Senin, 11 Mei 2026

Kitab Tauhid : 14 (Bab tentang melaksanakan tauhid maka akan masuk surga tanpa hisaban )

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 13 | IndeX | Lanjut 15

 

 

باب مَنْ حقَّق التوحيد دخل الجنة بغير حساب 

Bab tentang orang yang merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka ia masuk surga tanpa hisaban



عن حصين بن عبد الرحمن قال : كنتُ عند سعيد بن جبيرٍ فقالَ : أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ ؟ فَقُلْتُ : أَنَا .ثمَّ قُلْتُ : أمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ في صَلاةِ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ . قَالَ : فَما صَنَعْتَ ؟ قلت : ارْتَقَيْتُ . قَالَ : فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ ؟ قُلْتُ : حَدِيثُ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ . قَالَ : وَما حَدَّثَكُمْ ؟ قُلْتُ : حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بن الْحُصَيْبِ أَنَّهُ قَالَ : لا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ ، قَالَ : قَدْ أحْسَنَ من انتَهَى إلى ما سَمِعَ . وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ : عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ والنَّبي وَمَعَهُ الرَّجُلُ والرَّجُلانِ والنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أنهُمْ أُمَّتِي ، فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ . 

Diriwayatkan Dari Hushain bin Abdurrahman, ia berkata:

“Aku pernah berada di sisi Sa'id bin Jubair, lalu beliau berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam?’ Aku menjawab, ‘Saya.’ Kemudian aku berkata, ‘Ketahuilah, sesungguhnya aku waktu itu tidak sedang shalat, tetapi aku terkena sengatan.’

Ia berkata, ‘Lalu apa yang kamu lakukan?’

Aku menjawab, ‘Aku meminta diruqyah.’

Ia berkata, ‘Apa yang mendorongmu melakukan itu?’

Aku menjawab, ‘Hadis yang diceritakan kepada kami oleh Asy-Sya'bi.’

Ia berkata, ‘Apa yang beliau ceritakan kepada kalian?’

Aku menjawab, ‘Beliau menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Al-Hushaib bahwa beliau berkata: “Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit ‘ain atau sengatan berbisa.”’

Maka ia berkata, ‘Sungguh baik orang yang berhenti pada apa yang ia dengar. Akan tetapi, Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Maka aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikut, ada nabi bersama satu atau dua orang pengikut, dan ada pula nabi yang tidak memiliki seorang pengikut pun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kumpulan besar manusia, maka aku mengira mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah Nabi Musa dan kaumnya.’

Kemudian aku melihat lagi kumpulan besar manusia, lalu dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab (siksaan).’”

ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاصَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهُ ﷺ ، وَقَالَ بَعْضُهُم : فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الإِسْلامِ فَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئاً وَذَكَرُوا أَشْيَاء ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ : هُم الَّذِينَ لا يَسْتَرقُونَ وَلا يَكْتَوُونَ وَلا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يتوكلون . فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ : ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُم ، قَالَ : أَنْتَ مِنْهُمْ ، ثُمَّ قامَ رَجُلٌ آخَرَ فَقَالَ : ادْعُ اللَّهَ أَن يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ ، فَقَالَ : سَبَقَكَ بها عُكّاشة . 

Kemudian beliau bangkit lalu masuk ke rumahnya. Maka orang-orang pun membicarakan tentang mereka (tujuh puluh ribu orang itu). Sebagian mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang menemani Rasulullah ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.” Mereka pun menyebutkan berbagai pendapat lainnya.

Lalu Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka, kemudian mereka memberitahukan pembicaraan itu kepada beliau. Maka beliau bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), tidak bertathayyur (menganggap sial karena pertanda tertentu), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.”

Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk golongan mereka.”

Beliau bersabda, “Engkau termasuk golongan mereka.”

Kemudian ada seorang laki-laki lain berdiri dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk golongan mereka.”

Beliau bersabda, “Ukasyah bin Mihshan telah mendahuluimu dalam hal itu.”

تراجم الرجال الواردة أسماؤهم في الحديث : 

Biografi singkat para perawi yang disebut dalam hadis:

حصين : هو حصين بن عبد الرحمن السلميُّ الحارثيُّ من تابعي التابعين مات سنة ١٣٦ وله ٩٣ سنة . 

Lafadz [حصين] : beliau adalah Husain bin ‘Abdurrahman As-Sulami Al-Haritsi, termasuk kalangan tabi‘i tabi‘in. Beliau wafat pada tahun 136 H dalam usia 93 tahun.

[تابعي التابعين : Seorang Muslim yang bertemu dengan salah satu sahabat Nabi ﷺ, beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keadaan Islam. ]

سعيد بن جبير : هو الإمام الفقيه من أجلةِ أصحاب ابنِ عباس قتله الحجاج سنة ٩٥ ولم يُكمل الخمسين . 

Lafadz [سعيد بن جبير] : beliau adalah seorang imam dan ahli fikih, termasuk murid-murid terbaik Ibnu Abbas. Beliau dibunuh oleh Al-Hajjaj pada tahun 95 H, dan saat itu usia beliau belum mencapai lima puluh tahun.

الشعبيُّ : اسمُهُ عامرُ بنُ شُراحيل الهمدانيُّ وُلِدَ فِي خلافة عمرَ ، وهو من ثقات التابعين مات سنة ١٠٣ هـ . 

Lafadz [الشعبيُّ] : beliau adalah ‘Amir bin Syurahbil Al-Hamdani. Beliau lahir pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, termasuk tabi’in yang tsiqah (terpercaya), dan wafat pada tahun 103 H.

بريدة : بضمِّ أوله وفتح ثانيه ، ابن الحصيب بن الحارث الأسلميُّ صحابيُّ شهيرٌ ، مات سنة ٦٣ هـ . 

Lafadz [بريدة] : dibaca dengan dhammah pada huruf pertama dan fathah pada huruf kedua. Beliau adalah Buraidah bin Al-Hushaib bin Al-Harits Al-Aslami, seorang sahabat Nabi ﷺ yang terkenal. Beliau wafat pada tahun 63 H.

ابن عباس : هو الصحابي الجليل عبد الله بن عباس بن عبدالمطلب . ابن عمِّ النبي ﷺ دعا له النبيُّ ﷺ فَقالَ : « اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدين وعلِّمْهُ التأويل » فكانَ كذلك ومات بالطائف سنة ٦٨ هـ . 

Lafadz [ابن عباس] : beliau adalah sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, sepupu Nabi ﷺ. Nabi ﷺ pernah mendoakan beliau:

“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir (ta’wil).”

Maka beliau benar-benar menjadi seorang yang sangat faqih dan alim dalam tafsir. Beliau wafat di Thaif pada tahun 68 H.

عكّاشة : هو عكاشة بن محصن بن حرثانَ الأَسديُّ كانَ مِنَ السابقين إلى الإسلام ، هاجر وشهد بدراً وقاتل فيها ، واستشهدَ في قتالِ الردةِ مع خالد بن الوليد سنة ١٢ هـ . 

Lafadz [عكّاشة] : beliau adalah ‘Ukasyah bin Mihshan bin Hirtsan Al-Asadi. Beliau termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, berhijrah, serta ikut dalam Perang Badar dan turut berperang di dalamnya. Beliau gugur sebagai syahid dalam peperangan melawan kaum murtad bersama Khalid bin Walid pada tahun 12 H.

الكوكب : النجم . 

Lafadz [الكوكب] : artinya bintang 

انقضَّ : أي سقطَ منه الشهاب .

Lafadz [انقضَّ] : yaitu jatuh atau meluncurnya cahaya meteor (syihab) darinya.

[الشهاب  : nyala api atau cahaya terang yang melesat di langit. Dalam bahasa Indonesia sering disebut meteor atau bintang jatuh. Disebut dalam Al-Qur’an sebagai lemparan api yang digunakan untuk mengusir setan yang mencoba mencuri berita dari langit]

 

البارحة : هي أقرب ليلةٍ مَضَتْ : يُقالُ قبل الزوالِ رأيتُ الليلةَ ، وبعد الزوالِ رأيتُ البارحة . 

Lafadz [البارحة] : adalah malam yang paling dekat yang telah berlalu : Dikatakan: sebelum zawal (tergelincirnya matahari dari tengah langit) seseorang berkata “Aku melihat tadi malam” [الزوالِ], Sedangkan setelah zawal ia berkata "Aku melihat semalam" [البارحة]. 

 

لدِغْتُ : أي لدغته عقرب - واللدغ : اللسع - أي أصابته بسُمِّهَا . 

Lafadz [لدِغْتُ] : artinya “disengat kalajengking.” Sedangkan lafadz [اللَّدْغ] berarti sengatan atau tusukan. Maksudnya: kalajengking itu mengenai dengan racunnya. 

 

ارتقيتُ طلبتُ منْ يرقيني ، والرقية : قراءة القرآن والأدعية الشرعية على المصاب بمرض ونحوه . 

Aku meminta seseorang untuk meruqyahku. Sedangkan ruqyah adalah membaca Al-Qur’an dan doa-doa syar‘i kepada orang yang terkena penyakit dan semisalnya.

 

ما حملك على ذلك ؟ : ما حُجَّتُك على جوازِ ذَلِكَ ؟ 

Kata "Apa yang mendorongmu melakukan itu?" : maksudnya "Apa hujah (tujuan) atau alasanmu tentang bolehnya hal tersebut?"

لا رقية إلاّ من عين : العينُ : إصابةُ العَائِنِ غيرَهُ بعينه . 

Kata "Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain (penyakit)" : Yang dimaksud dengan 'ain (penyakit) : adalah seseorang yang tertimpa (terkena) oleh pengaruh ‘ain (pandangan mata hasad atau kagum) dari orang yang memandangnya, sehingga menyebabkan mudarat dengan izin Allah.

[العائن : orang yang menimpakan ‘ain]
[بعينه : dengan pandangan matanya]

أو حمة : الحمةُ : سُمُّ العقرب وشَبَهُهَا . 

Kata "Atau humah" [حُمَة] : maksudmys  racun kalajengking dan yang semisal dengannya.

من انتهى إلى ما سمع : أي أخذ بما بلغَهُ مِنَ العلم بخلافِ من يعمل على جهل أو لا يعمل بما يعلم . 

Kata "Orang yang berhenti (berpegang) pada apa yang ia dengar" : maksudnya orang yang mengambil dan mengamalkan ilmu yang telah sampai kepadanya, berbeda dengan orang yang beramal di atas kebodohan atau tidak mengamalkan ilmu yang diketahuinya. 

 

عُرِضَتْ عليَّ الأُمم : قِيلَ كان ذلك ليلة الإسراء ، أي أراهُ اللَّهُ مِثَالَهَا إذا جاءت يوم القيامة . 

Kata “Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat” : Dikatakan hal itu terjadi pada malam Isra’, yaitu Allah memperlihatkan kepada beliau gambaran umat-umat tersebut ketika datang pada hari kiamat nanti.

الرهط : الجماعةُ دُونَ العشرة . 

Kata [الرهط] : adalah sekelompok orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh.

ليس معه أحدٌ : أي لم يتبعه من قومِهِ أحد . 

Kata “Tidak ada seorang pun bersamanya” : maksudnya tidak ada seorang pun dari kaumnya yang mengikutinya.

سواد عظيم : أشخاص كثيرة . 

Kata [سواد عظيم] :  artinya sekumpulan manusia yang sangat banyak.

فظننتُ أنَّهم أمتي : أي لكثرتهم وبعده عنهم فلا يميز أعيانهم . 

Kata “Maka aku mengira bahwa mereka adalah umatku” : maksudnya karena jumlah mereka yang sangat banyak dan jauhnya beliau dari mereka, sehingga beliau tidak dapat membedakan orang per orang di antara mereka. 

 

موسى : أي : موسى بن عمران كليم الرحمن . 

Kata  [موسى] : maksudnya adalah Musa bin Imran orang yang diajak berbicara langsung oleh.

وقومه : أي أتباعه على دينه من بني إسرائيل . 

Kata  “Dan kaumnya” : maksudnya para pengikut beliau di atas agamanya dari kalangan Bani Israil.

بلا حساب ولا عذاب : أي : لا يحاسبون ولا يعذبون قبل دخولهم الجنة لتحقيقهم التوحيد . 

Kata  “Tanpa hisab dan tanpa siksaan” : maksudnya mereka tidak dihisab dan tidak di siksa sebelum masuk surga, karena mereka merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya.

ثم نهض : أي قام . 

Kata  “Kemudian beliau bangkit” : maksudnya: beliau berdiri.

فخاض الناسُ في أولئك : أي تباحث الحاضرون واختلفوا في هؤلاء السبعين بأيّ عمل نالوا هذه الدرجة ؟ فإنَّهم لم ينالُوهَا إلا بعمل فَمَا هُوَ ؟ 

Kata  “Maka orang-orang pun membicarakan tentang mereka” : maksudnya orang-orang yang hadir saling berdiskusi dan berbeda pendapat tentang tujuh puluh ribu orang tersebut, dengan amalan apa mereka memperoleh derajat itu? Karena mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan suatu amalan, maka amalan apakah itu?.

 

فأخبروه : أي ذكروا للنبي ﷺ اختلافَهُم في المراد بهؤلاء السبعين . 

Kata “Maka mereka memberitahukan kepadanya,” : maksudnya mereka menyampaikan kepada Nabi ﷺ perbedaan pendapat mereka tentang siapa yang dimaksud dengan tujuh puluh ribu orang tersebut.

لا يسترِقُونَ : لا يطلبونَ مَنْ يرقيهم استغناء عن الناس . 

Kata “Mereka tidak meminta diruqyah” : maksudnya mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah mereka, karena merasa cukup tanpa bergantung kepada manusia.

ولا يكتوون : لا يسألون غَيْرَهُم أَن يَكْوِيَهُمْ بالنارِ . 

Kata “Dan mereka tidak berobat dengan cara mengecos (besi panas)” : maksudnya: mereka tidak meminta orang lain untuk mengobati mereka dengan cara membakar menggunakan api.

[yakni pengobatan menggunakan besi panas atau api untuk membakar bagian tubuh tertentu sebagai terapi penyakit.]

ولا يتطيرون : لا يتشاءَمون بالطيور ونحوها . 

Kata “Dan mereka tidak beranggapan dengan tanda,” : maksudnya mereka tidak merasa sial karena burung atau sesuatu semisalnya.

[bertathayyur: yakni tidak merasa sial atau mengambil pertanda buruk dari burung, suara, arah tertentu, waktu, atau hal-hal semisalnya.] 

 

وعلى ربِّهم يتوكِّلون : يعتمدون في جميع أمورهم عليه لا على غيرِهِ ويفوِّضُون أمورَهُم إليه . 

Kata “Dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal” : maksudnya mereka bersandar dalam seluruh urusan mereka hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, serta menyerahkan urusan-urusan mereka kepada-Nya.

سبقك بها عُكَّاشة : أي إلى إحراز هذه الصفاتِ أَوْ سَبَقَكَ بالسؤال . 

Kata “‘Ukkasyah telah mendahuluimu dalam hal itu” : maksudnya ia telah lebih dahulu memperoleh sifat-sifat tersebut, atau lebih dahulu meminta hal itu. 

 

المعنى الإجماليُّ للحديثِ : يصفُ لنا حصينُ بنُ عبدِ الرحمنِ حواراً دار في مجلس سعيد بن جبير بمناسبة انقضاض كوكب في الليل ، فأخبرَهُم حصينٌ أنَّه شاهَدَ انقضاضه لأنَّه لم يَكُن حينذاك نائماً ، إلا أنَّه خاف أن يظنَّ الحاضرون أنه ما رأى النجم إلاَّ لأنَّه يصلِّي ، فأراد أن يدفع عن نَفْسِهِ إيهام تعبُّدِ لم يفعَلْهُ كعادةِ السَّلَفِ في حرصِهِم على الإخلاص ، فأخبر بالسببِ الحقيقيِّ ليقَظَتِهِ وأنَّه بسبب إصابة حصلت له ، فانتقل البحث إلى السؤال عمَّا صَنَعَ حِيالَ تلك الإصابةِ ، فَأَخبر أنه عالَجَها بالرقية ، فسأله سعيد عن دليله الشرعيِّ على ما صَنَعَ ، فذكر له الحديث الوارد عن الرسول الله ﷺ في جواز الرقية ، فصوَّبه في عمله بالدليل . 

Makna secara global dari hadist ini : Husain bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kita sebuah dialog yang terjadi di majelis Sa‘id bin Jubair berkaitan dengan jatuhnya bintang pada malam hari. Husain memberitahukan kepada mereka bahwa ia melihat jatuhnya bintang tersebut karena saat itu ia belum tidur. Namun, ia khawatir orang-orang yang hadir akan mengira bahwa ia melihat bintang itu karena sedang melaksanakan salat malam. Maka ia ingin menepis prasangka bahwa dirinya melakukan suatu ibadah yang sebenarnya tidak ia lakukan, sebagaimana kebiasaan para salaf yang sangat menjaga keikhlasan. Karena itu, ia menjelaskan sebab sebenarnya mengapa ia masih terjaga, yaitu karena ia terkena sengatan.

Kemudian pembicaraan beralih kepada pertanyaan tentang apa yang ia lakukan terhadap sengatan tersebut. Husain menjelaskan bahwa ia mengobatinya dengan ruqyah. Lalu Sa‘id bertanya kepadanya tentang dalil syar‘i atas perbuatannya itu. Maka Husain menyebutkan hadist yang datang dari Rasulullah ﷺ tentang bolehnya ruqyah, sehingga Sa‘id membenarkan tindakannya karena didasarkan pada dalil. 

 

ثم ذكر له حالة أحسَنَ مِمَّا فعل ، وهي الترقِّي إلى كمال التوحيد بترك الأمور المكروهة مع الحاجة إليها ، توكلاً على الله كحالة السبعين الألف الذين يدخُلُونَ الجنةَ بلا حساب ولا عذاب ، حيث وصفهم الرسول ﷺ بأنَّهم يتركونَ الرقية والكيَّ تحقيقاً للتوحيد ، ويأخذون بالسبب الأقوى وهو التوكل على الله ، ولم يسألوا أحداً غيرَه شيئاً مِنَ الرقية فما فَوْقَها . 

Kemudian Sa‘id menyebutkan kepadanya suatu keadaan yang lebih baik daripada apa yang telah ia lakukan, yaitu naik kepada kesempurnaan tauhid dengan meninggalkan perkara-perkara yang makruh meskipun ada kebutuhan terhadapnya, karena bertawakal kepada Allah. Seperti keadaan tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, yang Rasulullah ﷺ sifatkan bahwa mereka meninggalkan ruqyah dan Mengecos (pengobatan dengan besi panas) demi merealisasikan tauhid, serta mengambil sebab yang lebih kuat, yaitu tawakal kepada Allah. Mereka juga tidak meminta sesuatu pun kepada selain Allah, mulai dari ruqyah dan yang lebih besar dari itu. 

 

مناسبة الحديث للبابِ : أنَّ فيه شيئاً من بيان معنى تحقيق التوحيد وثواب ذلك عندَ اللهِ تعالى . 

Kesesuaian hadist ini dengan bab : bahwa di dalamnya terdapat penjelasan tentang makna merealisasikan tauhid serta pahala dari hal itu di sisi Allah Ta‘ala. 

 

ما يُستفادُ مِنَ الحديث :

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

۱ - فضيلة السلف ، وأنَّ ما يرونه مِنَ الآيات السماوية لا يعدُّونه عادةً ، بل يعلمون أنَّهُ آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللهِ .

1. Keutamaan para salaf, bahwa apa yang mereka lihat dari tanda-tanda di langit tidak mereka anggap sebagai sesuatu yang biasa, tetapi mereka mengetahui bahwa itu adalah salah satu tanda kebesaran Allah.

۲ - حرص السلف على الإخلاص وشدة ابتعادِهِم عَنِ الرياء .

2. Semangat para salaf dalam menjaga keikhlasan dan besarnya usaha mereka untuk menjauh dari riya’.

٣ - طلب الحجة على صحة المذهبِ وعناية السلف بالدليل .

3. Keharusan mencari hujah (dalil) atas kebenaran suatu pendapat, serta perhatian para salaf terhadap dalil.

٤ ـ مشروعية الوقوفِ عند الدليل والعمل بالعلم ، وأنَّ من عمل بما بلغه فقد أحسن .

4. Disyariatkannya berpegang pada dalil dan mengamalkan ilmu, serta bahwa siapa yang mengamalkan apa yang sampai kepadanya dari ilmu maka sungguh ia telah berbuat baik.

٥ - تبليغ العلم بتلطُّف وحكمة .

5. Menyampaikan ilmu dengan kelembutan dan hikmah.

٦ - إباحة الرقية .

6. Bolehnya ruqyah.

٧ - إرشادُ مَنْ أَخَذَ بشيء مشروع إلى ما هو أفضلُ منه .

7. Membimbing orang yang melakukan sesuatu yang disyariatkan kepada sesuatu yang lebih utama darinya.

٨ - فضيلة نبيّنا محمد ﷺ حيثُ عُرِضَتْ عليه الأمم .

8. Keutamaan Nabi kita Muhammad ﷺ, karena diperlihatkan kepadanya umat-umat terdahulu.

٩ - أنَّ الأنبياء متفاوتون في عدد أتباعهم .

9. Bahwa para nabi berbeda-beda dalam jumlah pengikut mereka.

١٠ - الردُّ على من احتجِّ بالأكثرِ ، وزعم أن الحقّ محصورٌ فيهم .

10. Bantahan terhadap orang yang berdalil dengan banyaknya jumlah pengikut, lalu menganggap bahwa kebenaran hanya terbatas pada mereka. 


١١ - أن الواجب اتباع الحقِّ وإِن قلَّ أهله .

11. Bahwa yang wajib adalah mengikuti kebenaran meskipun sedikit orang yang mengikutinya.

۱۲ - فضيلة موسى عليه السلام وقومه . 

12. Keutamaan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya.

١٣ - فضيلة هذه الأمة وأنَّهم أكثر الأمم اتباعاً لنبيّهم ﷺ .

13. Keutamaan umat ini, dan bahwa mereka adalah umat yang paling banyak mengikuti Nabi mereka ﷺ.

١٤ - فضيلة تحقيق التوحيد وثوابه .

14. Keutamaan merealisasikan tauhid dan pahala yang diperoleh karenanya.

١٥ - إباحة المناظرة في العلم والمباحثة في نصوص الشرع للاستفادة وإظهار الحقّ .

15. Bolehnya berdiskusi dan berdebat dalam ilmu serta membahas nash-nash syariat untuk mengambil faedah dan menampakkan kebenaran.

[نصوص : teks-teks atau dalil-dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadist.]

١٦ - عمق علمِ السلفِ لمعرفتِهِم أنَّ المذكورين في الحديث لم ينالوا هذه المنزلة إلا بعمل .

16. Dalamnya ilmu para salaf, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang disebutkan dalam hadis itu tidak memperoleh kedudukan tersebut kecuali dengan suatu amalan.

۱۷ - حرص السلف على الخير والمنافسة على الأعمال الصالحة . 

17. Semangat para salaf dalam meraih kebaikan dan berlomba-lomba dalam amal saleh.

۱۸ - أنَّ ترك الرقية والكيِّ من تحقيق التوحيد .

18. Bahwa meninggalkan meminta ruqyah dan meninggalkan mengecos (pengobatan dengan besi panas) termasuk bagian dari merealisasikan tauhid.

۱۹ - طلب الدعاء مِنَ الفاضل في حياتِه .

19. Bolehnya meminta doa kepada orang yang memiliki keutamaan ketika ia masih hidup.

٢٠ - علم مِنْ أَعلام نبوته ﷺ حيث أخبر أنَّ عكاشة مِنَ السبعين الذين يدخلون الجنة بلا حساب ولا عذاب فَقُتِلَ شهيداً في حروب الردّةِ رضي الله عنه . 

20. Termasuk tanda kenabian beliau ﷺ adalah bahwa beliau mengabarkan bahwa ‘Ukkasyah termasuk dari tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, lalu ia benar-benar wafat sebagai syahid dalam peperangan melawan kaum murtad. Semoga Allah meridhainya.

٢١ - فضيلة عكاشة بن محصن رضي الله عنه .

21. Keutamaan ‘Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu.

۲۲ - استعمال المعاريض وحسن خلقه ﷺ حيث لم يَقُلْ - للرجل الآخر - لست منهم .

22 - Bolehnya menggunakan ucapan sindiran (ma‘ārīdh) dan baiknya akhlak Nabi ﷺ, karena beliau tidak berkata kepada laki-laki yang lain itu: “Engkau bukan termasuk dari mereka.”

٢٣ - سدُّ الذرائع لئلا يقومَ مَنْ ليس أهلا فيردُّ ، والله أعلم .

23 - Menutup jalan yang dapat menimbulkan keburukan (saddudz dzarā’i‘), agar tidak ada orang yang bukan ahlinya lalu berdiri meminta hal yang sama kemudian ditolak. Wallahu a‘lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar