خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
Kembali 91 | IndeX | Lanjut 93
كتابُ الأطعمةِ
Catatan tentang Makanan
Hadist ke Tiga Ratus Tujuh Puluh Tiga :
عنْ أسماءَ بنتِ أبِي بكرٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَتْ: (( نَحَرْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَسًا، فأَكَلْنَاهُ )) .
Diriwayatkan Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Kami pernah menyembelih seekor kuda pada masa Rasulullah ﷺ, lalu kami memakannya.”
وفي روايَةٍ: (( وَنَحْنُ بالمَدِينَةِ )) .
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Dan (peristiwa itu) ketika kami berada di Madinah.”
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Dalil (bukti) atas bolehnya memakan daging kuda.
Hadist ke Tiga Ratus Tujuh Puluh Empat :
وعنْ جابرِ بنِ عبدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، (( أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ، وَأَذِنَ فِي لُحُومِ الْخَيْلِ )) .
Diriwayatkan Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang (memakan) daging keledai jinak, dan membolehkan (memakan) daging kuda.”
ولِمسلمٍ وحدَهُ قالَ: (( أَكَلْنَا زَمَنَ خَيْبَرَ الْخَيْلَ، وَحُمُرَ الْوَحْشِ، وَنَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْحمَارِ الأَهْلِيِّ )) .
Dan dalam riwayat Muslim saja, ia berkata:
“Kami memakan daging kuda dan keledai liar pada masa (perang) Khaibar, dan Nabi ﷺ melarang (memakan) keledai jinak.”
Hadist ke Tiga Ratus Tujuh Puluh Lima :
وعنْ عبدِ اللَّهِ بن أبِي أَوْفَى رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( أَصَابَتْنَا مَجَاعَةٌ لَيَاليَ خَيْبَرَ، فَلَمَّا كانَ يَومُ خَيْبَرَ، وَقَعْنَا في الحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ، فَانْتَحَرْنَاهَا فَلَمَّا غَلَتْ بِهَا الْقُدُورُ، نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أن أَكْفِئُوا الْقُدُورَ، وَلَا تَأْكُلُوا مِنْ لُحُومِ الْحُمُرِ شَيْئًا )) .
Diriwayatkan Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Kami pernah ditimpa kelaparan pada beberapa malam di Khaibar. Ketika tiba hari (perang) Khaibar, kami mendapatkan keledai-keledai jinak, lalu kami menyembelihnya. Ketika periuk-periuk telah mendidih dengan (daging)nya, seorang pembawa kabar dari Rasulullah ﷺ berseru: ‘Tumpahkanlah isi periuk-periuk itu dan janganlah kalian memakan sedikit pun dari daging keledai jinak.’”
Hadist ke Tiga Ratus Tujuh Puluh Enam :
عنْ أبِي ثَعْلَبَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لُحومَ الحُمرِ الأَهْلِيَّةِ )) .
Diriwayatkan Dari Abu Tsa‘labah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ mengharamkan daging keledai jinak.”
فِيهِ مَسَائِلُ من الأحاديثِ الثلاثةِ:
Di dalamnya terdapat beberapa masalah (pembahasan) yang diambil dari tiga hadits tersebut:
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Larangan terhadap (memakan) daging keledai jinak dan pengharaman memakannya, karena ia termasuk sesuatu yang kotor dan najis.
Kedua: Halalnya daging kuda, karena ia termasuk makanan yang baik dan disukai (thayyib).
Ketiga: Halalnya daging keledai liar, karena ia termasuk hewan buruan yang baik (thayyib).
Hadist ke Tiga Ratus Tujuh Puluh Tujuh :
عن ابنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: (( دَخَلْتُ أَنَا وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ مَعْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَ مَيْمُونَةَ، فأُتِيَ بِضَبٍّ مَحْنُوذٍ، فَأَهْوَى إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ، فَقَالَ بَعْضُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي في بَيْتِ مَيْمُونَةَ: أَخْبِرُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بمَا يُرِيدُ أَنْ يَأْكلَ، فَرَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ. فَقُلْتُ: أَحْرَامٌ هُوَ يا رَسُولَ اللَّهِ؟ قالَ: (( لَا، ولَكِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِأَرْضِ قَوْمِي، فَأَجِدُني أَعَافُهُ )) قَالَ خَالِدٌ: فَاجْتَرَرْتُهُ، فَأكَلْتُهُ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ.
Diriwayatkan Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Aku dan Khalid bin Al-Walid masuk bersama Rasulullah ﷺ ke rumah Maimunah. Lalu dihidangkan seekor dhab (biawak gurun) yang telah dipanggang. Rasulullah ﷺ mengulurkan tangannya ke arahnya, maka sebagian wanita yang berada di rumah Maimunah berkata, ‘Beritahukan kepada Rasulullah ﷺ tentang apa yang hendak beliau makan.’ Maka Rasulullah ﷺ pun mengangkat tangannya (tidak jadi memakannya).
Aku bertanya, ‘Apakah itu haram, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Akan tetapi hewan itu tidak terdapat di negeri kaumku, sehingga aku merasa kurang menyukainya.’
Khalid berkata, ‘Lalu aku menariknya dan memakannya, sementara Nabi ﷺ melihat (kepadaku).’”
المَحْنُوذُ: المَشْوِيُّ بالرَّضْفِ، وهي الحِجَارَةُ
“Al-maḥnūdz (المحنوذ) artinya: yang dipanggang dengan menggunakan batu panas (ar-raḍf), yaitu batu-batu yang dipanaskan.”
Kosakata :
لفظ (بِضَبٍّ) : بتشديدِ الباءِ منْ فصيلةِ السلاحفِ، شَبِيهٌ بالحِرْباءِ، يَسْكُنُ الصحراءَ والمَحَلَّاتِ الوَعِرَةَ.
Lafadz (بِضَبٍّ): dengan tasydid pada huruf ba’. Ia termasuk jenis hewan yang mirip biawak/kadal besar, menyerupai bunglon, hidup di padang pasir dan daerah yang berbatu serta terjal.
لفظ (مَحْنُوذٍ) : بفتحِ الميمِ وسكونِ الحاءِ وضمِّ النونِ وبعدَهَا واوٌ ثمَّ ذالٌ، هوَ المَشْوِيُّ بالحجارةِ المُحْمَاةِ.
Lafadz (مَحْنُوذٍ): dibaca dengan fathah pada huruf mim, sukun pada huruf ha’, dan dhammah pada huruf nun, kemudian setelahnya ada huruf wawu lalu dzal. Artinya: yang dipanggang dengan batu-batu yang dipanaskan.
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:
Pertama: Bolehnya (memakan) dhab (biawak gurun), dan bahwa rasa tidak suka secara tabiat dari Nabi ﷺ terhadap sesuatu tidaklah menjadikannya haram; karena hal itu bukan termasuk penetapan syariat.
Kedua: Baiknya akhlak Nabi ﷺ, karena beliau tidak mencela makanan yang tidak beliau sukai.
Kembali 91 | IndeX | Lanjut 93
Tidak ada komentar:
Posting Komentar