Kamis, 14 Agustus 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 34

 

TARIKH KHULAFA


Kembali 33 | IndeX | Lanjut 35

 

 

Bab Tentang Hijrahnya 'Umar Bin khathab

 

Ibnu ‘Asākir meriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata: 

“Aku tidak mengetahui seorang pun yang hijrah secara terang-terangan kecuali ‘Umar bin al-Khaththab. Ketika ia berniat untuk hijrah, ia menyandang pedangnya, mengalungkan busurnya, memegang anak panah di tangannya, lalu mendatangi Ka‘bah, sementara para pembesar Quraisy berada di pelatarannya. Ia thawaf tujuh kali, kemudian shalat dua rakaat di dekat Maqām (Ibrahim). Setelah itu ia mendatangi kelompok-kelompok mereka satu per satu seraya berkata: ‘Semoga wajah-wajah ini buruk! Siapa yang ingin membuat ibunya kehilangan anaknya, anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda… maka temuilah aku di balik lembah ini.’ Namun tak seorang pun dari mereka yang mengikutinya.” 

 

Dan diriwayatkan dari al-Barā’ –raḍiyallāhu ‘anhu–, ia berkata: 

“Orang pertama dari kaum Muhājirīn yang tiba di tempat kami adalah Muṣ‘ab bin ‘Umair, kemudian Ibnu Umm Maktūm, lalu ‘Umar bin al-Khaththab bersama dua puluh penunggang (unta/kuda). Kami bertanya: ‘Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ?’ Ia menjawab: ‘Beliau berada tepat di belakangku.’ Kemudian datanglah Rasulullah ﷺ bersama Abū Bakar –raḍiyallāhu ‘anhu– bersamanya.” 

 

Imam an-Nawawi berkata: “‘Umar menghadiri seluruh peristiwa (perang) bersama Rasulullah ﷺ, dan ia termasuk orang yang tetap teguh bersamanya pada hari Perang Uhud.” 

 

 

Bab Tentang Hadis-Hadis yang Menyebutkan Keutamaannya 

 

Selain yang telah disebutkan pada biografi Abu Bakar ash-Shiddīq –raḍiyallāhu ‘anhu– 

 

Al-Bukhārī dan Muslim meriwayatkan dari Abū Hurairah –raḍiyallāhu ‘anhu–, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat diriku berada di surga. Tiba-tiba ada seorang wanita yang berwudhu di samping sebuah istana. Aku bertanya: ‘Istana ini milik siapa?’ Mereka menjawab: ‘Milik ‘Umar.’ Maka aku teringat akan sifat cemburumu, lalu aku pun berpaling pergi.” ‘Umar pun menangis dan berkata: “Apakah aku akan cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?!” 

 

Al-Bukhārī dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku sedang tidur, aku minum—maksudnya susu—hingga aku merasakan kesegarannya mengalir di kukuku, kemudian aku memberikannya kepada ‘Umar.” Mereka bertanya: “Apa takwilnya (artinya), wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ilmu.” 

 

Al-Bukhārī dan Muslim meriwayatkan dari Abū Sa‘īd al-Khudrī –raḍiyallāhu ‘anhu–, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku sedang tidur, aku melihat manusia diperlihatkan kepadaku, dan mereka memakai gamis; ada yang gamisnya sampai ke dada, ada yang kurang dari itu. Lalu ‘Umar diperlihatkan kepadaku, dan ia memakai gamis yang menjulur (hingga ke tanah).” Mereka bertanya: “Apa takwilnya (artinya), wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Agama.” 

 

Al-Bukhārī dan Muslim meriwayatkan dari Sa‘ad bin Abī Waqqāṣ, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai putra al-Khaṭṭāb, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan menjumpaimu menempuh suatu jalan, melainkan ia akan menempuh jalan lain yang bukan jalanmu.” 

 

Al-Bukhārī meriwayatkan dari Abū Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh, di antara umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang diberi ilham. Jika ada satu orang seperti itu di antara umatku… maka dia adalah ‘Umar.” (Maksudnya: orang yang mendapat ilham kebenaran). 

 

At-Tirmiżī meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan ‘Umar dan hatinya.” Ibnu ‘Umar berkata: “Tidaklah suatu perkara menimpa manusia, lalu mereka berpendapat dan ‘Umar juga berpendapat, melainkan Al-Qur’an turun sesuai dengan pendapat ‘Umar.”

 

At-Tirmiżī dan al-Ḥākim –yang mensahihkannya– meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Āmir, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya ada nabi setelahku… maka dia adalah ‘Umar bin al-Khaṭṭāb.” 

 

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh aṭ-Ṭabarānī dari Abū Sa‘īd al-Khudrī dan ‘Uṣhmah bin Mālik, serta oleh Ibnu ‘Asākir dari hadis Ibnu ‘Umar. 

 

 

[Kebenaran Diletakkan pada Lisan ‘Umar –raḍiyallāhu ‘anhu–]

 

At-Tirmiżī meriwayatkan dari ‘Āisyah –raḍiyallāhu ‘anhā–, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku melihat setan-setan dari golongan jin dan manusia lari menjauh dari ‘Umar.” 

 

Ibnu Mājah dan al-Ḥākim meriwayatkan dari Ubay bin Ka‘ab, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang pertama yang akan berjabat tangan dengannya adalah kebenaran, orang pertama yang disapa salam oleh kebenaran, dan orang pertama yang dipegang tangannya lalu dimasukkan ke surga adalah ‘Umar.” 

 

Ibnu Mājah dan al-Ḥākim –yang mensahihkannya– meriwayatkan dari Abū Dzar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan ‘Umar, dan ia mengucapkannya.” 

 

Aḥmad dan al-Bazzār meriwayatkan dari Abū Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lisan ‘Umar dan di hatinya.” 

 

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh aṭ-Ṭabarānī dari hadis ‘Umar bin Khaṭṭāb, Bilāl, Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān, dan ‘Āisyah –raḍiyallāhu ‘anhum–, serta oleh Ibnu ‘Asākir dari hadis Ibnu ‘Umar. 

 

Ibnu Munī‘ dalam Musnad-nya meriwayatkan dari ‘Ali –raḍiyallāhu ‘anhu–, ia berkata: “Kami, para sahabat Muhammad ﷺ, tidak pernah ragu bahwa ketenangan (sakīnah) berbicara melalui lisan ‘Umar.” 

 

Al-Bazzār meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “‘Umar adalah pelita bagi penduduk surga.” 

 

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Ibnu ‘Asākir dari hadis Abū Hurairah dan aṣh-Ṣha‘ab bin Juthāmah. 

 

Al-Bazzār meriwayatkan dari Qudāmah bin Maẓ‘ūn, dari pamannya ‘Utsmān bin Maẓ‘ūn, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ini adalah pengunci fitnah”—dan beliau menunjuk dengan tangannya kepada ‘Umar—“Akan senantiasa ada antara kalian dan fitnah sebuah pintu yang terkunci rapat selama orang ini hidup di tengah-tengah kalian.” 

 

Aṭ-Ṭabarānī dalam al-Awsaṭ meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās –raḍiyallāhu ‘anhumā–, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “Sampaikan salam kepada ‘Umar, dan beritahukan kepadanya bahwa kemarahannya adalah kemuliaan, dan kerelaannya adalah keadilan.” 

 

Kembali 33 | IndeX | Lanjut 35

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar