Rafi' bin Khadij
Rafi' bin Khadij (bahasa Arab: رافع بن خديج) adalah sahabat Nabi Muhammad ﷺ dari suku Ansar Madinah, anggota suku Aws cabang Banu Harith. Ia dikenang karena keberaniannya dalam pertempuran awal Islam dan kontribusinya sebagai perawi hadis.
Fakta-fakta penting:
Nama lengkap : Rafi' bin Khadij bin Rafi' al-Ansari al-Harithi
Suku: Aws, marga Banu Harith
Lahir: Medina, awal abad ke-7 Masehi
Meninggal: kira-kira. 73–74 H / 692–694 M, di Madinah
Dikenal karena: Sahabat Nabi ﷺ, veteran Perang Uhud dan Khandaq, perawi hadits
Kehidupan awal dan partisipasi dalam pertempuran
Rafi' dibesarkan di Madinah dan sejak usia muda sangat ingin bergabung dalam kampanye Nabi. Meskipun terlalu muda untuk Perang Badar, ia mendapat izin untuk berperang dalam Perang Uhud setelah menunjukkan keahliannya dalam memanah. Selama pertempuran itu, ia terkena panah yang menancap di dadanya. Nabi menawarkan untuk mencabut panah itu seluruhnya atau membiarkan kepalanya tetap di dalam dan menjadi saksi kemartirannya pada Hari Kiamat; Rafi' memilih yang terakhir, menanggung luka itu seumur hidup. Ia kemudian berperang dalam Perang Parit dan kampanye lainnya untuk membela Madinah.
Peran sebagai perawi hadits
Rafi' meriwayatkan banyak hadits yang tercatat dalam kumpulan hadits seperti Musnad Ahmad ibn Hanbal, Sahih al-Bukhari, dan Sahih Muslim. Riwayatnya mencakup topik-topik seperti kontrak pertanian dan perilaku etis. Di antara murid-muridnya adalah tabi'in terkemuka seperti Sa'id ibn al-Musayyib, Nafi', dan Mujahid.
Tahun-tahun terakhir dan wafatnya
Meskipun menderita luka yang berkepanjangan, Rafi' hidup hingga usia lanjut—sekitar delapan puluh enam tahun—dan terus berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat dan pertanian di Madinah. Ia dikenal karena kesalehan, kejujuran, dan dukungannya kepada Ali ibn Abi Talib selama Perang Siffin. Ia wafat pada masa pemerintahan Khalifah Muawiyah I, dan salat jenazahnya dihadiri oleh Abdullah ibn Umar.
Warisan
Rafi' bin Khadij dikenang sebagai teladan pengabdian dan ketekunan di masa muda. Keputusannya untuk menanggung rasa sakit akibat luka panah sebagai bukti imannya menjadi salah satu kisah abadi yang menggambarkan keberanian dan ketulusan di antara para sahabat Nabi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar