Senin, 29 Juni 2026

Kitab Attibyan : 06e

  

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 6dIndeX | Lanjut 6f

 

 الباب السادس

Bab Keenam

 

 

 احترام القرآن

Menghormati Al-Qur’an

 

[فصل] ومما يعتنى به ويتأكد الأمر به: احترام القرآن من أمور قد يتساهل فيها بعض الغافلين القارئين مجتمعين:

[Sub bab] Termasuk hal yang perlu diperhatikan dan sangat ditekankan adalah memuliakan serta menghormati Al-Qur’an, dari beberapa perkara yang terkadang diremehkan oleh sebagian pembaca yang lalai ketika mereka membaca Al-Qur’an secara bersama-sama.

 

فمن ذلك اجتناب الضحك، واللغط، والحديث في خلال القراءة، إلا كلاما يضطّر إليه.

Di antaranya adalah: Menghindari tertawa, menghindari kegaduhan dan suara yang mengganggu, serta menghindari berbicara di tengah-tengah bacaan Al-Qur’an, kecuali pembicaraan yang benar-benar diperlukan.

وليمتثل قول الله تعالى: ﴿ وإذا قرئ القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون ﴾. [الأعراف : ٢٠٤]

Dan hendaknya melaksanakan firman Allah Ta‘ala:

“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dengan saksama dan diamlah agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-A‘raf: 204)

 

وليقتد بما رواه ابن أبي داود عن ابن عمر رضي الله عنهما: أنه كان إذا قرأ القرآن لا يتكلم حتى يفرغ منه، ذكره في كتاب التفسير في قوله تعالى: ﴿ نساؤكم حرث لكم ﴾، [البقرة : ٢٢٣].

Dan hendaknya meneladani apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

Bahwa beliau apabila membaca Al-Qur’an, beliau tidak berbicara hingga selesai membacanya.

Ibnu Abi Dawud menyebutkan hadist ini dalam kitab tafsir ketika menjelaskan firman Allah Ta‘ala:

“Istri-istri kalian adalah ladang bagi kalian…” (QS. Al-Baqarah: 223)

ومن ذلك العبث باليد وغيرها فإنه يناجي ربه سبحانه وتعالى فلا يعبث بين يديه.

Termasuk adab menghormati Al-Qur’an juga adalah menghindari bermain-main dengan tangan atau anggota tubuh lainnya, karena seseorang yang membaca Al-Qur’an sedang bermunajat kepada Tuhannya Subhanahu wa Ta‘ala, maka tidak sepantasnya ia bersikap main-main di hadapan-Nya.

ومن ذلك النظر إلى ما يلهي ويبدد الذهن. وأقبح من هذا كله: النظر إلى ما لا يجوز النظر إليه: كالأمرد وغيره، فإن النظر إلى الأمرد الحسن من غير حاجة حرام، سواء كان بشهوة أو بغيرها، سواء أمن الفتنة أو لم يأمنها.

Dan termasuk adab (ketika membaca Al-Qur’an) adalah tidak melihat kepada sesuatu yang melalaikan dan memecah konsentrasi.

Dan yang lebih buruk dari semua itu adalah memandang sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk dipandang, seperti al-amrad (anak lelaki yang belum tumbuh janggut) dan selainnya.

Karena memandang al-amrad yang berparas tampan tanpa kebutuhan hukumnya haram, baik disertai syahwat maupun tidak, baik merasa aman dari fitnah maupun tidak.

وهذا هو المذهب الصحيح المختار عند العلماء، وقد نص على تحريمه الإمام الشافعي، ومن لا يحصى من العلماء، ودليله قوله تعالى: ﴿ قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ﴾ [النور : ٣٠].

Dan inilah pendapat yang dianggap sahih dan dipilih oleh para ulama, dan Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah serta banyak ulama lainnya telah menegaskan keharamannya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala:

“Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menahan pandangan mereka.” (QS. An-Nur: 30)

 

ولأنه في معنى المرأة، بل ربما كان بعضهم، أو كثير منهم أحسن من كثير من النساء، ويتمكن من أسباب الريبة فيه، ويتسهل من طرق الشر في حقه ما لا يتسهل في حق المرأة، فكان تحريمه أولى. 

Karena ia (pemuda tampan/amrad) dalam hal ini memiliki kedudukan yang serupa dengan wanita. Bahkan, bisa jadi sebagian mereka atau banyak di antara mereka lebih tampan daripada banyak wanita. Sebab-sebab yang dapat menimbulkan fitnah juga terdapat pada diri mereka, bahkan jalan-jalan yang mengantarkan kepada keburukan melalui mereka lebih mudah terjadi daripada melalui wanita. Oleh karena itu, keharaman memandang mereka lebih layak untuk ditegaskan.

وأقاويل السلف في التنفير منهم أكثر من أن تحصى، وقد سمّوهم الأنتان؛ لكونهم مستقذرين شرعا.

Ucapan-ucapan para ulama salaf dalam memperingatkan manusia dari mereka sangat banyak, hingga tidak terhitung jumlahnya. Mereka bahkan menyebut mereka 'al-antān' (الأنتان), karena menurut syariat mereka dipandang sebagai sebab yang harus dijauhi dan diwaspadai.

وأما النظر إليه في حال البيع، والشراء، والأخذ والإعطاء، والتطبب، والتعليم ونحوها من مواضع الحاجة، فجائز للضرورة، لكن يقتصر الناظر على قدر الحاجة، ولا يديم النظر من غير ضرورة.

Adapun memandang mereka ketika ada keperluan, seperti dalam jual beli, transaksi, menerima atau menyerahkan sesuatu, berobat, mengajar, dan kebutuhan-kebutuhan semisalnya, maka hal itu diperbolehkan karena adanya kebutuhan (darurat atau hajat). Akan tetapi, orang yang memandang hendaknya membatasi pandangannya sebatas kebutuhan saja, dan tidak terus-menerus memandang tanpa adanya keperluan. 

 

وكذا المعلم إنما يباح له النظر الذي يحتاج إليه.

Demikian pula seorang pengajar, ia hanya dibolehkan memandang sebatas yang diperlukan untuk keperluan mengajar.

ويحرم عليهم كلّهم في كل الأحوال النظر بشهوة، ولا يختص هذا بالأمرد، بل يحرم على كل مكلف النظر بشهوة إلى كل أحد، رجلا كان أو امرأة، محرما كانت المرأة أو غيرها، إلا الزوجة، أو المملوكة التي يملك الاستمتاع بها. حتى قال أصحابنا: يحرم النظر بشهوة إلى محارمه: كأخته، وأمه، والله أعلم.

Dan diharamkan atas mereka semua, dalam setiap keadaan, memandang dengan syahwat. Larangan ini tidak khusus berlaku terhadap pemuda tampan (amrad) saja, tetapi haram bagi setiap mukalaf memandang dengan syahwat kepada siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, baik perempuan itu termasuk mahram maupun bukan, kecuali kepada istri atau budak perempuan yang halal baginya untuk digauli. Bahkan para ulama mazhab kami berkata: haram memandang mahram sendiri—seperti saudara perempuan atau ibu—dengan syahwat. Dan Allah Maha Mengetahui.

وعلى الحاضرين مجلس القراءة إذا رأوا شيئا من هذه المنكرات المذكورة أو غيرها، أن ينهوا عنه حسب الإمكان: باليد لمن قدر، وباللسان لمن عجز عن اليد وقدر على اللسان، وإلا فلينكر بقلبه، والله أعلم. 

Orang-orang yang menghadiri majelis pembacaan Al-Qur'an, apabila melihat salah satu kemungkaran yang telah disebutkan atau kemungkaran lainnya, maka mereka wajib mencegahnya sesuai dengan kemampuan. Dengan tangan bagi yang mampu, dengan lisan bagi yang tidak mampu melakukannya dengan tangan tetapi mampu berbicara. Jika tidak mampu juga, maka hendaklah ia mengingkarinya dengan hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui. 

 

 

 قراءته بالعجمية

Membaca Al-Qur'an dengan Bahasa Non-Arab


[فصل] لا تجوز قراءة القرآن بالعجمية، سواء أحسن العربية أم لم يحسنها، سواء كان في الصلاة أم في غيرها، فإن قرأ بها في الصلاة لم تصح صلاته.

[Sub bab] Tidak diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan bahasa non-Arab (a'jam), baik seseorang mampu berbahasa Arab maupun tidak, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Apabila seseorang membacanya dengan bahasa non-Arab ketika shalat, maka shalatnya tidak sah.

هذا مذهبنا، ومذهب مالك، وأحمد، وداود، وأبي بكر بن المنذر.

Inilah pendapat mazhab kami, juga merupakan pendapat Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Dawud az-Zahiri, dan Abu Bakar bin Mundzir.

وقال أبو حنيفة : يجوز ذلك، وتصح به الصلاة.

Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan dan shalat tetap sah dengannya.

وقال أبو يوسف ومحمد : يجوز ذلك لمن لم يحسن العربية، ولا يجوز لمن يحسنها. 

Sedangkan Abu Yusuf dan Muhammad as-Shaybani berpendapat bahwa hal itu diperbolehkan bagi orang yang tidak mampu berbahasa Arab, tetapi tidak diperbolehkan bagi orang yang mampu membacanya dalam bahasa Arab. 

 

 

قراءته بالروايات

Membaca Al-Qur'an dengan Berbagai Qira'at


[فصل] وتجوز قراءة القرآن بالقراءات السبع المجمع عليها، ولا يجوز بغير السبع، ولا بالروايات الشاذة المنقولة عن القراء السبعة. 

[Sub bab] Diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan tujuh qira'at yang telah disepakati (diterima) oleh para ulama. Adapun membaca dengan selain ketujuh qira'at tersebut, atau dengan riwayat-riwayat yang syadz (menyimpang/tidak sahih) yang dinukil dari para imam qira'at yang tujuh, maka tidak diperbolehkan.

[Kata syadz (شاذ) secara bahasa berarti menyendiri, menyimpang, atau keluar dari kebiasaan]

وسيأتي في الباب السابع – إن شاء الله تعالى – بيان اتفاق الفقهاء على استتابة من أقرأ بالشواذ، أو قرأ بها.

Pada bab ketujuh, insya Allah Ta'ala, akan dijelaskan adanya kesepakatan para ulama fikih bahwa orang yang mengajarkan qira'at-qira'at syadz atau membacanya diminta untuk bertaubat.

وقال أصحابنا وغيرهم: لو قرأ بالشواذ في الصلاة  بطلت صلاته إن كان عالما، وإن كان جاهلا لم تبطل، ولم تحسب له تلك القراءة.

Para ulama mazhab kami dan selain mereka juga berkata: apabila seseorang membaca qira'at syadz dalam shalat, maka shalatnya batal apabila ia mengetahui hukumnya. Namun jika ia tidak mengetahuinya (karena ketidaktahuan), maka shalatnya tidak batal, hanya saja bacaan tersebut tidak dianggap sah sebagai bacaan Al-Qur'an dalam shalat.

وقد نقل الإمام أبو عمر بن عبد البر الحافظ: إجماع المسلمين على أنه لا تجوز القراءة بالشاذ، وأنه لا يصلى خلف من يقرأ بها.

Abu Umar bin Abdil Bari, seorang imam, ahli hadist, dan hafiz, menukil adanya ijmak (konsensus) kaum muslimin bahwa tidak diperbolehkan membaca Al-Qur'an dengan qira'at syadz, dan tidak boleh bermakmum kepada orang yang membaca dengannya. 

 

قال العلماء: من قرأ الشاذ إن كان جاهلا به، أو بتحريمه عرف بذلك، فإن عاد إليه أو كان عالما به عزر تعزيرا بليغا إلى أن ينتهي عن ذلك.

Para ulama berkata: Barang siapa membaca qira'at syadz, jika ia tidak mengetahuinya atau tidak mengetahui keharamannya, maka ia harus diberi penjelasan tentang hal tersebut. Apabila setelah dijelaskan ia tetap mengulanginya, atau sejak awal ia memang mengetahui hukumnya, maka ia dikenai hukuman ta'zir yang berat hingga ia berhenti dari perbuatannya.

ويجب - على كل متمكن من الإنكار عليه ومنعه - الإنكار والمنع اهـ. 

Dan wajib bagi setiap orang yang mampu mengingkarinya dan mencegahnya untuk melakukan pengingkaran serta pencegahan terhadap perbuatan tersebut.

 [فصل] إذا ابتدأ بقراءة أحد القراء، فينبغي أن يستمر على القراءة بها ما دام الكلام مرتبطا، فإذا انقضى ارتباطه، فله أن يقرأ بقراءة أحد من السبعة، والأولى دوامه على الأولى في هذا المجلس. 

[Sub bab] Apabila seseorang memulai membaca Al-Qur'an dengan qira'at salah seorang imam qira'at, maka hendaknya ia terus melanjutkan bacaannya dengan qira'at tersebut selama rangkaian pembicaraan atau bacaan itu masih bersambung. Apabila rangkaian itu telah selesai, maka ia boleh membaca dengan qira'at salah satu dari tujuh qira'at yang diakui. Namun, yang lebih utama adalah tetap melanjutkan dengan qira'at yang pertama selama masih berada dalam majelis tersebut. 

 

Kembali 6dIndeX | Lanjut 6f

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar