Rabu, 27 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 18 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 17 | IndeX | Lanjut 19

 

 

بابُ وجودِ الطُّمأنينةِ في الركوعِ والسجودِ

Bab: Wajibnya Thuma’ninah dalam Rukuk dan Sujud


Hadist ke Sembilan Puluh Tiga:

عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ المَسْجِدَ، فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقالَ: (( ارْجِعْ فَصَلِّ، فإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ )) فَرَجَعَ فَصَلَّى كَمَا كَانَ صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فقالَ: (( ارْجِعْ فَصَلِّ، فإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ- ثَلَاثًا- )) فقالَ الرَّجُلُ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ، فعَلِّمْنِي، قالَ: (( إذَا قُمْتَ إلى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِن الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.

Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah ﷺ masuk masjid. Lalu masuk seorang laki-laki dan ia shalat. Kemudian ia datang dan memberi salam kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda:

“Kembalilah dan shalatlah, karena engkau belum shalat.”

Laki-laki itu kembali shalat sebagaimana ia shalat sebelumnya. Lalu ia datang dan memberi salam kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda:

“Kembalilah dan shalatlah, karena engkau belum shalat.” (hingga tiga kali).

Lalu orang itu berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.”

Beliau bersabda: “Jika engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah. Lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian rukuklah hingga engkau thuma’ninah dalam rukuk. Lalu bangkitlah hingga engkau berdiri tegak. Lalu sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam sujud. Lalu bangkitlah hingga engkau thuma’ninah dalam duduk. Dan lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu.”

#. Thuma’nīnah merupakan kesempurnaan shalat baik pada rukuk, i'tidal, sujud maupun duduk diantara dua sujud. 

#. Thuma’ninah dalam shalat adalah diamnya anggota badan pada setiap rukun shalat (rukuk, i‘tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud) dalam waktu yang cukup untuk kembali tenang, meskipun hanya sebentar. 


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Hadis ini disebut para ulama sebagai Hadist “orang yang salah dalam shalatnya”. Mereka berdalil darinya bahwa apa yang disebutkan dalam hadis ini hukumnya wajib, sedangkan yang tidak disebutkan bukan wajib. Sebab hadis ini datang dalam posisi mengajari orang yang jahil (bodoh), sedangkan menunda penjelasan pada saat kebutuhan tidak diperbolehkan. Maka ini menunjukkan bahwa yang tidak disebutkan di dalamnya bukan wajib. Adapun yang disebutkan, maka hukumnya wajib karena datang dalam bentuk perintah. Dengan demikian, takbiratul ihram pada rakaat pertama, membaca Al-Fatihah, rukuk, i‘tidal dari rukuk, sujud, i‘tidal dari sujud, serta thuma’ninah pada semua gerakan ini hukumnya wajib.

Kedua: Adapun rukun dan kewajiban lain yang tidak disebut dalam hadis ini, keabsahannya telah ditetapkan melalui hadist-hadist lain.

الثَّالِثَةُ: أنَّ الاستفتاحَ والتَّعَوُّذَ والبسملةَ ورَفْعَ اليدَيْنِ وَجَعْلَهُمَا على الصدرِ وَهَيْئاتِ الركوعِ والسجودِ والجلوسِ وغيرَ ذلكَ مُسْتَحَبَّةٌ لا واجبةٌ.

Ketiga: Doa istiftah, ta‘awwudz, basmalah, mengangkat kedua tangan, meletakkannya di dada, tata cara rukuk, sujud, duduk, dan selainnya termasuk hal-hal yang sunnah [مُسْتَحَبَّةٌ] "mustahabbah", bukan wajib.

Keempat: Dalam hadist ini terdapat pelajaran mengenai adab seorang pengajar: hendaknya ia memulai dengan mengajarkan hal yang paling penting, kemudian yang penting berikutnya; boleh menambahkan jawaban melebihi apa yang ditanya bila situasi membutuhkan; serta menggunakan cara terbaik dalam mengajar dengan kelembutan, kasih sayang, dan metode yang membuat pelajar bersemangat, agar lebih kuat melekat dalam ingatan dan lebih jelas pemahamannya. 

 

 

بابُ القراءةِ في الصلاةِ

Bab Bacaan dalam Shalat


Hadist ke Sembilan Puluh Empat:

عنْ عُبادةَ بنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ: أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ )) .

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit ra., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah).”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat, dan shalat tidak sah tanpanya bagi orang yang mampu membacanya.

Kedua: Keumuman hadist menunjukkan kewajiban membaca Al-Fatihah bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. 

 

 

Hadist ke Sembilan Puluh Lima:

عنْ أبِي قتادةَ الأنصاريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: كان النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، يُطَوِّلُ فِي الْأُولَى، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيةِ يُسْمِعُ الآيةَ أَحْيَانًا، وَكَانَ يَقْرَأُ فى العَصْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وسُورَتَيْنِ، يُطَوِّلُ فى الْأُولَى، ويُقَصِّرُ فى الثَّانِيَةِ، وكانَ يُطَوِّلُ فى الرَّكْعَةِ الْأُولَى مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ، وَيُقَصِّرُ فى الثَّانِيَةِ، وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الكِتَابِ.

Dari Abu Qatadah al-Anshari ra., ia berkata:

“Adalah Nabi ﷺ membaca pada dua rakaat pertama shalat Zuhur dengan Fatihatul Kitab dan dua surah. Beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan meringankan pada rakaat kedua. Kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat.

Beliau juga membaca pada shalat Ashar dengan Fatihatul Kitab dan dua surat, memanjangkan pada rakaat pertama dan meringankan pada rakaat kedua.

Dan beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama shalat Subuh serta meringankan pada rakaat keduanya.

Adapun pada dua rakaat terakhir (Zuhur dan Ashar), beliau membaca dengan Ummul Kitab (Al-Fatihah).”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Disunnahkan membaca ayat atau surat lain setelah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama shalat Zuhur dan Ashar.

Kedua: Disunnahkan cukup membaca Al-Fatihah saja pada dua rakaat terakhir keduanya, serta memanjangkan bacaan pada rakaat pertama daripada rakaat kedua, demikian pula pada shalat Subuh.

Ketiga: Disunnahkan melirihkan (mengecilkan) bacaan pada shalat Zuhur dan Ashar, namun boleh memperdengarkan sebagian ayat (tidak sampai seperti bacaan [الجهرِ] "jahri" (mengeraskan)). 

 

Kembali 17 | IndeX | Lanjut 19

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar