Rabu, 06 Mei 2026

Kitab Tauhid : 11 (Bab Tentang keutamaan tauhid )

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 10 | IndeX |Lanjut 12

 

 

باب فضل التوحيد وما يُكفّرُ مِنَ الذنوب 

Bab Tentang Keutamaan Tauhid Dan (Tauhid) Dapat Menghapus Dosa-Dosa


 

وَعَنْ أَبِي سعيد الخدري - رضي الله عنه - : أن النبيَّ ﷺ قالَ : « قَالَ مُوسَى : يَا رَبِّ عَلَّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ ، قَالَ : قُلْ يَا مُوسَى : لا إله إلا الله، قال : يَارَبِّ كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُونَ هَذَا ، قَالَ : يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمواتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ في كفَّةِ ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ في كِفَّةٍ مَالتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ » رَواهُ ابن حبان والحاكم وصححه .

Diriwayatkan Dari Abu Sa‘id Al-Khudri رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku dapat mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu dengannya.’

Allah berfirman: ‘Wahai Musa, ucapkanlah: [لا إله إلا الله] (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).’

Musa berkata: ‘Wahai Tuhanku, semua hamba-Mu juga mengucapkan ini.’

Allah berfirman: ‘Wahai Musa, seandainya tujuh langit beserta seluruh penghuninya selain Aku, dan tujuh bumi diletakkan pada satu sisi timbangan, dan kalimat [لا إله إلا الله] diletakkan pada sisi yang lain, niscaya kalimat [لا إله إلا الله] lebih berat daripada semuanya.’”
(HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim, dan beliau menshahihkannya)

أبو سعيد الخدري : هو أبو سعيد الخدري سعد بن مالك بن سنان الخزرجي الأنصاري الخدري نسبة إلى بني خدرة ، صحابي جليل وابنُ صحابي روى عَنِ النبي ﷺ أحاديث كثيرة مات سنة ٧٤ هـ . 

Lafadz [أبو سعيد الخدري] : yaitu Sa‘id bin Malik bin Sinan Al-Khazraji Al-Anshari, dijuluki Al-Khudri karena dinisbatkan kepada Bani Khudrah. Beliau adalah seorang sahabat yang mulia, dan juga putra dari seorang sahabat. Ia meriwayatkan banyak hadis dari Nabi ﷺ. Beliau wafat pada tahun 74 H.

موسى : هو موسى بن عمرانَ رسولُ اللهِ إلى بني إسرائيل وكليم الرحمنِ . 

Lafadz [موسى] : yaitu Musa bin ‘Imran, utusan Allah kepada Bani Israil, dan orang yang diajak berbicara langsung oleh Ar-Rahman (Allah).

أذكرُك : أثني عليك وأحمدكَ به . 

Lafadz [أذكرُك] : maksudnya aku memuji-Mu dan menyanjung-Mu dengannya.

وأدعوك به : أتوسل به إليك إذا دعوتك . 

Lafadz [وأدعوك به] : maksudnya aku menjadikannya sebagai wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada-Mu ketika aku berdoa kepada-Mu.

يقولون هذا : أي هذه الكلمة . 

Lafadz [يقولون هذا] : maksudnya yaitu kalimat tersebut (لا إله إلا الله).

وعامر هُنَّ غيري : مَنْ فِيهِن مِنَ العَمارِ غَيرُ اللَّهِ . 

Lafadz [وعامر هُنَّ غيري] : maksudnya: semua makhluk yang berada di dalamnya dari para penghuni selain Allah.

في كفة : أي لو وُضِعَتْ هذه المخلوقاتُ في كفةٍ مِنْ كَفَّتَي الميزان وَوُضِعَتْ هذه الكلمةُ في الكِفَّة الأخرى .

Lafadz [في كفة] : maksudnya seandainya makhluk-makhluk tersebut diletakkan pada salah satu sisi timbangan, dan kalimat ini (لا إله إلا الله) diletakkan pada sisi yang lainnya.

مالت بِهِنَّ : رَجَحَتْ عليهن . 

Lafadz [مالت بِهِنَّ] : maksudnya: lebih unggul dan lebih berat dibandingkan dengan mereka (semua makhluk tersebut).

المعنى الإجمالي للحديثِ : أنَّ موسى عليه الصلاة والسلام طلب مِنْ رَبِّه عزَّ وجلَّ أن يعلِّمَه ذِكْراً يُثني عليه بِهِ ويتوسل إليه بِهِ ، فأرشدَهُ اللهُ أن يقول : لا إله إلا الله فأدرك موسى أنَّ هذه الكلمة كثيرٌ ذِكرها على السنة الخلق ، وهو إنما يريد أن يخُصَّه بذكرٍ يمتاز به عَنْ غيرِهِ ، فَبَيَّنَ اللهُ له عظم فضل هذا الذكرِ الذي أرشده إليه ، وأنَّه لا شيء يعادِلُه في الفضل . 

Makna secara global dari hadist ini : bahwa Nabi Musa عليه السلام meminta kepada Tuhan-nya yang maha mulia lagi maha agung agar diajarkan suatu dzikir yang dengannya ia dapat memuji-Nya dan bertawasul (mendekatkan diri) kepada-Nya. Maka Allah membimbingnya untuk mengucapkan [لا إله إلا الله].

Lalu Musa memahami bahwa kalimat ini banyak diucapkan oleh manusia, sementara ia menginginkan dzikir khusus yang membedakannya dari yang lain.

Maka Allah menjelaskan kepadanya betapa agungnya keutamaan dzikir yang telah Dia tunjukkan itu, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamainya dalam keutamaan.

مناسبة الحديث للبابِ : أَنَّ فيه بَيَانَ فضل كلمة التوحيد ، وأنَّه لا شيء يعادِلُهَا في الفضيلة . 

Kesesuaian hadist ini dengan bab : bahwa di dalamnya terdapat penjelasan tentang keutamaan kalimat tauhid, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat menandinginya dalam keutamaan.

ما يُستفادُ مِنَ الحديثِ :

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

۱ - عظم فضل لا إله إلا الله ، لما تتضمَّنُه مِنَ التوحيد والإخلاص .

1. Besarnya keutamaan kalimat [لا إله إلا الله], karena kandungannya berupa tauhid dan keikhlasan.

[تتضمَّنُه : mengandung, mencakup]

٢ - فضلُ موسى عليه السلام وحرصه على التقرّب إلى اللهِ .

2. Keutamaan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kesungguhan beliau dalam mendekatkan diri kepada Allah.

٣ - أنَّ العبادة لا تكون إلا بما شرعه الله وليس للإنسان أن يبتدع فيها مِنْ عندِ نفسِهِ ، لأَنَّ موسى طَلَبَ مِنْ رَبِّهِ أَنْ يَعلِّمَه مَا يَذكُرُهُ بِهِ .

3. Bahwa ibadah tidak boleh dilakukan kecuali dengan apa yang telah disyariatkan oleh Allah, dan tidak boleh bagi manusia mengada-adakan (ibadah) dari dirinya sendiri. Karena Nabi Musa meminta kepada Tuhannya agar Dia mengajarkan kepadanya apa yang bisa ia gunakan untuk berdzikir kepada-Nya.
[يبتدع : manambahkan, membuat baru]

٤ - أنَّ ما اشتدت الحاجةُ والضرورة إليه كان أكثر وجوداً ، فإنَّ لا إله إلا اللهُ لماَّ كانَ العالم مضطراً إليها كانت أكثر الأذكار وجوداً وأيسرها حصولاً .

4. Bahwa sesuatu yang sangat dibutuhkan dan darurat, biasanya keberadaannya lebih banyak dan mudah didapat. Maka ketika kalimat [لا إله إلا اللهُ] sangat dibutuhkan oleh manusia, ia menjadi dzikir yang paling banyak ada dan paling mudah untuk diamalkan.

[اشتدت : sangat]
[الضرورة : darurat, keterpaksaan, mendesak]
[وجوداً : keberadaan, eksistensi, terwujud]
[مضطراً : terpaksa, terdesak, darurat]
[حصولاً : hasilnya, tercapainya]

٥ - أنَّ اللهَ فوق السمواتِ لقوله : ( وعامِرَهُنَّ غَيْرِي ) .

5 - Bahwa Allah berada di atas langit-langit, berdasarkan firman-Nya: “dan yang memakmurkan (menghuni) langit-langit itu selain-Ku.”

٦ - أنَّه لابُدَّ في الذكرِ بهذه الكلمةِ مِنَ التلفّظ بها كلّها ، ولا يقتصر على لفظ الجلالة (الله) كما يفعله بعض الجهال .

6. Bahwa dalam berdzikir dengan kalimat ini harus diucapkan secara lengkap, dan tidak cukup hanya dengan menyebut lafadz “Allah” saja, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak mengetahui.

[التلفّظ : melafalkan, mengucapkan]
[يقتصر : membatasi diri, mencukupkan]
[الجلالة : keagungan, kebesaran, atau kemuliaan]

٧ - إثبات ميزان الأعمال وأنه حقّ .

7. Menetapkan adanya timbangan amal [ميزان] dan bahwa hal itu adalah benar (hak).

٨ - أنَّ الأنبياء يحتاجون إلى التنبيه على فضل لا إله إلا الله .

8. Bahwa para nabi pun membutuhkan pengingat (penjelasan) tentang keutamaan kalimat [لا إله إلا الله].
[يحتاجون : membutuhkan, memerlukan]
[التنبيه : peringatan, teguran]

۹ - أنَّ الأَرضين سبع كالسمواتِ .

9. Bahwa bumi itu ada tujuh lapis sebagaimana langit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar