Rabu, 13 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 10 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 9 | IndeX | Lanjut 11

 

 

Hadis ke Empat Puluh Delapan:

عنْ عَلِيِّ بنِ أبى طالبٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ: أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ يومَ الْخَنْدَقِ: (( مَلأَ اللَّهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَارًا، كمَا شَغَلُونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى حتَّى غَابَتِ الشَّمْسُ )) .

Dari ‘Ali bin Abī Ṭālib radhiyallāhu ‘anhu:

Bahwa Nabi ﷺ bersabda pada hari Perang Khandaq:

"Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah-rumah mereka dengan api, karena mereka telah menyibukkan kami dari shalat al-wusṭhā (shalat pertengahan), hingga matahari terbenam."

وفي لفظٍ لِمسلمٍ: (( شَغَلونَا عَنِ الصَّلَاةِ الْوُسْطَى؛ صَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ صَلَّاهَا بَيْنَ المَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ )) .

Dalam riwayat Muslim:

"Mereka telah menyibukkan kami dari shalat al-wusṭā, yaitu salat Ashar, lalu beliau (Nabi ﷺ) menunaikannya di antara Maghrib dan Isya." 

ولهُ عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ مسعودٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: حَبَسَ الْمُشْرِكُونَ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ، حتَّى احْمَرَّتِ الشَّمْسُ أَوِ اصْفَرَّتْ. فقالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( شَغَلُونَا عَن الصَّلَاةِ الْوُسْطَى؛ صَلَاةِ الْعَصْرِ، مَلأَ اللَّهُ أَجْوَافَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا. أوْ: (( حَشَا اللَّهُ أَجْوَافَهُمْ وَقُبورَهُمْ نَارًا )) .

Dan dalam riwayat dari ‘Abdullāh bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu:

"Orang-orang musyrik telah menahan Rasulullah ﷺ dari shalat Ashar hingga matahari memerah atau menguning. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

'Mereka telah menyibukkan kami dari salat al-wusṭhā, yaitu salat Ashar.

Semoga Allah memenuhi rongga-rongga tubuh dan kubur mereka dengan api.'

Atau beliau bersabda: 'Semoga Allah memenuhi perut dan kubur mereka dengan api.'"

#. Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya salat Ashar, yang disebut oleh Nabi ﷺ sebagai shalat al-wusṭhā (shalat pertengahan). Doa kecaman dari Nabi ﷺ ini datang karena kaum musyrikin menahan beliau dari menunaikan salat tepat waktu dalam kondisi perang.

 

Kosakata: 

Lafal (الخَنْدَقُ) "khondaq" : adalah Parit yang digali oleh Nabi ﷺ mengelilingi kota Madinah dari arah timur sebagai bentuk pertahanan menghadapi serangan musuh ketika mereka mengepung beliau.

Lafal (الوُسْطَى) "al wustha" : Artinya yang paling utama, yaitu shalat Asar.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Pertama: Boleh mengakhirkan shalat dari waktunya jika tidak memungkinkan untuk menunaikannya tepat waktu, dan hal ini terjadi sebelum disyariatkannya shalat khauf (shalat dalam kondisi bahaya/perang).

Kedua: Siapa yang lupa shalat, maka hendaknya ia melaksanakannya ketika ia mengingatnya.

Ketiga: Boleh berdoa keburukan atas orang yang zalim.

 

 

Hadis ke Empat Puluh Sembilan:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: أَعْتَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بالعِشَاءِ، فَخرجَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، فقالَ: الصَّلَاةَ يا رَسُولَ اللَّهِ، رَقَدَ النِّسَاءُ والصِّبْيَانُ. فَخَرَجَ- وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ - يَقُولُ: (( لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي- أَو عَلَى النَّاسِ- لأَمَرْتُهُمْ بهذه الصَّلاةِ هذِهِ السَّاعَةَ )) .

Dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās radhiyallāhu ‘anhumā, ia berkata:

"Nabi ﷺ pernah mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya (hingga larut malam). Maka ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu keluar dan berkata: “Shalat, wahai Rasulullah! para wanita dan anak-anak telah tertidur.’

Lalu Rasulullah ﷺ keluar — sementara air masih menetes dari kepalanya — seraya bersabda:

‘Seandainya tidak memberatkan umatku — atau manusia — niscaya aku akan perintahkan mereka untuk melaksanakan shalat ini (Isya) pada waktu seperti ini.’"

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Pertama: Bahwa waktu yang lebih utama untuk shalat Isya adalah diakhirkan, selama tidak menimbulkan kesulitan atau memberatkan jamaah.

Kedua: Hadis ini menunjukkan kesempurnaan kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ kepada umatnya, karena beliau tidak ingin membebani mereka meskipun waktu yang diakhirkan itu lebih utama.

 

 

"Bab tentang Sebagian Hal yang Makruh dalam Shalat"

   

#. Makruh di sini berarti perbuatan yang sebaiknya ditinggalkan dalam shalat karena bertentangan dengan kesempurnaannya, meskipun tidak membatalkannya.

 

Hadis ke Lima Puluh:

 عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا: عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ وَحَضَرَ الْعَشَاءُ، فابْدَؤُوا بالْعَشَاءِ )) . وعن ابنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا نحوَهُ.

Dari ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:

“Apabila iqamah shalat telah dikumandangkan dan hidangan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam itu.”

 

 

Hadis ke Lima Puluh Satu:

ولِمسلمٍ عنهَا رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: سمعتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: (( لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ، وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الأَخْبَثَانِ )) .

Dan dalam riwayat Muslim darinya (ʿĀisyah) raḍiyallāhu ʿanhā, ia berkata:

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak sah (tidak sempurna) shalat ketika hidangan telah tersedia, dan tidak pula ketika seseorang menahan dua hal yang kotor (buang air besar dan buang air kecil).”

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:  

Pertama: Bahwa apabila makanan atau minuman telah tersedia pada waktu shalat, maka keduanya didahulukan atas shalat selama waktu shalat belum sempit.

Kedua: Diambil dari makna ini bahwa kekhusyukan itu dianjurkan dalam shalat. 

 

 

"Bab Waktu-waktu Larangan" 

 

 

Hadis ke Lima Puluh Dua:

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: شَهِدَ عِنْدِي رِجالٌ مَرْضِيُّونَ- وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي: عُمَرُ- أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَن الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ، حتَّى تُشْرِقَ الشَّمْسُ، وَبَعْدَ الْعَصْرِ حتَّى تَغْرُبَ )) .

Dari ʿAbdullāh bin ʿAbbās raḍiyallāhu ʿanhumā, ia berkata:

“Telah bersaksi di hadapanku beberapa orang yang terpercaya – dan yang paling aku percayai di antara mereka adalah ʿUmar – bahwa Rasulullah ﷺ melarang shalat setelah Subuh hingga matahari terbit, dan setelah Ashar hingga matahari terbenam.”

 

 

Hadis ke Lima Puluh Tiga:

عنْ أبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، عنْ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حتَّى تَرْتَفعَ الشَّمْسُ، وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ )) .

Dari Abu Saʿīd al-Khudrī raḍiyallāhu ʿanhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

“Tidak ada shalat setelah Subuh hingga matahari meninggi, dan tidak ada shalat setelah Ashar hingga matahari terbenam.”

وفي البَابِ عنْ عَلِيِّ بنِ أبِي طالبٍ، وعبدِ اللَّهِ بنِ مسعودٍ، وعبدِ اللَّهِ بنِ عمَرَ، وعبدِ اللَّهِ بنِ عمرِو بنِ العاصِ، وأَبِي هُرَيْرَةَ، وسَمُرةَ بنِ جُنْدُبٍ، وسلَمَةَ بنِ الْأَكْوَعِ، وزيدِ بنِ ثابِتٍ، ومعاذِ بنِ عَفْراءَ، وكَعْبِ بنِ مُرَّةَ، وأَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِيِّ، وعَمْرِو بنِ عَبسةَ السُّلَمِيِّ، وعَائِشَةَ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ، والصُّنابَحيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، ولَمْ يَسْمَعْ عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Dalam bab ini (juga diriwayatkan) dari ʿAlī bin Abī Ṭālib, ʿAbdullāh bin Masʿūd, ʿAbdullāh bin ʿUmar, ʿAbdullāh bin ʿAm'ri bin ʿĀṣh, Abu Hurairah, Samurah bin Jundub, Salamah bin Akwaʿ, Zaid bin Thābit, Muʿādh bin ʿAfrāʾ, Kaʿab bin Murrah, Abu Umāmah al-Bāhilī, ʿAm'ri bin ʿAbasah as-Sulamī, ʿĀisyah – semoga Allah meridai mereka – dan dari Ṣunābiḥī raḍiyallāhu ʿanhu, namun ia tidak mendengar langsung dari Nabi ﷺ. 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Larangan shalat sunnah yang tidak memiliki sebab setelah shalat Subuh hingga matahari meninggi kira-kira setinggi tiga tombak, dan setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam; hal ini agar tidak menyerupai kaum kafir pada waktu ibadah mereka.

 

Kembali 9 | IndeX | Lanjut 11

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar