Rabu, 27 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 17 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 16 | IndeX | Lanjut 18

 

 

Hadist ke Delapan Puluh Delapan:

عنْ أبِي قِلَابَةَ - عبدِ اللَّهِ بنِ زيدٍ- الْجَرْمِيِّ البَصْرِيِّ قالَ: جَاءَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ فِي مَسْجِدِنَا هَذَا، فقالَ: إِنِّي لَأُصَلِّي بِكُمْ وَمَا أُرِيدُ الصَّلَاةَ، أُصَلِّي كَيْفَ رَأَيْتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، فَقُلْتُ لأَبِي قِلَابَةَ: كَيْفَ كَانَ يُصَلِّي؟ قالَ: مِثْلَ صَلَاةِ شَيْخِنَا هذَا، وكانَ يَجْلِسُ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِن السُّجُودِ قَبْلَ أَنْ يَنْهَضَ.

Dari Abu Qilābah – ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmī al-Baṣrī – ia berkata:

“Malik bin al-Ḥuwairits datang ke masjid kami lalu berkata: ‘Aku akan shalat bersama kalian, dan sebenarnya aku tidak berniat shalat (sendiri), melainkan aku akan shalat sebagaimana aku melihat Rasulullah ﷺ shalat.’

Maka aku berkata kepada Abu Qilābah: ‘Bagaimana beliau shalat?’

Ia menjawab: ‘Seperti shalat syaikh kami ini,’ dan beliau (syaikh itu) ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau duduk terlebih dahulu sebelum berdiri.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

الأُولَى: اسْتِحْبَابُ جلسةِ الاستراحةِ، وأنَّ مَوْضِعَهَا عندَ النهوضِ من السجودِ إلى القيامِ، وأنَّ القصدَ فيها الاستراحةُ، فلا يُشْرَعُ لها تكبيرٌ ولا ذِكْرٌ.

Pertama: Disunnahkan duduk istirahat [جلسةِ الاستراحةِ] "jalsah al-istirāḥah", Waktu duduk istirahat adalah ketika bangkit dari sujud menuju berdiri, Tujuannya hanyalah istirahat sebentar, sehingga tidak disyariatkan takbir atau dzikir tertentu di dalamnya.

 

 

Hadist ke Delapan Puluh Sembilan:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ مالكٍ- ابنِ بُحَيْنَةَ- رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، (( أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ، حتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ )) .

Dari ‘Abdullah bin Mālik – Ibnu Buḥainah – radhiyallāhu ‘anhu:

“Bahwa Nabi ﷺ apabila shalat, beliau merenggangkan kedua tangannya, sehingga terlihat putih ketiaknya.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

الأُولَى: اسْتِحْبَابُ تَفْرِيجِ اليَدَيْنِ وإبعادِهِمَا عن الجَنْبَيْنِ في السجودِ؛ لأنَّ هذا عُنوانُ النشاطِ في العبادةِ وهيئةٌ حسنةٌ في الصلاةِ.

Pertama: Disunnahkan merenggangkan kedua tangan dan menjauhkannya dari sisi badan saat sujud, Hal itu melambangkan semangat dalam ibadah dan merupakan tata cara baiknya dalam shalat.

 

 

Hadist ke Sembilan Puluh:

عنْ أبِي مَسْلَمَةَ- سعيدِ بنِ يزيدَ- قالَ: سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَكانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟ قالَ: نَعَمْ.

Dari Abi Maslamah – Sa‘īd bin Yazīd – ia berkata:

“Aku bertanya kepada Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu: ‘Apakah Nabi ﷺ shalat dengan memakai sandal?’

Ia menjawab: ‘Ya.’”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Disunnahkan shalat dengan memakai sandal, setelah memastikan kebersihannya.

Kedua: Dugaan kuat adanya najis pada sandal tidak menghilangkan hukum asal kesucian darinya.

 

 

Hadist ke Sembilan Puluh Satu:

عنْ أبِي قتادةَ الأنصاريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، (( أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )) .

Dari Abu Qatādah al-Anṣhārī radhiyallāhu ‘anhu:

“Bahwa Rasulullah ﷺ shalat sambil menggendong Umāmah binti Zainab, putri Rasulullah ﷺ 


ولأبي العاصِ بنِ الرَّبيعِ بنِ عبدِ شمسٍ، (( فَإِذا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا )) .

Dan bagi Abi ‘Āṣ bin ar-Rabī‘ bin ‘Abdi Syamsi apabila beliau sujud, beliau meletakkannya, dan apabila berdiri, beliau menggendongnya kembali.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Diperbolehkannya melakukan gerakan seperti ini dalam shalat, baik fardhu (wajib) maupun sunnah, baik imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian, meskipun tanpa adanya kebutuhan mendesak.

Kedua: Boleh menyentuh dan menggendong orang yang dikhawatirkan terkena najis, karena asalnya setiap tubuh manusia itu suci.

 

 

Hadist ke Sembilan Puluh Dua:

عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ، وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ )) .

Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Luruskanlah (posisi) kalian dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua lengannya seperti anjing.”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Disunnahkan menegakkan (meluruskan) anggota tubuh dalam sujud dan dilarang membentangkan kedua lengan.

الثَّانِيَةُ: كراهةُ مشابهةِ الحيواناتِ لا سِيَّمَا في الصلاةِ.

Kedua: Dimakruhkan menyerupai hewan, khususnya dalam shalat. 

 

Kembali 16 | IndeX | Lanjut 18

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar