التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 4e | IndeX | Lanjut 5b
الباب الخامس
Bab kelima
في آداب حملة القرآن
Tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
قد
تقدم جمل منه في الباب الذي قبل هذا، ومن آدابه أن يكون على أكمل الأحوال،
وأكرم الشمائل، وأن يرفع نفسه عن كل ما نهىٰ القرآن عنه إجلالا للقرآن،
وأن يكون مصونا عن دنيء الاكتساب، شريف النفس، مرتفعا على الجبابرة،
والجفاة من أهل الدنيا، متواضعا للصالحين، وأهل الخير والمساكين، وأن يكون
متخشعا ذا سكينة ووقار.
Sebagian dari hal ini telah dijelaskan secara ringkas pada bab sebelumnya.
Dan termasuk adab seorang penuntut (atau pengajar) Al-Qur’an adalah hendaknya ia berada dalam keadaan yang paling sempurna dan memiliki akhlak yang paling mulia.
Hendaknya ia menjaga dirinya dari segala sesuatu yang dilarang oleh Al-Qur’an, sebagai bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an.
Dan hendaknya ia menjaga diri dari pekerjaan atau penghasilan yang hina, memiliki jiwa yang mulia, tidak merendahkan diri kepada orang-orang yang zalim dan sombong, serta kepada orang-orang kasar dari kalangan pencinta dunia.
Namun, hendaknya ia bersikap rendah hati kepada orang-orang saleh, orang-orang baik, dan orang-orang miskin.
Dan hendaknya ia menjadi orang yang khusyuk, tenang, dan berwibawa.
[أكرم الشمائل → akhlak yang mulia dan terpuji]
[إجلالا للقرآن → menjaga adab sebagai bentuk memuliakan Al-Qur’an]
[مصونا عن دنيء الاكتساب → menjauh dari cara mencari penghidupan yang rendah atau tercela]
[شريف النفس → memiliki kemuliaan jiwa, tidak hina karena ambisi dunia]
[متخشعا ذا سكينة ووقار → hati yang tunduk kepada Allah, bersikap tenang dan penuh kewibawaan]
فقد
جاء عن عمر بن الخطاب - رضي الله عنه - أنه قال: يا معشر القرّاء ارفعوا
رؤوسكم؛ فقد وضح لكم الطّريق، فاستبقوا الخيرات، لا تكونوا عيالا على
النّاس .
Sungguh telah diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab bahwa beliau berkata:
“Wahai para pembaca Al-Qur’an (para ahli Al-Qur’an), angkatlah kepala-kepala kalian (jangan merasa rendah dan hina); sungguh jalan telah jelas bagi kalian. Maka berlomba-lombalah dalam berbagai kebaikan, dan janganlah kalian menjadi beban bagi manusia.”
[يا معشر القرّاء → maksudnya para pembaca, penghafal, dan orang yang menekuni Al-Qur’an]
[ارفعوا رؤوسكم → jagalah kemuliaan diri; jangan merendahkan diri demi dunia atau menggantungkan kehormatan pada manusia]
[فقد وضح لكم الطريق → jalan kebenaran dan petunjuk melalui Al-Qur’an sudah jelas]
[فاستبقوا الخيرات → gunakan ilmu dan petunjuk itu untuk berlomba dalam amal saleh]
[لا
تكونوا عيالا على الناس → jangan bergantung kepada manusia dalam perkara
yang dapat diusahakan; jagalah kehormatan dan kemandirian]
وعن
عبد الله بن مسعود - رضي الله عنه – قال: ينبغي لحامل القرآن أن يعرف
بليله إذا الناس نائمون، وبنهاره إذا الناس مفطرون، وبحزنه إذا الناس
يفرحون، وببكائه إذا الناس يضحكون، وبصمته إذا الناس يخوضون، وبخشوعه إذا
الناس يختالون .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud bahwa beliau berkata:
“Sepantasnya
bagi seorang pembawa Al-Qur’an (ahlul Qur’an) itu dikenal pada malam
harinya ketika manusia sedang tidur, pada siang harinya ketika manusia
sedang lalai/berhenti dari ibadah, dalam kesedihannya ketika manusia
bergembira, dalam tangisnya ketika manusia tertawa, dalam diamnya ketika
manusia banyak berbicara yang sia-sia, dan dalam kekhusyukannya ketika
manusia sedang bersikap sombong.”
وعن الحسن بن علي - رضي الله عنه – قال: إن من كان قبلكم رأوا القرآن رسائل من ربهم، فكانوا يتدبرونها بالليل ويتفقدونها في النهار .
Diriwayatkan dari Hasan bin Ali bahwa beliau berkata:
“Sesungguhnya
orang-orang sebelum kalian dahulu memandang Al-Qur’an sebagai
surat-surat (pesan) dari Rabb mereka, maka mereka merenunginya pada
malam hari dan mengamalkannya serta memperhatikannya pada siang hari.”
وعن الفضيل بن عياض قال: ينبغي لحامل القرآن أن لا تكون له حاجة إلى أحد من الخلفاء فمن دونهم.
Diriwayatkan dari Fudhail bin Iyadh bahwa beliau berkata:
“Sepantasnya
bagi seorang pembawa Al-Qur’an (ahli Al-Qur’an) itu tidak memiliki
kebutuhan (ketergantungan) kepada siapa pun, baik kepada para khalifah
maupun kepada selain mereka.”
[حامل القرآن → orang yang memikul Al-Qur’an, yaitu yang menghafal, memahami, dan mengamalkannya]
وعنه
أيضا قال: حامل القرآن حامل راية الإسلام، لا ينبغي أن يلهو مع من يلهو،
ولا يسهو مع من يسهو، ولا يلغو مع من يلغو؛ تعظيما لحق القرآن.
Diriwayatkan pula dari beliau (Fudhail bin Iyadh) bahwa beliau berkata:
“Pembawa Al-Qur’an adalah pembawa panji Islam. Maka tidak sepantasnya ia bermain-main bersama orang yang bermain-main, tidak lalai bersama orang yang lalai, dan tidak berbicara sia-sia bersama orang yang berbicara sia-sia; sebagai bentuk pengagungan terhadap hak Al-Qur’an.”
بعده عن التكسب به
Menjauhkan diri dari menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mencari penghasilan (mata pencaharian)
[التكسب
به → mencari keuntungan dunia atau penghasilan dengan menjadikan
Al-Qur’an sebagai alat, misalnya membaca Al-Qur’an untuk upah atau
menjadikannya profesi semata demi dunia]
[فصل] ومن أهم ما يؤمر به أن يحذر كل الحذر من اتخاذ القرآن معيشة يكتسب بها .
[Sub
bab] Dan termasuk perkara yang paling penting yang diperintahkan kepada
seorang penuntut (atau pembawa Al-Qur’an) adalah agar ia sangat
berhati-hati dari menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana mata pencaharian
(untuk mencari penghasilan dan keuntungan dunia).
فقد
جاء عن عبد الرحمن بن شبيل - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله ﷺ :
اقرؤوا القرآن، ولا تأكلوا به ولا تجفوا عنه، ولا تغلوا فيه .
Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Shibayl bahwa beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, janganlah kalian menjadikannya sebagai sarana untuk mencari makan (penghasilan), jangan menjauh darinya, dan jangan pula berlebihan (melampaui batas) di dalamnya.”
[ولا تأكلوا به → jangan menjadikan Al-Qur’an sebagai alat mencari dunia atau penghasilan]
[ولا تجفوا عنه → jangan meninggalkan, melupakan, atau bersikap jauh dari Al-Qur’an]
[ولا تغلوا فيه → jangan berlebih-lebihan, seperti memahami secara ekstrem atau melampaui batas dalam sikap terhadapnya]
وعن
جابر - رضي الله عنه - عن النبي ﷺ : «اقرؤوا القرآن من قبل أن يأتي قوم
يقيمونه إقامة القدح يتعجلونه، ولا يتأجلونه» رواه بمعناه من رواية سهل بن
سعد .
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an sebelum datang suatu kaum yang menegakkannya seperti menegakkan anak panah (yakni hanya sebatas bentuk lahirnya), mereka tergesa-gesa dalam membacanya dan tidak menundanya (tidak mengharapkan pahala akhirat).”
Dan diriwayatkan dengan makna yang sama dari riwayat Sahl bin Sa'd.
[يتعجلونه → mereka tergesa-gesa, ingin hasil dunia atau keuntungan cepat]
[ولا يتأجلونه → tidak mengharapkan balasan yang ditunda (pahala akhirat), tetapi hanya keuntungan segera di dunia]
معناه: يتعجلون أجره إما بمال، وإما بسمعة ونحوها.
Maknanya: mereka tergesa-gesa (mengharapkan) balasan dari Al-Qur’an, baik berupa harta (upah) ataupun ketenaran (nama baik), dan hal-hal semisalnya.
وعن
فضيل بن عمرو - رضي الله عنه – قال: دخل رجلان من أصحاب رسول الله ﷺ
مسجدا، فلما سلم الإمام، قام رجل فتلا آيات من القرآن ثم سأل.
Dari Fudhail bin ‘Amr – radhiyallahu ‘anhu – berkata:
“Dua
orang dari sahabat Rasulullah ﷺ masuk ke sebuah masjid. Ketika imam
telah mengucapkan salam (mengakhiri salat), berdirilah seorang laki-laki
lalu membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an kemudian ia meminta
(berdoa/berdoa memohon kepada Allah).”
فقال أحدهما: إنا لله وإنا إليه راجعون، سمعت رسول الله ﷺ : يقول: سيجيء قوم يسألون بالقرآن فمن سأل بالقرآن فلا تعطوه .
Lalu salah seorang dari keduanya berkata:
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali (إنا لله وإنا إليه راجعون). Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Akan datang
suatu kaum yang meminta (kepada manusia) dengan perantaraan Al-Qur’an.
Maka siapa yang meminta dengan Al-Qur’an, janganlah kalian memberinya.’”
وهذا الإسناد منقطع؛ فإن الفضيل بن عمرو لم يسمع الصحابة.
“Dan sanad (rantai periwayatan) ini terputus (munqaṭi‘); karena Fudhail bin ‘Amr tidak mendengar (meriwayatkan secara langsung) dari para sahabat.”
[منقطع → terputus; ada perawi yang tidak bertemu atau tidak mengambil langsung dari perawi di atasnya]
وأما أخذه الأجرة على تعليم القرآن، فقد اختلف العلماء فيه:
Adapun mengambil upah atas mengajarkan Al-Qur’an, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
فحكى الإمام أبو سليمان الخطابي منع أخذ الأجرة عليه عن جماعة من العلماء منهم الزهري وأبو حنيفة .
Maka
Imam Abu Sulaiman Al-Khaththabi menukil adanya pendapat yang melarang
mengambil upah atas pengajaran Al-Qur’an dari sekelompok ulama, di
antaranya Az-Zuhri dan Abu Hanifah.
وعن جماعة أنه يجوز إن لم يشترطه، وهو قول الحسن البصري، والشعبي، وابن سيرين.
Dan
dari sekelompok ulama yang lain diriwayatkan bahwa hal itu boleh
apabila tidak mensyaratkannya (tidak menetapkan upah sejak awal). Ini
adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Asy-Sya‘bi, dan Ibnu Sirin.
[يجوز → diperbolehkan]
وذهب عطاء، ومالك والشافعي، وآخرون إلى جوازها إن شارطه، واستأجره إجارة صحيحة، وقد جاء بالجواز الأحاديث الصحيحة.
Dan
‘Atha’, Malik, Asy-Syafi‘i, serta ulama lainnya berpendapat bolehnya
mengambil upah, apabila ia mensyaratkannya dan menyewanya (mengadakan
akad upah) dengan akad yang sah. Dan telah datang hadis-hadis sahih yang
menunjukkan kebolehannya.
واحتج
من منعها بحديث عبادة بن الصامت أنه علم رجلا من أهل الصفة القرآن فأهدى
له قوسا. فقال له النبي ﷺ : «إن سرك أن تطوّق بها طوقا من نار فاقبلها» وهو
حديث مشهور رواه أبو داود وغيره، وبآثار كثيرة عن السلف.
Dan
orang yang melarang (mengambil upah atas mengajar Al-Qur’an) berhujah
dengan hadis ‘Ubadah bin Shamit bahwa ia pernah mengajarkan seorang
laki-laki dari Ahlus Shuffah Al-Qur’an, lalu orang itu menghadiahkan
kepadanya sebuah busur. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: ‘Jika engkau
senang dikenakan kalung dari api (neraka), maka terimalah.’ Hadis ini
masyhur, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya, serta (juga mereka
berhujah) dengan banyak atsar dari para salaf.
وأجاب المجّوزون عن حديث عبادة بجوابين:
Dan para ulama yang membolehkan menjawab hadis ‘Ubadah dengan dua jawaban:
١ – أحدهما: أن في إسناده مقالا.
1. Salah satunya: bahwa pada sanad hadis tersebut terdapat pembicaraan (kelemahan/kritik).
٢
– والثاني أنه كان تبرع بتعليمه فلم يستحقّ شيئا، ثم أهدي إليه على سبيل
العوض، فلم يجز له الأخذ، بخلاف من يعقد معه إجارة قبل التعليم، والله
أعلم.
2. Dan jawaban yang kedua: bahwa ia (guru tersebut) telah mengajarkan Al-Qur’an secara sukarela (tanpa akad upah), sehingga ia tidak berhak atas suatu imbalan. Kemudian setelah itu diberikan hadiah kepadanya sebagai bentuk pengganti (imbalan), maka tidak boleh baginya mengambilnya. Berbeda dengan orang yang melakukan akad ijarah (upah/kontrak jasa) sebelum pengajaran. Dan Allah lebih mengetahui.
Kembali 4e | IndeX | Lanjut 5a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar