], dan al-Khaṭīb dalam Ruwāt Mālik [رواة مالك], dari Nāfi‘, dari Ibn ‘Umar, ia berkata:
‘Umar pernah mengirim sebuah pasukan dan menunjuk seorang laki-laki bernama Sāriyah sebagai pemimpinnya. Ketika ‘Umar sedang berkhutbah … tiba-tiba ia berseru: “Wahai Sāriyah, (ke) gunung!” sebanyak tiga kali. Lalu komandan pasukan itu datang, maka ‘Umar bertanya kepadanya. Ia menjawab: “Wahai Amīrul-Mu’minīn, kami sempat dikalahkan. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba kami mendengar sebuah suara berseru: ‘Wahai Sāriyah, (ke) gunung!’ sebanyak tiga kali. Maka kami menyandarkan punggung kami ke gunung, lalu Allah mengalahkan mereka untuk kami.” Lalu dikatakan kepada ‘Umar: “Engkau yang waktu itu berseru demikian.”)
Ibn Ḥajar berkata dalam al-Iṣābah [الإصابة]: “Sanadnya hasan.”
#. [دلائل النبوة] adalah ilmu dan riwayat yang mengkaji tanda-tanda kenabian Rasulullah ﷺ.
Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawayh melalui jalur Maimun bin Mihrān dari Ibnu Umar, ia berkata:
“Umar berkhutbah pada hari Jumat. Dalam khutbahnya ia tiba-tiba berkata: ‘Wahai Sāriyah, gunung! Barangsiapa mengangkat serigala sebagai penggembala, maka sungguh ia telah berbuat zalim!’ Maka orang-orang pun saling menoleh satu sama lain.
Ali berkata kepada mereka: ‘Sungguh, ucapan itu akan terbukti kebenarannya.’
Setelah Umar selesai, mereka pun menanyakannya. Umar menjawab: ‘Terlintas dalam hatiku bahwa kaum musyrikin telah mengalahkan saudara-saudara kita, dan mereka sedang melewati sebuah gunung. Jika mereka menyandar kepadanya, mereka akan menghadapi musuh dari satu arah, namun jika mereka melewatinya, mereka akan binasa. Maka keluarlah dari lisanku apa yang kalian sangka telah kalian dengar.’
Kemudian datanglah seorang utusan setelah sebulan, dan ia mengabarkan bahwa mereka memang mendengar suara Umar pada hari itu. Ia berkata: ‘Lalu kami menyandar ke gunung, maka Allah memberikan kemenangan kepada kami.’
Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam ad-Dalā’il dari ‘Amer bin Hārist, ia berkata:
“Ketika Umar sedang berkhutbah pada hari Jumat, tiba-tiba ia meninggalkan khutbahnya lalu berkata: ‘Wahai Sāriyah, gunung!’ sebanyak dua atau tiga kali, kemudian ia kembali melanjutkan khutbahnya.
Sebagian orang yang hadir berkata: ‘Sungguh ia gila, benar-benar gila.’
Lalu Abdurrahman bin ‘Auf masuk menemuinya—dan beliau adalah orang yang biasanya menenangkan Umar—seraya berkata: ‘Engkau benar-benar memberi alasan bagi mereka untuk mencelamu secara terang-terangan. Engkau sedang berkhutbah, lalu tiba-tiba berteriak: Wahai Sāriyah, gunung! Apa maksud dari hal ini?’
Umar berkata:
“Demi Allah, aku tidak dapat menguasai diriku saat itu. Aku melihat mereka sedang berperang di dekat sebuah gunung, musuh menyerang mereka dari depan dan dari belakang. Maka aku tidak kuasa kecuali mengatakan: ‘Wahai Sāriyah, gunung! Pergilah kalian berlindung ke gunung.’
Mereka pun tetap bertahan hingga datang utusan Sāriyah dengan membawa suratnya. Ia menulis: ‘Kaum musyrikin menghadapi kami pada hari Jumat, lalu kami memerangi mereka. Ketika waktu Jumat hampir tiba, kami mendengar seorang penyeru berseru: Wahai Sāriyah, gunung! sebanyak dua kali. Maka kami pun segera berlindung ke gunung, dan sejak itu kami terus mengalahkan musuh kami hingga Allah menghinakan mereka dan membinasakan mereka.’
Maka orang-orang yang sebelumnya mencela Umar berkata: ‘Biarkanlah orang ini, sungguh perkara seperti ini memang terjadi padanya.’”
Kembali 37 | IndeX | Lanjut 39
Tidak ada komentar:
Posting Komentar