خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 15 | IndeX | Lanjut 17
Hadist ke Delapan Puluh Dua:
عن ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أعْظُمٍ، عَلَى الْجَبْهَةِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلى أَنْفِهِ- وَالْيَدَيْنِ، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ )) .
Dari Ibnu ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota: dahi” – beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah hidung – “kedua tangan, kedua lutut, dan ujung-ujung kedua kaki.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib sujud di atas tujuh anggota ini seluruhnya, karena ada perintah untuk itu.
Kedua: Hidung mengikuti dahi, maka tidak cukup tanpa menempelkan hidung.
Hadist ke Delapan Puluh Tiga:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إلى الصَّلَاةِ، يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُولُ: (( سَمِعَ اللَّهُ لِمِنْ حَمدَهُ )) ، حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِن الرُّكوعِ، ثُمَّ يَقُولُ -وَهُوَ قَائِمٌ-: (( رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ )) ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حينَ يَسْجُدُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي صَلَاتِهِ كُلِّهَا حتَّى يَقْضِيَهَا. وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِن الثِّنْتَيْنِ بَعْدَ الْجُلُوسِ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ apabila berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, lalu bertakbir ketika rukuk, lalu mengucapkan:
"Sami‘allāhu liman ḥamidah" [سَمِعَ اللَّهُ لِمِنْ حَمدَهُ] ketika mengangkat tulang punggungnya dari rukuk, kemudian ketika berdiri beliau berkata:
"Rabbanā wa laka al-ḥamd" [رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ].
Kemudian beliau bertakbir ketika turun (hendak sujud), kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Beliau melakukan itu pada seluruh shalatnya hingga selesai. Dan beliau bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk (tasyahhud awal).”
Hadist ke Delapan Puluh Empat:
عنْ مُطَرِّفِ بنِ عبدِ اللَّهِ قالَ: صَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيِّ بنِ أبِي طالبٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ أَنَا وعِمْرَانُ بنُ حُصينٍ فَكَانَ إِذَا سَجَدَ كَبَّرَ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ كَبَّرَ، وَإِذَا نَهَضَ مِن الرَّكْعَتَيْنِ كَبَّرَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ أَخَذَ بِيَدِي عِمْرَانُ بنُ حُصَيْنٍ، فقالَ: قدْ ذَكَّرَنِي هَذَا صَلَاةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَو قَالَ: صَلَّى بِنَا صَلَاةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari Mutarrif bin ‘Abdillah, ia berkata:
“Aku shalat di belakang ‘Ali bin Abī Ṭālib radhiyallāhu ‘anhu bersama Imrān bin Ḥuṣain. Maka ketika beliau sujud, beliau bertakbir, ketika mengangkat kepalanya beliau bertakbir, dan ketika bangkit dari dua rakaat beliau bertakbir. Setelah selesai shalat, Imrān bin Ḥuṣain memegang tanganku dan berkata:
‘Orang ini telah mengingatkanku shalat Nabi Muhammad ﷺ,’ atau ia berkata: "Ia telah shalat bersama kami sebagaimana shalat Nabi Muhammad ﷺ."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajib takbiratul ihrām, dan dilakukan dalam keadaan berdiri.
Kedua: Wajib takbir pada setiap perpindahan gerakan: rukuk, turun ke sujud, bangkit dari sujud ke duduk, antara dua sujud, menuju sujud kedua, serta bangkit setelah tasyahhud awal. Semua takbir ini wajib pada setiap rakaat selain takbiratul ihrām.
الثَّالِثَةُ: وُجُوبُ التَّسْمِيعِ للإمامِ والمُنْفَرِدِ دونَ المَأْمُومِ.
Ketiga: Wajib membaca tasmi' [سَمِعَ اللَّهُ لِمِنْ حَمدَهُ] "Sami‘allāhu liman ḥamidah": bagi imam dan orang yang shalat sendirian, tidak bagi makmum.
الرَّابِعَةُ: التَّحْمِيدُ لكلٍّ مِن الإمامِ والمأمومِ والمُنْفَرِدِ في حالِ القيامِ.
Keempat: Wajib membaca tahmid [رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ] "Rabbanā wa lakal ḥamdu" bagi imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian.
Kelima: Wajib thuma’ninah setelah bangkit dari rukuk, dan takbir dilakukan ketika perpindahan gerakan.
Hadist ke Delapan Puluh Lima:
عن البَرَاءِ بنِ عازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: رَمَقْتُ الصَّلَاةَ مَعَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدْتُ قِيَامَهُ، فَرَكْعَتَهُ، فَاعْتِدَالَهُ بَعْدَ رُكوعِهِ، فَسَجْدَتَهُ، فَجَلْسَتَهُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ، فَسَجْدَتَهُ، فَجَلَسْتَهُ مَا بَيْنَ التَّسْلِيمِ والانْصِرافِ: قَرِيبًا مِن السَّوَاءِ.
Dari al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Aku memperhatikan salat bersama Muhammad ﷺ, maka aku dapati:
berdirinya, rukuknya, berdirinya setelah rukuk, sujudnya, duduknya di antara dua sujud, sujudnya (yang kedua), duduknya antara salam dan beranjak pergi, semuanya hampir sama lamanya.”
وفي روايَةِ البخاريِّ، مَا خَلَا الْقِيَامَ وَالْقُعُودَ: قَرِيبًا مِن السَّوَاءِ.
Dalam riwayat al-Bukhārī:
“Kecuali berdiri (untuk membaca) dan duduk (tasyahhud), keduanya lebih lama, sementara yang lainnya hampir sama lamanya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Yang utama, rukuk dan i‘tidalnya, sujud dan duduk di antara dua sujud, hampir sama lamanya, sehingga tidak ada yang terlalu panjang atau terlalu pendek dibanding yang lain.
Kedua: Bacaan (berdiri untuk membaca) dan duduk tasyahhud terakhir lebih lama daripada selainnya, sesuai dengan tuntutan bacaan dan doa.
Ketiga: Thuma’ninah dalam i‘tidal setelah rukuk dan duduk setelah sujud adalah hal yang tetap dan bagian dari shalat.
Hadist ke Delapan Puluh Enam:
عنْ ثابتٍ البُنانِيِّ، عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: إِنِّي لَا آلُو أَنْ أُصَلِّيَ بِكُمْ كَما رأيتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بنَا. قالَ ثابتٌ: فَكانَ أَنَسٌ يَصْنَعُ شَيْئًا لَا أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَهُ، كانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِن الرُّكُوعِ، انْتَصَبَ قَائِمًا، حتَّى يقولَ الْقائِلُ: قَدْ نَسِيَ. وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِن السَّجْدَةِ، مَكَثَ حتَّى يَقُولَ القائِلُ: قَدْ نَسِيَ.
Dari Tsābit al-Bunānī, dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Sesungguhnya aku tidak akan mengurangi (usaha) untuk shalat bersama kalian sebagaimana aku melihat Rasulullah ﷺ shalat bersama kami.”
Tsābit berkata: "Anas melakukan sesuatu yang aku tidak melihat kalian melakukannya, yaitu:
Apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau berdiri tegak lama, sampai-sampai orang berkata: ‘Ia lupa.’
Dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau duduk lama, sampai-sampai orang berkata: ‘Ia lupa.’"
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Disyariatkan i‘tidal setelah rukuk dan memperpanjang berdirinya.
Kedua: Disyariatkan i‘tidal setelah sujud dengan memperpanjang duduknya. Ini merupakan bantahan atas orang-orang yang bermain-main dalam dua rukun ini dengan meninggalkan thuma’ninah.
Hadist ke Delapan Puluh Tujuh:
عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: مَا صَلَّيْتُ وَرَاءَ إِمَامٍ قَطُّ أَخَفَّ صَلَاةً، ولَا أَتَمَّ صَلَاةً مِن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
“Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam pun yang lebih ringan shalatnya, dan lebih sempurna shalatnya, dibanding Nabi ﷺ.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Imam sebaiknya melaksanakan shalat ringan agar tidak memberatkan makmum, namun tetap sempurna agar tidak mengurangi pahalanya.
Kedua: Shalat Nabi ﷺ adalah shalat yang paling sempurna, maka hendaknya setiap muslim berusaha mengikuti waktunya dan tata caranya.
Kembali 15 | IndeX | Lanjut 17
Tidak ada komentar:
Posting Komentar