التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
الباب الثالث
Bab Ketiga
في إكرام أهل القرآن والنهي عن أذاهم
Tentang memuliakan para ahli Al-Qur'an dan larangan menyakiti mereka.
[#. memuliakan orang-orang yang membaca, menghafal, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur'an]
قال الله تعالى: ﴿ ذلك ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب ﴾
Allah yang mahaluhur berfirman : “Demikianlah. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
[syiar-syiar Allah : adalah tanda-tanda dan perkara-perkara yang diagungkan dalam agama Allah.]
وقال الله تعالى: ﴿ ذلك ومن يعظّم حرمات الله فهو خير له عند ربه ﴾
Dan Allah yang mahaluhur berfirman : “Demikianlah. Barang siapa mengagungkan segala yang dihormati oleh Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Hajj: 30)
وقال الله تعالى: ﴿ واخفض جناحك لمن اتّبعك من المؤمنين ﴾
Dan Allah yang mahaluhur berfirman : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu‘ara: 215)
وقال الله تعالى: ﴿ والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا ﴾
Dan Allah yang mahaluhur berfirman : “Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki mukmin dan perempuan mukmin tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul suatu kebohongan (tuduhan dusta) dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
وفي الباب حديث أبي مسعود الأنصاري ، وحديث ابن عباس المتقدمان في الباب الثاني.
Dalam bab ini juga terdapat hadis Abu Mas'ud Al-Anshari dan hadis Abdullah bin Abbas yang telah disebutkan sebelumnya pada bab kedua.
وعن أبي موسى الأشعري - رضي الله عنه - قال: قال رسول الله ﷺ : إن من إجلال الله تعالى إكرام ذي الشيبة المسلم، وحامل القرآن غير الغالي فيه والجافي عنه، وإكرام ذي السلطان المقسط . رواه أبو داود ، وهو حديث حسن.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya termasuk bentuk mengagungkan Allah Ta'ala adalah memuliakan seorang muslim yang telah beruban (lanjut usia), memuliakan pengemban Al-Qur'an yang tidak berlebih-lebihan terhadapnya dan tidak pula menjauhinya, serta memuliakan penguasa yang adil."
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan hadis ini kedudukannya hasan (baik).
وعن عائشة - رضي الله عنها – قالت: أمرنا رسول الله ﷺ أن ننزل الناس منازلهم . رواه أبو داود في سننه، والبزار في مسنده. قال الحاكم أبو عبد الله في علوم الحديث: هو حديث صحيح.
Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
"Rasulullah ﷺ memerintahkan kami agar menempatkan manusia sesuai dengan kedudukan mereka."
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dan oleh Al-Bazzar dalam Musnad-nya. Al-Hakim Abu Abdullah berkata dalam ‘Ulum al-Hadits: "Hadis ini sahih."
[أن ننزل الناس منازلهم : maksudnya agar kita memperlakukan manusia sesuai dengan kedudukan, keutamaan, ilmu, usia, kemuliaan, dan hak yang mereka miliki menurut syariat]
وعن جابر بن عبد الله - رضي الله عنه - أنّ النبيّ ﷺ كان يجمع بين الرّجلين من قتلىٰ أحد ثم يقول: أيهما أكثر أخذا للقرآن؟ فإن أُشير إلى أحدهما قدّمه في اللحد . رواه البخاري .
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ mengumpulkan dua orang dari para syuhada Perang Uhud dalam satu kubur, kemudian beliau bersabda:
"Siapakah di antara keduanya yang lebih banyak mengambil (menguasai) Al-Qur'an?"
Apabila ditunjukkan salah seorang dari keduanya, maka beliau mendahulukannya ke dalam liang lahad.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
وعن أبي هريرة - رضي الله عنه - عن النبي ﷺ : إن الله عزّ وجلّ قال: من آذى لي وليا فقد آذنته بالحرب . رواه البخاري .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda bahwa Allah عز وجل berfirman:
"Barang siapa menyakiti seorang wali-Ku, maka sungguh Aku telah menyatakan perang terhadapnya."
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
[#. Hadis qudsi ini menjelaskan besarnya kedudukan para wali Allah di sisi-Nya. Barang siapa menyakiti mereka dengan tanpa hak, baik melalui ucapan maupun perbuatan, maka ia telah melakukan dosa besar yang mengundang ancaman keras dari Allah berupa pernyataan perang.]
وثبت في الصحيحين عنه ﷺ أنّه قال: من صلى الصبح فهو في ذمّة الله تعالى فلا يطلبنّكم الله بشيء من ذمّته .
Dan telah tetap dalam 2 hadist sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
"Barang siapa melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan (perlindungan) Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian karena melanggar jaminan-Nya terhadap seseorang."
وعن الإمامين الجليلين أبي حنيفة والشافعي - رضي الله عنهما – قالا: إن لم يكن العلماء أولياء الله فليس لله وليّ .
Dari dua imam besar, Abu Hanifah dan Muhammad bin Idris asy-Syafi'i rahimahumallah, keduanya berkata:
"Jika para ulama bukan wali-wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali."
قال الإمام الحافظ أبو القاسم بن عساكر رحمه الله : اعلم يا أخي !! - وفقنا الله وإياك لمرضاته ، وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته - أن لحوم العلماء مسمومة، وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة، وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ، ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب . ﴿ فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم ﴾
Abu al-Qasim Ibn Asakir rahimahullah berkata:
"Ketahuilah wahai saudaraku — semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu untuk meraih keridaan-Nya, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar ketakwaan — bahwa daging para ulama itu beracun. Kebiasaan Allah dalam menyingkap aib orang-orang yang merendahkan mereka sudah diketahui. Dan siapa saja yang melepaskan lisannya untuk mencela para ulama, Allah akan menimpakan kepadanya sebelum kematiannya berupa matinya hati."
[#. لحوم العلماء مسمومة (daging para ulama itu beracun) adalah ungkapan peringatan, bukan makna hakiki. Maksudnya, mencela, menggunjing, dan merendahkan ulama tanpa hak merupakan perbuatan yang sangat berbahaya bagi agama seseorang.]
[#. بموت القلب (matinya hati) : hati menjadi keras, jauh dari petunjuk, tidak menerima kebenaran, dan kehilangan kepekaan terhadap kebaikan.]
Kemudian beliau membawakan firman Allah:
﴿ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴾
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nur: 63)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar