التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6i | IndeX | Lanjut 6k
الباب السادس
Bab Keenam
التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6i | IndeX | Lanjut 6k
الباب السادس
Bab Keenam
التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6i | IndeX | Lanjut 6k
الباب السادس
Bab Keenam
[فصل] في قراءة يراد بها الكلام
[Sub bab] Membaca Al-Qur'an dengan Maksud Menyampaikan Pembicaraan
ذكر ابن أبي داود في هذا اختلافا. وروي عن إبراهيم النخعي رضي الله عنه أنه كان يكره أن يقال القرآن بشيء يعرض من أمر الدنيا.
Ibnu Abi Dawud menyebutkan bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai masalah ini.
Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha'i rahimahullah, bahwa beliau memakruhkan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai ucapan untuk menanggapi urusan dunia yang sedang terjadi.
وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه قرأ في صلاة المغرب بمكة ﴿والتين والزيتون﴾ ورفع صوته وقال: ﴿وهذا البلد الأمين﴾ .
Diriwayatkan pula dari Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika beliau mengimami salat Magrib di Makkah, beliau membaca Surah At-Tin. Saat sampai pada ayat:
"Dan demi negeri yang aman ini."
beliau mengeraskan suaranya ketika membacanya.
وعن حُكيم - بضم الحاء - بن سعد، أن رجلا من المحكمية أتى عليا رضي الله عنه وهو في صلاة الصبح فقال: ﴿لئن أشركت ليحبطن عملك﴾ فأجابه علي في الصلاه: ﴿فاصبر إن وعد الله حق ولا يستخفنك الذين لا يوقنون﴾ .
Diriwayatkan dari Hakim bin Sa'd bahwa seorang laki-laki dari golongan Muhakkimah datang kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ketika beliau sedang melaksanakan salat Subuh, lalu orang itu membacakan firman Allah:
"Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu."
Maka Ali menjawabnya di dalam shalat dengan membaca firman Allah:
"Maka bersabarlah; sesungguhnya janji Allah itu benar. Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran) itu menggelisahkanmu."
قال أصحابنا: إذا استأذن إنسان على المصلي فقال المصلي: ﴿ادخلوها بسلام آمنين﴾ فإن أراد التلاوة، وأراد الإعلام لم تبطل صلاته، وإن أراد الإعلام ولم يحضره نية بطلت صلاته.
Para ulama mazhab kami (Syafi'iyyah) berkata:
Apabila seseorang meminta izin masuk kepada orang yang sedang shalat, lalu orang yang shalat itu menjawab dengan membaca ayat:
"Masuklah ke dalamnya dengan selamat lagi aman."
maka apabila ia berniat membaca Al-Qur'an sekaligus memberi isyarat atau memberitahukan kepada orang tersebut, shalatnya tidak batal.
Namun, jika ia semata-mata bermaksud memberi tahu, tanpa menghadirkan niat membaca Al-Qur'an, maka shalatnya batal.
كِتَابُ الْإِيمَانِ
Kitab tentang Iman
بِسْمِ ٱللهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
بَابُ الْإِيمَانِ وَقَوْلُِ النَّبِيِّ ﷺ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ، وَهُوَ قَوْلٌ وَفِعْلٌ وَيَزِيدُ وَيَنْقُصُ قَالَ اللهُ تَعَالَى ﴿لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ﴾ ﴿وَزِدْنَاهُمْ هُدًى﴾ ﴿وَيَزِيدُ اللهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى﴾ ﴿وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ﴾ ﴿وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا﴾ وَقَوْلُهُ ﴿أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا﴾
Bab Iman, dan sabda Nabi ﷺ: "Islam dibangun di atas lima perkara."
Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, serta bertambah dan berkurang.
Allah Ta'ala berfirman:
"Agar mereka bertambah imannya di samping iman yang telah ada pada mereka." (QS. Al-Fath : 4)
"Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (QS. Al-Kahfi : 13)
"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk." (QS. Maryam : 76)
"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahkan kepada mereka ketakwaannya." (QS. Muhammad : 17)
"Dan agar orang-orang yang beriman bertambah imannya." (QS. Al-Muddatsir : 31)
Dan firman-Nya: "Siapakah di antara kalian yang bertambah imannya dengan (turunnya surah) ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka." (QS. At-taubah : 124)
وَقَوْلُهُ جَلَّ ذِكْرُهُ ﴿فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا﴾ وَقَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا﴾ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ مِنَ الْإِيمَانِ وَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عَدِيِّ بْنِ عَدِيٍّ: إِنَّ لِلْإِيمَانِ فَرَائِضَ وَشَرَائِعَ وَحُدُودًا وَسُنَنًا فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الْإِيمَانَ، فَإِنْ أَعِشْ فَسَأُبَيِّنُهَا لَكُمْ حَتَّى تَعْمَلُوا بِهَا وَإِنْ أَمُتْ فَمَا أَنَا عَلَى صُحْبَتِكُمْ بِحَرِيصٍ
"Dan firman-nya Allah Yang Mahaagung sebutannya: 'Maka takutlah kepada mereka, namun hal itu justru menambah keimanan mereka.' (QS. Ali 'Imran: 173).
Dan firman-Nya Yang Mahatinggi: 'Dan (peristiwa itu) tidaklah menambah mereka selain keimanan dan kepasrahan.' (QS. Al-Ahzab: 22).
Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah termasuk bagian dari iman.
Umar bin Abdul Aziz pernah menulis surat kepada Adi bin Adi:
'Sesungguhnya iman itu memiliki kewajiban-kewajiban, syariat-syariat, batasan-batasan, dan sunnah-sunnah. Barang siapa menyempurnakan semuanya, maka sempurnalah imannya. Dan barang siapa belum menyempurnakannya, maka belum sempurna imannya. Jika aku masih hidup, niscaya akan aku jelaskan semuanya kepada kalian agar kalian dapat mengamalkannya. Namun jika aku meninggal, maka sesungguhnya aku tidaklah terlalu berharap untuk terus bersama kalian.'
وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: ﴿وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي﴾ وَقَالَ مُعَاذٌ: اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: الْيَقِينُ الْإِيمَانُ كُلُّهُ وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ: لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ التَّقْوَى حَتَّى يَدَعَ مَا حَاكَ فِي الصَّدْرِ وَقَالَ مُجَاهِدٌ: ﴿شَرَعَ لَكُمْ﴾ أَوْصَيْنَاكَ يَا مُحَمَّدُ وَإِيَّاهُ دِينًا وَاحِدًا وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ﴿شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا﴾ سَبِيلًا وَسُنَّةً.
Dan Ibrahim berkata, (sebagaimana disebutkan dalam firman Allah): "Akan tetapi agar hatiku menjadi tenteram." (QS. Al-Baqarah : 260)
Dan Muadz bin Jabal berkata, "Duduklah bersama kami, agar kita beriman (menambah keimanan) sesaat."
Dan Abdullah bin Mas'ud berkata, "Keyakinan (yaqin) adalah seluruh bagian dari iman."
Dan Abdullah bin Umar berkata, "Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat ketakwaan hingga ia meninggalkan segala sesuatu yang menimbulkan keraguan di dalam hati."
Dan Mujahid bin Jabir berkata tentang firman Allah, "Dia telah mensyariatkan bagi kalian…", (QS. Asy-Syura : 13). maksudnya: "Kami telah mewasiatkan kepadamu, wahai Muhammad, dan kepada mereka, satu agama yang sama."
Dan Abdullah bin Abbas berkata tentang firman Allah, "'Syir‘atan wa minhājan' berarti jalan dan sunnah (tuntunan)."
بَابٌ: دُعَاؤُكُمْ إِيمَانُكُمْ
Bab: Doa kalian adalah iman kalian
(QS. Al-Furqan : 77)
٧ - حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُوسَى قَالَ: أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ».
07. Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Musa, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abi Sufyan, dari 'Ikrimah bin Khalid, dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, ia berkata:
Muhammad ﷺ bersabda:
"Islam dibangun di atas lima perkara:
Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, Mendirikan salat, Menunaikan zakat, Menunaikan ibadah haji, Berpuasa pada bulan Ramadan."
بَابُ أُمُورِ الْإِيمَانِ
Bab: Perkara-perkara (cabang-cabang) Iman
وَقَوْلِ اللهِ تَعَالَى ﴿لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ﴾ ﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ﴾ الْآيَةَ
Dan firman Allah Ta'ala:
"Bukanlah kebajikan itu sekadar kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi; serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang membutuhkan), orang-orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan salat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji; serta orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan pada saat peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (dalam imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 177)
Dan firman Allah Ta'ala:
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman." (QS. Al-Mu'minun: 1), hingga akhir ayat.
[Perkara-perkara Iman : menunjukkan bahwa iman mencakup banyak perkara, bukan sekadar keyakinan dalam hati.
٨ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».
08. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al-'Aqadi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Muhammad ﷺ, beliau bersabda:
"Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman."
[Kata بِضْعٌ (biḍ'un) berarti beberapa, yaitu bilangan antara tiga hingga sembilan. Karena itu, بضع وستون berarti enam puluh sekian, yaitu antara 63 hingga 69 cabang. Dalam riwayat lain disebutkan lebih dari tujuh puluh cabang, dan para ulama menjelaskan bahwa kedua riwayat tersebut tidak bertentangan karena berasal dari penyebutan yang berbeda atau perbedaan cara menghitung cabang-cabang iman.]
[Hadis ini menjadi dalil bahwa iman memiliki banyak cabang, meliputi keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan.]
[Sabda beliau, "rasa malu adalah salah satu cabang dari iman," menunjukkan bahwa akhlak yang mulia juga merupakan bagian dari iman. Yang dimaksud adalah rasa malu yang mendorong seseorang meninggalkan maksiat dan melaksanakan ketaatan kepada Allah.]
بَابٌ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Bab: Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya
٩ - حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُا، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: «الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ»
09. Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abdullah bin Abi Safar dan Isma'il, dari Sya'bi, dari Abdullah bin Amrin bin 'As رضي الله عنهما, dari Muhammad ﷺ, beliau bersabda:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah."
[Hadis ini menjelaskan bahwa kesempurnaan Islam seseorang tampak dari kemampuannya menjaga orang lain dari gangguan lisan (seperti dusta, ghibah, fitnah, celaan, dan ucapan yang menyakiti) serta tangan (segala bentuk perbuatan yang menyakiti atau menzalimi).]
["muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah," menunjukkan bahwa makna hijrah tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga mencakup hijrah dari dosa dan kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah.]
قَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ: وَقَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
Kemudian Abu 'Abdillah (yaitu Muhammad bin Ismail al-Bukhari) berkata:
Abu Mu'awiyah berkata: Telah menceritakan kepada kami Dawud, dari 'Amir, ia berkata: Aku mendengar Abdullah (bin 'Amrin), dari Nabi ﷺ.
وَقَالَ عَبْدُ الْأَعْلَى: عَنْ دَاوُدَ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.
Dan Abdul A'la berkata:
Dari Dawud, dari 'Amir, dari Abdullah, dari Nabi ﷺ.
بَابٌ: أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ
Bab: Islam yang Manakah yang Paling Utama?
١٠ - حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقُرَشِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
10. Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin Abdullah bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa al-Ash'ari رضي الله عنه, ia berkata:
Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, Islam yang manakah yang paling utama?"
Beliau ﷺ menjawab:
"Yaitu (Islamnya) orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya."
[Nabi ﷺ menjawab dengan menekankan menjaga lisan dan tangan, karena keduanya merupakan sumber paling banyak terjadinya gangguan dan kezaliman terhadap sesama.]
[Hadis ini menunjukkan bahwa kesempurnaan seorang Muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari sejauh mana ia menjaga hak-hak orang lain, sehingga mereka merasa aman dari ucapan maupun perbuatannya.]
[Hadis ini juga menjadi penegasan bahwa akhlak yang baik merupakan bagian penting dari kesempurnaan Islam.]
بَابٌ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ مِنَ الْإِسْلَامِ
Bab: Memberi Makan Termasuk Ajaran Islam
١١ - حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
11. Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Layst, dari Yazid, dari Abul Khair, dari Abdullah bin Amri bin 'As رضي الله عنهما,
bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada nabi Muhammad ﷺ:
"Islam yang manakah yang paling baik?"
Beliau menjawab:
"Engkau memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal."
[Memberi makan (إطعام الطعام) mencakup memberi makan kepada orang yang membutuhkan, menjamu tamu, serta berbuat baik kepada sesama sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang.]
[Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal menunjukkan anjuran untuk menyebarkan salam kepada seluruh kaum Muslimin, bukan hanya kepada kerabat, teman, atau orang yang telah dikenal.]
[Hadis ini menegaskan bahwa di antara amal terbaik dalam Islam adalah amalan yang memberikan manfaat kepada orang lain serta mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa aman di tengah masyarakat.]
بَابٌ: مِنَ الْإِيمَانِ أَنْ يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Bab: Termasuk Iman, Mencintai untuk Saudaranya Apa yang Dicintainya untuk Dirinya Sendiri
١٢ - حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
12. Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu'bah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik رضي الله عنه, dari Muhammad ﷺ.
Dan diriwayatkan pula dari Husain Al-Mu'allim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas bin Malik, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri."
[Sabda Nabi ﷺ, "Tidaklah beriman...", maksudnya adalah tidak sempurna imannya, bukan keluar dari Islam. Ini merupakan bentuk penafian (penolakan) kesempurnaan iman terhadap orang yang tidak memiliki sifat tersebut.]
[Yang dimaksud "saudaranya" adalah sesama Muslim, dan termasuk pula mencintai kebaikan bagi seluruh manusia dengan menginginkan mereka memperoleh hidayah, keselamatan, dan kebaikan.]
[Mencintai bagi saudara apa yang dicintai bagi diri sendiri berarti menginginkan mereka mendapatkan nikmat agama dan dunia sebagaimana yang diinginkan untuk diri sendiri, serta tidak senang melihat mereka tertimpa keburukan.]
[Hadis ini menunjukkan bahwa akhlak yang mulia dan kebersihan hati merupakan bagian dari iman, serta mendorong seorang Muslim untuk menjauhi sifat dengki, iri, dan egois.]
Permulaan Wahyu
بسم الله الرحمن الرحيم
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
قال الشيخ الإمام الحافظ أبو عبد الله محمد بن إسمعيل بنِ إِبْرَاهِيمَ بن المغيرة البُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى آمِينَ .
Berkata Syekh, Imam Al-Hafiz, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah al-Bukhari — semoga Allah Ta'ala merahmatinya. Amin.
كَيْفَ بسم الله الرحمن الحيم كَانَ بَدْهِ الْوَحْيِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَقَوْلُ اللَّهِ جَلَّ ذِكْرُهُ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ.
Bagaimana lafadz basmalah ada pada Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah ﷺ.
Firman Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung:
"Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para nabi sesudahnya."
(QS. An-Nisa': 163)
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
01. Telah menceritakan kepada kami Humaidi Abdullah bin Zubair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id al-Anshori, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ibrahim at-Taimi, bahwa ia mendengar Alqamah bin Waqqosh al-Laitsi berkata:
"Aku mendengar Umar bin Khattab رضي الله عنه berkhutbah di atas mimbar, beliau berkata:
'Aku mendengar Muhammad ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Maka barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya, atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya kepada apa yang ia tuju."
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
02. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mukminin, رضي الله عنها, bahwa Al-Harits bin Hisyam رضي الله عنه bertanya kepada Muhammad ﷺ:
"Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepada engkau?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
"Terkadang wahyu datang kepadaku seperti bunyi dentangan lonceng. Itulah bentuk yang paling berat bagiku. Setelah keadaan itu berlalu dariku, aku telah memahami dan menghafal apa yang disampaikannya. Terkadang malaikat menjelma kepadaku dalam rupa seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku, maka aku memahami apa yang ia sampaikan."
Aisyah binti Abu Bakar رضي الله عنها berkata:
"Sungguh aku pernah melihat wahyu turun kepada beliau pada suatu hari yang sangat dingin. Setelah wahyu itu selesai turun, tampak kening beliau benar-benar bercucuran keringat."
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ } فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ
03. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Laits, dari Uqail, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Urwah bin Zubair, dari Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mukminin, رضي الله عنها, bahwa ia berkata:
"Permulaan wahyu yang diterima Muhammad ﷺ adalah melalui mimpi yang benar ketika tidur. Beliau tidak pernah melihat suatu mimpi melainkan datang dengan nyata seperti terangnya cahaya fajar.
Kemudian beliau dibuat mencintai menyendiri. Beliau biasa berkhalwat di Gua Hira, beribadah di sana selama beberapa malam, sebelum kembali kepada keluarganya. Untuk itu beliau membawa bekal, kemudian kembali kepada Khadijah binti Khuwailid untuk mengambil bekal lagi seperti sebelumnya. Hal itu berlangsung hingga datang kepadanya kebenaran ketika beliau berada di Gua Hira.
Lalu datanglah malaikat dan berkata, 'Bacalah!'
Beliau menjawab, 'Aku tidak dapat membaca.'
Beliau bersabda:
'Lalu malaikat memegangku dan mendekapku dengan kuat hingga aku merasa sangat kepayahan, kemudian melepaskanku seraya berkata, "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku tidak dapat membaca." Lalu ia mendekapku untuk kedua kalinya hingga aku merasa sangat kepayahan, kemudian melepaskanku dan berkata, "Bacalah!" Aku menjawab, "Aku tidak dapat membaca." Kemudian ia mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku merasa sangat kepayahan, lalu melepaskanku dan berkata:
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia."' (QS. Al-Alaq : 1-5)
Maka Rasulullah ﷺ pulang membawa wahyu itu dalam keadaan jantung beliau berdebar keras. Beliau menemui Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها seraya berkata:
"Selimutilah aku! Selimutilah aku!"
Mereka pun menyelimuti beliau hingga rasa takut itu hilang. Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah sambil menceritakan apa yang telah terjadi:
"Sungguh aku mengkhawatirkan diriku."
Khadijah berkata:
"Sekali-kali tidak! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang yang lemah, membantu orang yang tidak mampu, memuliakan tamu, dan menolong siapa saja yang tertimpa musibah dalam kebenaran."
Kemudian Khadijah membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, putra paman Khadijah. Ia adalah seorang yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliah. Ia dapat menulis kitab dalam bahasa Ibrani dan menyalin bagian dari Injil dalam bahasa Ibrani sebanyak yang Allah kehendaki. Ketika itu ia sudah sangat tua dan telah buta.
Khadijah berkata kepadanya:
"Wahai anak pamanku, dengarkanlah perkataan anak saudaramu."
Waraqah berkata:
"Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?"
Maka Rasulullah ﷺ menceritakan kepadanya apa yang beliau alami. Waraqah berkata:
"Itulah An-Namus (Malaikat Jibril) yang dahulu Allah turunkan kepada Musa. Seandainya aku masih muda dan masih hidup ketika kaummu mengusirmu."
Rasulullah ﷺ bertanya:
"Apakah mereka akan mengusirku?"
Waraqah menjawab:
"Ya. Tidak ada seorang pun yang datang membawa ajaran seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Jika aku masih hidup ketika masa itu tiba, niscaya aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya."
Tidak lama kemudian Waraqah wafat, lalu wahyu sempat terhenti beberapa waktu.
Ibnu Syihab berkata:
"Abu Salamah bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku bahwa Jabir bin Abdullah al-Ansari berkata ketika menceritakan masa terhentinya wahyu:
'Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku pun mengangkat pandanganku. Ternyata malaikat yang datang kepadaku di Hira sedang duduk di atas sebuah kursi antara langit dan bumi. Aku merasa sangat takut kepadanya, lalu aku pulang dan berkata, "Selimutilah aku! Selimutilah aku!" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:
"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! ... dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa."'
Sejak saat itu wahyu turun kembali dengan kuat dan terus-menerus."
Kemudian Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata:
"Hadis ini juga diriwayatkan (sebagai mutaba'ah/penguat) oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih. Demikian pula Hilal bin Raddad meriwayatkannya dari Az-Zuhri. Sedangkan Yunus dan Ma'mar meriwayatkan lafaz 'بَوَادِرُهُ (bawādiruhu)'."
[بَوَادِرُهُ berarti bagian-bagian tubuh yang tampak ketika seseorang terkejut atau ketakutan, seperti pundak, leher, atau otot-otot di sekitar dada yang bergerak karena rasa takut. Dalam konteks hadis ini, kata tersebut menggambarkan reaksi fisik Muhammad ﷺ ketika melihat Jibril untuk kedua kalinya]
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِي عَائِشَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ } قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَالِجُ مِنْ التَّنْزِيلِ شِدَّةً وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَرِّكُهُمَا وَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا فَحَرَّكَ شَفَتَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ } قَالَ جَمْعُهُ لَه فِي صَدْرِكَ وَتَقْرَأَهُ { فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ } قَالَ فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ { ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ } ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَرَأَهُ
04. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Abi Aisyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas mengenai firman Allah Ta'ala:
"Janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasainya)." (QS. Al-Qiyamah : 16)
Beliau berkata:
"Rasulullah ﷺ merasakan beratnya menerima wahyu. Di antara kebiasaan beliau ketika wahyu turun adalah menggerak-gerakkan kedua bibirnya (mengikuti bacaan malaikat)."
Lalu Ibnu Abbas berkata:
"Aku akan memperagakan kepada kalian bagaimana Rasulullah ﷺ menggerakkan kedua bibirnya."
Maka Ibnu Abbas menggerakkan kedua bibirnya.
Sa'id bin Jubair berkata:
"Aku juga akan memperagakannya kepada kalian sebagaimana aku melihat Ibnu Abbas menggerakkan kedua bibirnya."
Lalu ia menggerakkan kedua bibirnya.
Kemudian Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya:
"Janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya (di dalam dadamu) dan membuatmu dapat membacanya." (QS. Al-Qiyamah: 16-17)
Ibnu Abbas berkata:
"Yang dimaksud dengan mengumpulkannya ialah Allah akan menghimpunnya di dalam dadamu sehingga engkau dapat membacanya."
Firman Allah:
"Maka apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya." (QS. Al-Qiyamah: 18)
Ibnu Abbas menjelaskan:
"Maksudnya, dengarkanlah dengan saksama dan diamlah."
Firman Allah:
"Kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskan maknanya." (QS. Al-Qiyamah : 19)
Maksudnya:
"Kemudian Kamilah yang akan menjadikanmu mampu membacanya."
Setelah itu, apabila Jibril datang kepada Muhammad ﷺ, beliau mendengarkan dengan saksama. Setelah Jibril selesai dan pergi, Nabi ﷺ membacakan kembali wahyu itu sebagaimana Jibril telah membacakannya.
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
05. Telah menceritakan kepada kami Abdan, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yunus, dari Zuhri.
Dan diriwayatkan pula kepada kami oleh Bisyru bin Muhammad, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Yunus dan Ma'mar, dari Zuhri dengan riwayat yang semakna.
Zuhri berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam pada bulan Ramadan untuk mengulang dan mempelajari Al-Qur'an bersama beliau. Sungguh, Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berembus tanpa henti.
٦ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِي رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانُوا تِجَارًا بِالشَّأْمِ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيْشٍ فَأَتَوْهُ وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِي مَجْلِسِهِ وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ نَسَبًا فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّي وَقَرِّبُوا أَصْحَابَهُ فَاجْعَلُوهُمْ عِنْدَ ظَهْرِهِ ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ لَهُمْ إِنِّي سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ لَا قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ قَالَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ يَزِيدُونَ قَالَ فَهَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لَا وَنَحْنُ مِنْهُ فِي مُدَّةٍ لَا نَدْرِي مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا قَالَ وَلَمْ تُمْكِنِّي كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ قَالَ فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ فَقَالَ لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ ذُو نَسَبٍ فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا وَسَأَلْتُكَ هَلْ قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقُلْتُ لَوْ كَانَ أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِي بِقَوْلٍ قِيلَ قَبْلَهُ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ أَبِيهِ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَسَأَلْتُكَ أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمْ اتَّبَعُوهُ وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ وَكَذَلِكَ أَمْرُ الْإِيمَانِ حَتَّى يَتِمَّ وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الْإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ الْقُلُوبَ وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ لَا تَغْدِرُ وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَيَنْهَاكُمْ عَنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ وَقَدْ كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ فَلَوْ أَنِّي أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ } قَالَ أَبُو سُفْيَانَ فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ وَفَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ الْكِتَابِ كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ وَارْتَفَعَتْ الْأَصْوَاتُ وَأُخْرِجْنَا فَقُلْتُ لِأَصْحَابِي حِينَ أُخْرِجْنَا لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ فَمَا زِلْتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظْهَرُ حَتَّى أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ وَكَانَ ابْنُ النَّاظُورِ صَاحِبُ إِيلِيَاءَ وَهِرَقْلَ سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأْمِ يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقْلَ حِينَ قَدِمَ إِيلِيَاءَ أَصْبَحَ يَوْمًا خَبِيثَ النَّفْسِ فَقَالَ بَعْضُ بَطَارِقَتِهِ قَدْ اسْتَنْكَرْنَا هَيْئَتَكَ قَالَ ابْنُ النَّاظُورِ وَكَانَ هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِي النُّجُومِ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِي النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَالُوا لَيْسَ يَخْتَتِنُ إِلَّا الْيَهُودُ فَلَا يُهِمَّنَّكَ شَأْنُهُمْ وَاكْتُبْ إِلَى مَدَايِنِ مُلْكِكَ فَيَقْتُلُوا مَنْ فِيهِمْ مِنْ الْيَهُودِ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى أَمْرِهِمْ أُتِيَ هِرَقْلُ بِرَجُلٍ أَرْسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ يُخْبِرُ عَنْ خَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا اسْتَخْبَرَهُ هِرَقْلُ قَالَ اذْهَبُوا فَانْظُرُوا أَمُخْتَتِنٌ هُوَ أَمْ لَا فَنَظَرُوا إِلَيْهِ فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخْتَتِنٌ وَسَأَلَهُ عَنْ الْعَرَبِ فَقَالَ هُمْ يَخْتَتِنُونَ فَقَالَ هِرَقْلُ هَذَا مُلْكُ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَدْ ظَهَرَ ثُمَّ كَتَبَ هِرَقْلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ بِرُومِيَةَ وَكَانَ نَظِيرَهُ فِي الْعِلْمِ وَسَارَ هِرَقْلُ إِلَى حِمْصَ فَلَمْ يَرِمْ حِمْصَ حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنْ صَاحِبِهِ يُوَافِقُ رَأْيَ هِرَقْلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نَبِيٌّ فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِي دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا فَغُلِّقَتْ ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ هَلْ لَكُمْ فِي الْفَلَاحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِيَّ فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ الْوَحْشِ إِلَى الْأَبْوَابِ فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ نَفْرَتَهُمْ وَأَيِسَ مِنْ الْإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَيَّ وَقَالَ إِنِّي قُلْتُ مَقَالَتِي آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ فَقَدْ رَأَيْتُ فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ هِرَقْلَ رَوَاهُ صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ وَيُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ
06. Telah menceritakan kepada kami Abu Yaman, Hakam bin Nafi', ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Zuhri, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sufyan bin Harbin mengabarkan kepadanya:
"Sesungguhnya Heraclius mengirim utusan untuk memanggilnya ketika ia berada dalam rombongan dagang dari kaum Quraisy di wilayah Syam. Hal itu terjadi pada masa perjanjian damai yang diadakan Muhammad ﷺ dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.
Mereka pun datang menemui Heraclius di Iliya (Baitul Maqdis/Yerusalem). Lalu Heraclius memanggil mereka ke majelisnya, sementara para pembesar Romawi berada di sekelilingnya. Setelah itu ia memanggil mereka lebih dekat dan meminta penerjemahnya untuk hadir.
Kemudian Heraclius berkata:
"Siapakah di antara kalian yang paling dekat hubungan nasabnya dengan orang yang mengaku sebagai nabi itu?"
Abu Sufyan bin Harb berkata:
"Aku menjawab, 'Akulah yang paling dekat hubungan nasabnya dengan beliau.'"
Heraclius berkata:
"Dekatkanlah dia kepadaku, dan tempatkanlah kawan-kawannya di belakangnya."
Lalu ia berkata kepada penerjemahnya:
"Katakan kepada mereka, 'Aku akan bertanya kepada orang ini tentang orang yang mengaku sebagai nabi itu. Jika ia berdusta kepadaku, maka dustakanlah dia.'"
Abu Sufyan berkata:
"Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu jika mereka akan menuduhku berdusta, niscaya aku akan berdusta tentang beliau."
Kemudian pertanyaan pertama yang diajukan Heraclius kepadaku adalah:
"Bagaimana kedudukan nasabnya di tengah kalian?"
Aku menjawab:
"Dia berasal dari keturunan yang mulia di kalangan kami."
Heraclius bertanya:
"Apakah pernah ada seorang pun di antara kalian sebelum dia yang mengaku seperti ini (mengaku sebagai nabi)?"
Aku menjawab:
"Tidak."
Ia bertanya lagi:
"Apakah ada seorang raja di antara nenek moyangnya?"
Aku menjawab:
"Tidak."
Heraclius bertanya:
"Apakah yang mengikutinya itu para pembesar di antara mereka atau orang-orang lemah?"
Aku menjawab:
"Orang-orang lemah."
Ia bertanya:
"Apakah jumlah mereka semakin bertambah atau berkurang?"
Aku menjawab:
"Semakin bertambah."
Ia bertanya:
"Apakah ada di antara mereka yang murtad karena membenci agamanya setelah memeluknya?"
Aku menjawab:
"Tidak."
Ia bertanya:
"Apakah sebelum dia menyampaikan apa yang disampaikannya sekarang, kalian pernah menuduhnya berdusta?"
Aku menjawab:
"Tidak."
Ia bertanya:
"Apakah dia pernah berkhianat?"
Aku menjawab:
"Tidak. Hanya saja sekarang kami sedang terikat perjanjian dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan dilakukannya dalam masa perjanjian itu."
Abu Sufyan bin Harbin berkata:
"Aku tidak mendapat kesempatan untuk menyisipkan sesuatu terhadapnya selain kalimat itu."
Heraclius bertanya:
"Apakah kalian pernah memeranginya?"
Aku menjawab:
"Ya."
Ia bertanya:
"Bagaimana hasil peperangan antara kalian dan dia?"
Aku menjawab:
"Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang ia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya."
Ia bertanya:
"Apa yang diperintahkannya kepada kalian?"
Aku menjawab:
"Ia berkata, 'Sembahlah Allah semata dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Tinggalkanlah apa yang dianut oleh nenek moyang kalian.' Ia juga memerintahkan kami untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, berlaku jujur, menjaga kesucian diri, dan menyambung tali silaturahmi."
Kemudian Heraclius berkata kepada penerjemahnya:
"Katakan kepadanya:
Aku telah bertanya kepadamu tentang nasabnya, lalu engkau menjawab bahwa ia berasal dari keturunan yang mulia di tengah kaumnya. Demikianlah para rasul diutus dari kalangan orang-orang yang memiliki nasab yang mulia di kaumnya.
Aku bertanya kepadamu apakah ada seorang pun di antara kalian yang pernah mengatakan seperti yang ia katakan sebelum dirinya, lalu engkau menjawab tidak ada. Maka aku berpikir, seandainya ada orang yang telah mengatakannya sebelum dia, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanya mengikuti ucapan yang telah dikatakan sebelumnya.
Aku bertanya kepadamu apakah ada seorang raja di antara nenek moyangnya, lalu engkau menjawab tidak ada. Seandainya ada seorang raja di antara nenek moyangnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia sedang menuntut kembali kerajaan leluhurnya.
Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia menyampaikan ajarannya, lalu engkau menjawab tidak pernah. Dari itu aku mengetahui bahwa tidak mungkin seseorang yang meninggalkan dusta terhadap manusia, lalu berdusta atas nama Allah.
Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya para pembesar atau orang-orang lemah, lalu engkau menjawab bahwa yang mengikutinya adalah orang-orang lemah. Memang demikianlah para pengikut para rasul.
Aku bertanya kepadamu apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang, lalu engkau menjawab bahwa mereka terus bertambah. Demikianlah keadaan iman hingga menjadi sempurna.
Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara mereka yang murtad karena membenci agamanya setelah memeluknya, lalu engkau menjawab tidak ada. Demikianlah iman apabila kegembiraannya telah meresap ke dalam hati.
Aku bertanya kepadamu apakah ia pernah berkhianat, lalu engkau menjawab tidak pernah. Demikian pula para rasul, mereka tidak berkhianat.
Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, lalu engkau menjawab bahwa ia memerintahkan kalian agar menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk mendirikan shalat, berlaku jujur, dan menjaga kesucian diri."
Heraclius melanjutkan perkataannya:
"Jika apa yang engkau katakan itu benar, maka dia akan menguasai wilayah tempat kedua kakiku ini berpijak. Sungguh, aku telah mengetahui bahwa seorang nabi akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku yakin dapat sampai kepadanya, niscaya aku akan bersungguh-sungguh untuk menemuinya. Dan seandainya aku berada di sisinya, niscaya aku akan membasuh kedua kakinya."
Kemudian Heraclius meminta surat Muhammad ﷺ yang dibawa oleh Dihyah al-Kalbi kepada penguasa Busra, lalu surat itu diserahkan kepada Heraclius. Ia pun membacanya. Isi surat itu adalah:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Heraclius, penguasa Romawi.
Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba'du.
Sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya engkau akan selamat. Allah akan memberikan kepadamu pahala dua kali lipat. Tetapi jika engkau berpaling, maka engkau akan memikul dosa rakyatmu (al-Arisiyyin).
'Wahai Ahli Kitab! Marilah kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).'" (QS. Ali-Imran: 64)
Abu Sufyan bin Harb berkata:
"Ketika Heraclius selesai mengucapkan apa yang diucapkannya dan selesai membaca surat itu, terjadilah kegemparan di sekitarnya. Suara-suara pun meninggi, lalu kami diperintahkan keluar."
Abu Sufyan melanjutkan:
"Ketika kami telah keluar, aku berkata kepada teman-temanku, 'Sungguh urusan putra Abu Kabsyah telah menjadi besar. Sampai-sampai raja Bani Ashfar (Romawi) pun takut kepadanya.'"
"Sejak saat itu aku terus meyakini bahwa dia pasti akan memperoleh kemenangan, hingga akhirnya Allah menganugerahkan Islam kepadaku."
Kemudian diceritakan bahwa Ibnu Nadzur [النَّاظُورِ], penguasa Iliya dan pemimpin agama Nasrani di wilayah Syam, meriwayatkan:
"Ketika Heraclius tiba di Iliya, pada suatu pagi ia tampak muram."
Beberapa pembesar Romawi berkata kepadanya:
"Kami melihat keadaanmu tidak seperti biasanya."
Ibnu Nadzur [النَّاظُورِ] berkata:
"Heraclius adalah seorang yang biasa memperhatikan perbintangan."
Maka ketika mereka bertanya kepadanya, ia berkata:
"Tadi malam, ketika aku memperhatikan bintang-bintang, aku melihat bahwa kerajaan orang-orang yang berkhitan telah muncul. Siapakah dari umat ini yang berkhitan?"
Mereka menjawab:
"Tidak ada yang berkhitan selain orang-orang Yahudi. Karena itu janganlah engkau mengkhawatirkan mereka. Kirimkan saja surat ke kota-kota dalam kerajaanmu agar semua orang Yahudi yang ada di sana dibunuh."
Ketika mereka sedang membicarakan hal itu, tiba-tiba Heraclius didatangi seorang utusan yang dikirim oleh Raja Ghassan untuk menyampaikan berita tentang Muhammad ﷺ.
Maka Heraclius mulai menanyai utusan itu dengan saksama.
Heraclius berkata:
"Pergilah dan periksalah, apakah dia berkhitan atau tidak."
Mereka pun memeriksanya, lalu memberitahukan kepada Heraclius bahwa orang itu memang berkhitan. Kemudian Heraclius bertanya kepadanya tentang orang-orang Arab.
Utusan itu menjawab:
"Mereka juga berkhitan."
Maka Heraclius berkata:
"Inilah pertanda bahwa kekuasaan umat ini telah muncul."
Kemudian Heraclius menulis surat kepada seorang sahabatnya yang berada di Roma, yang setara dengannya dalam ilmu pengetahuan. Setelah itu Heraclius berangkat menuju kota Himsho di wilayah Syam.
Belum lama ia tinggal di kota Himsho, datanglah surat balasan dari sahabatnya yang membenarkan pendapat Heraclius tentang telah munculnya Muhammad ﷺ dan bahwa beliau benar-benar seorang nabi.
Kemudian Heraclius mengundang para pembesar Romawi ke sebuah balairung miliknya di kota Himsho. Setelah mereka berkumpul, ia memerintahkan agar seluruh pintunya ditutup.
Lalu ia tampil di hadapan mereka dan berkata:
"Wahai bangsa Romawi, apakah kalian menginginkan keberuntungan, petunjuk, dan tetap tegaknya kerajaan kalian? Jika demikian, berbaiatlah kepada nabi ini."
Mendengar ucapan itu, mereka berhamburan menuju pintu-pintu seperti keledai liar yang ketakutan, tetapi mereka mendapati semua pintu telah tertutup.
Ketika Heraclius melihat penolakan mereka dan putus asa terhadap keimanan mereka, ia berkata:
"Bawa mereka kembali kepadaku."
Setelah mereka kembali, ia berkata:
"Sesungguhnya perkataanku tadi hanyalah untuk menguji seberapa teguh kalian memegang agama kalian. Kini aku telah melihat keteguhan itu."
Maka mereka pun bersujud menghormatinya dan kembali merasa puas kepadanya.
Demikianlah akhir kisah Heraclius.
Hadist ini juga diriwayatkan oleh Shalih bin Kaisan, Yunus, dan Ma'mar dari Zuhri.
التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6h | IndeX | Lanjut 6j
الباب السادس
Bab Keenam
حسن الوقف
Bagusnya Berhenti (Waqaf) dalam Membaca Al-Qur'an
[فصل] ينبغي للقارئ إذا ابتدأ من وسط السورة، أو وقف على غير آخرها، أن يبتدئ من أول الكلام، المرتبط بعضه ببعض.
[Sub bab] Seorang qari hendaknya, apabila memulai bacaan dari pertengahan suatu surah atau berhenti sebelum akhir surah, memulai dari permulaan suatu kalimat yang utuh dan saling berkaitan.
وأن يقف على الكلام المرتبط، ولا يتقيد بالأعشار والأجزاء، فإنها قد تكون في وسط الكلام المرتبط كالجزء الذي في قوله تعالى: ﴿ وما أبرئ نفسي ﴾ [يوسف : ٥٣]، وفي قوله تعالى: ﴿ وما كان جواب قومه ﴾ [الأعراف : ٨٢]، وقوله تعالى: ﴿ ومن يقنت منكن لله ورسوله ﴾ [الأحزاب : ٣١]، وفي قوله تعالى: ﴿ وما أنـزلنا على قومه من بعده من جند من السماء ﴾ [يٰس : ٢٨]، وفي قوله تعالى: ﴿ إليه يرد علم الساعة ﴾ [فصلت : ٤٧] ، وفي قوله تعالى: ﴿ وبدا لهم سيئات ﴾ [الجاثيه : ٣٣]، وفي قوله: ﴿ قال فما خطبكم أيها المرسلون ﴾ [الذريات : ٣١]، وكذلك الأحزاب كقوله تعالى: ﴿ واذكروا الله في أيام معدودات ﴾ [البقرة : ٢٠٣]، وقوله تعالى: ﴿ قل هل أنبئكم بخير من ذلكم ﴾ [ال عمران : ١٥].
Demikian pula, hendaknya ia berhenti pada akhir suatu rangkaian kalimat yang sempurna maknanya, dan tidak terpaku pada pembagian persepuluhan (al-'usyur) atau pembagian juz. Sebab, terkadang pembagian-pembagian tersebut berada di tengah kalimat yang masih saling berkaitan maknanya.
Contohnya adalah pembagian juz yang berada pada firman Allah Ta'ala:
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan)." (QS. Yusuf: 53)
"Dan jawaban kaumnya tidak lain hanyalah..." (QS. Al-A'raf: 82)
"Dan barang siapa di antara kamu yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Ahzab: 31)
"Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya setelah dia (meninggal) suatu bala tentara dari langit..." (QS. Yasin: 28)
"Kepada-Nya dikembalikan pengetahuan tentang Hari Kiamat..." (QS. Fussilat: 47)
"Dan tampaklah bagi mereka keburukan-keburukan..." (QS. Al-Jatsiyah: 33)
"(Ibrahim) berkata, 'Apakah urusanmu, wahai para utusan?'" (QS. Adz-Dzariyat: 31)
Demikian pula pembagian berdasarkan hizb atau kelompok bacaan, seperti pada firman Allah Ta'ala:
"Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya..." (QS. Al-Baqarah: 203)
"Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada itu semua?'" (QS. Ali 'Imran: 15)
فكل هذا وشبيهه لا ينبغي أن يبتدأ به، ولا يوقف عليه؛ فإنه متعلق بما قبله.
Oleh karena itu, semua contoh tersebut dan yang semisal dengannya tidak sepatutnya dijadikan sebagai tempat memulai bacaan ataupun tempat berhenti, karena semuanya masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya.
ولا يغترن بكثرة الغافلين له من القراء، الذين لا يراعون هذه الآداب، ولا يفكرون في هذه المعاني.
Janganlah engkau tertipu oleh banyaknya para pembaca Al-Qur'an yang lalai terhadap hal ini, yaitu mereka yang tidak memperhatikan adab-adab tersebut dan tidak merenungkan makna-makna Al-Qur'an.
وامتثل ما روى الحاكم أبو عبد الله بإسناده عن السيد الجليل الفضيل بن عياض رضي الله عنه قال: لا تستوحش طرق الهدى لقلة أهلها، ولا تغترن بكثرة الهالكين، ولا يضرّك قلة السالكين .
Pegang teguhlah nasihat yang diriwayatkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah dengan sanadnya dari seorang tokoh mulia, Fudhail bin 'Iyadh radhiyallahu 'anhu, yang berkata:
"Janganlah engkau merasa asing menempuh jalan-jalan petunjuk karena sedikitnya orang yang melaluinya. Jangan pula tertipu oleh banyaknya orang yang binasa. Dan janganlah sedikitnya orang yang menempuh jalan yang benar membuatmu berkecil hati."
ولهذا المعنى قالت العلماء: قراءه سورة قصيرة بكاملها، أفضل من قراءة بعض سورة طويلة بقدر القصيرة؛ فإنه قد يخفى الارتباط على بعض الناس في بعض الأحوال.
Karena alasan inilah para ulama mengatakan bahwa membaca satu surah pendek secara utuh lebih utama daripada membaca sebagian dari surah yang panjang dengan kadar yang sama. Sebab, pada sebagian keadaan, keterkaitan makna antarayat dapat tersembunyi dari sebagian orang.
وقد روى ابن أبي داود بإسناده، عن عبد الله بن أبي الهذيل التابعي المعروف رضي الله عنه قال: كانوا يكرهون أن يقرؤوا بعض الآية ويتركوا بعضها.
Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Hudzail, seorang tabi'in yang terkenal, rahimahullah, bahwa beliau berkata:
"Mereka dahulu memakruhkan membaca sebagian dari suatu ayat lalu meninggalkan bagian lainnya."
[فصل] في أحوال تكره فيها القراءة
[Sub bab] Keadaan-keadaan yang Dimakruhkan Membaca Al-Qur'an
اعلم أن قراءة القرآن على الإطلاق مندوبة ومستحبة، إلا في أحوال مخصوصة جاء الشرع بالنهي عن القراءة فيها، وأنا أذكر الآن ما حضرني منها مختصرة بحذف الأدلة؛ فإنها مشهورة:
Ketahuilah bahwa membaca Al-Qur'an pada dasarnya adalah amalan yang dianjurkan dan disunnahkan dalam segala keadaan. Akan tetapi, ada beberapa keadaan tertentu yang disebutkan dalam syariat sebagai waktu atau kondisi yang dilarang atau dimakruhkan untuk membaca Al-Qur'an.
Berikut ini akan saya sebutkan secara ringkas beberapa di antaranya, tanpa menyertakan dalil-dalilnya, karena dalil-dalil tersebut telah masyhur dan dikenal luas.
١ - فتكره القراءة في حالة الركوع، والسجود، والتشهد، وغيرها من أحوال الصلاة سوى القيام.
1. Dimakruhkan membaca Al-Qur'an ketika sedang rukuk, sujud, tasyahud, dan keadaan-keadaan lain dalam salat selain saat berdiri.
٢ - وتكره القراءة بما زاد على الفاتحة للمأموم في الصلاة الجهرية إذا سمع قراءة الإمام.
2. Dimakruhkan bagi makmum membaca surah setelah Al-Fatihah dalam salat jahriah (salat yang bacaannya dikeraskan), apabila ia mendengar bacaan imam.
٣ - وتكره حالة القعود على الخلاء.
3. Dimakruhkan membaca Al-Qur'an ketika sedang duduk untuk buang hajat.
٤ - وفي حالة النعاس.
4. Demikian pula ketika sedang mengantuk.
٥ - وكذا إذا استعجم عليه القرآن.
5. Begitu juga apabila bacaan Al-Qur'an menjadi tidak jelas atau kacau pada lisannya (karena lupa, bingung, atau hilang konsentrasi), sehingga ia tidak mampu membacanya dengan benar.
٦ - وكذا في حالة الخطبة لمن يسمعها، ولا تكره لمن لم يسمعها بل تستحب، هذا هو المختار الصحيح، وجاء عن طاوس كراهيتها، وعن إبراهيم عدم الكراهة، فيجوز أن يجمع بين كلاميهما بما قلنا كما ذكره أصحابنا.
6. Demikian pula ketika khatib sedang berkhutbah, bagi orang yang dapat mendengar khutbah tersebut. Adapun bagi orang yang tidak dapat mendengarnya, maka membaca Al-Qur'an tidak dimakruhkan, bahkan dianjurkan. Inilah pendapat yang dipilih sebagai pendapat yang sahih.
Diriwayatkan pula dari Thowus bahwa beliau memakruhkan membaca Al-Qur'an saat khutbah secara mutlak. Sedangkan dari Ibrahim (An-Nakha'i) diriwayatkan bahwa beliau tidak memakruhkannya. Kedua pendapat ini dapat dipadukan sebagaimana penjelasan di atas, sebagaimana disebutkan oleh para ulama mazhab kami.
ولا تكره القراءة في الطواف، هذا مذهبنا، وبه قال أكثر العلماء، وحكاه ابن المنذر عن عطاء ومجاهد، وابن المبارك، وأبي ثور وأصحاب الرأي.
Membaca Al-Qur'an ketika sedang tawaf tidak dimakruhkan. Ini adalah pendapat mazhab kami, dan juga merupakan pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Mundzir dari Atho', Mujahid, Abdullah bin Mubarak, Abu Tsaur, dan para ulama Ashabur Ra'yi.
وحكي عن الحسن البصري وعروة بن الزبير ومالك كراهتها في الطواف، والصحيح: الأول.
Adapun Hasan Al-Bashri, Urwah bin Zubair, dan Imam Malik berpendapat bahwa membaca Al-Qur'an ketika tawaf hukumnya makruh. Namun, pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu tidak dimakruhkan.
وقد تقدم بيان الاختلاف في القراءة في الحمام، وفي الطريق، وفيمن فمه نجس.
Telah dijelaskan sebelumnya mengenai perbedaan pendapat tentang hukum membaca Al-Qur'an di dalam kamar mandi, di jalan, dan bagi orang yang mulutnya terkena najis.
البدعة المدروسة
Bid'ah yang Tercela
[فصل] من البدع المنكرة في القراءة ما يفعله جهلة المصلين بالناس في التراويح، من قراءة سورة الأنعام في الركعة الأخيرة في الليلة السابعة، معتقدين أنها مستحبة، فيجمعون أمورا منكرة:
[Sub bab] Di antara bid'ah yang diingkari dalam membaca Al-Qur'an adalah apa yang dilakukan oleh sebagian imam yang kurang memahami tuntunan syariat ketika mengimami shalat Tarawih. Mereka membaca Surah Al-An'am pada rakaat terakhir di malam ketujuh, dengan keyakinan bahwa amalan tersebut merupakan sesuatu yang disunahkan.
Dengan perbuatan itu, mereka telah menggabungkan beberapa kemungkaran sekaligus.
١ - منها اعتقادها مستحبة.
1. Meyakini bahwa amalan tersebut merupakan sesuatu yang disunahkan, padahal tidak ada dasarnya.
٢ - ومنها إيهام العوام ذلك.
2. Menimbulkan anggapan di kalangan orang awam bahwa amalan tersebut memang disyariatkan.
٣ - ومنها تطويل الركعة الثانية على الأولى وإنما السنة تطويل الأولى.
3. Memanjangkan rakaat kedua melebihi rakaat pertama, padahal yang sesuai dengan sunah adalah memanjangkan rakaat pertama.
٤ - ومنها التطويل على المأمومين.
4. Memberatkan para makmum dengan bacaan yang terlalu panjang.
٥ - ومنها هذرمة القراءة.
5. Membaca Al-Qur'an dengan terlalu cepat (hadramah), sehingga tidak memperhatikan tartil dan hak-hak bacaan.
ومن البدع المشابهة لهذا قراءة بعض جهلتهم في الصبح يوم الجمعة بسجدة غير سجدة الم تنزيل، قاصدين ذلك، وإنما السنة قراءة الم تنزيل في الركعة الأولى، وهل أتى في الثانية.
Di antara bid'ah yang serupa dengan hal tersebut adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak memahami tuntunan agama, yaitu membaca pada salat Subuh hari Jumat surah yang mengandung ayat sajdah selain Surah As-Sajdah (Alif Lam Mim Tanzil), dengan sengaja untuk menggantikannya. Padahal yang sesuai dengan sunah adalah membaca Surah As-Sajdah (Alif Lam Mim Tanzil) pada rakaat pertama dan Surah Al-Insan (Hal Ata 'ala al-Insan) pada rakaat kedua.
[فصل] في مسائل غريبة تدعو الحاجة إليها
[Sub bab] Beberapa Masalah yang Jarang Dibahas tetapi Perlu Diketahui
١ - منها أنه إذا كان يقرأ فعرض له ريح، فينبغي أن يمسك عن القراءة، حتى يتكامل خروجها، ثم يعود إلى القراءة، كذا رواه ابن أبي داود وغيره عن عطاء، وهو أدب حسن.
1. Di antaranya, apabila seseorang sedang membaca Al-Qur'an lalu merasa akan keluar angin (kentut), hendaknya ia menghentikan bacaannya sampai angin tersebut benar-benar keluar, kemudian kembali melanjutkan bacaannya. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dan yang lainnya dari Atha'. Adab seperti ini merupakan adab yang baik.
٢ - ومنها أنه إذا تثاءب أمسك عن القراءة حتى ينقضي التثاؤب ثم يقرأ.
2. Di antaranya, apabila seseorang menguap ketika sedang membaca Al-Qur'an, hendaknya ia menghentikan bacaannya hingga selesai menguap, kemudian melanjutkan kembali.
قال مجاهد : وهو حسن، ويدل عليه ما ثبت عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : إذا تثاءب أحدكم فليمسك بيده على فمه فإن الشيطان يدخل. رواه مسلم .
Mujahid berkata, "Ini adalah adab yang baik." Hal ini juga didukung oleh hadis sahih dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya dengan tangannya, karena setan masuk (melalui mulut yang terbuka)." (HR. Muslim)
٣ - ومنها أنه إذا قرأ قول الله عز وجل: ﴿ وقالت اليهود عزير ابن الله ، وقالت النصارى المسيح ابن الله ﴾ [التوبة : ٣٠]، ﴿ وقالت اليهود يد الله مغلولة ﴾ [المائدة : ٦٤]، ﴿ وقالوا اتخذ الرحمن ولدا ﴾ [مريم : ٨٨]، ونحو ذلك من الآيات ينبغي أن يخفض بها صوته، كذا كان إبراهيم النخعي رضي الله عنه يفعل.
Di antaranya, apabila membaca firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair adalah anak Allah,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih adalah anak Allah.'" (QS. At-Taubah: 30)
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu.'" (QS. Al-Ma'idah: 64)
"Dan mereka berkata, 'Ar-Rahman mempunyai seorang anak.'" (QS. Maryam: 88)
serta ayat-ayat lain yang serupa, maka hendaknya ia merendahkan suaranya ketika membacanya. Demikianlah yang dilakukan oleh Ibrahim An-Nakha'i rahimahullah.
٤ - ومنها ما رواه ابن أبي داود بإسناد ضعيف عن الشعبي أنه قيل له: إذا قرأ الإنسان: ﴿إن الله وملائكته يصلّون على النبي﴾ يصلي على النبي ﷺ ؟ قال: نعم.
4. Di antara adab membaca Al-Qur'an adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang lemah, dari Asy-Sya'bi. Beliau pernah ditanya, "Apabila seseorang membaca ayat:
'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.'
apakah ia hendaknya bershalawat kepada Nabi ﷺ?"
Beliau menjawab, "Ya."
٥ - ومنها أنه يستحب له أن يقول ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ أنه قال: من قرأ والتين والزيتون فقال: ﴿أليس الله بأحكم الحاكمين﴾ فليقل بلى وأنا على ذلك من الشاهدين. رواه أبو داود والترمذي بإسناد ضعيف، عن رجل عن أعرابي عن أبي هريرة رضي الله عنه.
5. Di antaranya lagi, disunnahkan bagi orang yang membaca Al-Qur'an untuk mengucapkan doa sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Barang siapa membaca Surah At-Tin hingga ayat:
'Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?'
maka hendaklah ia mengucapkan:
'Benar, dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas hal itu.'"
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad yang lemah, melalui seorang perawi dari seorang Arab Badui, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
قال الترمذي : هذا الحديث إنما يروى بهذا الإسناد عن الأعرابي عن أبي هريرة ، قال: ولا يسمى.
Imam At-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hanya diriwayatkan melalui sanad tersebut, dari seorang Arab Badui, dari Abu Hurairah." Beliau juga berkata, "Nama orang Arab Badui itu tidak disebutkan."
وروى ابن أبي داود والترمذي : ومن قرأ آخر لا أقسم بيوم القيامة ﴿أليس ذلك بقادر على أن يحيي الموتى﴾؟ فليقل بلى .
Ibnu Abi Dawud dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan bahwa:
"Barang siapa membaca akhir Surah Al-Qiyamah hingga ayat:
'Bukankah (Allah yang berbuat) demikian itu berkuasa menghidupkan orang-orang yang mati?'
maka hendaklah ia mengucapkan:
'Benar.'"
ومن قرأ: ﴿فبأي آلاء ربكما تكذبان﴾ أو ﴿فبأي حديث بعده يؤمنون﴾ فليقل: آمنت بالله.
Barang siapa membaca ayat:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?"
atau membaca ayat:
"Maka kepada perkataan (wahyu) yang manakah setelah Al-Qur'an ini mereka akan beriman?"
maka hendaklah ia mengucapkan:
"Aku beriman kepada Allah."
وعن ابن عباس رضي الله عنهما وابن الزبير وأبي موسى الأشعري رضي الله عنهم أنهم كانوا إذا قرأ أحدهم: ﴿سبح اسم ربك الأعلى﴾ قال: سبحان ربي الأعلى .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, dan Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhum, bahwa apabila salah seorang dari mereka membaca ayat:
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi."
maka ia mengucapkan:
"Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi." (Subḥāna Rabbiyal-A‘lā).
وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه كان يقول فيها: «سبحان ربي الأعلى» ثلاث مرات .
Diriwayatkan pula dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau ketika membaca ayat tersebut mengucapkan:
"Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi."
sebanyak tiga kali.
وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أنه صلى فقرأ آخر سورة بني إسرائيل ثم قال : ﴿الحمد لله الذي لم يتخذ ولدا﴾ .
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau pernah shalat, lalu membaca akhir Surat Al-Isra' (Bani Israil), kemudian mengucapkan:
"Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak."
وقد نص بعض أصحابنا على أنه يستحب أن يقال في الصلاة ما قدمناه.
Sebagian ulama dari kalangan mazhab kami (mazhab Syafi'i) telah menegaskan bahwa disunnahkan mengucapkan zikir-zikir yang telah disebutkan di atas, termasuk ketika sedang dalam shalat.
وفي حديث أبي هريرة في السور الثلاث، وكذلك يستحب أن يقال باقي ما ذكرناه وما كان في معناه، والله أعلم.
Demikian pula berdasarkan hadis Abu Hurairah mengenai tiga surat tersebut, disunnahkan mengucapkan jawaban-jawaban yang telah disebutkan, begitu juga setiap ucapan lain yang semakna dengannya ketika membaca ayat-ayat yang sesuai.
Kembali 6h | IndeX | Lanjut 6j
التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6g | IndeX | Lanjut 6i
الباب السادس
Bab Keenam
[فصل] في استحباب تحسين الصوت بالقراءة
[Sub bab] Anjuran Memperindah Suara ketika Membaca Al-Qur'an
أجمع العلماء - رضي الله عنهم - من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن، وأقوالهم وأفعالهم مشهورة نهاية الشهرة، فنحن مستغنون عن نقل شيء من أفرادها.
Para ulama—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat, baik dari kalangan salaf maupun khalaf, yaitu para sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka dari para ulama di berbagai negeri serta para imam kaum muslimin, bahwa memperindah suara ketika membaca Al-Qur'an adalah amalan yang dianjurkan (mustahab). Pendapat dan praktik mereka dalam hal ini sangat masyhur dan tersebar luas, sehingga kami tidak perlu lagi mengutip satu per satu riwayat atau pendapat mereka secara terperinci.
ودلائل هذا من حديث رسول الله ﷺ مستفيضة عند الخاصة والعامة، كحديث: زينوا القرآن بأصواتكم، وحديث: لقد أوتي هذا مزمارا، وحديث: ما أذن الله، وحديث: لله أشد أذنا، وقد تقدمت كلها في الفصل السابق.
Dalil-dalil mengenai hal ini dari hadis-hadis Rasulullah ﷺ sangat banyak dan telah tersebar luas, baik di kalangan para ulama maupun masyarakat umum. Di antaranya adalah hadis: "Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian," hadis: "Sungguh, orang ini telah dianugerahi salah satu seruling (suara merdu) dari keluarga Dawud," hadis: "Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu..." dan hadis: "Sungguh Allah lebih mendengarkan...". Semua hadis tersebut telah disebutkan pada pasal sebelumnya.
وتقدم في فضل الترتيل حديث عبد الله بن مغفل في ترجيع النبي ﷺ القراءة، وكحديث سعد بن أبي وقاص، وحديث أمامة رضي الله عنهما أنّ النبي ﷺ قال: من لم يتغنّ بالقرآن فليس منا. رواه أبو داود بإسنادين جيدين، وفي إسناد سعد اختلاف لا يضر.
Telah disebutkan pula dalam pembahasan tentang keutamaan membaca Al-Qur'an dengan tartil, hadis Abdullah bin Mughaffal mengenai bacaan Rasulullah ﷺ yang disertai tarji' (melagukan atau mengulang-ulang suara dengan indah). Demikian pula hadis Sa'd bin Abi Waqqash dan hadis Umamah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa tidak bertaghanni (memperindah suaranya) ketika membaca Al-Qur'an, maka ia bukan termasuk golongan kami." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui dua sanad yang baik. Adapun pada sanad riwayat Sa'd terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun hal itu tidak memengaruhi keabsahan hadis tersebut.
قال جمهور العلماء: معنى «لم يتغن»: لم يحسن صوته.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa makna sabda Nabi ﷺ, "tidak bertaghanni", adalah tidak memperindah suaranya ketika membaca Al-Qur'an.
وحديث البراء رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ قرأ في العشاء بالتين والزيتون، فما سمعت أحدا أحسن صوتا منه. رواه البخاري ومسلم .
Dari hadis Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca surah At-Tin dalam salat Isya. Aku belum pernah mendengar seorang pun yang lebih indah suaranya daripada beliau." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
قال العلماء رحمهم الله: فيستحب تحسين الصوت بالقراءة، وترتيلها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط، فإن أفرط حتى زاد حرفا، أو أخفاه فهو حرام.
Para ulama—semoga Allah merahmati mereka—berkata: Disunahkan memperindah suara ketika membaca Al-Qur'an dan membacanya dengan tartil, selama tidak melampaui batas bacaan dengan memanjangkan suara secara berlebihan (tamṭīṭ). Apabila berlebihan hingga menyebabkan penambahan huruf atau menghilangkan (menyembunyikan) suatu huruf, maka hal itu hukumnya haram.
وأما القراءة بالألحان فقد قال الشافعي رحمه الله في موضع: أكرهها.
Adapun membaca Al-Qur'an dengan alunan lagu (alḥān), maka Muhammad bin Idris al-Shafi'i رحمه الله berkata dalam salah satu pendapatnya, "Aku memakruhkannya."
قال أصحابنا: ليست على قولين، بل فيه تفصيل. إن أفرط في التمطيط فجاوز الحد فهو الذي كرهه، وإن لم يجاوز فهو الذي لم يكرهه.
Para ulama mazhab kami (Syafi'iyyah) berkata: Perkataan Imam asy-Syafi'i tersebut bukanlah menunjukkan adanya dua pendapat yang saling bertentangan, tetapi mengandung perincian. Jika seseorang berlebihan dalam memanjangkan bacaan (tamṭīṭ) hingga melampaui batas yang dibenarkan, maka itulah yang dimakruhkan oleh beliau. Adapun jika tidak melampaui batas, maka itulah yang tidak beliau makruhkan.
وقال أقضى القضاة الماوردي في كتابه الحاوي: القراءة بالألحان الموضوعة إن أخرجت لفظ القرآن عن صيغته بإدخال حركات فيه، أو إخراج حركات منه، أو قصر ممدود، أو مد مقصور، أو تمطيط يخفي به بعض اللفظ، ويتلبس المعنى فهو حرام يفسق به القارئ، ويأثم به المستمع؛ لأنه عدل به عن نهجه القويم إلى الاعوجاج، والله تعالى يقول: ﴿ قرآنا عربيا غير ذي عوج ﴾. [الزمر : ٢٨]
Al-Mawardi, yang menjabat sebagai Qadhi al-Qudhat (Hakim Agung), berkata dalam kitab Al-Hawi:
"Membaca Al-Qur'an dengan lagu-lagu (irama) yang dibuat-buat, apabila menyebabkan lafaz Al-Qur'an keluar dari bentuk yang semestinya, seperti menambahkan harakat, menghilangkan harakat, memendekkan bacaan yang seharusnya dipanjangkan, memanjangkan bacaan yang seharusnya dipendekkan, atau memanjangkan suara secara berlebihan hingga sebagian lafaz menjadi samar dan maknanya menjadi rancu, maka hukumnya haram. Orang yang membacanya menjadi fasik karena perbuatannya, dan orang yang mendengarkannya juga berdosa, karena ia telah memalingkan bacaan Al-Qur'an dari jalan yang lurus kepada penyimpangan. Padahal Allah Ta'ala berfirman, 'Sebagai Al-Qur'an berbahasa Arab yang tidak mengandung kebengkokan.' (QS. Az-Zumar: 28)."
قال: وإن لم يخرجه اللحن عن لفظه، وقراءته على ترتيله، كان مباحا؛ لأنه زاد على ألحانه في تحسينه، هذا كلام أقضى القضاة.
Beliau melanjutkan: "Apabila lagu (irama) tersebut tidak mengeluarkan lafaz Al-Qur'an dari bentuknya yang benar dan tidak mengubah cara baca yang sesuai dengan tartilnya, maka hukumnya boleh, karena irama itu hanya merupakan tambahan untuk memperindah bacaan." Demikianlah penjelasan Qadhi al-Qudhat Al-Mawardi.
وهذا القسم الأول من القراءة بالألحان المحرمة مصيبة ابتلي بها بعض الجهلة الطغام الغشمة، الذين يقرؤون على الجنائز وبعض المحافل، وهذه بدعة محرمة ظاهرة، يأثم كل مستمع لها، كما قاله أقضى القضاة الماوردي.
**Adapun bentuk pertama dari bacaan Al-Qur'an dengan lagu yang diharamkan ini merupakan musibah yang telah menimpa sebagian orang-orang bodoh, kasar, dan tidak berilmu. Mereka membacakan Al-Qur'an dengan cara seperti itu pada acara-acara pemakaman dan berbagai perkumpulan. Perbuatan ini adalah bid'ah yang jelas keharamannya. Setiap orang yang mendengarkannya turut berdosa, sebagaimana dinyatakan oleh Qadhi al-Qudhat Al-Mawardi.
ويأثم كل قادر على إزالتها، أو على النهي عنها، إذا لم يفعل ذلك.
Dan setiap orang yang mampu menghilangkan praktik tersebut atau mampu melarangnya, tetapi tidak melakukannya, maka ia juga berdosa.
وقد بذلت فيها بعض قدرتي، وأرجو من فضل الله الكريم، أن يوفق لإزالتها من هو أهل لذلك، وأن يجعله في عافية.
Aku telah mengerahkan sebagian kemampuan yang kumiliki untuk mengingkari praktik tersebut. Aku berharap kepada Allah Yang Mahamulia agar Dia memberikan taufik kepada orang yang memiliki kemampuan dan kedudukan untuk menghilangkannya, serta menganugerahinya keselamatan dan kesejahteraan.
قال الشافعي في مختصر المزني : ويحسن صوته بأيّ وجه كان. قال: وأحب ما يقرأ حدرا وتحزينا.
Muhammad bin Idris as-Shafi'i berkata dalam Mukhtashar al-Muzani: "Hendaklah seseorang memperindah suaranya dalam membaca Al-Qur'an dengan cara apa pun yang dapat dilakukannya." Beliau juga berkata, "Aku lebih menyukai apabila Al-Qur'an dibaca dengan bacaan yang lancar (ḥadr) disertai nada yang menghadirkan kesedihan (taḥzīn)."
قال أهل اللغة: يقال حدرت بالقراءة إذا أدرجتها ولم تمططها.
Para ahli bahasa berkata: "Dikatakan ḥadartu bil-qirā'ah apabila seseorang membaca Al-Qur'an dengan lancar dan mengalirkannya tanpa memanjangkan suara secara berlebihan (tamṭīṭ)."
ويقال: فلان يقرأ بالتحزين إذا رقق صوته.
Dan dikatakan, "Si Fulan membaca dengan taḥzīn," yaitu apabila ia melembutkan dan melunakkan suaranya ketika membaca Al-Qur'an.
وقد روى ابن أبي داود بإسناده عن أبي هريرة - رضي الله عنه - أنه قرأ: ﴿ إذا الشمس كورت ﴾ يحزنها شبه الرثاء .
Ibn Abi Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa beliau membaca surah At-Takwir (﴿إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ﴾) dengan nada yang penuh kesedihan, menyerupai lantunan ratapan, namun tanpa melampaui batas yang dibenarkan.
وفي سنن أبي داود قيل لابن أبي مليكة : أرأيت إذا لم يكن حسن الصوت؟ فقال: يحسِّنه ما استطاع.
Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa pernah ditanyakan kepada Ibnu Abi Mulaikah, “Bagaimana jika seseorang tidak memiliki suara yang indah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia memperindah suaranya semampunya.”
[فصل] في استحباب طلب القراءة الطيبة من حسن الصوت.
[Sub bab] Anjuran Meminta Orang yang Bersuara Indah untuk Membaca Al-Qur'an
اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون.
Ketahuilah bahwa sekelompok ulama salaf dahulu biasa meminta orang-orang yang memiliki bacaan Al-Qur'an dengan suara yang merdu untuk membacakannya, sementara mereka mendengarkan.
وهذا متفق على استحبابه، وهو: عادة الأخيار، والمتعبدين، وعباد الله الصالحين.
Para ulama telah bersepakat bahwa hal ini hukumnya dianjurkan (mustahab). Ini merupakan kebiasaan orang-orang saleh, para ahli ibadah, dan hamba-hamba Allah yang bertakwa.
وهي سنة ثابتة عن رسول الله ﷺ فقد صح عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله ﷺ : اقرأ عليَّ القرآن،
Amalan ini juga merupakan sunah yang tetap dari Rasulullah ﷺ. Telah diriwayatkan secara shahih dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku.”
فقلت: يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل. قال: إني أحب أن أسمعه من غيري.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membacakannya kepada engkau, padahal Al-Qur'an itu diturunkan kepadamu?”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku senang mendengar”
فقرأت عليه سورة النساء حتى إذا جئت إلى هذه الآية: ﴿ فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا ﴾ قال: حسبك الآن، فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان. رواه البخاري ومسلم .
Lalu aku membacakan kepada beliau Surah An-Nisa'. Ketika aku sampai pada ayat:
"Maka bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?" (QS. An-Nisa': 41)
Beliau bersabda, “Cukup sampai di sini.” Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau bercucuran air mata. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
وروى الدارمي وغيره بأسانيدهم عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه كان يقول لأبي موسى الأشعري : ذكّرنا ربّنا، فيقرأ عنده القرآن .
Ad-Darimi dan selainnya meriwayatkan dengan sanad-sanad mereka dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau sering berkata kepada Abu Musa Al-Asy'ari, “Ingatkanlah kami kepada tuhan kami.” Maka Abu Musa pun membacakan Al-Qur'an di hadapan beliau.
والآثار في هذا كثيرة معروفة.
Riwayat-riwayat tentang hal ini sangat banyak dan telah dikenal luas.
وقد مات جماعات من الصالحين بسبب قراءة من سألوه القراءة. والله أعلم.
Bahkan, telah diriwayatkan bahwa sejumlah orang saleh wafat ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari orang yang mereka minta untuk membacakannya. Wallahu a'lam.
وقد استحب العلماء أن يستفتح مجلس حديث النبي ﷺ ويختم بقراءة قارئ حسن الصوت، ما تيسر من القرآن.
Para ulama juga menganjurkan agar suatu majelis penyampaian hadis Nabi ﷺ dibuka dan ditutup dengan bacaan Al-Qur'an oleh seorang qari yang memiliki suara yang indah, dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang mudah baginya.
ثم إنه ينبغي للقارئ في هذه المواطن أن يقرأ ما يليق بالمجلس ويناسبه، وأن تكون قراءته في آيات الرجاء، والخوف، والمواعظ، والتزهيد في الدنيا، والترغيب في الآخرة، والتأهب لها، وقصر الأمل، ومكارم الأخلاق.
Selanjutnya, seorang qari pada kesempatan seperti itu hendaknya memilih ayat-ayat yang sesuai dengan tema majelis, seperti ayat-ayat tentang harapan akan rahmat Allah, rasa takut kepada-Nya, nasihat dan peringatan, anjuran bersikap zuhud terhadap dunia, dorongan untuk mencintai akhirat dan mempersiapkan diri menghadapinya, anjuran memendekkan angan-angan, serta ayat-ayat yang mengajarkan akhlak yang mulia.
Kembali 6g | IndeX | Lanjut 6i