خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 14 | IndeX | Lanjut 16
بابُ صفةِ صلاةِ النبيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bab Tata-cara Shalat Nabi ﷺ
Hadist ke Tujuh Puluh Sembilan:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلاةِ سَكَتَ هُنَيْهَةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فقُلْتُ: يا رَسُولَ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قالَ: (( أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْني وبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِن الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بالثَّلْجِ والمَاءِ وَالْبَرَدِ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “bahwa Rasulullah ﷺ ketika bertakbir dalam shalat, beliau diam sejenak sebelum membaca (al-Fatihah). Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu, kabarkan kepadaku tentang diamnya engkau antara takbir dan bacaan, apa yang engkau ucapkan?”
Beliau bersabda: [أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْني وبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِن الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بالثَّلْجِ والمَاءِ وَالْبَرَدِ ]
“Aku mengucapkan: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”
Kosakata:
Lafadz [هُنَيْهَةً] "Hunaihah" : dengan dhammah pada huruf ha, fathah pada nun, dan sukun pada ya, merupakan bentuk kecil dari [هِنَةٍ] "hinah" (sejenak). Maksudnya: waktu yang singkat.
Lafadz [(والمرادُ هُنَا] Yang dimaksud di sini: diam sejenak secara singkat.
Lafadz [بأبي أنت وأمي] : maksudnya, “Aku tebus engkau dengan ayah dan ibuku.”
#. “Engkau lebih mulia daripada ayah dan ibuku.” atau “Aku siap mengorbankan yang paling berharga bagiku demi engkau.”
Lafadz [البرد] "Baradi" : dengan harakat, artinya butiran air dari awan (embun).
لفظ (الدَّنَسِ) : بالتَّحْرِيكِ: الوَسَخُ.
Lafadz [الدَّنَسِ] "Ad-Danasi" : dengan harakat, artinya kotoran/noda.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disunnahkan membaca doa istiftah [الاستفتاحِ] dalam shalat, baik dengan doa ini maupun doa-doa lain yang diriwayatkan.
الثَّانِيَةُ: أنَّ مَوْطِنَ الاستفتاحِ بعدَ تكبيرةِ الإحرامِ وقبلَ قراءةِ الفاتحةِ في الركعةِ الأُولَى فقطْ منْ كلِّ صلاةٍ.
Kedua: Waktu doa istiftah [الاستفتاحِ] adalah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca al-Fatihah, hanya pada rakaat pertama setiap shalat.
الثَّالِثَةُ: أنْ يُسِرَّ بهِ ولوْ كانت الصلاةُ جَهْرِيَّةً.
Ketiga: Doa istiftah [الاستفتاحِ] dibaca dengan suara pelan, meskipun dalam shalat [جَهْرِيَّةً] "jahriah" (yang bacaannya dikeraskan).
Hadist ke Delapan Puluh:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ، وَالْقِرَاءَةِ بـ: {الحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} وَكَانَ إِذَا رَكَعَ، لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ، وَلَمْ يصَوِّبْهُ، وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ، وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِن الرُّكُوعِ، لَمْ يَسْجُدْ حتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا، وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِن السَّجْدَةِ، لَمْ يَسْجُدْ حتَّى يَسْتَويَ قَاعِدًا، وَكانَ يَقُولُ فِي كلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكانَ يَفْرِشُ رجْلَهُ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى، وَكان يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ، وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ، وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ )) .
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ memulai shalat dengan takbir dan membaca: "Alhamdu lillāhi Rabbil ‘ālamīn".
الحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Apabila beliau rukuk, beliau tidak mengangkat kepalanya (terlalu tinggi) dan tidak pula menundukkannya (terlalu rendah), tetapi di antara keduanya.
Apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau tidak langsung sujud sampai berdiri tegak.
Apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak langsung sujud kembali sampai duduk dengan tenang.
Beliau membaca tahiyyat pada setiap dua rakaat.
Beliau membentangkan kaki kirinya (untuk duduk) dan menegakkan kaki kanannya.
Beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan melarang seseorang membentangkan kedua lengannya (di tanah ketika sujud) seperti bentangan binatang buas.
Dan beliau menutup shalatnya dengan salam."
Kosakata:
Lafadz [لَمْ يُشْخِصْ] : dengan ḍammah pada huruf yā, sukun pada huruf syīn, lalu kasrah pada huruf khā. Artinya: tidak mengangkat (kepalanya terlalu tinggi).
Lafadz [لَمْ يُصَوِّبْهُ] : dengan ḍammah pada huruf yā, fathah pada huruf ṣhād, kasrah pada huruf wāuw yang ditasydid. Artinya: tidak merendahkannya (terlalu rendah).
Lafadz [عُقْبَةِ] : dengan ḍammah pada huruf ‘ain.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib melakukan ucapan dan perbuatan yang disebutkan: takbiratul ihrām, membaca al-Fātiḥah, rukuk dan berdiri tegak setelahnya, sujud dan duduk setelahnya, tasyahhud setelah dua rakaat, serta salam.
Kedua: Sunnah melirihkan (mengecilkan/menyamarkan) bacaan basmalah, meluruskan punggung ketika rukuk, duduk dengan membentangkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan.
Ketiga: Makruh (tidak disukainya)) duduk di atas kedua tumit (menekuk keduanya lalu duduk di atasnya), atau menegakkan keduanya lalu duduk di antara keduanya, serta membentangkan kedua lengan di tanah ketika sujud seperti binatang buas.
Hadist ke Delapan Puluh Satu:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يَرْفَعُ بيَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، وَإِذَا كَبَّرَ للرُّكُوع، وَإِذَا رَفَعَ رَأَسَهُ مِن الرُّكُوعِ رفعهُمَا كَذَلِكَ، وَقَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمِنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ في السُّجُودِ )) .
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallāhu ‘anhumā, bahwa Nabi ﷺ mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya ketika memulai shalat, ketika bertakbir untuk rukuk, dan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengangkat keduanya seperti itu pula, seraya mengucapkan:
سَمِعَ اللَّهُ لِمِنْ حَمِدَهُ
"Sami‘allāhu liman ḥamidah, Rabbanā wa laka al-ḥamd."
Dan beliau tidak melakukan hal itu dalam sujud.
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihrām, ketika hendak rukuk, dan setelah bangkit dari rukuk.
Kedua : Cara mengangkatnya adalah sejajar dengan kedua pundak.
Ketiga : Tidak disyariatkan mengangkat tangan dalam sujud.
Kembali 14 | IndeX | Lanjut 16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar