خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 40 | IndeX | Lanjut 42
بابُ المَوَاقِيتِ
Bab Waktu-Waktu (Miqat)
Hadist ke Dua Ratus Enam:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ لأَهْلِ المَدِينَةِ: ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلأَهْلِ الشَّامِ: الْجُحْفَةَ، ولأَهْلِ نَجْدٍ: قَرْنَ المَنَازِلِ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ: يَلَمْلَمَ، (( هُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ، مِمَّنْ أَرادَ الْحَجَّ والْعُمْرَةَ، وَمَنْ كانَ دُونَ ذَلِكَ، فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ )) .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW menentukan waktu (miqat) untuk:
- Penduduk Madinah: Dhul-Hulaifah
- Penduduk Syam: Al-Juhfah
- Penduduk Najed: Qarnul-Manazil
- Penduduk Yaman: Yalamlam
Beliau bersabda: "Miqat-miqat ini berlaku bagi penduduknya dan bagi siapa saja yang melewatinya dari arah lain yang hendak melaksanakan haji atau umrah. Bagi yang berada di dalam miqat, maka miqatnya adalah tempat tinggalnya, termasuk penduduk Mekah yang miqatnya adalah Mekah sendiri."
Hadist ke Dua Ratus Tujuh:
وعنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( يُهِلُّ أَهْلُ المَدِينَةِ مِنْ ذِي الْحُلَيْفَةِ، وَأَهْلُ الشَّامِ: مِن الْجُحْفَةِ، وَأَهْلُ نَجْدٍ: مِنْ قَرْنٍ )) .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Penduduk Madinah memulai ihram dari Dhul-Hulaifah, penduduk Syam dari Al-Juhfah, dan penduduk Najed dari Qarnin."
قالَ عبدُ اللَّهِ: وَبَلَغَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( وَمُهِلُّ أَهْلِ الْيَمَنِ: مِنْ يَلَمْلَمَ )) .
Abdullah bin Umar berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah SAW juga bersabda: 'Penduduk Yaman memulai ihram dari Yalamlam'."
Kosakata:
لفظ (ذو الحُلَيْفَةِ) : تصغيرُ الحلفةِ، نبتٌ معروفٌ، وهيَ مِيقاتٌ، تُسَمَّى الآنَ (آبَارَ عَلِيٍّ) وتَبْعُدُ بنحوِ (٤٠٣ كيلو) ، ميقاتُ أهلِ المدينةِ.
- Dhul-Hulaifah: Sekarang dikenal sebagai Abar Ali, berjarak sekitar 403 km dari Mekah. Miqat bagi penduduk Madinah.
لفظ (الجُحْفَةَ) : ويُحْرِمُ الناسُ منْ رابغَ الآنَ؛ لأنَّ الجُحْفَةَ خَرِبَتْ، وتَبْعُدُ رابغُ عنْ مَكَّةَ بنحوِ (٢٠١ كيلو) . ميقاتُ أهلِ الشامِ ومصرَ ومَنْ في سَمْتِهِم.
- Al-Juhfah: Sekarang orang-orang memulai ihram dari Rabigh karena Al-Juhfah telah rusak. Rabigh berjarak sekitar 201 km dari Mekah. Miqat bagi penduduk Syam, Mesir, dan sekitarnya.
لفظ (يَلَمْلَمَ) : منْ جبالِ تِهامةَ، يَبْعُدُ عنْ مَكَّةَ بِنَحْوِ (٨٠ كيلو) ، ميقاتُ أهلِ اليمنِ والهندِ.
- Yalamlam: Berjarak sekitar 80 km dari Mekah. Miqat bagi penduduk Yaman dan India.
لفظ (قَرْنِ) : يُسَمَّى الآنَ (السيلَ الكبيرَ) ويَبْعُدُ عنْ مَكَّةَ بِنَحْوِ (٨٠ كيلو) ، ميقاتُ أهلِ نجدٍ والشرقِ.
- Qarn: Sekarang dikenal sebagai As-Sail Al-Kabir, berjarak sekitar 80 km dari Mekah. Miqat bagi penduduk Najd dan Timur.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Tempat-tempat ini ditetapkan sebagai miqat, dan tidak halal bagi yang hendak melaksanakan ibadah haji atau umrah melewatinya tanpa ihram.
Kedua: Bagi yang tinggal di dalam miqat, miqatnya adalah tempat tinggalnya. Penduduk Mekah memulai ihram dari Mekah untuk haji, tetapi untuk umrah, mereka memulai ihram dari luar Mekah (hil).
Ketiga: Orang yang memasuki Mekah bukan untuk haji atau umrah tidak wajib ihram.
Keempat: Allah memberikan kemudahan dengan menetapkan miqat untuk setiap wilayah, sehingga tidak memberatkan dengan satu miqat untuk semua.
Kelima: Penetapan miqat menunjukkan penghormatan terhadap Baitullah dan area suci di sekitarnya.
Keenam: Penetapan miqat menunjukkan mu'jizat Nabi SAW, karena beliau telah mengetahui bahwa penduduk wilayah-wilayah tersebut akan masuk Islam dan melaksanakan haji dari miqat yang telah ditentukan.
بابُ ما يَلْبَسُهُ المُحْرِمُ من الثيابِ
Bab Pakaian yang Harus Dihindari oleh Orang yang Ber-Ihram
Hadist ke Dua Ratus Delapan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، أَنَّ رَجُلًا قالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، مَا يَلْبَسُ المُحرِمُ مِن الثِّيَابِ؟ قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( لَا يَلْبَسُ الْقُمُصَ، وَلَا الْعَمَائِمَ، وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ، وَلَا الْبَرَانِسَ، وَلَا الْخِفَافَ، إِلَّا أَحَدٌ لَا يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَس الْخُفَّيْنِ، وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِن الْكَعْبَيْنِ، وَلَا يَلْبَسُ مِن الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ أَو وَرْسٌ )) .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: "Wahai Rasulullah, pakaian apa yang boleh dikenakan oleh orang yang sedang berihram?" Rasulullah SAW bersabda:
Janganlah ia mengenakan qamis (kemeja), sorban, celana panjang, dan selendang yang menutupi kepala dan bahu. Jangan pula mengenakan sepatu, kecuali jika seseorang tidak menemukan sandal, maka ia boleh mengenakan sepatu bot dan memotongnya hingga di bawah mata kaki. Janganlah ia mengenakan pakaian yang terkena minyak wangi "za`faran" atau "wars".
وللبخاريِّ: (( وَلَا تَنْتَقِبُ المرأةُ وَلَا تَلْبَسُ الْقُفَّازَيْنِ )) .
Dalam riwayat Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW juga bersabda:
"Dan janganlah wanita yang sedang berihram memakai cadar dan sarung tangan."
Kosakata:
Lafadz (البَرَانِسَ) "Al-Baranis" : pakaian yang bagian kepalanya menyatu dengan badannya, seperti yang dipakai oleh orang-orang Maghrib (Maroko) sekarang.
Lafadz (الخِفَافُ) "Al-Khifaf" : jamak dari khuff, yaitu alas kaki yang menutupi kaki hingga pertengahan betis (sepatu bot).
Lafadz (الجَوْرَبُ) "Al-Jawrab" : sesuatu yang menutupi kedua mata kaki (kaos kaki).
Lafadz (وَرْسٌ) "Wars" : dengan huruf wāw berharakat fathah dan rā’ disukun, yaitu tumbuhan berwarna kuning yang digunakan untuk mewarnai pakaian, memiliki aroma yang harum.
Lafadz (ولا تَنْتَقِبُ) "wala tantaqib" : adalah niqāb atau cadar ketika seorang wanita menutupi wajahnya dengan kain penutup (khammir) [خَمِّرَ] dan membuat dua lubang untuk kedua matanya.
Lafadz (القُفَّازَيْنِ) "Quffaazayn" : sesuatu yang dibuat untuk kedua tangan dari kain atau kulit sebagai pelindung dari dingin (sarung tangan).
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Hendaknya pertanyaan itu bersifat umum dan mencakup semua hal, dan jika penanya tidak mampu menyusunnya dengan baik, maka pihak yang ditanya seharusnya membenarkan atau memperbaikinya.
Kedua: Pakaian yang wajib dijauhi oleh orang yang berihram jumlahnya sedikit dan terbatas, sedangkan pakaian yang diperbolehkan baginya sangat banyak dan beragam. Di antara pakaian yang diharamkan adalah qamīs (baju berjahit), dan penyebutan ini menunjukkan juga hal-hal lain yang semakna dengannya. Termasuk juga barānis (jubah berkepala) dan ‘imāmah (sorban), dan penyebutannya menunjukkan larangan terhadap segala sesuatu yang menutupi kepala. Termasuk pula khifāf (sepatu kulit) dan segala yang menutupi mata kaki, hal ini berlaku bagi laki-laki.
Adapun wanita, maka diperbolehkan bagi mereka memakai pakaian berjahit dan menutupi kepala.
Ketiga: Diharamkan bagi laki-laki dan perempuan yang berihram untuk menggunakan wars (pewarna kuning), za‘farān (safron), dan segala jenis wewangian yang semakna dengannya.
Keempat: Diharamkan bagi wanita yang berihram untuk menutupi wajahnya, karena ihramnya terdapat pada wajahnya, sebagaimana diharamkan pula baginya memakai sarung tangan.
Hadist ke Dua Ratus Sembilan:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: سمعتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ بِعَرَفَاتٍ: (( مَنْ لَمْ يَجِدْ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ، وَمِنْ لَمْ يَجِدْ إزَارًا فَلْيَلْبَسْ سَرَاوِيلَ )) يعنِي المُحْرمَ.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA, bahwa ia berkata: "Aku mendengar Nabi SAW berkhutbah di Arafah, beliau bersabda:
'Barangsiapa yang tidak menemukan dua pasang sandal, maka hendaklah ia memakai dua sepatu bot. Dan barangsiapa yang tidak menemukan kain ihram (izar), maka hendaklah ia memakai celana panjang (sarawil).'"
Maksudnya adalah untuk orang yang sedang berihram.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Khutbah imam pada hari Arafah disyariatkan untuk menjelaskan tentang manasik haji
Kedua: Orang yang tidak memiliki sandal boleh memakai sepatu bot meskipun menutupi mata kaki
Ketiga: Orang yang tidak memiliki kain ihram boleh memakai celana panjang, dan tidak ada fidyah (tebusan) bagi orang yang memakai sepatu bot atau celana panjang, sebagai bentuk keringanan dari Allah Yang Maha Bijaksana dan Penyayang. Hadits ini juga menunjukkan bahwa hadits ini dapat menghapus hadits sebelumnya tentang memotong sepatu bot
Kembali 40 | IndeX | Lanjut 42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar