Rabu, 04 Desember 2024

Surat An-Nas : Tafsir Al Qurthubi

Tafsir Qurthubi

Surat Annas


Surat An Nas ini tidak jauh berbeda dengan surat sebelumnya (yaitu surat Al Falaq), karena surat ini adalah salah satu dari mu'awwidzatain. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan, dari Uqbah bin Amir al-Juhani, ia berkata: Bahwasanya Nabi Muhammad pernah bersabda, "Allah subhanahu wa ta'ala telah menurunkan kepadaku beberapa ayat yang belum pernah ada yang sepertinya, yaitu surat An-Naas dan surat Al Falaq.

Catatan : Imam At - Tirmidzi mengomentari hadits ini termasuk hadits hasan shahih. Dan hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Muslim.

 

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang



Allah berfirman dalam ayatnya :
Katakanlah Muhammad, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, yang memelihara dan menguasai manusia, dan sembahan manusia. (Qs. An-Naas ayat 1 sampai 3).

Untuk ketiga ayat ini hanya dibahas satu masalah saja, yaitu pada ayat pertama Katakanlah Muhammad, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia" yakni manusia berlindung kepada pemilik dan pengatur segala urusan mereka. 



Adapun penyebutan manusia secara khusus, walaupun Allah subhanahu wa ta'ala adalah Tuhan bagi seluruh makhluk di alam semesta ini, ada dua alasan:

1. Karena manusia itu lebih mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya, oleh karena itu Allah mengingatkan mereka bahwa Ia adalah Tuhan mereka walaupun seberapa pun mulianya kedudukan mereka.

2. Karena manusia diperintahkan untuk memohon perlindungan dari segala keburukan yang datang dari jenis mereka sendiri, dengan menyebutkan mereka secara khusus Allah memberitahukan bahwa yang berhak untuk mereka mintai perlindungan hanyalah Allah saja, tidak dengan yang lainnya.

 

Adapun penyebutan dua ayat setelahnya, yaitu: Raja mamusia, yang menguasai manusia, dan sembahan manusia. Yakni karena  di antara mereka ada yang menjadi raja-raja, namun Allah adalah raja yang sebenarnya. Dan karena di antara mereka ada yang menyembah Tuhan selain Allah, oleh sebab itu Allah mengingatkan mereka bahwa Ia adalah Tuhan mereka, Ia adalah sesembahan mereka, Ia adalah satu-satunya yang berhak untuk dimintai perlindungan dan bermohon, bukan kepada raja-raja atau penguasa dari jenis mereka sendiri.
 

 Allah berfirman: "Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi". (Qs. An-Naas ayat 4)

Untuk ayat ini juga hanya dibahas satu masalah saja, yaitu: Dari kejahatan (bisikan) syetan yang biasa bersembunyi. "Yakni, dari kejahatan yang suka membisikkan (dzul waswaas). Dengan makna seperti ini maka dapat diprediksi bahwa mudhaf yang seharusnya disebutkan sebelum kata dihilangkan. Penafsiran ini disampaikan oleh Al Farra'.

Kata "Al waswaasi" sendiri menggunakan harakat fathah pada huruf wau yang memiliki makna isim, yaitu kata muwaswis (pembisik). Sedangkan bentuk mashdar dari kata ini adalah wiswaas (menggunakan harakat kasrah pada huruf wau), yang maknanya adalah bisikan. Kedua bentuk ini sama seperti kata zilzaal (guncangan) dengan zalzaal (pengguncang).

Kata "Al waswaasi" diambil dari ungkapan: waswasat ilaihi nafsuhu ini waswasatan wa wiswasatan, yang artinya bisikan jiwa. Kata "Al waswaasi" juga sering digunakan untuk seorang pemburu atau anjing pemburu yang berbicara dengan cara berbisik- bisik, atau juga suara gemerincing yang keluar dari perhiasan wanita.

Diriwayatkan, bahwa lafadz "Al waswasil khonnas" adalah nama salah satu dari anak iblis. Dia lah anak yang dibawa oleh iblis kepada Hawa dan menyerahkan anak itu untuk digendongnya, lalu iblis berkata, "Asuhlah anak ini". Setelah iblis pergi, datanglah Nabi Adam, dan ketika Nabi Adam melihat anak itu ia bertanya, "Wahai Hawa, apa ini? "Hawa menjawab, "Musuh kita yang menitipkan anak ini, ia memintaku untuk mengasuhnya. "Lalu Nabi Adam berkata, "Bukankah aku telah memberitahukan kepadamu janganlah kamu sekali-kali menuruti permintaannya, dialah yang menjebak kita dalam perbuatan maksiat yang kita lakukan sebelumnya. "Lalu dengan geram Nabi Adam meraih anak tersebut dan memotong- motongnya hingga empat bagian, dan setiap bagiannya ia gantungkan pada satu pohon. Ketika keesokan harinya iblis datang kepada Hawa dan menanyakan tentang anaknya, Hawa pun menjelaskan apa yang terjadi pada hari sebelumnya dan memberitahukan apa yang dilakukan oleh Nabi Adam terhadap anaknya. Lalu iblis berteriak memanggil anaknya, "Wahai Khannas! "maka anak itu pun hidup kembali dan menjawab panggilan ayahnya. Setelah itu iblis menyerahkan anak itu lagi kepada Hawa, dan berpesan, "Asuhlah anak ini". Ketika Nabi Adam kembali ke rumahnya dan menemukan anak itu lagi, tanpa bertanya kepada Hawa ia langsung membakar anak itu di atas gundukan kayu yang dibakarnya, kemudian ia membawa abu bekas pembakaran itu ke laut dan menebarkannya disana. Keesokan harinya iblis pun datang kembali untuk melihat anaknya yang dititipkan pada Hawa, iblis berkata, "Wahai Hawa, dimanakah anakku? " lalu Hawa pun memberitahukan kembali apa yang telah dilakukan oleh Nabi Adam terhadap anak iblis, dan iblis pun segera turun ke laut dan berteriak memanggil anaknya, " Wahai Khannas! "maka anak itu pun.

hidup kembali dan menjawab panggilan ayahnya. Dan untuk ketiga kalinya anak itu diserahkan kepada Hawa, iblis menekankan, "Asuhlah anakku ini.

"Nabi Adam pun marah ketika melihat kembali anak itu di rumahnya, ia segera menyembelihnya dan memanggangnya, lalu ia meminta siti Hawa untuk menemaninya memakan panggangan anak iblis itu hingga habis tak tersisa.

Pada hari selanjutnya iblis pun datang kembali untuk melihat keadaan anaknya, namun ia tidak melihat anaknya di rumah itu, dan ia kembali bertanya kepada Hawa tentang keberadaan anaknya, dan Hawa langsung menceritakan secara mendetail apa yang telah terjadi. Lagi-lagi iblis berteriak untuk memanggil anaknya "Wahai Khannas! bagian-bagian anak itu pun keluar dari perut Nabi Adam dan perut Hawa, ia hidup kembali dan menjawab panggilan ayahnya. "Anak iblis tiba- tiba berkata, "Biarkanlah aku disitu. "Lalu iblis pun mengizinkannya, ia berkata, "Kalau memang itu yang kamu inginkan, maka itulah tempat tinggalmu dari sekarang, yaitu di dalam dada Adam dan semua keturunannya .

"Khannas pun menetap di hati anak cucu Adam untuk mempengaruhi mereka selama mereka lengah, namun apabila mereka berdzikir kepada Allah maka ia akan lari bersembunyi .

Riwayat ini disampaikan oleh Imam At-Tirmidzi Al Hakim dalam kitab Nawadir Al Ushul, dari Wahab bin Munabbih. Namun aku tidak yakin riwayat ini benar adanya. Wallahu a'lam .

Adapun penamaan khunnas itu dikarenakan ia sering bersembunyi, dan makna ini sesuai dengan makna bahasanya . Kata ini juga disebutkan pada firman Allah subhanahu wa ta'ala, pada surat (Qs. At-Takwiir ayat 15) "Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang". Dan alasan bintang-bintang disebut dengan khunnas karena sering tersembunyi dan tidak terlihat. 

Beberapa ulama berpendapat, bahwa makna dari kata khunnas adalah mundur, karena ia selalu mundur tatkala seorang hamba berdzikir kepada Allah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Sesungguhnya syetan itu akan selalu menetap di hati anak cucu Adam, apabila mereka lengah maka ia akan membisik-bisikkannya, namun apabila mereka berdzikir kepada Allah maka ia akan mundur".

Qatadah meriwayatkan, khunnas itu adalah syetan yang memiliki hidung yang sama dengan hidung anjing, hanya saja syetan itu mendengus di dalam dada manusia, apabila manusia itu lengah maka ia akan membisik-bisikkannya, namun jika mereka mengingat Tuhan maka ia akan melarikan diri .

Sebuah riwayat dari Anas menyebutkan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya syetan meletakkan hidungnya di dalam hati anak cucu Adam, apabila mereka mengingat Allah maka ia akan mundur, namun jika mereka melupakan Allah maka ia akan menggenggam hati mereka dan membisikkannya".

Ibnu Abbas mengatakan : Apabila seorang hamba mengingat Allah di dalam hatinya maka syetan itu akan pergi, namun jika ia lalai maka syetan akan menyerang hatinya dengan membisikkannya dan memberinya angan-angan yang indah.

Ibrahim At-Taimi meriwayatkan, bahwa yang pertama kali terpengaruh oleh bisikan syetan adalah mengenai wudhu (apakah ia masih

memiliki wudhu atau sudah terbatalkan).

Lalu beberapa ulama lain juga ada yang berpendapat, bahwa kata khonnas bermakna kembali, karena syetan itu akan kembali ke dalam hati seorang hamba yang lalai dari mengingat Allah. Seperti yang diriwayatkan Ibnu Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa akibat dari bisikan khannas itu ada dua bentuk,

yang pertama : membuat seseorang berpaling dari hidayah.
Dan yang kedua : membuat seseorang dipenuhi keragu-raguan .

Allah berfirman : "Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. " (Qs. An-Naas ayat 5).

Untuk ayat ini juga hanya dibahas satu masalah saja.

Muqatil menafsirkan : sesungguhnya syetan yang berbentuk seperti seekor babi dapat berlari-larian di aliran darah manusia di setiap ruas urat yang mereka miliki, dari kaki hingga kepala, dan yang menjadi pusat kediaman mereka adalah di hati manusia. Penafsiran ini sesuai dengan hadits Nabi SAW yang disebutkan dalam kitab shahih, yaitu sabda beliau :

" Sesungguhnya syetan itu mengalir di aliran darah setiap anak cucu Adam". (HR. Al Bukhari)

Syahr bin Hausyab meriwayatkan, dari Abu Tsa'labah Al Khusyni, ia berkata : Aku pernah meminta kepada Allah untuk memperlihatkan kepadaku bentuk syetan dan tempat tinggalnya di dalam diri manusia. Ternyata permintaanku dikabulkan, dan aku dapat melihatnya, kedua tangannya berada di kedua tangan manusia, begitu pula dengan kedua kakinya dan seluruh tubuhnya, hanya saja hidungnya lebih mirip dengan hidung anjing. Apabila manusia yang ditempati olehnya mengingat Allah maka syetan akan mundur dan membalikkan badannya, dan jika manusia tersebut tidak mengingat Allah maka syetan akan menggenggam kalbu mereka.

Artinya, menurut Abu Tsa'labah, syetan itu menempati seluruh tubuh manusia, menjadi bagian di dalamnya, pada setiap anggota tubuh mereka.

Diriwayatkan , dari Abdurrahman bin Al Aswad, atau mungkin juga yang lainnya dari golongan tabiin yang seusia dengannya (yakni sudah tua), ia berkata : syetan akan melekat di alat vital setiap pria yang melakukan perbuatan zina, lalu mengokohkannya.

Dari perkataan ini dapat juga diambil kesimpulan yang sama, yaitu bahwa syetan menempati setiap bagian dari tubuh manusia. Pendapat ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Muqatil.

Adapun hakikat bisikan syetan adalah ajakan untuk taat kepadanya dengan ucapan yang tersembunyi, ajakan itu akan masuk ke dalam kalbu setiap manusia tanpa dapat didengar olehnya.

Firman Allah : "Dari (golongan) jin dan manusia". (Qs. An-Naas ayat 6).

Untuk ayat ini juga hanya dibahas satu masalah saja, yaitu : Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memberitahukan, bahwa bisikan-bisikan itu juga dapat berasal dari golongan manusia.

Al Hasan mengatakan bahwa kedua golongan itu dapat menjadi syetan, adapun bisikan syetan dari golongan jin disampaikan ke dalam dada manusia, sedangkan bisikan syetan dari golongan manusia disampaikan secara terang-terangan.

Qatadah mengatakan bahwa dari golongan jin itu terdapat syetan, dan begitu juga dari golongan manusia, oleh karena itu pada saat meminta perlindungan kepada Allah maka mintalah untuk dilindungi dari syetan dari golongan jin sekaligus syetan dari golongan manusia.

Diriwayatkan, dari Abu Dzarr, bahwa ia pernah berkata kepada seseorang, "Apakah kamu sudah meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang berbentuk manusia?" orang tersebut balik bertanya, "Apakah ada syetan yang berasal dari golongan manusia?" ia menjawab, "Tentu , : bukankah Allah berfirman :  Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia (dan jenis) jin". (QS. Al An'aam ayat 112)

Namun sebagian kalangan berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan kata An-Naas pada ayat ini bukanlah manusia, tapi juga jin, sama seperti yang disebutkan pada kata sebelumnya. Mereka terkadang disebut dengan sebutan "manusia" sebagaimana mereka juga terkadang disebut dengan sebutan "laki-laki", seperti yang terdapat pada firman Allah SWT, "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. (QS. Al Jin ayat 6)

Sebagaimana mereka juga terkadang disebut dengan sebutan sekelompok atau serombongan ataupun yang lainnya

Dengan demikian, maka kata An-Naas pada ayat ini adalah athaf dari kata al jinnah, namun hanya pengulangan dengan lafazh yang berbeda.

Beberapa masyarakat Arab pernah juga menyampaikan, bahwa ketika mereka sedang berbincang-bincang, salah satu dari mereka bercerita "Lalu datanglah beberapa orang dari kalangan jin, namun setelah itu mereka berdiri membisu.." kemudian ketika mereka ditanya, "Siapakah kalian?" mereka menjawab, "Kami adalah sekelompok orang dari golongan jin".

Makna yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Al Farra

alu beberapa ulama lainnya berpendapat, bahwa makna dari kata adalah syetan, kemudian pada ayat ini diterangkan bahwa syetan itu dari golongan jin, sedangkan kata an-naas adalah athaf dari kata Yakni, katakanlah : aku berlindung kepada Tuhan manusia, dari kejahatan syetan, yang berasal dari bangsa jin, dan dari kejahatan manusia.

Dengan penafsiran seperti ini, maka yang diperintahkan oleh ayat ini adalah memohon perlindungan dari kejahatan yang diperbuat oleh bangsa jin dan kejahatan yang diperbuat oleh sesama manusia.

Kata Ji sendiri adalah bentuk jamak dari kata jinni, seperti halnya kata insun dengan kata insi. Sedangkan huruf ta' marbuthah yang ada di akhir dari kata tersebut adalah huruf untuk menandakan bentuk mu'annats dari suatu jamak.

Kemudian ada juga beberapa ulama yang berpendapat, bahwa iblis itu juga membisikkan ke dalam dada bangsa jin, sama seperti bisikan yang ia dengungkan di dalam dada manusia.

Dengan penafsiran seperti ini, maka makna ayat sebelumnya bersifat umum, yakni : "Yang membisikan (kejahatan) ke dalam dada manusia. "Juga ke dalam dada bangsa jin. Sedangkan ayat yang terakhir ini menjelaskan tentang apa yang dibisikkan di dalam hati mereka.

Beberapa ulama berpendapat, bahwa makna dari kata adalah bisikan jiwa, yaitu bisikan yang berasal dari diri manusia dan bangsa jin sendiri. Dan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah menyebutkan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda :

"Sesungguhnya Allah akan mengampuni apa yang terbesit di dalam hati umatku, sebelum mereka melakukannya ataupun membicarakannya".  (HR. Muslim)


Wallahu a'lam.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar