التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
الباب الرابع
Bab keempat
في آداب مُعلّم القرآن ومتعلّمه
Tentang adab-adab (etika) pengajar Al-Qur'an dan orang yang mempelajarinya.
هذا الباب مع البابين بعده مقصود الكتاب وهو طويل منتشر جدا، فإني أشير إلى مقاصده مختصرة في فصول ليسهل حفظه وضبطه إن شاء الله تعالىٰ.
Bab ini bersama dua bab setelahnya merupakan tujuan utama dari kitab ini. Pembahasannya panjang dan sangat luas. Oleh karena itu, aku akan menunjukkan pokok-pokok pembahasannya secara ringkas dalam beberapa pasal, agar lebih mudah dihafal dan dipahami dengan baik, insya Allah Ta'ala.
[فصل] أول ما ينبغي للمقرئ والقارئ أن يقصدا بذلك رضا الله تعالىٰ . قال الله تعالى: ﴿ وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة ﴾ .
Hal pertama yang seharusnya diperhatikan oleh pengajar Al-Qur'an dan pembacanya adalah hendaknya mereka meniatkan hal itu untuk mencari keridaan Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ﴾
"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam keadaan hanif (lurus), mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)
أي الملة المستقيمة.
Yaitu agama (syariat) yang lurus.
وفي الصحيحين عن رسول الله ﷺ : « إنما الأعمال بالنيات، وإنّما لكلّ امرئ ما نوى
Dan dalam dua kitab Shahih (Al-Bukhari dan Muslim), dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
'Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.'
وهذا الحديث من أصول الإسلام.
Hadist ini termasuk pokok-pokok (landasan-landasan) Islam.
وروينا عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: إنّما يعطىٰ الرّجل على قدر نيّته .
Dan kami meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
'Sesungguhnya seseorang diberi (pahala dan balasan) sesuai dengan kadar niatnya.'
وعن غيره إنما يعطىٰ الناس على قدر نياتهم.
Dan dari selain beliau (Ibnu Abbas) diriwayatkan:
'Sesungguhnya manusia diberi (pahala dan balasan) sesuai dengan kadar niat-niat mereka.'
وروينا عن الأستاذ أبي القاسم القشيري رحمه الله تعالى قال: «الإخلاص إفراد الحق في الطاعة بالقصد، وهو أن يريد بطاعته التقرب إلى الله تعالى دون شيء آخر : من تصنع لمخلوق، أو اكتساب محمدة عند الناس، أو محبة أو مدح من الخلق، أو معنى من المعاني سوى التقرب إلى الله تعالى».
Dan kami meriwayatkan dari Abu al-Qasim al-Qushayri rahimahullah Ta'ala, beliau berkata:
'Ikhlas adalah mengkhususkan (mengesakan) Allah yang maha benar dalam ketaatan dengan tujuan (niat). Yaitu seseorang menghendaki dengan ketaatannya hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, bukan untuk tujuan lain, seperti berpura-pura (beramal) demi makhluk, memperoleh pujian yang baik di sisi manusia, mencari kecintaan atau sanjungan dari mereka, atau tujuan apa pun selain mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala.'
قال: ويصح أن يقال: الإخلاص تصفية الفعل عن ملاحظة المخلوقين .
Beliau berkata: Dan dapat pula didefinisikan dengan mengatakan: Ikhlas adalah membersihkan amal dari keinginan untuk dilihat, diperhatikan, atau dinilai oleh manusia.
وعن حذيفة المرعشي رحمه الله تعالى : الإخلاص استواء أفعال العبد في الظاهر والباطن.
Dan dari Hudzayfah Al-Mar'asyi rahimahullah Ta'ala (diriwayatkan bahwa beliau berkata):
'Ikhlas adalah keadaan di mana amal-amal seorang hamba sama antara yang tampak (di hadapan manusia) dan yang tersembunyi (ketika sendirian).'
وعن ذي النون رحمه الله تعالى قال: ثلاث من علامات الإخلاص :
Dan dari Dzul Nun al-Mishri rahimahullah Ta'ala, beliau berkata:
'Ada tiga tanda di antara tanda-tanda ikhlas:'
١ - استواء المدح والذّم من العامّة.
Pertama: Sama saja baginya pujian dan celaan dari orang-orang awam.
٢ - ونسيان رؤية العمل في الأعمال.
Kedua: Melupakan (tidak memandang) melihat dan membanggakan amal yang telah dikerjakannya.
٣ - واقتضاء ثواب الأعمال في الآخرة.
Ketiga: Mengharapkan pahala amal-amalnya di akhirat.
وعن الفضيل بن عياض رضي الله عنه قال: ترك العمل لأجل الناس رياء، والعمل لأجل الناس شرك، والإخلاص : أن يعافيك الله منهما .
Dan dari Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah, beliau berkata:
'Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.'
وعن سهل التستري رحمه الله تعالى قال: نظر الأكياس في تفسير الإخلاص، فلم يجدوا غير هذا، أن تكون حركته وسكونه، في سره وعلانيته لله تعالى وحده، لا يمازجه شيء لا نفس ولا هوى ولا دنيا.
Dan dari Sahel al-Tustari rahimahullah Ta'ala, beliau berkata:
'Orang-orang yang cerdas dan bijaksana telah meneliti makna ikhlas, lalu mereka tidak menemukan selain ini: bahwa seluruh gerak dan diam seseorang, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, hanya untuk Allah Ta'ala semata; tidak bercampur dengannya sedikit pun unsur nafsu, hawa keinginan, ataupun tujuan dunia.'
وعن السري رضي الله عنه قال : لا تعمل للناس شيئا، ولا تترك لهم شيئا، ولا تعط لهم شيئا، ولا تكشف لهم شيئا.
Dan dari As-Sari al-Saqati rahimahullah, beliau berkata:
'Janganlah engkau melakukan sesuatu karena manusia, jangan pula meninggalkan sesuatu karena manusia, jangan memberi sesuatu karena manusia, dan jangan menyingkapkan sesuatu karena manusia.'
وعن القشيري قال: أفضل الصدق، استواء السرّ والعلانية.
Dan Al-Qusyairi berkata:
'Bentuk kejujuran yang paling utama adalah sama antara keadaan rahasia (batin) dan keadaan terang-terangan (lahir).'
وعن الحارث المحاسبي رحمه الله تعالى قال: الصادق هو الذي لا يبالي، ولو خرج عن كل قدر له في قلوب الخلائق من أجل صلاح قلبه، ولا يحب اطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله، ولا يكره اطلاع الناس على السيئ من عمله؛ فإن كراهته لذلك دليل على أنه يحب الزيادة عندهم، وليس هذا من أخلاق الصديقين.
Dan dari Al-Harith al-Muhasibi rahimahullah Ta'ala, beliau berkata:
'Orang yang benar (jujur dalam iman dan keikhlasannya) adalah orang yang tidak peduli meskipun ia kehilangan seluruh kedudukannya di hati manusia demi memperbaiki hatinya. Ia tidak suka manusia mengetahui meskipun sebesar zarrah dari amal baiknya, dan ia tidak benci apabila manusia mengetahui keburukan dari amalnya. Karena kebenciannya terhadap hal itu merupakan tanda bahwa ia suka memperoleh tambahan kedudukan di sisi mereka. Dan ini bukan termasuk akhlak orang-orang yang benar (ash-shiddîqîn).'
وعن غيره : إذا طلبت الله تعالى بالصدق أعطاك الله مرآة تبصر فيها كل شيء من عجائب الدنيا والآخرة.
Dan dari seorang ulama yang lain, beliau berkata:
'Apabila engkau mencari Allah Ta'ala dengan penuh kejujuran dan ketulusan, maka Allah akan memberimu sebuah cermin yang dengannya engkau dapat melihat berbagai keajaiban dunia dan akhirat.'
وأقاويل السلف في هذا كثيرة، أشرنا إلى هذه الأحرف منها؛ تنبيها على المطلوب.
Perkataan-perkataan para ulama salaf dalam masalah ini sangat banyak. Kami hanya menyebutkan beberapa ungkapan darinya sebagai isyarat dan penjelasan terhadap hal yang dimaksud.
وقد ذكرت جملا من ذلك مع شرحها في أول شرح المهذب، وضممت إليها من آداب العالم، والمتعلم، والفقيه، والمتفقه، ما لا يستغني عنه طالب العلم، والله أعلم.
Dan sungguh aku telah menyebutkan sejumlah pembahasan tentang hal tersebut beserta penjelasannya pada bagian awal syarah (penjelasan) kitab Al-Muhadzdzab. Aku juga menambahkan di dalamnya berbagai adab seorang alim, pelajar, ahli fikih, dan penuntut fikih, yang tidak boleh tidak diperlukan oleh seorang penuntut ilmu. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
[فصل]
وينبغي أن لا يقصد به توصلا إلى غرض من أغراض الدنيا : من مال، أو رياسة،
أو وجاهة، أو ارتفاع على أقرانه، أو ثناء عند الناس، أو صرف وجوه الناس
إليه، أو نحو ذلك.
[Pasal]
Dan seyogianya seseorang tidak menjadikan (menuntut ilmu atau membaca
Al-Qur’an) sebagai sarana untuk mencapai tujuan dari tujuan-tujuan
dunia; seperti memperoleh harta, kedudukan, kehormatan, merasa lebih
tinggi daripada teman-temannya, mendapatkan pujian di sisi manusia,
menarik perhatian manusia kepadanya, atau tujuan-tujuan semisal itu.
ولا
يشوب المقرئ إقراءه بطمع في رفق يحصل له من بعض من يقرأ عليه: سواء كان
الرفق مالا أو خدمة، وإن قلَّ ولو كان على صورة الهدية التي لولا قراءته
عليه لما أهداها إليه.
Dan
seorang pengajar (muqri’, orang yang mengajarkan Al-Qur’an) tidak boleh
mencampuri pengajarannya dengan keinginan memperoleh keuntungan dari
sebagian orang yang belajar kepadanya; baik keuntungan itu berupa harta
maupun pelayanan, meskipun sedikit. Bahkan walaupun dalam bentuk hadiah
yang seandainya bukan karena ia mengajarkan bacaan kepadanya, niscaya
hadiah itu tidak akan diberikan.
قال تعالى: ﴿ من كان يريد حرث الآخرة نـزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الآخرة من نّصيب ﴾.
"Barang
siapa menghendaki hasil (keuntungan) akhirat, niscaya Kami akan
tambahkan baginya pada hasilnya itu. Dan barang siapa menghendaki hasil
dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi tidak ada baginya
di akhirat suatu bagian pun." (QS. Asy-Syūrā: 20)
وقال تعالى: ﴿ من كان يريد العاجلة عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد ﴾. الآية.
"Barang siapa menghendaki kehidupan yang segera (dunia), Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki..." (awal dari QS. Al-Isrā’: 18)
[Lanjutan
maknanya: kemudian Allah menjadikan baginya neraka Jahanam yang akan ia
masuki dalam keadaan tercela dan terusir apabila ia hanya menjadikan
dunia sebagai tujuan dan tidak menghendaki akhirat.]
عن
أبي هريرة - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله ﷺ : من تعلّم علما مما
يبتغي به وجه الله تعالى، لا يتعلّمه إلّا ليصيب به غرضا من الدنيا لم يجد
عرف الجنّة يوم القيامة . رواه أبو داود بإسناد صحيح. ومثله أحاديث كثيرة.
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dicari dengannya wajah Allah Ta‘ālā (keridaan Allah), namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh tujuan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat."
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang sahih. Dan terdapat banyak hadis lain yang semakna dengannya.
وعن
أنس وحذيفة وكعب بن مالك - رضي الله عنهم - أن رسول الله ﷺ قال: من طلب
العلم ليماري به السّفهاء أو يكاثر به العلماء، أو يصرف به وجوه النّاس
إليه، فليتبوأ مقعده من النّار . رواه الترمذي من رواية كعب بن مالك ،
وقال: أدخله النّار .
Dari Abu Hurairah, Anas, Hudzaifah, dan Ka‘b bin Malik radhiyallāhu ‘anhum, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa menuntut ilmu untuk mendebat orang-orang bodoh, atau untuk berbangga-bangga di hadapan para ulama, atau agar manusia memusatkan perhatian kepadanya, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka."
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Ka‘b bin Malik, dan dalam lafaz beliau disebutkan: "maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar