Selasa, 12 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 9 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 8 | IndeX | Lanjut 10

 

 

(( بابُ المَوَاقِيتِ ))

Bab tentang Waktu-waktu (Salat) 

 

Hadis ke Empat Puluh Empat:

عنْ أبِي عَمْرٍو الشَّيبانيِّ -واسمُهُ سَعْدُ بنُ إياسٍ- قالَ: حدَّثَنِي صاحبُ هذهِ الدارِ - وأشارَ بيدهِ إلى دارِ عبدِ اللَّهِ بنِ مسعودٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ- قالَ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: (( الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا )) قلتُ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: (( بِرُّ الوَالِدَينِ )) قلتُ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: (( الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ )) قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَو اسْتَزدْتُهُ لَزَادَنِي.

Dari Abu ‘Am'ri asy-Syaibānī —namanya adalah Sa‘du bin Iyās— ia berkata:

"Telah menceritakan kepadaku pemilik rumah ini" (sambil ia menunjuk dengan tangannya ke rumah ‘Abdullah bin Mas‘ūd radhiyallāhu ‘anhu), ia berkata:

Aku pernah bertanya kepada Nabi ﷺ: 'Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah?'

Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya."

Aku bertanya: 'Lalu apa lagi?'

Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua."

Aku bertanya: 'Lalu apa lagi?'

Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah."

Ia (perawi) berkata: Rasulullah ﷺ menyampaikan tiga hal itu kepadaku. Dan seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau akan menambahkannya untukku."

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Pertama: Amalan yang paling dicintai Allah secara berurutan adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, Jihad di jalan Allah Ta‘ālā.

Kedua: Amalan-amalan itu memiliki tingkatan yang berbeda keutamaannya, tergantung pada besarnya manfaat dan pengaruhnya. 

 

 

Hadis ke Empat Puluh Lima:

عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: لقدْ كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصلِّي الْفَجْرَ، فَيَشْهَدُ مَعَهُ نِسَاءٌ مِن المُؤْمِنَاتِ، مُتَلَفِّعَاتٌ بِمُرُوطِهِنَّ، ثُمَّ يَرْجِعْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ. ما يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِن الْغَلَسِ )) .

Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:

"Sungguh Rasulullah ﷺ biasa melaksanakan shalat Subuh, lalu para wanita dari kalangan orang-orang beriman ikut shalat bersamanya. Mereka menutup tubuh mereka dengan kain-kain panjang "murūṭ" [المُرُوط], lalu mereka kembali ke rumah-rumah mereka, sementara tidak ada seorang pun yang mengenali mereka karena (waktu itu) masih dalam keadaan gelap "ghalas" [الْغَلَسِ]."

المُرُوطُ: أَكْسِيَةٌ مِن خَزٍّ , وَتَكُونُ مِن صُوفٍ

Lafadz [المُرُوط] "al muruuth" : adalah Kain-kain besar atau selendang yang terbuat dari wol atau sejenisnya.

ومُتَلَفِّعَاتٌ: مُتَلَفِّحَاتٌ

Lafadz [مُتَلَفِّعَاتٌ] "mutalaffiaat" : adalah Bentuk jamak dari mutalaffi‘ah, yaitu orang yang membungkus seluruh tubuhnya dengan kain.

والغَلَسُ: اخْتِلَاطُ ضِيَاءِ الصُّبْحِ بِظُلْمَةِ اللَّيْلِ

Lafadz [الغَلَسِ] "ghalas" : adalah Keadaan ketika cahaya Subuh mulai muncul, namun masih bercampur dengan gelapnya malam — yaitu waktu antara gelap dan terang.

 

Kosakata: 

Lafadz (مُتَلَفِّعَاتٌ) "mutalaffiaat" : adalah "lifā‘" [اللِّفَاعُ ] yaitu kain yang menutupi seluruh tubuh. [تَلَفَّعَ] "Talaffa‘a" dengan kain artinya membungkus atau menyelubungi diri dengannya.

Lafadz (بِمُرُوطِهِنَّ): Bentuk tunggalnya adalah "mirṭ" [مِرْطٌ], yaitu sejenis selimut atau kain penutup (mantel).

Lafadz (الغَلَسِ): Dengan membuka huruf ghain dan lām, artinya adalah percampuran antara gelap malam dan cahaya pagi (yakni waktu antara gelap dan fajar).

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Pertama: Disunnahkan untuk menyegerakan shalat Subuh di awal waktunya, ketika langit masih gelap.

Kedua: Dibolehkannya wanita menghadiri shalat berjamaah di masjid, selama tidak menimbulkan fitnah. Syaratnya adalah mereka menghindari perhiasan, berdandan, dan menampakkan aurat atau tabarruj (berhias berlebihan).

 

 

Hadis ke Empat Puluh Enam:

عنْ جابرِ بنِ عبدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: كانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ، وَالْعَصْرَ، وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ، وَالمَغْرِبَ: إِذَا وَجَبَتْ، وَالْعِشَاءَ: أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا. إِذَا رَآهُم اجْتَمَعُوا: عَجَّلَ، وَإِذَا رَآهُمْ أبْطَؤُوا: أَخَّرَ. وَالصُّبْحَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيها بِغَلَسٍ )) .

"Nabi ﷺ biasa melaksanakan shalat Zuhur di waktu panas yang menyengat (hājirah) [الْهَاجِرَةِ], salat Asar ketika matahari masih terang benderang (bersih dari warna kuning), shalat Maghrib saat matahari telah terbenam, dan shalat Isya kadang beliau percepat, kadang beliau lambatkan. Jika beliau melihat orang-orang sudah berkumpul, beliau menyegerakan; dan jika mereka terlambat datang, beliau mengakhirkan. Adapun shalat Subuh, beliau ﷺ melaksanakannya dalam keadaan masih gelap (ghalas)."

 

Kosakata: 

lafadz (الهَاجِرَةُ): Waktu panas yang sangat menyengat setelah matahari tergelincir (setelah zawāl) [الزَّوَالِ].

lafadz (نَقِيَّةٌ): Bersih dan terang, belum ada kekuningan pada sinar matahari.

lafadz (وَجَبَتْ): Matahari benar-benar telah terbenam dan masuk ke cakrawala (lenyap dari pandangan).

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Pertama: Keutamaan menyegerakan shalat lima waktu di awal waktunya, kecuali shalat Isya.

Kedua: Waktu yang paling utama untuk shalat Isya adalah dilambatkan hingga pertengahan malam, selama tidak memberatkan jamaah (makmum).

 

 

Hadis ke Empat Puluh Tujuh:

عنْ أبِي المِنْهالِ- سَيَّارِ بنِ سلامَةَ- قالَ: دَخَلْتُ أَنَا وأَبِي عَلَى أَبِي بَرْزَةَ الأَسْلَمِيِّ رضى اللَّهُ عنهُ. فقالَ لهُ أَبِي: كَيْفَ كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي المَكْتُوبَةَ؟ فقالَ: كانَ يُصَلِّي الهَجِيرَ- الَّتِي تَدْعُونَهَا الْأُولَى- حِينَ تَدْحَضُ الشَّمْسُ. وَيُصَلِّي الْعَصْرَ، ثُمَّ يَرْجِعُ أَحَدُنَا إلى رَحْلِهِ في أَقْصَى المَدِينَةِ، وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ. وَنَسِيتُ مَا قَالَ في المغْرِبِ. وَكَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ مِن الْعِشَاءِ، الَّتِي تَدْعُونَهَا الْعَتَمَةَ. وَكَان يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا، وَكَانَ يَنْفَتِلُ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حِينَ يَعْرِفُ الرَجُلُ جَلِيسَهُ. يَقْرَأُ بِالسِّتينَ إلى المائَةِ )) .

Dari Abul Minhal —Sayyār bin Salāmah— ia berkata:

"Aku dan ayahku pernah masuk menemui Abu Barzah al-Aslamī radhiyallāhu ‘anhu. Lalu ayahku bertanya kepadanya:

‘Bagaimana Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat-shalat fardhu [wajib]?’

Ia menjawab: 'Beliau biasa shalat hajīrah [الهَجِيرَ] —yang kalian sebut sebagai shalat ẓuḥur— ketika matahari telah tergelincir (dari tengah langit).

Dan beliau melaksanakan shalat Asar, kemudian salah satu dari kami bisa pulang ke kemahnya di ujung kota Madinah, dan matahari masih terang (belum tenggelam).

(Aku lupa apa yang ia katakan tentang salat Maghrib).

Dan beliau suka mengakhirkan salat Isya —yang kalian sebut sebagai ‘atamah [الْعَتَمَةَ].

Beliau tidak menyukai tidur sebelum Isya, dan juga berbicara (berlama-lama) setelahnya.

Dan beliau selesai dari shalat Subuh ketika seseorang sudah bisa mengenali orang yang duduk di sampingnya (karena mulai terang),

dan beliau membaca antara 60 sampai 100 ayat dalam shalat tersebut.’”

 

Kosakata: 

Lafadz [المَكْتُوبَةَ] : Artinya shalat yang diwajibkan, yaitu lima shalat fardhu.

Lafadz [الأُولَى] : Maksudnya shalat Zuhur, karena itu adalah shalat pertama yang ditegakkan oleh Jibril bersama Nabi ﷺ.

Lafadz [تَدْحَضُ] : Artinya matahari tergelincir dari tengah langit (yakni masuk waktu Zuhur).

Lafal [العَتَمَةَ] : Dengan huruf-huruf yang dibaca jelas (muḥarrakah), artinya gelap malam setelah hilangnya cahaya senja (syafaq), yaitu waktu salat Isya.

Lafal [يَنْفَتِلُ منْ صلاةِ الغداةِ] : Artinya berpaling (selesai) dari salat Subuh.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:  

Pertama: Penjelasan tentang waktu-waktu shalat lima waktu, dan bahwa yang paling utama adalah menyegerakan pelaksanaannya, kecuali Isya — yang lebih utama diakhirkan sampai pertengahan malam, selama tidak menyulitkan makmum.

Kedua: Makruh (tidak disukai) tidur sebelum shalat Isya, dan makruh berbicara setelahnya tanpa keperluan syar‘i.

Ketiga: Dianjurkan melaksanakan shalat Subuh saat masih gelap (ghalas), dan diperbolehkan memanjangkan bacaan dalam salat tersebut.

 

Kembali 8 | IndeX | Lanjut 10

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar