التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6f | IndeX | Lanjut 6h
الباب السادس
Bab Keenam
الثواب المشترك
Pahala Bersama dalam Membaca Al-Qur'an Secara Berjamaah
[فصل] في الإدارة بالقرآن: وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا، أو جزءا أو غير ذلك، ثم يسكت ويقرأ الآخر من حيث انتهى الأول، ثم يقرأ الآخر، وهذا جائز حسن، وقد سئل مالك - رحمه الله تعالى - عنه فقال: لا بأس به.
[Sub bab] Tentang membaca Al-Qur'an secara bergiliran (idārah bil-Qur'ān).
Yang dimaksud dengan idārah bil-Qur'ān ialah sekelompok orang berkumpul, kemudian salah seorang membaca sepuluh ayat, atau satu juz, atau kadar tertentu lainnya. Setelah itu ia berhenti, lalu orang berikutnya melanjutkan bacaan dari tempat yang terakhir dibaca oleh orang pertama. Kemudian orang berikutnya lagi membaca setelahnya, dan seterusnya.
Cara seperti ini diperbolehkan dan baik. Malik bin Anas pernah ditanya tentang hal tersebut, lalu beliau menjawab, "Tidak mengapa melakukannya."
[فصل] في رفع الصوت بالقراءة :
[Sub bab] Tentang mengeraskan suara ketika membaca Al-Qur'an.
هذا فصل مُهِمّ ينبغي أن يعتنى به.
Ini adalah pembahasan yang penting dan patut mendapat perhatian.
اعلم أنه جاء أحاديث كثيرة في الصحيح وغيره دالة على استحباب رفع الصوت بالقراءة، وجاءت آثار دالة على استحباب الإخفاء، وخفض الصوت.
Ketahuilah bahwa telah datang banyak hadist, baik dalam kitab-kitab hadist sahih maupun selainnya, yang menunjukkan anjuran mengeraskan suara ketika membaca Al-Qur'an. Di sisi lain, juga terdapat riwayat-riwayat yang menunjukkan anjuran membaca dengan suara pelan atau merendahkan suara.
وسنذكر منها طرفا يسيرا إشارة إلى أصلها إن شاء الله تعالى:
Kami akan menyebutkan sebagian kecil dari hadist-hadist tersebut sebagai isyarat terhadap pokok pembahasannya, insya Allah.
قال الإمام أبو حامد الغزالي وغيره من العلماء: وطريق الجمع بين الأحاديث، والآثار المختلفة في هذا، أن الإسرار أبعد من الرياء، فهو أفضل في حق من يخاف ذلك، فإن لم يخف الرياء فالجهر ورفع الصوت أفضل؛ لأن العمل فيه أكثر؛ ولأن فائدته تتعدى إلى غيره، والمتعدي أفضل من اللازم؛ ولأنه يوقظ قلب القارئ، ويجمع همّه إلى الفكر فيه، ويصرف سمعه إليه، ويطرد النوم، ويزيد في النشاط، ويوقظ غيره، من نائم وغافل، وينشطه.
Imam Abu Hamid al-Ghazali dan ulama lainnya berkata:
"Jalan untuk mengompromikan hadist-hadist dan riwayat-riwayat yang tampak berbeda dalam masalah ini adalah sebagai berikut: membaca Al-Qur'an dengan suara pelan lebih jauh dari riya, sehingga lebih utama bagi orang yang khawatir terjerumus ke dalam riya. Adapun jika ia tidak khawatir terhadap riya, maka membaca dengan suara keras dan mengeraskan bacaan lebih utama. Hal itu karena amal yang dilakukan lebih besar, manfaatnya juga dapat dirasakan oleh orang lain, sedangkan amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain lebih utama daripada yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri.
Selain itu, membaca dengan suara keras dapat membangunkan hati pembaca, memusatkan pikirannya untuk merenungkan makna bacaan, mengarahkan pendengarannya kepada bacaan tersebut, mengusir rasa kantuk, menambah semangat, serta membangunkan dan memberi semangat kepada orang lain, baik yang sedang tidur maupun yang lalai."
قالوا: فمهما حضره شيء من هذه النيات، فالجهر، أفضل، فإن اجتمعت هذه النيات، تضاعف الأجر.
Para ulama berkata, "Apabila ketika membaca hadir satu atau lebih dari niat-niat tersebut, maka membaca dengan suara keras menjadi lebih utama. Bahkan apabila seluruh niat itu terkumpul, pahalanya pun akan berlipat ganda."
قال الغزالي : ولهذا قلنا القراءة في المصحف أفضل، فهذا حكم المسألة.
Al-Ghazali juga berkata, "Oleh karena itu kami mengatakan bahwa membaca Al-Qur'an dengan melihat mushaf lebih utama." Demikianlah hukum permasalahan ini.
وأما الآثار المنقولة فكثيرة، وأنا أشير إلى أطراف من بعضها: ثبت في الصحيح عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: ما أذن الله لشيء ما أذن لنبي، حسن الصوت، يتغّنى بالقرآن يجهر به، رواه البخاري ومسلم .
Adapun riwayat-riwayat yang dinukil mengenai masalah ini sangat banyak. Saya hanya akan menyebutkan sebagian di antaranya.
Telah diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Allah tidak mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah, melagukan bacaan Al-Qur'an dan membacanya dengan suara yang keras.'"
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
ومعنى (أذن) استمع، وهو إشارة إلى الرضا والقبول.
Makna kata "adzina" (أذن) dalam hadis tersebut adalah mendengarkan. Hal ini merupakan isyarat akan keridaan dan penerimaan Allah terhadap bacaan Al-Qur'an tersebut.
وعن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال: لقد أوتيت مزمارا من مزامير آل داود، رواه البخاري ومسلم .
Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh, engkau telah dianugerahi satu seruling (suara yang merdu) di antara seruling-seruling keluarga Dawud."
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
وفي رواية لمسلم أن رسول الله ﷺ قال له: لقد رأيتني وأنا أستمع لقراءتك البارحة، رواه مسلم من رواية بريدة بن الحصيب .
Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
"Sungguh, tadi malam aku melihat diriku sedang mendengarkan bacaanmu."
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui riwayat Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu 'anhu.
وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : لله أشدّ أذنا إلى الرجل حسن الصوت بالقرآن من صاحب القينة إلى قينته، رواه ابن ماجه .
Dari Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Allah lebih senang mendengarkan seorang yang bersuara indah ketika membaca Al-Qur'an daripada kegemaran seorang pemilik budak penyanyi terhadap nyanyian budaknya."
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah.
وعن أبي موسى أيضا قال: قال رسول الله ﷺ : إني لأعرف أصوات رفقة الأشعريين بالليل حين يدخلون، وأعرف منازلهم من أصواتهم بالقرآن بالليل، وإن كنت لم أر منازلهم حين نزلوا بالنهار، رواه البخاري ومسلم .
Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu juga, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Aku benar-benar mengenali suara rombongan kaum Asy'ariyyin pada malam hari ketika mereka memasuki suatu tempat. Aku juga mengetahui tempat-tempat tinggal mereka dari suara bacaan Al-Qur'an mereka pada malam hari, meskipun aku tidak melihat tempat tinggal mereka ketika mereka singgah pada siang hari."
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
وعن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : زينوا القرآن بأصواتكم. رواه أبو داود والنسائي وغيرهما.
Dari Baro' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian."
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa'i, dan selain keduanya.
وروى ابن أبي داود عن علي رضي الله عنه: أنه سمع ضجة ناس في المسجد يقرؤون القرآن، فقال: طوبى لهؤلاء كانوا أحب الناس لرسول الله .
Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa beliau mendengar keramaian sekelompok orang di masjid yang sedang membaca Al-Qur'an. Beliau lalu berkata:
"Beruntunglah mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ."
وفي إثبات الجهر أحاديث كثيرة.
Hadist-hadist yang menunjukkan disyariatkannya membaca Al-Qur'an dengan suara yang dikeraskan masih banyak lagi.
وأما الآثار عن الصحابة والتابعين من أقوالهم، وأفعالهم، فأكثر من أن تحصر، وأشهر من أن تذكر.
Adapun riwayat-riwayat dari para sahabat dan tabi'in, baik berupa ucapan maupun perbuatan mereka dalam masalah ini, jumlahnya sangat banyak, tidak mungkin dihitung, dan sudah sangat masyhur sehingga tidak perlu disebutkan satu per satu.
وهذا كله فيمن لا يخاف رياء ولا إعجابا، ولا نحوهما من القبائح، ولا يؤذي جماعة يلبس عليهم صلاتهم، ويخلطها عليهم.
Semua keutamaan tersebut berlaku bagi orang yang tidak khawatir terjerumus ke dalam riya, ujub (bangga terhadap diri sendiri), atau sifat-sifat tercela lainnya. Demikian pula, ia tidak mengganggu orang lain, seperti mengacaukan kekhusyukan jamaah yang sedang salat atau mencampurkan bacaan mereka sehingga mengganggu konsentrasi mereka.
وقد نقل عن جماعة السلف اختيار الإخفاء لخوفهم مما ذكرناه.
Namun, telah dinukil dari sejumlah ulama salaf bahwa mereka lebih memilih membaca dengan suara pelan karena khawatir terhadap hal-hal yang telah disebutkan di atas.
فعن الأعمش قال: دخلت على إبراهيم وهو يقرأ بالمصحف، فاستأذن عليه رجل فغطاه، وقال: لا يرى هذا أني أقرأ كل ساعة.
Dari A'masy, ia berkata:
"Aku masuk menemui Ibrahim (an-Nakha'i) ketika beliau sedang membaca Al-Qur'an dari mushaf. Lalu ada seseorang meminta izin untuk masuk. Beliau pun menutup mushaf itu seraya berkata, 'Aku tidak ingin orang ini mengira bahwa aku membaca Al-Qur'an setiap saat.'"
وعن أبي العالية قال: كنت جالسا مع أصحاب رسول الله ﷺ ورضي الله عنهم فقال رجل منهم: قرأت الليلة كذا، فقالوا: هذا حظك منه .
Dari Abu al-'Aliyah, ia berkata:
"Aku pernah duduk bersama para sahabat Rasulullah ﷺ. Lalu salah seorang di antara mereka berkata, 'Tadi malam aku membaca sekian (ayat atau surah).' Mereka pun berkata, 'Itulah bagian pahalamu darinya.'"
ويستدل لهؤلاء بحديث عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصّدقة، والمسرّ بالقرآن كالمسرّ بالصدقة. رواه أبو داود والترمذي والنسائي . قال الترمذي : حديث حسن.
Perkataan ini menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap seseorang yang menceritakan amal ibadahnya tanpa kebutuhan, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan riya atau mengurangi keikhlasan.
Pendapat ulama yang lebih mengutamakan membaca Al-Qur'an dengan suara pelan juga didukung oleh hadis dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu. Ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan, sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara pelan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi."
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i. At-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hasan."
قال: ومعناه أن الذي يسر بقراءة القرآن: أفضل من الذي يجهر بها ، لأن صدقة السر، أفضل عند أهل العلم، من صدقة العلانية.
Beliau menjelaskan bahwa makna hadis tersebut adalah: orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara pelan lebih utama daripada orang yang mengeraskan bacaannya, sebagaimana sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama menurut para ulama daripada sedekah secara terang-terangan.
قال: وإنما معنى هذا الحديث عند أهل العلم، لكي يأمن الرجل من العجب؛ لأن الذي يسر بالعمل، لا يخاف عليه من العجب كما يخاف عليه من علانيته.
Beliau juga mengatakan bahwa maksud hadis ini adalah agar seseorang lebih aman dari penyakit ujub (bangga terhadap diri sendiri). Orang yang menyembunyikan amalnya lebih kecil kemungkinannya terkena ujub dibandingkan orang yang menampakkannya.
قلت: وكل هذا موافق لما تقدم تقريره في أول الفصل من التفصيل، وأنه إن خاف بسبب الجهر شيئا مما يكره لم يجهر، وإن لم يخف استحب الجهر، فإن كانت القراءة من جماعة مجتمعين تأكد استحباب الجهر لما قدمناه، ولما يحصل فيه من نفع غيرهم، والله أعلم.
Imam an-Nawawi berkata:
"Semua penjelasan ini sesuai dengan kaidah yang telah kami uraikan pada awal pembahasan, yaitu dengan perincian sebagai berikut: apabila seseorang khawatir bahwa mengeraskan bacaan akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik, maka ia tidak mengeraskannya. Sebaliknya, jika ia tidak khawatir terhadap hal tersebut, maka disunnahkan baginya untuk mengeraskan bacaan.
Adapun jika bacaan Al-Qur'an dilakukan oleh sekelompok orang yang berkumpul bersama, maka anjuran untuk mengeraskan bacaan menjadi lebih kuat, karena alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya serta karena manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain. Dan Allah Maha Mengetahui."
Kembali 6f | IndeX | Lanjut 6h