Rabu, 10 Juni 2026

Kitab Attibyan : 04b

 

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 4aIndeX | Lanjut 4c

 

 

الباب الرابع

Bab keempat



 إخلاص المعلّم له

Keikhlasan seorang guru pada pengajarannya.


[فصل] وليحذر كلّ الحذر من قصده التّكثّر بكثرة المشتغلين عليه، والمختلفين إليه. 

[Sub Bab] Hendaklah ia sangat berhati-hati dan benar-benar waspada agar tidak menjadikan tujuannya sebagai sarana berbangga atau memperbanyak kebesaran diri dengan banyaknya orang yang belajar kepadanya dan banyaknya orang yang datang menemuinya.

[والمختلفين إليه → dan banyaknya orang yang bolak-balik datang kepadanya untuk belajar atau mengambil ilmu.]

وليحذر من كراهته قراءة أصحابه على غيره ممن ينتفع به: 

Dan hendaklah ia berhati-hati agar tidak membenci murid-muridnya belajar atau membaca kepada selain dirinya, yaitu kepada orang yang mereka dapat mengambil manfaat darinya.

وهذه مصيبة يبتلىٰ بها بعض المعلمين الجاهلين، وهي دلالة بينة من صاحبها على سوء نيته وفساد طويته، بل هي حجة قاطعة على عدم إرادته بتعليمه وجه الله تعالى الكريم  ؛ فإنه لو أراد الله بتعليمه لما كره ذلك، بل قال لنفسه أنا أردت الطاعة بتعليمه، وقد حصلت، وقد قصد بقراءته على غيري زيادة علم، فلا عتب عليه.

Dan ini adalah musibah yang menimpa sebagian pengajar yang jahil (kurang ilmu dan hikmah). Sikap itu merupakan tanda yang jelas dari pelakunya atas buruknya niat dan rusaknya batin. Bahkan itu adalah bukti yang tegas bahwa dalam mengajarnya ia tidak benar-benar menghendaki wajah Allah Yang Mahamulia. Sebab, seandainya ia menghendaki Allah dengan pengajarannya, tentu ia tidak akan membenci hal tersebut. Bahkan ia akan berkata kepada dirinya: “Aku telah berniat melakukan ketaatan dengan mengajarinya, dan hal itu telah tercapai. Adapun murid itu belajar kepada selainku karena ingin menambah ilmu, maka tidak ada celaan atasnya.”

وقد روّينا في مسند الإمام المجمع على حفظه وإمامته أبي محمد الدارمي - رحمة الله عليه - عن علي بن أبي طالب - رضي الله عنه - أنه قال: « يا حملة القرآن، أو قال: يا حملة العلم اعملوا به؛ فإنما العالم من عمل بما علم، ووافق علمه عمله، وسيكون أقوام يحملون العلم، لا يجاوز تراقيهم، يخالف عملهم علمهم، وتخالف سريرتهم علانيتهم، يجلسون حلقا يباهي بعضهم بعضا، حتى إن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه. أولئك لا تصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى .

Dan kami telah meriwayatkan dalam Musnad Imam yang telah diakui hafalan dan kepemimpinannya, yaitu Abu Muhammad ad-Darimi — semoga Allah merahmatinya — dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata:

“Wahai para pengemban Al-Qur’an — atau beliau berkata: wahai para pengemban ilmu — amalkanlah ilmu itu. Karena sesungguhnya orang yang benar-benar berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya, dan ilmunya selaras dengan amalnya. Dan akan datang suatu kaum yang membawa ilmu, tetapi ilmunya tidak melewati tenggorokan mereka; amal mereka menyelisihi ilmu mereka, dan keadaan batin mereka bertentangan dengan keadaan lahir mereka. Mereka duduk dalam majelis-majelis sambil saling berbangga satu sama lain, sampai-sampai seseorang marah kepada teman duduknya karena duduk kepada selain dirinya dan meninggalkannya. Mereka itu, amalan-amalan mereka dalam majelis-majelis tersebut tidak naik kepada Allah Ta‘ala.”

وقد صحّ عن الإمام الشّافعي - رضي الله عنه - أنه قال: «وددت أنّ الخلق تعلّموا هذا العلم - يعني علمه وكتبه – على أن لا ينسب إليّ حرف منه» . 

Dan telah sahih dinukil dari Imam asy-Syafi‘i — semoga Allah meridhainya — bahwa beliau berkata:

“Aku berharap seluruh manusia mempelajari ilmu ini — yaitu ilmu dan kitab-kitab yang beliau ajarkan — dengan syarat tidak ada satu huruf pun darinya yang dinisbatkan kepadaku.”

 

 


مكارم الأخلاق

Akhlak yang mulia


[مكارم (makārim) = bentuk jamak dari مكرمة, maknanya: kemuliaan, sifat-sifat luhur, keutamaan.]

[فصل] وينبغي للمعلم أن يتخلق بالمحاسن التي ورد الشرع بها  ، والخصال الحميدة ، والشيم المرضية ، التي أرشده الله إليها من الزهادة في الدنيا ، والتقلل منها ، وعدم المبالاة بها وبأهلها .

[Sub bab] Seorang pengajar hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang baik yang dibawa oleh syariat, sifat-sifat yang terpuji, dan perangai yang diridhai, yang telah Allah tunjukkan kepadanya. Di antaranya adalah bersikap zuhud terhadap dunia, mengambil darinya sekadar kebutuhan, serta tidak terlalu memedulikan dunia dan para pencarinya.

والسخاء والجود ومكارم الأخلاق، وطلاقة الوجه من غير خروج إلى حد الخلاعة، والحلم ، والصبر ، والتنزه عن دنيء المكاسب وملازمة الورع ، والخشوع والسكينة ، والوقار والتواضع ، والخضوع ، واجتناب الضحك والإكثار من المزاح، وملازمة الوظائف الشرعية كالتنظيف بإزالة الأوساخ والشعور التي ورد الشرع بإزالتها؛ كقص الشارب، وتقليم الظفر، وتسريح اللحية، وإزالة الروائح الكريهة، والملابس المكروهة.

“Dan (hendaknya seorang pengajar memiliki sifat) dermawan dan murah hati, akhlak yang mulia, wajah yang ceria tanpa sampai melewati batas menjadi terlalu bebas atau kurang wibawa, lemah lembut dan penyabar, menjaga diri dari penghasilan yang rendah atau tercela, senantiasa bersikap wara’, memiliki kekhusyukan, ketenangan, kewibawaan, tawaduk, dan rendah hati, menjauhi terlalu banyak tertawa dan memperbanyak bercanda.

Dan hendaknya terus menjaga amalan-amalan syariat seperti kebersihan, dengan menghilangkan kotoran dan rambut yang memang dianjurkan syariat untuk dihilangkan; seperti memendekkan kumis, memotong kuku, merapikan jenggot, menghilangkan bau yang tidak sedap, serta menjauhi pakaian yang makruh.

وليحذر كلّ الحذر من الحسد والرياء ، والعجب ، واحتقار غيره ، وإن كان دونه ، وينبغي أن يستعمل الأحاديث الواردة في التسبيح والتهليل ، ونحوهما من الأذكار والدعوات ، وأن يراقب الله تعالى في سره وعلانيته ، ويحافظ على ذلك، وأن يكون تعويله في جميع أموره على الله تعالى. 

Dan hendaknya ia sangat berhati-hati dan benar-benar menjaga diri dari hasad (dengki), riya’, ujub (kagum terhadap diri sendiri), dan merendahkan orang lain, meskipun orang itu berada di bawahnya.

Dan hendaknya ia membiasakan diri mengamalkan hadis-hadis yang berisi tasbih, tahlil, dan berbagai zikir serta doa lainnya. Hendaknya pula ia merasa diawasi oleh Allah Ta‘ala dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, menjaga hal itu secara terus-menerus, dan menjadikan sandaran dalam seluruh urusannya hanya kepada Allah Ta‘ala.

 

 

 

 الإحسان للمتعلّم

Berbuat baik kepada orang yang belajar


[فصل] وينبغي له أن يرفق بمن يقرأ عليه، وأن يرحب به، ويحسن إليه بحسب حاله .

[Sub bab] Dan hendaknya seorang pengajar bersikap lembut kepada orang yang belajar atau membaca di hadapannya, menyambutnya dengan baik, serta berbuat baik kepadanya sesuai dengan keadaannya.

فقد روينا عن أبي هارون العبدي قال: كنا نأتي أبا سعيد الخدري - رضي الله عنه - فيقول: 

Sungguh kami telah meriwayatkan dari Abu Harun Al-‘Abdi, ia berkata: Kami dahulu datang kepada Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, lalu beliau berkata:

مرحبا بوصية رسول الله ﷺ إن النبي ﷺ قال: 

Selamat datang kepada orang-orang yang merupakan wasiat Rasulullah ﷺ. Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

إنّ النّاس لكم تبع، وإن رجالا يأتونكم من أقطار الأرض يتفقّهون في الدّين فإذا أتوكم فاستوصوا بهم خيرا . 

Sesungguhnya manusia akan mengikuti kalian. Dan akan datang kepada kalian orang-orang dari berbagai penjuru bumi untuk mendalami agama. Maka apabila mereka datang kepada kalian, hendaklah kalian berpesan dan berbuat baik kepada mereka.

رواه الترمذي وابن ماجه وغيرهما ، وروينا نحوه في مسند الدارمي ، عن أبي الدرداء رضي الله عنه. 

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain keduanya. Dan kami juga meriwayatkan yang semisal dengannya dalam Musnad Ad-Darimi, dari Abu Darda radhiyallāhu ‘anhu.  

 

 


إخلاص النصيحة له

Memberikan nasihat yang tulus kepadanya



[فصل] وينبغي أن يبذل لهم النصيحة  ؛ فإن رسول الله ﷺ قال:  الدين النصيحة قلنا : لمن يا رسول الله ؟ قال : لله ولكتابه ، ولرسوله ، ولأئمة المسلمين وعامتهم . رواه البخاري ومسلم .

[Sub bab] Dan hendaknya seorang pengajar mencurahkan nasihat kepada para muridnya. Karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda:

“Agama itu adalah nasihat.”

Kami bertanya: “Untuk siapa wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda: “Untuk Allah, untuk Kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk seluruh kaum muslimin.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

ومن النصيحة لله تعالى ، ولكتابه ، إكرام قارئه وطالبه ، وإرشاده إلى مصلحته، والرفق به ، ومساعدته على طلبه بما أمكن ، وتأليف قلب الطالب ، وأن يكون سمحا بتعليمه في رفق ، متلطفا به ، ومحرضا له على التعلم.

Dan termasuk bentuk nasihat kepada Allah Ta‘ala dan kepada Kitab-Nya adalah memuliakan pembaca dan penuntutnya, membimbingnya kepada hal yang membawa maslahat baginya, bersikap lembut kepadanya, membantu dia dalam menuntutnya semampu yang dapat dilakukan, melunakkan dan mengambil hati penuntut ilmu, serta bersikap lapang dalam mengajarkannya dengan kelembutan, memperlakukannya dengan penuh perhatian, dan mendorongnya untuk belajar.

وينبغي أن يذكر له فضيلة ذلك ليكون سببا في نشاطه وزيادة في رغبته ، ويزهده في الدنيا ، ويصرفه عن الركون إليها والاغترار بها .

Dan hendaknya seorang pengajar menyebutkan kepada muridnya keutamaan hal tersebut (menuntut ilmu), agar itu menjadi sebab tumbuhnya semangatnya dan bertambahnya keinginannya. Dan hendaknya ia membuat murid bersikap zuhud terhadap dunia serta memalingkannya dari bersandar kepada dunia dan tertipu olehnya.

ويذكر له فضيلة الاشتغال بالقرآن ، وسائر العلوم الشرعية ، وهو طريق العارفين ، وعباد الله الصالحين ، وأن ذلك رتبة الأنبياء عليهم الصلاة والسلام.

Dan hendaknya ia menyebutkan kepada murid keutamaan menyibukkan diri dengan Al-Qur’an dan seluruh ilmu-ilmu syariat, karena itu adalah jalan orang-orang yang mengenal Allah dan hamba-hamba Allah yang saleh, dan bahwa hal tersebut merupakan kedudukan para nabi ‘alaihimush-shalātu was-salām.

وينبغي أن يشفق على الطالب ، ويعتني بمصالحه ، كاعتنائه بمصالح ولده ، ومصالح نفسه ، ويجري المتعلم مجرى ولده في الشفقة عليه ، والصبر على جفائه وسوء أدبه ، ويعذره في قلة أدبه في بعض الأحيان ؛ فإن الإنسان معرّض للنقائص ، لا سيما إن كان صغير السن.

Dan hendaknya seorang pengajar memiliki rasa kasih sayang kepada murid, memperhatikan kemaslahatannya sebagaimana ia memperhatikan kemaslahatan anaknya dan dirinya sendiri. Hendaknya ia memperlakukan penuntut ilmu seperti anaknya sendiri dalam hal kasih sayang kepadanya, bersabar atas sikap keras atau kurang baik adabnya, dan memakluminya atas kekurangan adab yang terkadang muncul; karena manusia memang tidak lepas dari kekurangan, terlebih lagi apabila usianya masih muda.

وينبغي أن يحب له ما يحب لنفسه من الخير، وأن يكره له ما يكره لنفسه من النقص مطلقا؛ 

Dan hendaknya seorang pengajar mencintai untuk muridnya kebaikan yang ia cintai untuk dirinya sendiri, dan membenci untuk muridnya segala kekurangan yang ia benci untuk dirinya sendiri secara umum.

فقد ثبت في الصحيحين عن رسول الله ﷺ أنه قال: لا يؤمن أحدكم حتى يحبّ لأخيه ما يحبّ لنفسه .

Sungguh telah tetap dalam dua kitab Shahih, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:

‘Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.’

وعن ابن عباس - رضي الله عنهما – قال: أكرم الناس علي جليسي، الذي يتخطّى النّاس حتّى يجلس إليّ، لو استطعت أنّ لا يقع الذباب على وجهه لفعلت . 

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhumā, beliau berkata:

‘Orang yang paling mulia bagiku adalah orang yang duduk bersamaku (untuk mengambil ilmu), yang melangkahi orang-orang hingga sampai duduk di dekatku. Seandainya aku mampu agar seekor lalat pun tidak hinggap di wajahnya, niscaya akan aku lakukan.’

وفي رواية: إن الذباب ليقع عليه فيؤذيني .

Dalam riwayat lain: ‘Sesungguhnya seekor lalat benar-benar hinggap padanya, lalu hal itu membuatku merasa terganggu (tidak nyaman).’

وينبغي أن لا يتعاظم على المتعلمين، بل يلين لهم ، ويتواضع معهم  ؛ فقد جاء في التواضع لآحاد الناس أشياء كثيرة معروفة، فكيف بهؤلاء الذين هم بمنزلة أولاده مع ما هم عليه من الاشتغال بالقرآن، ومع ما لهم عليه من حق الصحبة، وترددهم إليه ، وقد جاء عن رسول الله ﷺ أنه قال: لينوا لمن تعلمون ولمن تتعلمون منه .

Dan hendaknya seorang pengajar tidak bersikap sombong terhadap para pelajar, tetapi bersikap lembut kepada mereka dan merendahkan hati bersama mereka. Sungguh telah datang banyak dalil yang masyhur tentang anjuran tawaduk kepada setiap orang, maka bagaimana lagi terhadap mereka yang kedudukannya seperti anak-anaknya sendiri, di samping mereka sedang menyibukkan diri dengan Al-Qur’an, dan mereka juga memiliki hak persahabatan serta sering datang kepadanya. Dan telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda:

‘Bersikap lembutlah kepada orang yang kalian ajari dan kepada orang yang kalian belajar darinya.’

وعن أبي أيوب السختياني - رحمه الله – قال: ينبغي للعالم أن يضع التراب على رأسه تواضعا لله عز وجل . 

Dan dari Abu Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah, beliau berkata:

‘Sepatutnya seorang alim meletakkan tanah di atas kepalanya sebagai bentuk tawaduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla.’ 

 

 

Kembali 4aIndeX | Lanjut 4c

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar