Rabu, 01 Juli 2026

Kitab Attibyan : 06g

  

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 6f | IndeX | Lanjut 6h

 

 الباب السادس

Bab Keenam

 

 

الثواب المشترك

Pahala Bersama dalam Membaca Al-Qur'an Secara Berjamaah



[فصل] في الإدارة بالقرآن: وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا، أو جزءا أو غير ذلك، ثم يسكت ويقرأ الآخر من حيث انتهى الأول، ثم يقرأ الآخر، وهذا جائز حسن، وقد سئل مالك - رحمه الله تعالى - عنه فقال: لا بأس به. 

[Sub bab] Tentang membaca Al-Qur'an secara bergiliran (idārah bil-Qur'ān).

Yang dimaksud dengan idārah bil-Qur'ān ialah sekelompok orang berkumpul, kemudian salah seorang membaca sepuluh ayat, atau satu juz, atau kadar tertentu lainnya. Setelah itu ia berhenti, lalu orang berikutnya melanjutkan bacaan dari tempat yang terakhir dibaca oleh orang pertama. Kemudian orang berikutnya lagi membaca setelahnya, dan seterusnya.

Cara seperti ini diperbolehkan dan baik. Malik bin Anas pernah ditanya tentang hal tersebut, lalu beliau menjawab, "Tidak mengapa melakukannya."

 [فصل] في رفع الصوت بالقراءة   :

[Sub bab] Tentang mengeraskan suara ketika membaca Al-Qur'an.

هذا فصل مُهِمّ ينبغي أن يعتنى به.

Ini adalah pembahasan yang penting dan patut mendapat perhatian.

اعلم أنه جاء أحاديث كثيرة في الصحيح وغيره دالة على استحباب رفع الصوت بالقراءة، وجاءت آثار دالة على استحباب الإخفاء، وخفض الصوت.

Ketahuilah bahwa telah datang banyak hadist, baik dalam kitab-kitab hadist sahih maupun selainnya, yang menunjukkan anjuran mengeraskan suara ketika membaca Al-Qur'an. Di sisi lain, juga terdapat riwayat-riwayat yang menunjukkan anjuran membaca dengan suara pelan atau merendahkan suara.

وسنذكر منها طرفا يسيرا إشارة إلى أصلها إن شاء الله تعالى:

Kami akan menyebutkan sebagian kecil dari hadist-hadist tersebut sebagai isyarat terhadap pokok pembahasannya, insya Allah.


قال الإمام أبو حامد الغزالي وغيره من العلماء: وطريق الجمع بين الأحاديث، والآثار المختلفة في هذا، أن الإسرار أبعد من الرياء، فهو أفضل في حق من يخاف ذلك، فإن لم يخف الرياء فالجهر ورفع الصوت أفضل؛ لأن العمل فيه أكثر؛ ولأن فائدته تتعدى إلى غيره، والمتعدي أفضل من اللازم؛ ولأنه يوقظ قلب القارئ، ويجمع همّه إلى الفكر فيه، ويصرف سمعه إليه، ويطرد النوم، ويزيد في النشاط، ويوقظ غيره، من نائم وغافل، وينشطه.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dan ulama lainnya berkata:

"Jalan untuk mengompromikan hadist-hadist dan riwayat-riwayat yang tampak berbeda dalam masalah ini adalah sebagai berikut: membaca Al-Qur'an dengan suara pelan lebih jauh dari riya, sehingga lebih utama bagi orang yang khawatir terjerumus ke dalam riya. Adapun jika ia tidak khawatir terhadap riya, maka membaca dengan suara keras dan mengeraskan bacaan lebih utama. Hal itu karena amal yang dilakukan lebih besar, manfaatnya juga dapat dirasakan oleh orang lain, sedangkan amal yang manfaatnya meluas kepada orang lain lebih utama daripada yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri.

Selain itu, membaca dengan suara keras dapat membangunkan hati pembaca, memusatkan pikirannya untuk merenungkan makna bacaan, mengarahkan pendengarannya kepada bacaan tersebut, mengusir rasa kantuk, menambah semangat, serta membangunkan dan memberi semangat kepada orang lain, baik yang sedang tidur maupun yang lalai."

قالوا: فمهما حضره شيء من هذه النيات، فالجهر، أفضل، فإن اجتمعت هذه النيات، تضاعف الأجر.

Para ulama berkata, "Apabila ketika membaca hadir satu atau lebih dari niat-niat tersebut, maka membaca dengan suara keras menjadi lebih utama. Bahkan apabila seluruh niat itu terkumpul, pahalanya pun akan berlipat ganda."

قال الغزالي : ولهذا قلنا القراءة في المصحف أفضل، فهذا حكم المسألة.

Al-Ghazali juga berkata, "Oleh karena itu kami mengatakan bahwa membaca Al-Qur'an dengan melihat mushaf lebih utama." Demikianlah hukum permasalahan ini.

وأما الآثار المنقولة فكثيرة، وأنا أشير إلى أطراف من بعضها: ثبت في الصحيح عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: ما أذن الله لشيء ما أذن لنبي، حسن الصوت، يتغّنى بالقرآن يجهر به، رواه البخاري ومسلم .

Adapun riwayat-riwayat yang dinukil mengenai masalah ini sangat banyak. Saya hanya akan menyebutkan sebagian di antaranya.

Telah diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Allah tidak mendengarkan sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah, melagukan bacaan Al-Qur'an dan membacanya dengan suara yang keras.'"

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. 


ومعنى (أذن) استمع، وهو إشارة إلى الرضا والقبول.

Makna kata "adzina" (أذن) dalam hadis tersebut adalah mendengarkan. Hal ini merupakan isyarat akan keridaan dan penerimaan Allah terhadap bacaan Al-Qur'an tersebut.

وعن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله ﷺ قال: لقد أوتيت مزمارا من مزامير آل داود، رواه البخاري ومسلم .

Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sungguh, engkau telah dianugerahi satu seruling (suara yang merdu) di antara seruling-seruling keluarga Dawud."
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

وفي رواية لمسلم أن رسول الله ﷺ قال له: لقد رأيتني وأنا أستمع لقراءتك البارحة، رواه مسلم من رواية بريدة بن الحصيب .

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

"Sungguh, tadi malam aku melihat diriku sedang mendengarkan bacaanmu."

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim melalui riwayat Buraidah bin al-Hushaib radhiyallahu 'anhu.

وعن فضالة بن عبيد رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : لله أشدّ أذنا إلى الرجل حسن الصوت بالقرآن من صاحب القينة إلى قينته، رواه ابن ماجه .

Dari Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Allah lebih senang mendengarkan seorang yang bersuara indah ketika membaca Al-Qur'an daripada kegemaran seorang pemilik budak penyanyi terhadap nyanyian budaknya."

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

وعن أبي موسى أيضا قال: قال رسول الله ﷺ : إني لأعرف أصوات رفقة الأشعريين بالليل حين يدخلون، وأعرف منازلهم من أصواتهم بالقرآن بالليل، وإن كنت لم أر منازلهم حين نزلوا بالنهار، رواه البخاري ومسلم .

Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu juga, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Aku benar-benar mengenali suara rombongan kaum Asy'ariyyin pada malam hari ketika mereka memasuki suatu tempat. Aku juga mengetahui tempat-tempat tinggal mereka dari suara bacaan Al-Qur'an mereka pada malam hari, meskipun aku tidak melihat tempat tinggal mereka ketika mereka singgah pada siang hari."

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. 


وعن البراء بن عازب رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : زينوا القرآن بأصواتكم. رواه أبو داود والنسائي وغيرهما.

Dari Baro' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian."

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa'i, dan selain keduanya.

وروى ابن أبي داود عن علي رضي الله عنه: أنه سمع ضجة ناس في المسجد يقرؤون القرآن، فقال: طوبى لهؤلاء كانوا أحب الناس لرسول الله .

Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu bahwa beliau mendengar keramaian sekelompok orang di masjid yang sedang membaca Al-Qur'an. Beliau lalu berkata:

"Beruntunglah mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ."

وفي إثبات الجهر أحاديث كثيرة.

Hadist-hadist yang menunjukkan disyariatkannya membaca Al-Qur'an dengan suara yang dikeraskan masih banyak lagi.

وأما الآثار عن الصحابة والتابعين من أقوالهم، وأفعالهم، فأكثر من أن تحصر، وأشهر من أن تذكر. 

Adapun riwayat-riwayat dari para sahabat dan tabi'in, baik berupa ucapan maupun perbuatan mereka dalam masalah ini, jumlahnya sangat banyak, tidak mungkin dihitung, dan sudah sangat masyhur sehingga tidak perlu disebutkan satu per satu.

وهذا كله فيمن لا يخاف رياء ولا إعجابا، ولا نحوهما من القبائح، ولا يؤذي جماعة يلبس عليهم صلاتهم، ويخلطها عليهم.

Semua keutamaan tersebut berlaku bagi orang yang tidak khawatir terjerumus ke dalam riya, ujub (bangga terhadap diri sendiri), atau sifat-sifat tercela lainnya. Demikian pula, ia tidak mengganggu orang lain, seperti mengacaukan kekhusyukan jamaah yang sedang salat atau mencampurkan bacaan mereka sehingga mengganggu konsentrasi mereka.

وقد نقل عن جماعة السلف اختيار الإخفاء لخوفهم مما ذكرناه.

Namun, telah dinukil dari sejumlah ulama salaf bahwa mereka lebih memilih membaca dengan suara pelan karena khawatir terhadap hal-hal yang telah disebutkan di atas. 


فعن الأعمش قال: دخلت على إبراهيم وهو يقرأ بالمصحف، فاستأذن عليه رجل فغطاه، وقال: لا يرى هذا أني أقرأ كل ساعة.

Dari A'masy, ia berkata:

"Aku masuk menemui Ibrahim (an-Nakha'i) ketika beliau sedang membaca Al-Qur'an dari mushaf. Lalu ada seseorang meminta izin untuk masuk. Beliau pun menutup mushaf itu seraya berkata, 'Aku tidak ingin orang ini mengira bahwa aku membaca Al-Qur'an setiap saat.'"

وعن أبي العالية قال: كنت جالسا مع أصحاب رسول الله ﷺ ورضي الله عنهم فقال رجل منهم: قرأت الليلة كذا، فقالوا: هذا حظك منه .

Dari Abu al-'Aliyah, ia berkata:

"Aku pernah duduk bersama para sahabat Rasulullah ﷺ. Lalu salah seorang di antara mereka berkata, 'Tadi malam aku membaca sekian (ayat atau surah).' Mereka pun berkata, 'Itulah bagian pahalamu darinya.'"

ويستدل لهؤلاء بحديث عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصّدقة، والمسرّ بالقرآن كالمسرّ بالصدقة. رواه أبو داود والترمذي والنسائي . قال الترمذي : حديث حسن.

Perkataan ini menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap seseorang yang menceritakan amal ibadahnya tanpa kebutuhan, karena dikhawatirkan dapat menimbulkan riya atau mengurangi keikhlasan.

Pendapat ulama yang lebih mengutamakan membaca Al-Qur'an dengan suara pelan juga didukung oleh hadis dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu. Ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

"Orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan, sedangkan orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara pelan seperti orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi."

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa'i. At-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hasan."

قال: ومعناه أن الذي يسر بقراءة القرآن: أفضل من الذي يجهر بها ، لأن صدقة السر، أفضل عند أهل العلم، من صدقة العلانية.

Beliau menjelaskan bahwa makna hadis tersebut adalah: orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara pelan lebih utama daripada orang yang mengeraskan bacaannya, sebagaimana sedekah secara sembunyi-sembunyi lebih utama menurut para ulama daripada sedekah secara terang-terangan.

قال: وإنما معنى هذا الحديث عند أهل العلم، لكي يأمن الرجل من العجب؛ لأن الذي يسر بالعمل، لا يخاف عليه من العجب كما يخاف عليه من علانيته.

Beliau juga mengatakan bahwa maksud hadis ini adalah agar seseorang lebih aman dari penyakit ujub (bangga terhadap diri sendiri). Orang yang menyembunyikan amalnya lebih kecil kemungkinannya terkena ujub dibandingkan orang yang menampakkannya.

قلت: وكل هذا موافق لما تقدم تقريره في أول الفصل من التفصيل، وأنه إن خاف بسبب الجهر شيئا مما يكره لم يجهر، وإن لم يخف استحب الجهر، فإن كانت القراءة من جماعة مجتمعين تأكد استحباب الجهر لما قدمناه، ولما يحصل فيه من نفع غيرهم، والله أعلم. 

Imam an-Nawawi berkata:


"Semua penjelasan ini sesuai dengan kaidah yang telah kami uraikan pada awal pembahasan, yaitu dengan perincian sebagai berikut: apabila seseorang khawatir bahwa mengeraskan bacaan akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik, maka ia tidak mengeraskannya. Sebaliknya, jika ia tidak khawatir terhadap hal tersebut, maka disunnahkan baginya untuk mengeraskan bacaan.

Adapun jika bacaan Al-Qur'an dilakukan oleh sekelompok orang yang berkumpul bersama, maka anjuran untuk mengeraskan bacaan menjadi lebih kuat, karena alasan-alasan yang telah disebutkan sebelumnya serta karena manfaatnya dapat dirasakan oleh orang lain. Dan Allah Maha Mengetahui." 

 

Kembali 6f | IndeX | Lanjut 6h 

Selasa, 30 Juni 2026

Kitab Attibyan : 06f

  

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 6e | IndeX | Lanjut 6g

 

 الباب السادس

Bab Keenam

 

 

 ندب الترتيب

Anjuran Membaca Al-Qur'an Sesuai Urutan Mushaf


[فصل] قال العلماء: الاختيار أن يقرأ على ترتيب المصحف فيقرأ الفاتحة، ثم البقرة، ثم آل عمران، ثم ما بعدها على الترتيب، وسواء قرأ في الصلاة أو في غيرها، حتى قال بعض أصحابنا. 

[Sub bab] Para ulama berkata: Yang dipilih (lebih utama) adalah membaca Al-Qur'an sesuai dengan urutan mushaf. Maka dimulai dengan Surah Al-Fatihah, kemudian Al-Baqarah, lalu Ali 'Imran, kemudian surat-surat setelahnya secara berurutan. Hal ini berlaku baik ketika membaca dalam salat maupun di luar shalat.

إذا قرأ في الركعة الأولى سورة قل أعوذ برب الناس يقرأ في الثانية بعد الفاتحة من البقرة.

Bahkan sebagian ulama dari kalangan mazhab kami mengatakan: apabila seseorang membaca Surat An-Nas pada rakaat pertama, maka pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah hendaknya ia membaca Surat Al-Baqarah.

قال بعض أصحابنا: ويستحب إذا قرأ سورة أن يقرأ بعدها التي تليها، ودليل هذا أن ترتيب المصحف، إنما جعل هكذا لحكمة، فينبغي أن يحافظ عليها، إلا فيما ورد الشرع باستثنائه، كصلاة الصبح يوم الجمعة، يقرأ في الأولى: سورة السجدة، وفي الثانية: هل أتى على الإنسان، وصلاة العيد في الأولى: [ق] وفي الثانية: اقتربت الساعة، وركعتي سنة الفجر في الأولى: قل يا أيها الكافرون، وفي الثانية: قل هو الله أحد، وركعات الوتر في الأولى: سبح اسم ربك الأعلى، وفي الثانية: قل يا أيها الكافرون، وفي الثالثة: قل هو الله أحد، والمعوذتين.

Sebagian ulama mazhab kami juga berkata: dianjurkan, apabila telah membaca suatu surat, agar membaca surat yang berada setelahnya. Alasannya, karena urutan mushaf disusun demikian berdasarkan suatu hikmah, sehingga sudah semestinya urutan tersebut dipelihara.

Kecuali pada keadaan-keadaan yang memang dikecualikan oleh syariat, seperti:

- Pada shalat Subuh hari Jumat, pada rakaat pertama membaca Surah As-Sajdah, dan pada rakaat kedua membaca Surah Al-Insan.

- Pada shalat Id, pada rakaat pertama membaca Surat Qaf, dan pada rakaat kedua membaca Surah Al-Qamar.

- Pada dua rakaat sunah sebelum Subuh, pada rakaat pertama membaca Surat Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca Surat Al-Ikhlas.

- Pada shalat Witir tiga rakaat, pada rakaat pertama membaca Surat Al-A'la, pada rakaat kedua Surat Al-Kafirun, dan pada rakaat ketiga Surat Al-Ikhlas serta dua surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas).

 

ولو خالف الموالاة، فقرأ سورة لا تلي الأولى، أو خالف الترتيب، فقرأ سورة، ثم قرأ سورة قبلها جاز؛ فقد جاء بذلك آثار كثيرة.

Namun, jika seseorang tidak mengikuti urutan tersebut, lalu membaca suatu surat yang tidak berada setelah surat sebelumnya, atau membalik urutan dengan membaca suatu surat kemudian membaca surat yang letaknya sebelum surat itu dalam mushaf, maka hal itu diperbolehkan. Sebab, terdapat banyak riwayat yang menunjukkan kebolehannya.

وقد قرأ عمر بن الخطاب رضي الله عنه في الركعة الأولى من الصبح بالكهف، وفي الثانية بيوسف.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah membaca pada rakaat pertama shalat Subuh Surat Al-Kahfi, dan pada rakaat kedua Surat Yusuf.

وقد كره جماعة مخالفة ترتيب المصحف.

Meskipun demikian, sejumlah ulama memakruhkan menyelisihi urutan mushaf.

وروى ابن أبي داود ، عن الحسن: أنه كان يكره أن يقرأ القرآن إلا على تأليفه في المصحف.

Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari Hasan al-Basri bahwa beliau memakruhkan membaca Al-Qur'an tidak sesuai dengan susunan yang terdapat dalam mushaf.

وبإسناده الصحيح عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أنه قيل له: إن فلانا يقرأ القرآن منكوسا؟ فقال: ذلك منكوس القلب .

Dengan sanad yang sahih, beliau juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud bahwa ada yang berkata kepada beliau, "Sesungguhnya si fulan membaca Al-Qur'an secara terbalik (mankūsan)." Beliau menjawab, "Itu adalah orang yang hatinya telah terbalik." 

 

وأما قراءة السور من آخرها إلى أولها  فممنوع منعا متأكدا؛ فإنه يذهب بعض ضروب الإعجاز، ويزيل حكمة ترتيب الآيات.

Adapun membaca satu surat dari ayat terakhir menuju ayat pertama, maka hal itu dilarang dengan larangan yang sangat tegas. Sebab, cara tersebut menghilangkan sebagian aspek kemukjizatan Al-Qur'an dan melenyapkan hikmah dari susunan ayat-ayatnya.

وقد روى ابن أبي داود، عن إبراهيم النخعي الإمام التابعي الجليل، والإمام مالك بن أنس أنهما كرها ذلك، وأنّ مالكا كان يعيبه، ويقول: هذا عظيم.

Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dari Ibrahim al-Nakha'i, seorang imam besar dari kalangan tabi'in, serta Malik bin Anas, bahwa keduanya memakruhkan perbuatan tersebut. Bahkan Imam Malik menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang tercela dan berkata, "Ini adalah perkara yang besar (sangat buruk)."

وأما تعليم الصبيان من آخر المصحف إلى أوله فحسن، ليس هذا من هذا الباب؛ فإن ذلك قراءة متفاضلة، في أيام متعددة، مع ما فيه من تسهيل الحفظ عليهم. والله أعلم. 

Adapun mengajarkan anak-anak menghafal Al-Qur'an dimulai dari bagian akhir mushaf menuju bagian awal, maka hal itu baik dan tidak termasuk dalam pembahasan di atas. Sebab, yang dimaksud adalah membaca surat-surat secara terpisah pada hari-hari yang berbeda, bukan membalik urutan ayat dalam satu surat. Selain itu, cara tersebut juga lebih memudahkan mereka dalam menghafal Al-Qur'an.
Dan Allah Maha Mengetahui. 

 

[فصل] قراءة القرآن من المصحف أفضل من القراءة عن ظهر القلب، لأن النظر في المصحف عبادة مطلوبة، فتجتمع القراءة والنظر.

[Sub bab] Membaca Al-Qur'an dengan melihat mushaf lebih utama daripada membacanya dari hafalan, karena melihat mushaf merupakan ibadah yang dianjurkan. Dengan demikian, terkumpullah dua bentuk ibadah sekaligus, yaitu membaca Al-Qur'an dan memandang mushaf.

هكذا قاله القاضي حسين من أصحابنا، وأبو حامد الغزالي، وجماعات من السلف.

Demikianlah yang dikemukakan oleh Al-Qadi Husayn, salah seorang ulama mazhab kami, Abu Hamid al-Ghazali, dan sejumlah ulama salaf.

ونقل الغزالي في الإحياء أن كثيرين من الصحابة رضي الله عنهم: كانوا يقرؤون من المصحف، ويكرهون أن يخرج يوم ولم ينظروا في المصحف.

Imam Ghazali menukil dalam kitab Ihya' 'Ulum ad-Din bahwa banyak sahabat رضي الله عنهم membaca Al-Qur'an dengan melihat mushaf, dan mereka tidak menyukai apabila berlalu satu hari tanpa melihat mushaf.

وروى ابن أبي داود القراءة في المصحف عن كثيرين من السلف، ولم أر فيه خلافا.

Ibnu Abi Dawud juga meriwayatkan praktik membaca Al-Qur'an dari mushaf dari banyak ulama salaf, dan aku tidak mengetahui adanya pendapat yang menyelisihi hal tersebut.

ولو قيل: إنه يختلف باختلاف الأشخاص: فيختار القراءة في المصحف، لمن استوى خشوعه وتدبره في حالتي القراءة في المصحف، وعن ظهر القلب. 

Namun, apabila dikatakan bahwa hukumnya berbeda-beda sesuai keadaan masing-masing orang, maka bagi orang yang kekhusyukan dan tadabburnya sama antara membaca dari mushaf dan membaca dari hafalan, yang lebih utama baginya adalah membaca dari mushaf. 

 

ويختار القراءة عن ظهر القلب، لمن لم يكمل بذلك خشوعه، ويزيد على خشوعه وتدبره لو قرأ من المصحف لكان هذا قولا حسنا، والظاهر: أن كلام السلف وفعلهم محمول على هذا التفصيل. 

Adapun bagi orang yang kekhusyukan dan tadabburnya lebih sempurna ketika membaca dari hafalan, serta akan berkurang apabila membaca dari mushaf, maka yang lebih utama baginya adalah membaca dari hafalan. Pendapat ini merupakan pendapat yang baik.

Tampaknya, perkataan dan praktik para ulama salaf mengenai masalah ini dapat dipahami berdasarkan perincian tersebut.

[فصل] في استحباب قراءة الجماعة مجتمعين وفضل القارئين من الجماعة والسامعين، وبيان فضيلة من جمعهم عليها، وحرّضهم وندبهم إليها.

[Sub bab] Tentang anjuran membaca Al-Qur'an secara berjamaah, keutamaan orang-orang yang membaca Al-Qur'an dalam suatu majelis, keutamaan orang-orang yang mendengarkannya, serta penjelasan mengenai keutamaan orang yang mengumpulkan mereka, mendorong, dan mengajak mereka untuk melaksanakan amalan tersebut. 

 

 

 

الثواب المشترك

Pahala Bersama dalam Membaca Al-Qur'an Secara Berjamaah


اعلم أن قراءة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة، وأفعال السلف والخلف المتظاهرة. 

Ketahuilah bahwa membaca Al-Qur'an secara berjamaah merupakan amalan yang dianjurkan (mustahab), berdasarkan dalil-dalil yang jelas, serta praktik yang telah dilakukan secara luas oleh para ulama salaf dan khalaf.

فقد صح عن النبي ﷺ من رواية أبي هريرة وأبي سعيد الخدري رضي الله عنهما أنه قال: ما من قوم يذكرون الله إلا حفت بهم الملائكة وغشيتهم الرحمة، ونزلت عليهم السكينة، وذكرهم الله فيمن عنده ﷺ قال الترمذي : حديث حسن صحيح.

Telah sahih dari Nabi Muhammad melalui riwayat Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنهما, bahwa beliau bersabda:

"Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berzikir kepada Allah, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya."

Al-Tirmidhi berkata, "Hadis ini hasan sahih."

وعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ قال: ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله تعالى، يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة، وحفتّهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده. رواه مسلم، وأبو داود بإسناد صحيح على شرط البخاري ومسلم.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya."

Hadist ini diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dan Abu Dawud dengan sanad yang sahih sesuai dengan syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim. 

 

وعن معاوية رضي الله عنه أن النبي ﷺ خرج على حلقة من أصحابه فقال: ما يجلسكم؟ 

Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan رضي الله عنه, bahwa Muhammad ﷺ keluar menemui suatu halaqah (majelis) para sahabatnya, lalu beliau bertanya:

"Apa yang membuat kalian duduk berkumpul di sini?"

قالوا: جلسنا نذكر الله تعالى، ونحمده لما هدانا للإسلام، ومن علينا به، 

Mereka menjawab:

"Kami duduk untuk berzikir kepada Allah Ta'ala dan memuji-Nya atas hidayah Islam yang telah Dia berikan kepada kami serta nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kami."

فقال: أتاني جبريل عليه السلام فأخبرني: أنّ الله تعالى يباهي بكم الملائكة .

Beliau kemudian bersabda:

"Sesungguhnya Jibril telah datang kepadaku dan memberitahukan bahwa Allah Ta'ala membanggakan kalian di hadapan para malaikat."

رواه الترمذي والنسائي، وقال الترمذي: حديث حسن صحيح، والأحاديث في هذا كثيرة. 

Hadist ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Nasa'i. Imam at-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hasan sahih." Hadis-hadis yang semakna dengan ini sangat banyak.

وروى الدارمي بإسناده، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: من استمع إلى آية من كتاب الله كانت له نورا.

Ad-Darimi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, beliau berkata:

"Barang siapa mendengarkan satu ayat dari Kitab Allah, maka ayat itu akan menjadi cahaya baginya." 


وروى ابن أبي داود أن أبا الدرداء رضي الله عنه كان يدرس القرآن معه نفر يقرؤون جميعا .

Ibnu Abī Dāwud meriwayatkan bahwa Abu Darda raḍiyallāhu 'anhu biasa mengadakan kajian Al-Qur'an bersama sekelompok orang yang membacanya secara bersama.

وروى ابن أبي داود فعل الدراسة مجتمعين، عن جماعات من أفاضل السلف والخلف وقضاة المتقدمين.

Ibnu Abī Dāwud juga meriwayatkan praktik belajar Al-Qur'an secara berjamaah ini dari sejumlah tokoh terkemuka dari kalangan salaf dan khalaf, serta dari para qadhi (hakim) generasi terdahulu.

وعن حسان بن عطية والأوزاعي أنهما قالا: أول من أحدث الدراسة - في مسجد دمشق - هشام بن إسماعيل في مقدمه على عبد الملك.

Diriwayatkan pula dari Hassan bin 'Athiyyah dan Al-Auza'i bahwa keduanya berkata, "Orang yang pertama kali mengadakan kegiatan belajar Al-Qur'an secara berjamaah di Masjid Damaskus adalah Hisyam bin Isma'il ketika ia datang sebagai gubernur pada masa pemerintahan Abd al-Malik bin Marwan."

وأما ما روى ابن أبي داود عن الضحاك بن عبد الرحمن بن عرزب: أنه أنكر هذه الدراسة، وقال: ما رأيت ولا سمعت، وقد أدركت أصحاب رسول الله ﷺ يعني ما رأيت أحدا فعلها.

Adapun riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Abī Dāwud dari Dhohak bin 'Abdurrahman bin 'Arzab, beliau mengingkari praktik belajar Al-Qur'an secara berjamaah tersebut. Beliau berkata, "Aku tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar hal itu, padahal aku telah bertemu dengan para sahabat Rasulullah ﷺ. Maksudnya, aku tidak melihat seorang pun dari mereka melakukannya." 


وعن وهب قال: قلت لمالك أرأيت القوم يجتمعون فيقرؤون جميعا سورة واحدة حتى يختموها؟ 

Diriwayatkan dari Wahab, ia berkata, "Aku bertanya kepada Malik bin Anas, 'Bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang berkumpul lalu membaca satu surat secara bersama-sama hingga selesai?'"

فأنكر ذلك وعابه، وقال: ليس هكذا تصنع الناس، إنما كان يقرأ الرجل على الآخر يعرضه.

Maka Imam Malik mengingkari hal tersebut dan menganggapnya tidak baik. Beliau berkata, "Bukan seperti itu kebiasaan manusia (para ulama terdahulu). Dahulu, seseorang membaca Al-Qur'an di hadapan orang lain untuk diperiksa dan dikoreksi bacaannya."

فهذا الإنكار منهما مخالف لما عليه السلف والخلف، ولما يقتضيه الدليل، فهو متروك، والاعتماد على ما تقدم من استحبابها، لكن القراءة في حال الاجتماع لها شروط قدمناها ينبغي أن يعتنى بها. والله أعلم.

Namun, pengingkaran dari kedua tokoh tersebut bertentangan dengan praktik yang dilakukan oleh banyak ulama salaf dan khalaf, serta bertentangan dengan dalil yang menunjukkan kebolehannya. Karena itu, pendapat tersebut tidak dijadikan pegangan. Yang menjadi sandaran adalah pendapat yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu bahwa belajar dan membaca Al-Qur'an secara berjamaah hukumnya dianjurkan (mustahab). Akan tetapi, membaca Al-Qur'an ketika berkumpul memiliki syarat-syarat yang telah kami jelaskan sebelumnya, sehingga patut diperhatikan dengan baik. Wallāhu a'lam.

وأما فضيلة من يجمعهم على القراءة، ففيها نصوص كثيرة، كقوله ﷺ : الدّال على الخير كفاعله .

Adapun keutamaan orang yang mengumpulkan manusia untuk membaca Al-Qur'an, maka terdapat banyak dalil yang menjelaskannya. Di antaranya sabda Nabi ﷺ:

"Orang yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya."

وقوله ﷺ : لأن يهدي الله بك رجلا واحدا، خير لك من حمر النعم .

Dan nabi ﷺ bersabda :

"Sungguh, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah (harta yang paling berharga di kalangan orang Arab)."

والأحاديث فيه كثيرة مشهورة، وقد قال الله تعالى: ﴿ وتعاونوا على البر والتقوى ﴾ ولا شك في عظم أجر الساعي في ذلك. 

Hadis-hadis tentang hal ini sangat banyak dan masyhur. Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Ma'idah: 2)

Tidak diragukan lagi bahwa pahala orang yang berusaha mengajak dan mengumpulkan manusia untuk melakukan kebaikan seperti ini sangatlah besar. 

 

Kembali 6e | IndeX | Lanjut 6g

 

Senin, 29 Juni 2026

Kitab Attibyan : 06e

  

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 6dIndeX | Lanjut 6f

 

 الباب السادس

Bab Keenam

 

 

 احترام القرآن

Menghormati Al-Qur’an

 

[فصل] ومما يعتنى به ويتأكد الأمر به: احترام القرآن من أمور قد يتساهل فيها بعض الغافلين القارئين مجتمعين:

[Sub bab] Termasuk hal yang perlu diperhatikan dan sangat ditekankan adalah memuliakan serta menghormati Al-Qur’an, dari beberapa perkara yang terkadang diremehkan oleh sebagian pembaca yang lalai ketika mereka membaca Al-Qur’an secara bersama-sama.

 

فمن ذلك اجتناب الضحك، واللغط، والحديث في خلال القراءة، إلا كلاما يضطّر إليه.

Di antaranya adalah: Menghindari tertawa, menghindari kegaduhan dan suara yang mengganggu, serta menghindari berbicara di tengah-tengah bacaan Al-Qur’an, kecuali pembicaraan yang benar-benar diperlukan.

وليمتثل قول الله تعالى: ﴿ وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون ﴾. [الأعراف : ٢٠٤]

Dan hendaknya melaksanakan firman Allah Ta‘ala:

“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dengan saksama dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-A‘raf: 204)

 

وليقتد بما رواه ابن أبي داود عن ابن عمر رضي الله عنهما: أنه كان إذا قرأ القرآن لا يتكلم حتى يفرغ منه، ذكره في كتاب التفسير في قوله تعالى: ﴿ نساؤكم حرث لكم ﴾، [البقرة : ٢٢٣].

Dan hendaknya meneladani apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

Bahwa beliau apabila membaca Al-Qur’an, beliau tidak berbicara hingga selesai membacanya.

Ibnu Abi Dawud menyebutkan hadist ini dalam kitab tafsir ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ala:

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian…” (QS. Al-Baqarah: 223)

ومن ذلك العبث باليد وغيرها فإنه يناجي ربه سبحانه وتعالى فلا يعبث بين يديه.

Termasuk adab menghormati Al-Qur’an juga adalah menghindari bermain-main dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, karena seseorang yang membaca Al-Qur’an sedang bermunajat kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta‘ala, maka tidak sepantasnya ia bersikap main-main di hadapan-Nya.

ومن ذلك النظر إلى ما يلهي ويبدد الذهن. وأقبح من هذا كله: النظر إلى ما لا يجوز النظر إليه: كالأمرد وغيره، فإن النظر إلى الأمرد الحسن من غير حاجة حرام، سواء كان بشهوة أو بغيرها، سواء أمن الفتنة أو لم يأمنها.

Dan termasuk adab (ketika membaca Al-Qur’an) adalah tidak melihat kepada sesuatu yang melalaikan dan memecah konsentrasi.

Dan yang lebih buruk dari semua itu adalah memandang sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk dipandang, seperti al-amrad (anak lelaki yang belum tumbuh janggut) dan selainnya.

Karena memandang al-amrad yang berparas tampan tanpa kebutuhan hukumnya haram, baik disertai syahwat maupun tidak, baik merasa aman dari fitnah maupun tidak.

وهذا هو المذهب الصحيح المختار عند العلماء، وقد نص على تحريمه الإمام الشافعي، ومن لا يحصى من العلماء، ودليله قوله تعالى: ﴿ قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ﴾ [النور : ٣٠].

Dan inilah pendapat yang dianggap sahih dan dipilih oleh para ulama, dan Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah serta banyak ulama lainnya telah menegaskan keharamannya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala:

“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menahan pandangan mereka.” (QS. An-Nur: 30)

 

ولأنه في معنى المرأة، بل ربما كان بعضهم، أو كثير منهم أحسن من كثير من النساء، ويتمكن من أسباب الريبة فيه، ويتسهل من طرق الشر في حقه ما لا يتسهل في حق المرأة، فكان تحريمه أولى. 

Karena ia (pemuda tampan/amrad) dalam hal ini memiliki kedudukan yang serupa dengan wanita. Bahkan, bisa jadi sebagian mereka atau banyak di antara mereka lebih tampan daripada banyak wanita. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan fitnah juga terdapat pada diri mereka, bahkan jalan-jalan yang mengantarkan kepada keburukan melalui mereka lebih mudah terjadi daripada melalui wanita. Oleh karena itu, keharaman memandang mereka lebih layak untuk ditegaskan.

وأقاويل السلف في التنفير منهم أكثر من أن تحصى، وقد سمّوهم الأنتان؛ لكونهم مستقذرين شرعا.

Ucapan-ucapan para ulama salaf dalam memperingatkan manusia dari mereka sangat banyak, hingga tidak terhitung jumlahnya. Mereka bahkan menyebut mereka 'al-antān' (الأنتان), karena menurut syariat mereka dipandang sebagai sebab yang harus dijauhi dan diwaspadai.

وأما النظر إليه في حال البيع، والشراء، والأخذ والإعطاء، والتطبب، والتعليم ونحوها من مواضع الحاجة، فجائز للضرورة، لكن يقتصر الناظر على قدر الحاجة، ولا يديم النظر من غير ضرورة.

Adapun memandang mereka ketika ada keperluan, seperti dalam jual beli, transaksi, menerima atau menyerahkan sesuatu, berobat, mengajar, dan kebutuhan-kebutuhan semisalnya, maka hal itu diperbolehkan karena adanya kebutuhan (darurat atau hajat). Akan tetapi, orang yang memandang hendaknya membatasi pandangannya sebatas kebutuhan saja, dan tidak terus-menerus memandang tanpa adanya keperluan. 

 

وكذا المعلم إنما يباح له النظر الذي يحتاج إليه.

Demikian pula seorang pengajar, ia hanya dibolehkan memandang sebatas yang diperlukan untuk keperluan mengajar.

ويحرم عليهم كلّهم في كل الأحوال النظر بشهوة، ولا يختص هذا بالأمرد، بل يحرم على كل مكلف النظر بشهوة إلى كل أحد، رجلا كان أو امرأة، محرما كانت المرأة أو غيرها، إلا الزوجة، أو المملوكة التي يملك الاستمتاع بها. حتى قال أصحابنا: يحرم النظر بشهوة إلى محارمه: كأخته، وأمه، والله أعلم.

Dan diharamkan atas mereka semua, dalam setiap keadaan, memandang dengan syahwat. Larangan ini tidak khusus berlaku terhadap pemuda tampan (amrad) saja, tetapi haram bagi setiap mukalaf memandang dengan syahwat kepada siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, baik perempuan itu termasuk mahram maupun bukan, kecuali kepada istri atau budak perempuan yang halal baginya untuk digauli. Bahkan para ulama mazhab kami berkata: haram memandang mahram sendiri—seperti saudara perempuan atau ibu—dengan syahwat. Dan Allah Maha Mengetahui.

وعلى الحاضرين مجلس القراءة إذا رأوا شيئا من هذه المنكرات المذكورة أو غيرها، أن ينهوا عنه حسب الإمكان: باليد لمن قدر، وباللسان لمن عجز عن اليد وقدر على اللسان، وإلا فلينكر بقلبه، والله أعلم. 

Orang-orang yang menghadiri majelis pembacaan Al-Qur'an, apabila melihat salah satu kemungkaran yang telah disebutkan atau kemungkaran lainnya, maka mereka wajib mencegahnya sesuai dengan kemampuan. Dengan tangan bagi yang mampu, dengan lisan bagi yang tidak mampu melakukannya dengan tangan tetapi mampu berbicara. Jika tidak mampu juga, maka hendaklah ia mengingkarinya dengan hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui. 

 

 

 قراءته بالعجمية

Membaca Al-Qur'an dengan Bahasa Non-Arab


[فصل] لا تجوز قراءة القرآن بالعجمية، سواء أحسن العربية أم لم يحسنها، سواء كان في الصلاة أم في غيرها، فإن قرأ بها في الصلاة لم تصح صلاته.

[Sub bab] Tidak diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan bahasa non-Arab (a'jam), baik seseorang mampu berbahasa Arab maupun tidak, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Apabila seseorang membacanya dengan bahasa non-Arab ketika shalat, maka shalatnya tidak sah.

هذا مذهبنا، ومذهب مالك، وأحمد، وداود، وأبي بكر بن المنذر.

Inilah pendapat mazhab kami, juga merupakan pendapat Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Dawud az-Zahiri, dan Abu Bakar bin Mundzir.

وقال أبو حنيفة : يجوز ذلك، وتصح به الصلاة.

Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan dan shalat tetap sah dengannya.

وقال أبو يوسف ومحمد : يجوز ذلك لمن لم يحسن العربية، ولا يجوز لمن يحسنها. 

Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad as-Shaybani berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan bagi orang yang tidak mampu berbahasa Arab, tetapi tidak diperbolehkan bagi orang yang mampu membacanya dalam bahasa Arab. 

 

 

قراءته بالروايات

Membaca Al-Qur'an dengan Berbagai Qira'at


[فصل] وتجوز قراءة القرآن بالقراءات السبع المجمع عليها، ولا يجوز بغير السبع، ولا بالروايات الشاذة المنقولة عن القراء السبعة. 

[Sub bab] Diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan tujuh qira'at yang telah disepakati (diterima) oleh para ulama. Adapun membaca dengan selain ketujuh qira'at tersebut, atau dengan riwayat-riwayat yang syadz (menyimpang/tidak sahih) yang dinukil dari para imam qira'at yang tujuh, maka tidak diperbolehkan.

[Kata syadz (شاذ) secara bahasa berarti menyendiri, menyimpang, atau keluar dari kebiasaan]

وسيأتي في الباب السابع – إن شاء الله تعالى – بيان اتفاق الفقهاء على استتابة من أقرأ بالشواذ، أو قرأ بها.

Pada bab ketujuh, insya Allah Ta'ala, akan dijelaskan adanya kesepakatan para ulama fikih bahwa orang yang mengajarkan qira'at-qira'at syadz atau membacanya diminta untuk bertaubat.

وقال أصحابنا وغيرهم: لو قرأ بالشواذ في الصلاة  بطلت صلاته إن كان عالما، وإن كان جاهلا لم تبطل، ولم تحسب له تلك القراءة.

Para ulama mazhab kami dan selain mereka juga berkata: apabila seseorang membaca qira'at syadz dalam shalat, maka shalatnya batal apabila ia mengetahui hukumnya. Namun jika ia tidak mengetahuinya (karena ketidaktahuan), maka shalatnya tidak batal, hanya saja bacaan tersebut tidak dianggap sah sebagai bacaan Al-Qur'an dalam shalat.

وقد نقل الإمام أبو عمر بن عبد البر الحافظ: إجماع المسلمين على أنه لا تجوز القراءة بالشاذ، وأنه لا يصلى خلف من يقرأ بها.

Abu Umar bin Abdil Bari, seorang imam, ahli hadist, dan hafiz, menukil adanya ijmak (konsensus) kaum muslimin bahwa tidak diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan qira'at syadz, dan tidak boleh bermakmum kepada orang yang membaca dengannya. 

 

قال العلماء: من قرأ الشاذ إن كان جاهلا به، أو بتحريمه عرف بذلك، فإن عاد إليه أو كان عالما به عزر تعزيرا بليغا إلى أن ينتهي عن ذلك.

Para ulama berkata: Barang siapa membaca qira'at syadz, jika ia tidak mengetahuinya atau tidak mengetahui keharamannya, maka ia harus diberi penjelasan tentang hal tersebut. Apabila setelah dijelaskan ia tetap mengulanginya, atau sejak awal ia memang mengetahui hukumnya, maka ia dikenai hukuman ta'zir yang berat hingga ia berhenti dari perbuatannya.

ويجب - على كل متمكن من الإنكار عليه ومنعه - الإنكار والمنع اهـ. 

Dan wajib bagi setiap orang yang mampu mengingkarinya dan mencegahnya untuk melakukan pengingkaran serta pencegahan terhadap perbuatan tersebut.

 [فصل] إذا ابتدأ بقراءة أحد القراء، فينبغي أن يستمر على القراءة بها ما دام الكلام مرتبطا، فإذا انقضى ارتباطه، فله أن يقرأ بقراءة أحد من السبعة، والأولى دوامه على الأولى في هذا المجلس. 

[Sub bab] Apabila seseorang memulai membaca Al-Qur'an dengan qira'at salah seorang imam qira'at, maka hendaknya ia terus melanjutkan bacaannya dengan qira'at tersebut selama rangkaian pembicaraan atau bacaan itu masih bersambung. Apabila rangkaian itu telah selesai, maka ia boleh membaca dengan qira'at salah satu dari tujuh qira'at yang diakui. Namun, yang lebih utama adalah tetap melanjutkan dengan qira'at yang pertama selama masih berada dalam majelis tersebut. 

 

Kembali 6dIndeX | Lanjut 6f

 

Jumat, 26 Juni 2026

Kitab Attibyan : 06d

 

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 6cIndeX | Lanjut 6e

 

 الباب السادس

Bab Keenam

 

 

البكاء

Tangisan

 

 

وفي رواية: إنه كان في صلاة العشاء فتدلّ على تكريره منه.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: bahwa beliau sedang melaksanakan salat Isya. Ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dilakukan beliau berulang kali. 

وفي رواية: أنه بكى حتى سمعوا بكاءه من وراء الصّفوف.

Dalam riwayat lain disebutkan: bahwa beliau menangis hingga mereka mendengar tangisannya dari belakang barisan-barisan shalat.

وعن أبي رجاء قال: رأيت ابن عباس وتحت عينيه مثل الشراك البالي من الدموع .

Dari Abu Roja’ berkata: Aku melihat Ibnu Abbas, dan di bawah kedua matanya terdapat bekas seperti tali sandal yang sudah usang karena banyaknya air mata.

وعن أبي صالح قال: قدم ناس من أهل اليمن على أبي بكر الصديق رضي الله عنه فجعلوا يقرؤون القرآن ويبكون، فقال أبو بكر الصديق رضي الله عنه: هكذا كنا .

Dan dari Abu Shalih berkata: Sekelompok orang dari Yaman datang kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, lalu mereka membaca Al-Qur’an dan menangis. Maka Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Beginilah dahulu keadaan kami.’

وعن هشام قال: ربما سمعت بكاء محمد بن سيرين في الليل وهو في الصلاة.

Dari Hisyam berkata: Terkadang aku mendengar tangisan Muhammad bin Sirin pada malam hari ketika beliau sedang salat.

والآثار في هذا كثيرة، لا يمكن حصرها، وفيما أشرنا إليه ونبهنا عليه كفاية، والله أعلم.

Atsar-atsar tentang hal ini sangat banyak, tidak mungkin dihitung seluruhnya. Dan apa yang telah kami sebutkan serta kami isyaratkan sudah mencukupi. Wallahu a‘lam.

قال الإمام أبو حامد الغزالي : البكاء مستحب مع القراءة وعندها. وطريقه في تحصيله  أن يحضر قلبه الحزن، بأن يتأمل ما فيه من التهديد، والوعيد الشديد، والمواثيق والعهود، ثم يتأمل تقصيره في ذلك، فإن لم يحضره حزن وبكاء كما يحضر الخواص فليبك على فقد ذلك فإنه من أعظم المصائب. 

Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata: Menangis ketika membaca Al-Qur’an dan pada saat mendengarkannya adalah sesuatu yang dianjurkan (mustahab). Cara untuk menghadirkannya ialah dengan menghadirkan rasa sedih dalam hati; yaitu dengan merenungkan kandungan ancaman, peringatan keras, janji-janji, dan perjanjian-perjanjian yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kemudian hendaknya seseorang merenungkan kekurangannya dalam melaksanakan hal tersebut.

Apabila belum hadir rasa sedih dan tangisan sebagaimana yang hadir pada orang-orang pilihan (khawas), maka hendaklah ia menangisi tidak adanya keadaan itu pada dirinya, karena kehilangan keadaan seperti itu termasuk musibah yang besar.”


 حكم الترتيل

Hukum Tartil (membaca Al-Qur’an dengan perlahan dan teratur)


[فصل] وينبغي أن يرتل قراءته. وقد اتفق العلماء رضي الله عنهم على استحباب الترتيل، قال الله تعالى: ﴿ ورتل القرآن ترتيلا ﴾. وثبت عن أم سلمة رضي الله عنها: أنها نعتت قراءة رسول الله ﷺ: قراءة مفسرة حرفا حرفا. رواه أبو داود والنسائي والترمذي، قال الترمذي : حديث حسن صحيح.

[Sub bab] Dianjurkan bagi seseorang untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil. Para ulama rahimahumullah telah sepakat bahwa tartil itu hukumnya sunnah (dianjurkan).

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil (perlahan, teratur, dan jelas).” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Dan telah sahih dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa beliau menggambarkan bacaan Rasulullah ﷺ sebagai:

“Bacaan yang dijelaskan huruf demi huruf.” 

(HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: hadis hasan sahih).

وعن معاوية بن قرة رضي الله عنه عن عبد الله بن مغفل رضي الله عنه قال: رأيت رسول الله ﷺ يوم فتح مكة على ناقته يقرأ سورة الفتح يرجع في قراءته. رواه البخاري ومسلم .

Dari Mu‘awiyah bin Qurrah dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku melihat Rasulullah ﷺ pada hari penaklukan Makkah berada di atas untanya sambil membaca Surah Al-Fath, dan beliau mengulang-ulang (melagukan dengan lembut) bacaannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال: لأن أقرأ سورة أرتلها أحبّ إليّ من أن أقرأ القرآن كلّه .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Aku membaca satu surah dengan tartil lebih aku sukai daripada membaca seluruh Al-Qur’an (dengan cepat tanpa tartil).”

وعن مجاهد أنه سئل عن رجلين قرأ أحدهما البقرة وآل عمران، والآخر البقرة وحدها، وزمنهما، وركوعهما، وسجودهما، وجلوسهما واحد سواء؟ فقال: الذي قرأ البقرة وحدها أفضل.

Dan dari Mujahid, bahwa beliau pernah ditanya tentang dua orang: yang satu membaca Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran, sedangkan yang lain hanya membaca Surah Al-Baqarah saja, namun waktu salat, rukuk, sujud, dan duduk keduanya sama. Maka beliau menjawab:

“Yang membaca Al-Baqarah saja lebih utama.” 

 

وقد نهي عن الإفراط في الإسراع، ويسمى الهذرمة .

Dan telah ada larangan dari berlebihan dalam mempercepat bacaan, yang disebut dengan hadzramah [الهذرمة] (membaca terlalu cepat hingga mengurangi ketenangan dan kejelasan bacaan).

فثبت عن عبد الله بن مسعود أن رجلا قال له: إني أقرأ المفصل في ركعة واحدة، فقال عبد الله بن مسعود: هكذا هكذا الشعر، إن أقواما يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم، ولكن إذا وقع في القلب فرسخ فيه نفع، رواه البخاري ومسلم ، وهذا لفظ مسلم في إحدى رواياته.

Telah diriwayatkan secara sahih dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki berkata kepada beliau:

“Sesungguhnya aku membaca surat-surat Al-Mufashshal dalam satu rakaat.”

Maka Abdullah bin Mas‘ud berkata:

“Seperti membaca syair begitu? (terlalu cepat). Sesungguhnya ada suatu kaum yang membaca Al-Qur’an tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan mereka. Namun apabila Al-Qur’an itu masuk ke dalam hati lalu tertanam kuat di dalamnya, maka itulah yang memberi manfaat.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim; lafaz ini adalah salah satu riwayat Muslim).

قال العلماء: والترتيل مستحب للتدبر ولغيره.

Para ulama berkata:

Tartil disunnahkan agar dapat melakukan tadabbur (merenungi makna) dan juga untuk tujuan-tujuan baik lainnya.

قالوا: يستحب الترتيل للعجمي الذي لا يفهم معناه؛ لأن ذلك أقرب إلى التوقير والاحترام، وأشد تأثيرا في القلب. 

Mereka juga berkata:

Disunnahkan bertartil bahkan bagi orang non-Arab yang tidak memahami makna Al-Qur’an, karena cara membaca seperti itu lebih mendekatkan kepada sikap pengagungan dan penghormatan terhadap Al-Qur’an, serta lebih kuat pengaruhnya terhadap hati. 

 

 

 الدعاء لكل مناسبة

Doa pada setiap kesempatan (sesuai kandungan ayat)


[فصل] ويستحب إذا مر بآية رحمة، أن يسأل الله تعالى من فضله، وإذا مر بآية عذاب، أن يستعيذ بالله  من الشر ومن العذاب، أو يقول: اللهم إني أسألك العافية، أو أسألك المعافاة، من كل مكروه، أو نحو ذلك. 

[Sub bab] Dianjurkan apabila seseorang melewati ayat rahmat, agar ia memohon kepada Allah Ta‘ala karunia-Nya. Dan apabila melewati ayat azab (sisksa), agar ia memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan dan dari siksanya, atau mengucapkan:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan,”

atau

“Aku memohon kepada-Mu perlindungan dan keselamatan dari segala sesuatu yang tidak disukai,”

atau doa yang semisalnya.

وإذا مر بآية تنزيه لله تعالى نزه فقال: سبحانه وتعالى، أو تبارك وتعالى، أو جلت عظمة ربنا؛ فقد صح عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنهما قال: صليت مع النبي ﷺ ذات ليلة فافتتح البقرة. 

Dan apabila melewati ayat yang berisi penyucian Allah (tanzih), maka hendaknya ia menyucikan Allah dengan mengucapkan:

“Subḥānahu wa Ta‘ālā (Mahasuci dan Mahatinggi Allah),”

atau

“Tabāraka wa Ta‘ālā (Mahaberkah dan Mahatinggi Allah),”

atau

“Mahaagung kebesaran Tuhan kami.”

Karena telah sahih dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

“Aku pernah shalat bersama Nabi ﷺ pada suatu malam, lalu beliau memulai dengan membaca Surah Al-Baqarah.”

۞ فقلت: يركع عند المائة، ثم مضى، 

۞ Aku berkata (dalam hati): ‘Beliau akan rukuk ketika sampai ayat ke-100,’ tetapi beliau terus melanjutkan.

۞ فقلت: يصلي بها في ركعة فمضى، 

۞ Aku berkata: ‘Beliau akan menyelesaikannya dalam satu rakaat,’ tetapi beliau tetap melanjutkan.

۞ فقلت: يركع بها، ثم افتتح النساء فقرأها، ثم افتتح آل عمران فقرأها، يقرأ ترسلا،

۞ Aku berkata: ‘Beliau akan rukuk setelah selesai membacanya,’ namun ternyata beliau melanjutkan membaca Surah An-Nisa, lalu membacanya, kemudian membuka Surah Ali ‘Imran lalu membacanya. 

 

إذا مر بآية فيها تسبيح سبح، وإذا مر بسؤال سأل، وإذا مر بتعوذ تعوذ. رواه مسلم في صحيحه.

“Apabila beliau melewati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih. Apabila melewati ayat permohonan, beliau memohon kepada Allah. Dan apabila melewati ayat yang berisi permintaan perlindungan, beliau memohon perlindungan kepada Allah.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).

وكانت سورة النساء في ذلك الوقت مقدمة على آل عمران.

Dan pada saat itu, urutan Surat An-Nisa memang didahulukan sebelum Surah Ali ‘Imran.

قال أصحابنا رحمهم الله تعالى: ويستحب هذا السؤال والاستعاذة والتسبيح لكل قارئ، سواء كان في الصلاة أو خارجا منها .

Para ulama dari kalangan mazhab kami (Syafi‘iyyah) rahimahumullah berkata:

Disunnahkan melakukan permohonan, isti‘adzah (memohon perlindungan), dan tasbih ini bagi setiap pembaca Al-Qur’an, baik ketika sedang shalat maupun di luar shalat.

قالوا: ويستحب ذلك في صلاة الإمام، والمنفرد، والمأموم؛ لأنه دعاء، فاستووا فيه كالتأمين عقب الفاتحة.

Mereka juga berkata:

Disunnahkan melakukan hal tersebut dalam shalat, baik bagi imam, orang yang shalat sendirian, maupun makmum, karena itu termasuk doa, sehingga semuanya sama dalam hal ini, sebagaimana disunnahkannya mengucapkan amin setelah membaca Al-Fatihah.

وهذا الذي ذكرناه من استحباب السؤال والاستعاذة، هو مذهب الشافعي رضي الله عنه وجماهير العلماء رحمهم الله.

Dan apa yang telah kami sebutkan tentang disunnahkannya berdoa ketika ayat rahmat, memohon perlindungan ketika ayat azab (siksa), adalah pendapat Imam Asy-Syafi‘i radhiyallahu ‘anhu dan mayoritas ulama rahimahumullah. 

قال أبو حنيفة رحمه الله تعالى: ولا يستحب ذلك، بل يكره في الصلاة، والصواب قول الجماهير لما قدمناه. 

 

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

“Hal itu tidak disunnahkan, bahkan makruh dilakukan dalam shalat.”

Namun pendapat yang benar menurut penulis adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, berdasarkan dalil yang telah disebutkan sebelumnya. 

 

Kembali 6cIndeX | Lanjut 6e 

Kamis, 25 Juni 2026

Kitab Tauhid : 8f

  

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 8eIndeX | Lanjut 9a

 

 

باب ما جاء في الرّقي والتّمائم 

Bab tentang keterangan yang datang mengenai ruqyah dan tamimah (jimat)

 

 

وعن سعيد بن جبير قال: من قطع تميمة من إنسان كان كعِدل رقبة. رواه وكيع. وله عن إبراهيم: كانوا يكرهون التّمائم كلّها من القرآن وغير القرآن.

Dari Sa‘id bin Jubair رحمه الله, beliau berkata:

“Barang siapa memotong (melepas) tamimah (jimat) dari seseorang, maka pahalanya seperti (pahala) memerdekakan seorang budak.” (Diriwayatkan oleh Waki‘)

Dan diriwayatkan pula oleh Waki‘ dari Ibrahim (An-Nakha‘i), beliau berkata:

“Mereka dahulu memakruhkan seluruh bentuk tamimah, baik yang berasal dari Al-Qur’an maupun selain Al-Qur’an.”

وكيع: هو: وكيع بن الجراح ثقة إمامٌ صاحب تصانيفَ مات سنة ١٩٧هـ.

Kata [وكيع] : Beliau adalah Waki‘ bin Al-Jarrah, seorang imam yang terpercaya (tsiqah), memiliki banyak karya tulis, dan wafat pada tahun 197 H.

إبراهيم: هو الإمام إبراهيم النخعي ثقة من كبار الفقهاء مات سنة ٩٦هـ.

Kata [إبراهيم] : Beliau adalah Imam Ibrahim An-Nakha‘i, seorang yang terpercaya (tsiqah), termasuk ulama besar dalam bidang fikih, wafat pada tahun 96 H.

كعدل رقبة: أي كان له مثل ثواب من أعتق رقبة.

Kata [كعدل رقبة] : Maksudnya orang yang memotong atau melepaskan jimat dari seseorang memperoleh pahala seperti pahala orang yang memerdekakan seorang budak.

وله: أي وروى وكيع أيضا.

Kata [وله] : Maksudnya Waki‘ juga meriwayatkan.

وكانوا: أي أصحاب عبد الله بن مسعود وهم منا سادات التابعين.

Kata [وكانوا] : Yaitu para sahabat (murid-murid) Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, dan mereka termasuk tokoh-tokoh besar dari kalangan tabi‘in.

معنى الأثرين إجمالاً: الإخبار أن من أزال عن إنسان ما يعلِّقه على نفسه لدفع الآفات فله من الثواب مثل ثواب من أعتق رقبة من الرقّ؛ لأنّ هذا الإنسان صار بتعليق التمائم مستعبداً للشيطان فإذا قطعها عنه أزال عنه رِقَّ الشيطان. ويحكي إبراهيم النخعيّ عن بعض سادات التابعين أنّهم يعمِّمون المنع من تعليق التمائم ولو كانت مكتوباً فيها قرآنٌ فقط سدّاً للذريعة.

Makna secara global dari kedua riwayat ini : Atsar ini menjelaskan bahwa orang yang menghilangkan dari seseorang sesuatu yang ia gantungkan pada dirinya untuk menolak penyakit atau bahaya (yaitu tamimah/jimat), maka ia memperoleh pahala seperti pahala memerdekakan seorang budak dari perbudakan.

Sebab orang yang menggantungkan tamimah telah menjadi terikat dan tunduk kepada tipu daya setan, sehingga ketika tamimah itu dilepaskan darinya, seakan-akan ia telah dibebaskan dari perbudakan terhadap setan.

Dan Ibrahim An-Nakha‘i menukil pendapat sebagian tokoh besar tabi‘in bahwa mereka melarang penggunaan semua jenis tamimah, meskipun hanya berisi tulisan Al-Qur’an, sebagai bentuk menutup jalan (سدّ الذريعة) menuju perkara yang terlarang.

مناسبة الأثرين للباب ظاهرة: فإن فيهما حكاية المنع من تعليق التمائم مطلقاً عن هؤلاء الأجلاء من سادات التابعين.

Kesesuaian kedua riwayat dengan bab: Keterkaitannya sangat jelas, yaitu karena di dalam keduanya terdapat penukilan larangan menggantungkan tamimah secara mutlak dari para ulama besar dan tokoh tabi‘in tersebut.

ما يستفاد من الأثرين:

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua riwayat tersebut:

١- فضل قطع التمائم؛ لأنّ ذلك من إزالة المنكر وتخليص الناس من الشرك.

1. Keutamaan memotong atau melepaskan tamimah (jimat), Karena perbuatan itu termasuk menghilangkan kemungkaran dan membebaskan manusia dari kesyirikan.

٢- تحريم تعليق التمائم مطلقاً ولو كانت من القرآن عند جماعة من التابعين.

2. Haram menggantungkan tamimah secara mutlak, meskipun berupa ayat Al-Qur’an, menurut sekelompok ulama dari kalangan tabi‘in.

٣- حرص السلف على صيانة العقيدة عن الخرافات.

3. Besarnya perhatian generasi salaf dalam menjaga kemurnian akidah dari khurafat dan keyakinan yang tidak benar.



* * *

Kitab Tauhid : 8e

  

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 8dIndeX | Lanjut 8f

 

 

باب ما جاء في الرّقي والتّمائم 

Bab tentang keterangan yang datang mengenai ruqyah dan tamimah (jimat)

 

 

وروى الإمام أحمد عن رُويفِع -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يا رويفع، لعلّ الحياة ستطول بك فأخبر الناس أن مَن عقد لحيته أو تقلَّد وتراً أو استنجى برجيعِ دابّةٍ أو عظمٍ فإنّ محمداً بريء منه» .

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Ruwaifi’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai Ruwaifi’, mungkin umurmu akan panjang. Maka sampaikanlah kepada manusia bahwa siapa yang mengikat janggutnya, atau memakai tali busur (sebagai kalung/jimat), atau beristinja dengan kotoran hewan atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya.”

[beristinja adalah aktivitas membersihkan diri setelah buang air kecil atau buang air besar]

رُوَيفِع: هو: رويفع بن ثابت بن السكن بن عدي بن الحارث من بني مالك بن النجار الأنصاري وَلِيَ برقة وطرابلس فافتتح إفريقية سنة ٤٧ وتوفي ببرقة سنة ٥٦هـ.

Kata Ruwaifi’ [رُوَيفِع] : beliau adalah Ruwaifi’ bin Tsabit bin As-Sakan bin ‘Adi bin Al-Harits dari Bani Malik bin An-Najjar Al-Anshari. Beliau pernah menjadi penguasa wilayah Barqah dan Tripoli, lalu menaklukkan Ifriqiyah pada tahun 47 H, dan wafat di Barqah pada tahun 56 H.

عقد لحيته: قيل: معناه ما يفعلونه في الحروب من فتلِها وعقدها تكبُّراً. وقيل: معناه معالجة الشعر؛ ليتعقَّد ويتجعَّد على وجه التأنُّث والتنعّم. وقيل: المراد عقدُها في الصلاة أو كفّها.

Kata  [عقد لحيته] artinya Mengikat janggutnya : Ada yang mengatakan maknanya adalah sebagaimana yang dilakukan sebagian orang ketika peperangan, yaitu memintal dan mengikat janggut sebagai bentuk kesombongan dan membanggakan diri.

Dan ada yang mengatakan maknanya adalah mengatur atau memperlakukan rambut janggut agar menjadi kusut atau keriting dengan tujuan menyerupai sifat kewanitaan dan hidup dalam kemewahan serta berlebih-lebihan dalam berhias.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mengikat janggut ketika sedang shalat atau menahannya (mengumpulkannya agar tidak terurai).

تقلّد وتراً: جعله قلادة في عنقه أو عنق دابّته من أجل الوقاية من العين.

Kata [تقلّد وتراً] : Yaitu menjadikan tali sebagai kalung yang dipakai di lehernya atau di leher hewannya dengan tujuan untuk perlindungan dari penyakit ‘ain (pandangan mata yang membawa mudarat).

استنجىٰ: أي أزال النجوَ -وهو العذرة- عن المخرج.

Kata [استنجىٰ] : Artinya menghilangkan najis (kotoran), yaitu tinja, dari tempat keluarnya.

برجيع دابة: الرجيع: الروث. سُمِّي رجيعاً لأنه رجع عن حالته الأولى بعد أن كان علَفاً.

Kata [برجيع دابة] : Ar-Raji‘ (الرجيع) artinya kotoran hewan (tahi). Disebut raji‘ karena ia kembali berubah dari keadaan asalnya setelah sebelumnya berupa makanan atau pakan.

بريءٌ منه: هذا وعيد شديد في حق من فعل ذلك.

Kata [بريءٌ منه] : Ini adalah ancaman yang sangat keras bagi orang yang melakukan perbuatan tersebut, menunjukkan beratnya larangan itu dan besarnya dosa yang terkandung di dalamnya.

المعنى الإجماليّ للحديث: يخبر ﷺ أن هذا الصحابي سيطول عمرُه حتى يدرك أناساً يخالفون هديه ﷺ في اللحى الذي هو توفيرُها وإكرامُها إلى العبث بها على وجهٍ يتشبّهون فيه بالأعاجم أو بأهل الترف والميوعة. أو يُخلُّون بعقيدة التوحيد باستعمال الوسائل الشركية فيلبسون القلائد أو يُلبسونها دوابَّهم يستدفعون بها المحذور. أو يرتكبون ما نهى عنه نبيّهم من الاستجمار بروث الدوابّ والعظام. فأوصى النبي ﷺ صاحبه أن يبلغ الأمة أن نبيّها يتبرأ ممّن يفعل شيئاً من ذلك.

Makna secara global dari hadist ini : Nabi ﷺ mengabarkan bahwa sahabat ini akan dipanjangkan umurnya sehingga ia akan menjumpai orang-orang yang menyelisihi petunjuk beliau ﷺ dalam masalah janggut, yaitu petunjuk untuk membiarkannya tumbuh dan memuliakannya, lalu mereka justru mempermainkannya dengan cara yang menyerupai orang-orang asing (non-Arab) atau orang-orang yang hidup dalam kemewahan dan kelembekan (berlebih-lebihan dalam penampilan).

Atau mereka merusak akidah tauhid dengan menggunakan sarana-sarana kesyirikan, sehingga mereka memakai kalung dari tali atau memakaikannya pada hewan-hewan mereka dengan keyakinan dapat menolak bahaya dan melindungi dari sesuatu yang ditakuti.

Atau mereka melakukan sesuatu yang telah dilarang oleh Nabi mereka, yaitu bersuci (istijmar) menggunakan kotoran hewan dan tulang.

Maka Nabi ﷺ berpesan kepada sahabatnya agar menyampaikan kepada umat bahwa Nabi mereka berlepas diri dari orang yang melakukan salah satu dari perbuatan tersebut.

مناسبة الحديث للباب: أنّ فيه النهي عن تقليد الأوتار لدفع المحذورات وأنّه شرك؛ لأنّه لا يقدر على ذلك إلا الله.

Kesesuaian hadist ini dengan bab : Dalam hadis ini terdapat larangan memakai tali sebagai penolak bahaya, dan perbuatan itu termasuk syirik, karena yang mampu menolak bahaya dan mendatangkan perlindungan hanyalah Allah semata.

ما يستفاد من الحديث:

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

١- عَلَم من أعلام النبوة، فإنّ رويفعاً طالت حياته إلى سنة ٥٦هـ.

1. Termasuk tanda kenabian (mukjizat Nabi ﷺ), Karena Ruwaifi’ memang dipanjangkan umurnya hingga tahun 56 H, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ.

٢- وجوب إخبار الناس بما أُمِروا به ونُهوا عنه ممّا يجب فعله أو تركه.

2. Wajib menyampaikan kepada manusia apa yang diperintahkan dan dilarang kepada mereka, berupa perkara yang wajib dilakukan maupun yang wajib ditinggalkan.

٣- مشروعية إكرام اللحية وإعفائها وتحريم العبث بها بحلق أو قصّ أو عقد أو تجعيد أو غير ذلك.

3. Disyariatkan memuliakan dan membiarkan janggut tumbuh, serta diharamkan mempermainkannya dengan cara mencukur, memendekkan, mengikat, mengeritingkan, atau bentuk-bentuk lain yang termasuk dalam larangan menurut penjelasan penulis.

٤- تحريم اتخاذ القلادة لدفع المحذور، وأنه شرك.

4. Haram menjadikan kalung atau tali sebagai sarana untuk menolak bahaya, dan perbuatan itu termasuk syirik.

٥- تحريم الاستنجاء بالروث والعظم.

5. Haram beristinja menggunakan kotoran hewan dan tulang.

٦- أن هذه الجرائم المذكورة من الكبائر.

6. Bahwa pelanggaran-pelanggaran yang disebutkan dalam hadis ini termasuk dosa-dosa besar.



* * *

Kembali 8dIndeX | Lanjut 8f