خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 16 | IndeX | Lanjut 18
Hadist ke Delapan Puluh Delapan:
عنْ أبِي قِلَابَةَ - عبدِ اللَّهِ بنِ زيدٍ- الْجَرْمِيِّ البَصْرِيِّ قالَ: جَاءَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ فِي مَسْجِدِنَا هَذَا، فقالَ: إِنِّي لَأُصَلِّي بِكُمْ وَمَا أُرِيدُ الصَّلَاةَ، أُصَلِّي كَيْفَ رَأَيْتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي، فَقُلْتُ لأَبِي قِلَابَةَ: كَيْفَ كَانَ يُصَلِّي؟ قالَ: مِثْلَ صَلَاةِ شَيْخِنَا هذَا، وكانَ يَجْلِسُ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِن السُّجُودِ قَبْلَ أَنْ يَنْهَضَ.
Dari Abu Qilābah – ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmī al-Baṣrī – ia berkata:
“Malik bin al-Ḥuwairits datang ke masjid kami lalu berkata: ‘Aku akan shalat bersama kalian, dan sebenarnya aku tidak berniat shalat (sendiri), melainkan aku akan shalat sebagaimana aku melihat Rasulullah ﷺ shalat.’
Maka aku berkata kepada Abu Qilābah: ‘Bagaimana beliau shalat?’
Ia menjawab: ‘Seperti shalat syaikh kami ini,’ dan beliau (syaikh itu) ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau duduk terlebih dahulu sebelum berdiri.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
الأُولَى: اسْتِحْبَابُ جلسةِ الاستراحةِ، وأنَّ مَوْضِعَهَا عندَ النهوضِ من السجودِ إلى القيامِ، وأنَّ القصدَ فيها الاستراحةُ، فلا يُشْرَعُ لها تكبيرٌ ولا ذِكْرٌ.
Pertama: Disunnahkan duduk istirahat [جلسةِ الاستراحةِ] "jalsah al-istirāḥah", Waktu duduk istirahat adalah ketika bangkit dari sujud menuju berdiri, Tujuannya hanyalah istirahat sebentar, sehingga tidak disyariatkan takbir atau dzikir tertentu di dalamnya.
Hadist ke Delapan Puluh Sembilan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ مالكٍ- ابنِ بُحَيْنَةَ- رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، (( أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ، حتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ )) .
Dari ‘Abdullah bin Mālik – Ibnu Buḥainah – radhiyallāhu ‘anhu:
“Bahwa Nabi ﷺ apabila shalat, beliau merenggangkan kedua tangannya, sehingga terlihat putih ketiaknya.”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
الأُولَى: اسْتِحْبَابُ تَفْرِيجِ اليَدَيْنِ وإبعادِهِمَا عن الجَنْبَيْنِ في السجودِ؛ لأنَّ هذا عُنوانُ النشاطِ في العبادةِ وهيئةٌ حسنةٌ في الصلاةِ.
Pertama: Disunnahkan merenggangkan kedua tangan dan menjauhkannya dari sisi badan saat sujud, Hal itu melambangkan semangat dalam ibadah dan merupakan tata cara baiknya dalam shalat.
Hadist ke Sembilan Puluh:
عنْ أبِي مَسْلَمَةَ- سعيدِ بنِ يزيدَ- قالَ: سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَكانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟ قالَ: نَعَمْ.
Dari Abi Maslamah – Sa‘īd bin Yazīd – ia berkata:
“Aku bertanya kepada Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu: ‘Apakah Nabi ﷺ shalat dengan memakai sandal?’
Ia menjawab: ‘Ya.’”
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disunnahkan shalat dengan memakai sandal, setelah memastikan kebersihannya.
Kedua: Dugaan kuat adanya najis pada sandal tidak menghilangkan hukum asal kesucian darinya.
Hadist ke Sembilan Puluh Satu:
عنْ أبِي قتادةَ الأنصاريِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، (( أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )) .
Dari Abu Qatādah al-Anṣhārī radhiyallāhu ‘anhu:
“Bahwa Rasulullah ﷺ shalat sambil menggendong Umāmah binti Zainab, putri Rasulullah ﷺ
ولأبي العاصِ بنِ الرَّبيعِ بنِ عبدِ شمسٍ، (( فَإِذا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا )) .
Dan bagi Abi ‘Āṣ bin ar-Rabī‘ bin ‘Abdi Syamsi apabila beliau sujud, beliau meletakkannya, dan apabila berdiri, beliau menggendongnya kembali.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Diperbolehkannya melakukan gerakan seperti ini dalam shalat, baik fardhu (wajib) maupun sunnah, baik imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian, meskipun tanpa adanya kebutuhan mendesak.
Kedua: Boleh menyentuh dan menggendong orang yang dikhawatirkan terkena najis, karena asalnya setiap tubuh manusia itu suci.
Hadist ke Sembilan Puluh Dua:
عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ، وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ )) .
Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Luruskanlah (posisi) kalian dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua lengannya seperti anjing.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Disunnahkan menegakkan (meluruskan) anggota tubuh dalam sujud dan dilarang membentangkan kedua lengan.
الثَّانِيَةُ: كراهةُ مشابهةِ الحيواناتِ لا سِيَّمَا في الصلاةِ.
Kedua: Dimakruhkan menyerupai hewan, khususnya dalam shalat.
Kembali 16 | IndeX | Lanjut 18
Tidak ada komentar:
Posting Komentar