Jumat, 29 Mei 2026

Kitab Tauhid : 19 (Bab mengajak kepada persaksian Lailaha illallah)

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 18 | IndeX | Lanjut 20

 

 

باب الدعاءِ إِلى شَهَادَةِ أَنْ لا إله إِلَّا اللَّهُ 

Bab mengajak  kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah

 

  

عَنِ ابنِ عباس : أَنَّ رسول الله ﷺ لَمَّا بَعَثَ معاذاً إلى اليمن قَالَ لَهُ : « إِنَّكَ تَأْتِي قَوْماً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لا إله إلا الله » وفي رواية : « إلى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ . فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَّقَةٌ تُؤخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتْرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ . فَإِنْ هُم أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بينهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ » أخرجاه البخاري و مسلم . 

Dari Abdullah bin Abbas, bahwa Muhammad ketika mengutus Muadz bin Jabal ke negeri Yaman, beliau bersabda kepadanya:

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Dalam riwayat lain: “Agar mereka mentauhidkan Allah. Jika mereka menaati engkau dalam hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam setiap hari dan malam. Jika mereka menaati engkau dalam hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaati engkau dalam hal itu, maka jauhilah mengambil harta-harta terbaik mereka. Dan takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

بعَثَ معاذاً : وجَّهَهُ وأَرسَلَهُ . 

Kata [بعثَ معاذاً] : mengutus dan mengirim Muadz bin Jabal.

إلى اليمن : إلى الإقليم المعروفِ جنوب الجزيرة العربية داعياً إلى الله ووالياً وقاضياً وذلك في سنة عشر مِنَ الهجرة . 

Kata [إلى اليمن] : ke wilayah yang terkenal di bagian selatan Jazirah Arab, untuk berdakwah kepada Allah, menjadi pemimpin, dan hakim. Hal itu terjadi pada tahun kesepuluh Hijriah di Yaman.

أهل الكتاب : هُمُ اليهود والنصارى لأَنَّهُم كانوا في اليمنِ أَكثَرَ مِنْ مُشرِكي العرب أو أغلب . 

Kata [أهل الكتاب] : adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka di Yaman lebih banyak daripada kaum musyrik Arab, atau mereka adalah golongan yang paling dominan.

شهادة : يجوزُ فِيهَا الرفع على أنّه اسمٌ يَكُنْ مَؤخَّراً وأُولُ خبرُهَا مقدم ويجوز العكس . 

Kata [شهادة] : boleh dibaca rafa‘ sebagai isim dari “yakun” yang diakhirkan, sedangkan khabarnya didahulukan. Dan boleh juga sebaliknya.

وفي رواية : أي في رواية أُخرى في صحيح البخاري . 

Kata [وفي رواية] : maksudnya: dalam riwayat lain yang terdapat di Sahih al-Bukhari.

أطاعوك لذلِكَ : أي شَهِدُوا وانقادوا لدعوتِكَ وَكَفَرُوا بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دونِ الله . 

Kata [أطاعوك لذلِكَ] : maksudnya mereka bersyahadat, tunduk kepada dakwahmu, dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah.

افْتَرَضَ عليهم : أَوْجَبَ عَلَيْهِم . 

Kata [افْتَرَضَ عليهم] : maksudnya Allah mewajibkan atas mereka.

أطاعوك لِذلِكَ : آمَنُوا بفرضيَّتِهَا وأَقَامُوهَا . 

Kata [أطاعوك لِذلِكَ] : maksudnya mereka beriman akan kewajibannya dan menegakkannya.

افترض عليهم صدقة : أوجب عليهم الزكاة . 

Kata [افترض عليهم صدقة] : maksudnya Allah mewajibkan atas mereka zakat.

إيَّاكَ : كلمة تحذير . 

Kata [إيَّاكَ] : adalah kata untuk memperingatkan atau memberi peringatan (kata tahdzir).

وكرائم : منصوب على التحذيرِ جَمْعُ كريمة ، وهي خيارُ المالِ ونفائسه . 

Kata [وكرائم] : dibaca manshub karena menjadi bentuk tahdzir (peringatan). Kata itu adalah jamak dari “karīmah”, yaitu harta yang terbaik dan paling berharga.

اتَّقِ دعوة المظلومِ : احذَرْهَا واجعل بينك وبينها وقاية بفعل العدل وترك الظُّلم . 

Kata [اتَّقِ دعوة المظلومِ] : maksudnya waspadalah terhadap doa tersebut, dan jadikan antara dirimu dengan doa itu pelindung, yaitu dengan berbuat adil dan meninggalkan kezaliman.

فإنَّه : أي الحال والشأنُ . 

Kata [فإنَّه] : maksudnya “sesungguhnya keadaan dan urusannya demikian.”

ليس بينها وبين الله حجاب : أي لا تحجبُ عَنِ اللَّهِ بَلْ ترفعُ إِليه فيقبَلُهَا . 

Kata [ليس بينها وبين الله حجاب] : maksudnya doa tersebut tidak terhalang dari Allah, bahkan diangkat kepada-Nya lalu dikabulkan.

أَخرجَاهُ : أي أَخرجه البخاريّ ومسلم في الصَّحِيحَيْنِ . 

Kata [أَخرجَاهُ] : maksudnya Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya dalam dua kitab sahih mereka.

المعنى الإجماليّ للحديثِ : أنَّ النبيَّ ﷺ لَمَّا وَجَّه معاذ بن جبل رضِيَ الله عنه إلى إقليم اليمن داعياً إلى الله ومعلماً رسم له الخطة التي يسير عليها في دعوتِهِ ، فبيَّنَ لهُ أَنَّه سيواجه قوماً أهل علم وجدلٍ مِنَ اليهود والنصارى ، ليكون على أهبة لمناظرتهم وردّ شبههم ، ثم ليبدأ في دعوته بالأهمّ فالأهم فيدعُو الناس إلى إصلاح العقيدة أولاً لأنها الأساس ، فإذا انقادوا لذلِكَ أمرَهُم بإقام الصلاة لأنها أعظمُ الواجباتِ بعد التوحيد ، فإذَا أَقاموها أمر أغنياءَهُم بدفع زكاة أموالهم إلى فقرائهم مواساة لهم وشكراً الله ، ثم حذّره من أخذ جيدِ المالِ لأَنَّ الواجب الوسط ، ثم حثّه على العدلِ وترك الظلمِ لِئَلَّا يدعُو عليه المظلوم ودعوتُهُ مستجابة . 

Makna secara global dari hadist ini : adalah bahwa ketika Nabi ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal ke wilayah Yaman sebagai da‘i kepada Allah dan pengajar, beliau menetapkan baginya manhaj yang harus ditempuh dalam berdakwah. Beliau menjelaskan bahwa ia akan menghadapi kaum dari kalangan Yahudi dan Nasrani yang memiliki ilmu dan gemar berdebat, agar ia bersiap untuk berdialog dengan mereka dan membantah syubhat-syubhat mereka.

Kemudian beliau memerintahkannya agar memulai dakwah dengan perkara yang paling penting lalu yang berikutnya: mengajak manusia memperbaiki akidah terlebih dahulu karena itulah fondasi utama. Jika mereka telah menerima hal itu, maka mereka diperintahkan menegakkan salat karena salat adalah kewajiban terbesar setelah tauhid. Jika mereka telah menegakkannya, maka orang-orang kaya mereka diperintahkan menunaikan zakat kepada orang-orang fakir mereka sebagai bentuk kepedulian dan rasa syukur kepada Allah.

Lalu beliau memperingatkannya agar tidak mengambil harta terbaik milik mereka, karena yang wajib diambil adalah harta pertengahan. Setelah itu beliau mendorongnya untuk berlaku adil dan meninggalkan kezaliman, agar orang yang dizalimi tidak mendoakan keburukan atasnya, karena doa orang yang dizalimi itu dikabulkan.

مناسبة الحديث للباب : أنَّ أول ما يُدعَى إليه شهادة أن لا إله إلاّ الله ، وفيه إرسال الدعاة لذلِكَ . 

Kesesuaian hadist ini dengan bab :  adalah bahwa perkara pertama yang harus didakwahkan ialah syahadat “Lā ilāha illallāh”, dan di dalam hadis ini juga terdapat dalil tentang mengutus para da‘i untuk mengajak manusia kepada hal tersebut.



ما يُستفاد من الحديث :

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

۱ - مشروعية إرسال الدعاة إلى الله .

1. Disyariatkannya mengutus para da‘i untuk berdakwah kepada Allah.

٢ - أن شهادةَ أَنْ لا إله إلا الله أول واجب وهي أول ما يُدعى إليه الناس .

2. Bahwa syahadat “Lā ilāha illallāh” adalah kewajiban pertama, dan merupakan perkara pertama yang didakwahkan kepada manusia.

٣ - أنّ معنى شهادة أن لا إله إلا الله توحيد الله بالعبادة وتركِ عبادة ما - سواه .

3. Bahwa makna syahadat “Lā ilāha illallāh” adalah mentauhidkan Allah dalam ibadah dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya.

٤ - أنَّه لا يحكم بإسلام الكافر إلا بالنطق بالشهادَتَيْنِ .

4. Bahwa orang kafir tidak dihukumi masuk Islam kecuali dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

٥ - أنَّ الإنسان قد يكون قارئاً عالماً وهو لا يعرف معنى لا إله إلا الله ، أو يعرفه ولا يعملُ بِهِ كحال أهل الكتاب .

5. Bahwa seseorang bisa saja pandai membaca dan berilmu, namun tidak mengetahui makna “Lā ilāha illallāh”, atau mengetahuinya tetapi tidak mengamalkannya, sebagaimana keadaan Ahli Kitab.

٦ - أنَّ مخاطبة العالم ليست كمخاطبة الجاهِلِ : ( إِنَّكَ تأتي قوماً مِنْ أهل الكتاب ) .

6. Bahwa cara berbicara kepada orang berilmu tidak sama dengan cara berbicara kepada orang jahil, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab.”

٧ - التنبيه على أنه ينبغي للإنسانِ خصوصاً الداعية أن يكون على بصيرة مِنْ دِينِهِ ، ليتخلَّصَ مِنْ شبهات المشبّهين وذلك بطلب العلم .

7. Peringatan bahwa seseorang, khususnya seorang da‘i, hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam tentang agamanya agar dapat selamat dari syubhat orang-orang yang menimbulkan kerancuan, dan hal itu dicapai dengan menuntut ilmu.

٨ - أنَّ الصلاة أعظم الواجبات بعد الشهادتين .

8. Bahwa shalat adalah kewajiban yang paling agung setelah dua kalimat syahadat.

٩ - أنَّ الزكاة أوجب الأركان بعد الصلاة .

9. Bahwa zakat adalah rukun yang paling wajib setelah salat.

۱۰ - بیان مصرف مِنْ مصارف الزكاةِ وهُمُ الفقراء وجواز الاقتصار عليه .

10. Penjelasan tentang salah satu golongan yang berhak menerima zakat, yaitu orang-orang fakir, dan bolehnya mencukupkan penyaluran zakat kepada golongan tersebut saja.

١١ - أنَّه لا يجوز أخذ الزكاةِ مِنْ جيدِ المالِ إلا برضا صاحِبِهِ .

11. Bahwa tidak boleh mengambil zakat dari harta yang terbaik kecuali dengan kerelaan pemiliknya.

١٢ - التحذيرُ مِنَ الظلم ، وأنَّ دعوة المظلوم مستجابة ولو كان عاصياً .

12. Peringatan agar menjauhi kezaliman, dan bahwa doa orang yang dizalimi itu dikabulkan meskipun ia seorang pelaku maksiat.

Selasa, 26 Mei 2026

Kitab Tauhid : 18 (Bab mengajak kepada persaksian Lailaha illallah)

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 17 | IndeX | Lanjut 19

 

 

باب الدعاءِ إِلى شَهَادَةِ أَنْ لا إله إِلَّا اللَّهُ 

Bab mengajak  kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah

 

 

 

 وقولِ اللَّهِ تَعَالَى : ﴿ قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَنَ اللهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [ يوسف : ١٠٨ ] 

Dan Allah yang mahaluhur berfirman: “Katakanlah muhammad, Inilah jalanku, aku menyeru / mengajak (manusia) kepada Allah di atas ilmu (bashirah) yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”

مناسبة البابِ لكتاب التوحيد : أنَّ المصنف رحمه الله لمّا ذكر في الأبواب السابقة التوحيد وفضله وما يوجب الخوف من ضدّه ، ذكر في هذا الباب أنه لا ينبغي لمن عَرَفَ ذلك أن يقتصر على نفسِهِ بَلْ يجب عليه أن يدعُوَ إلى الله تعالى بالحكمة والموعظة الحسنة كما هو سبيل المرسلين وأتباعهم . 

Kesesuaian bab ini dengan Kitab Tauhid: Sesungguhnya penulis rahimahullah, setelah menyebutkan pada bab-bab sebelumnya tentang tauhid, keutamaannya, dan hal-hal yang mewajibkan rasa takut terhadap lawannya (yaitu syirik), maka pada bab ini beliau menjelaskan bahwa tidak pantas bagi orang yang telah mengetahui hal tersebut untuk hanya mencukupkan diri pada dirinya sendiri. Bahkan wajib baginya untuk berdakwah mengajak kepada Allah Ta‘ala dengan hikmah dan nasihat yang baik, sebagaimana itulah jalan para rasul dan para pengikut mereka.

الدعاء : أي دعوة الناس . 

Kata [الدعاء] : yaitu mengajak atau menyeru manusia.

إلى شهادة أن لا إله إلا الله : أي إلى توحيد الله والإيمان به وبما جاءت به رسله مما هو مدلول هذه الشهادة . 

Kata [إلى شهادة أن لا إله إلا الله] : yaitu mengajak kepada mentauhidkan Allah, beriman kepada-Nya, dan kepada apa yang dibawa oleh para rasul-Nya yang merupakan kandungan dari syahadat tersebut.

قل : الخطاب للرسول ﷺ . 

Kata [قل] : perintah ini ditujukan kepada Rasulullah ﷺ.

هذه : أي الدعوة التي أدعُو إليها والطريقة التي أنا عليها . 

Kata [هذه] : yaitu dakwah yang aku serukan kepadanya dan jalan/metode yang aku berada di atasnya.

سَبِيلي : طريقتي ودعوتي . 

Kata [سَبِيلي] : jalanku dan dakwahku.

أدْعُو إلى الله : إلى توحيدِ اللهِ لا إلى حظٍّ مِنْ حظوظ الدنيا ولا إلى رئاسة ولا إلى حزبية . 

Kata [أدْعُو إلى الله] : yaitu kepada tauhid kepada Allah, bukan kepada kepentingan dunia, bukan pula kepada kedudukan, dan bukan kepada fanatisme golongan/partai.

على بصيرة : على علم بذلك وبرهان عقليّ وشرعيّ ، والبصيرة المعرفةُ التي يُميّز بها بين الحق والباطل . 

Kata [على بصيرة] : yaitu di atas ilmu tentang hal tersebut serta dalil akal dan dalil syariat. Dan bashirah adalah pengetahuan yang dengannya dapat dibedakan antara yang hak dan yang batil.

 

وَمَنِ اتَّبَعَنِي : أي آمَنَ بِي وصدَّقَني : يحتمل أنّه عطف على الضمير المرفوع في (أدْعُو) فيكون المعنى : أنا أدعُو إلى الله على بصيرة ومن اتبعني كذلك يدعو إلى الله على بصيرة : ويحتمل أن يكون عطفاً على الضمير المنفصل (أنا) فيكونُ المعنى : أنا وأتباعي على بصيرة . 

Kata [وَمَنِ اتَّبَعَنِي] : yaitu orang yang beriman kepadaku dan membenarkanku. Kalimat ini mengandung dua kemungkinan makna: Bisa jadi digangungkan kepada dhamir (kata ganti) marfū‘ pada kata “ad‘ū” [أدْعُو] artinya "aku menyeru", sehingga maknanya: Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, dan orang yang mengikutiku juga menyeru kepada Allah di atas bashirah. Bisa juga digangungkan kepada dhamir munfashil kata “anā” [أنا] (aku), sehingga maknanya: Aku dan para pengikutku berada di atas bashirah.

[عطف : secara bahasa berarti “menghubungkan” atau “menggabungkan”.

 

والتحقيق : أنَّ العطف يتضمّنُ المعنيين فأتباعُهُ هُمْ أَهل البصيرة الداعون إلى الله . 

Kata [والتحقيق] "Dan pendapat yang kuat" : bahwa penggabungan tersebut mencakup kedua makna itu sekaligus. Maka para pengikut beliau adalah orang-orang yang memiliki bashirah dan juga mengajak kepada Allah.

وسبحانَ اللهِ : وأَنزّه الله وأُقدِّسُهُ عَنْ أَنْ يكونَ لَهُ شريك ، في ملكه أو معبود بحقّ سواه . 

Kata [وسبحانَ اللهِ] : yaitu aku menyucikan dan mengagungkan Allah dari adanya sekutu bagi-Nya, baik dalam kerajaan-Nya maupun adanya sesembahan yang berhak disembah selain-Nya.

المعنى الإجماليّ للآية : يأمرُ الله رسوله أن يخبر الناس عن طريقتِهِ وسنّتِهِ أَنَّها الدعوة إلى شهادة أن لا إله إلا الله على علم ويقين وبرهان ، وكُلُّ مَنِ اتَّبَعَهُ يدعُو إلى ما يَدْعُو إليه على علم ويقين وبرهان ، وأنّه هو ا وأتباعُهُ يُنَزِّهُونَ اللهَ عَنِ الشريكِ له في ملكه وعن الشريك له في عبادتِهِ ويتبرأ ممّن أشركَ بِهِ وإِنْ كَانَ أقرب قريبٍ . 

Makna ayat secara umum (global): Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberitahukan kepada manusia tentang jalan dan sunnah/metode beliau, yaitu berdakwah kepada syahadat lā ilāha illallāh di atas ilmu, keyakinan, dan dalil. Dan setiap orang yang mengikuti beliau juga berdakwah kepada apa yang beliau dakwahkan dengan ilmu, keyakinan, dan dalil.

Dan bahwa beliau serta para pengikutnya menyucikan Allah dari adanya sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya maupun sekutu dalam ibadah kepada-Nya. Mereka juga berlepas diri dari orang yang berbuat syirik kepada-Nya, sekalipun orang tersebut adalah kerabat yang paling dekat.

مناسبةُ الآيةِ للبابِ : أنَّ اللهَ ذَكَرَ فيها طريقة الرسول وأتباعه هي الدعوة إلى شهادَةِ أنْ لا إله إلا الله على علم بما يدعون إليه . ففيها وجوب الدعوة إلى شهادَةِ أنْ لا إله إلا الله الذي هو موضوع الباب . 

Kesesuaian ayat dengan bab: Bahwa Allah menyebutkan di dalam ayat tersebut metode Rasul dan para pengikut beliau, yaitu berdakwah kepada syahadat an lā ilāha illallāh di atas ilmu tentang apa yang mereka dakwahkan. Maka di dalamnya terdapat kewajiban berdakwah kepada syahadat an lā ilāha illallāh, yang itulah pokok pembahasan bab ini.

ما يُستفادُ مِنَ الآية : 

Pelajaran yang dapat diambil dari ayat tersebut:

١ - أنَّ الدعوة إلى شهادةِ أنْ لا إله إلا الله هي طريقة الرسول وأتباعه .

1. Bahwa berdakwah kepada syahadat an lā ilāha illallāh adalah jalan/metode Rasul dan para pengikut beliau.

۲ - أنه يجب على الداعية أن يكون عالماً بما يدعو إليه عالماً بما ينهى عنْهُ .

2. Bahwa seorang dai wajib memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan dan ilmu tentang apa yang ia larang.

٣ - التنبيه على الإخلاص في الدعوة بأن لا يكون للداعية مقصد سوى وجه الله لا يقصد بذلِكَ تحصيل مال أو رئاسة أو مدح مِنَ الناسِ أو دعوة إلى حزب أو مذهب .

3. Peringatan tentang pentingnya ikhlas dalam berdakwah, yaitu agar seorang dai tidak memiliki tujuan selain mengharap wajah Allah. Ia tidak bertujuan mencari harta, kedudukan, pujian manusia, ataupun mengajak kepada kelompok atau madzhab tertentu.

٤ - أنَّ البصيرة فريضةٌ لأن اتِّباعَهُ ﷺ واجب ولا يتحقَّقُ اتباعُهُ إلاّ بالبصيرة وهي العلم واليقين .

4. Bahwa bashirah (ilmu yang jelas) itu hukumnya wajib, karena mengikuti Nabi ﷺ adalah wajib. Dan mengikuti beliau tidak akan terwujud kecuali dengan bashirah, yaitu ilmu dan keyakinan.

٥ - حسن التوحيد لأنَّه تنزيه اللهِ تَعَالَى .

5. Keindahan/keutamaan tauhid, karena tauhid merupakan penyucian Allah Ta‘ala.

٦ - قبحُ الشركِ لأَنَّه مسبةٌ للهِ تَعَالى .

6. Buruknya syirik, karena syirik merupakan penghinaan terhadap Allah Ta‘ala.

۷ - وجوب ابتعاد المسلم عَنِ المشركين لا يصير منهم في شيء فلا يَكْفِي أَنَّهُ لَا يُشْرِكُ .

7. Wajibnya seorang muslim menjauh dari orang-orang musyrik agar tidak menjadi bagian dari mereka dalam hal apa pun. Maka tidak cukup hanya dengan tidak berbuat syirik saja. 

 

Kembali 17 | IndeX | Lanjut 19

 

Senin, 25 Mei 2026

Kitab Tauhid : 17 (Bab tentang takut terhadap syirik)

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 16 | IndeX | Lanjut 18

 

 

باب الخوف من الشرك  

Bab tentang takut terhadap syirik



ولمسلم عَنْ جابر - رضي الله عنه - : أَنَّ رَسُولَ ﷺ قَالَ : « مَنْ لَقِيَ اللَّهِ وَهُوَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ النَّارَ »  . 

Dan dalam riwayat Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj, bahwa Muhammad bersabda:
“Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa bertemu dengan-Nya dalam keadaan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka ia akan masuk neraka.”

جابر : هو جابرُ بنُ عبدِ اللهِ بنِ عمرو بن حرام الأنصاري السلميّ صحابيّ جليل مكثر ابنُ صحابيّ مات بالمدينة بعد السبعين وله أربع وتسعون سنة . 

Kata "Jabir" : adalah Jabir bin Abdullah bin ‘Amer bin Haram Al-Anshari As-Sulami, seorang sahabat yang mulia dan banyak meriwayatkan hadis. Beliau adalah putra dari seorang sahabat Nabi juga. Beliau wafat di Madinah setelah tahun 70 H, dalam usia 94 tahun.

مَنْ لَقِيَ اللَّهُ : مَنْ مَاتَ . 

Kata “barang siapa bertemu Allah” : maksudnya adalah “barang siapa yang meninggal dunia.”

لا يُشرك به : لم يتخذ معه شريكاً في الإلهيّة ولا في الربوبيّة . 

Kata “tidak mempersekutukan-Nya” : yaitu tidak menjadikan sekutu bagi Allah dalam uluhiyyah (ibadah) maupun dalam rububiyyah (ketuhanan dan pengaturan).

شيئاً : أي شركاً قليلاً أو كثيراً . 

Kata "sesuatu" : maksudnya kesyirikan, baik sedikit maupun banyak.

المعنى الإجماليّ للحديثِ : أنَّ الرسول ﷺ يخبرُنَا أَنَّ مَنْ مَاتَ على التوحيد فدخُولُهُ الجنةَ مقطوع بِهِ ، فإنْ كانَ صاحبَ كبيرة ومات مصرّا عليها فهو تحت مشيئة الله ، فإنْ عَفَا الله عنه دخلَهَا أولاً ، وإلاّ عُذِّبَ في النارِ ثُمَّ أُخرج منها وأُدخل الجنةَ . 

Makna secara global dari hadist ini : bahwa Muhammad mengabarkan kepada kita bahwa barang siapa meninggal di atas tauhid, maka masuknya ke dalam surga adalah suatu kepastian. Jika ia melakukan dosa besar dan meninggal dalam keadaan terus-menerus melakukannya, maka ia berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah mengampuninya, ia akan langsung masuk surga. Namun jika tidak, ia akan diazab di neraka terlebih dahulu, kemudian dikeluarkan darinya dan dimasukkan ke dalam surga.

وأن مَنْ ماتَ على الشرك الأكبر لا يدخل الجنةَ ولا ينالَهُ مِنَ اللهِ رحمة ويخلد في النار ، وإنْ كانَ شركاً أصغر دخل النار - إنْ لم يكُن معه حسنات راجحة - لكن لا يخلَّدُ فيها . 

Dan bahwa barang siapa meninggal di atas syirik besar, maka ia tidak akan masuk surga, tidak mendapatkan rahmat dari Allah, dan akan kekal di dalam neraka. Adapun jika kesyirikannya adalah syirik kecil, maka ia dapat masuk neraka — apabila tidak memiliki kebaikan yang lebih berat (lebih banyak) — namun ia tidak kekal di dalamnya.

مناسبة الحديث للباب : أنّ فيه التغليظ في النهي عن الشرك مما يوجب شدة الخوف منه .

Kesesuaian hadist ini dengan bab : bahwa di dalam hadis tersebut terdapat penegasan keras dalam larangan berbuat syirik, yang menuntut adanya rasa takut yang sangat terhadap syirik itu.

ما يُستفادُ مِنَ الحديث :

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

١ - وجوب الخوفِ مِنَ الشركِ ، لأنَّ النجاةَ مِنَ النارِ مشروطة بالسلامة من الشرك .

1. Wajib takut terhadap syirik, karena keselamatan dari neraka bergantung pada selamat dari kesyirikan.

٢ - أنَّه ليس العبرة بكثرة العمل ، وإنما العبرة بالسلامة مِنَ الشرك .

2. Bahwa yang menjadi ukuran bukanlah banyaknya amal, tetapi yang menjadi ukuran adalah keselamatan dari kesyirikan.

٣ - بیان معنى لا إله إلا الله وأنه ترك الشرك وإفراد الله بالعبادة .

3. Penjelasan makna “Lā ilāha illallāh”, yaitu meninggalkan kesyirikan dan mengesakan Allah dalam ibadah.

٤ - قرب الجنةِ والنارِ مِنَ العبدِ وأنّه ليس بينَهُ وبينَهُما إلاّ الموتُ .

4. Dekatnya surga dan neraka dengan seorang hamba, dan bahwa tidak ada penghalang antara dirinya dengan keduanya selain kematian.

٥ - فضيلة من سَلِمَ مِنَ الشركِ .

5. Keutamaan orang yang selamat dari kesyirikan.

 

Kembali 16 | IndeX | Lanjut 18

 

Jumat, 22 Mei 2026

Kitab Tauhid : 16 (Bab tentang takut terhadap syirik)

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 15 | IndeX | Lanjut 17

 

 

باب الخوف من الشرك  

Bab tentang takut terhadap syirik



وفي الحديثِ : « أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَالَ : الرِّيَاءُ » . 

Dalam hadis: ‘Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.’ Lalu beliau ditanya tentangnya, maka beliau bersabda: ‘Yaitu riya’.’

وفي الحديث : أي الحديث الذي رواه الإمام أحمد والطبراني وابن أبي الدنيا والبيهقي . 

Kata "Dan dalam hadis” : yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Abi Ad-Dunya, dan Al-Baihaqi.

أخوف ما أخافُ عليكُم : أي أشدُّ خوفاً أخافُه عليكم . 

Kata “Yang paling aku khawatirkan atas kalian” : yaitu perkara yang paling besar aku takutkan menimpa kalian.

الرياءُ : إظهار العبادة لقصدِ رؤية الناس لها فيحمدونه عليها . 

Kata “Riya’” : yaitu menampakkan ibadah dengan tujuan agar manusia melihatnya, lalu mereka memuji pelakunya karena ibadah tersebut.

المعنى الإجمالي للحديث : لكمال شفقته ﷺ ورحمته بأُمتِهِ ونصحه لهم بحيث لم يترك خيراً إلا دلّهم عليه ولا شرًّا إلا حذَّرَهُم منه ، ومن الشرّ الذي حذّر منه الظهور بمظهر العبادة لقصدِ تحصيل ثناء الناس لأنه شرك في العبادة - وهو وإن كان شركاً أصغر فخطره عظيم ، لأنه يحبط العمل الذي قارتَهُ - ولما كانتِ النفوس مجبولة على محبة الرئاسة والمنزلة في قلوب الخلقِ إلا من سلَّم الله كان هذا أخوف ما يُخافُ على الصالحين - لقوة الداعي إليه - بخلاف الداعي إلى الشرك الأكبر ، فإِنَّهُ إِمَّا معدوم في قلوب المؤمنين الكاملين ، وإمّا ضعيف . 

“Makna umum hadis: karena sempurnanya kasih sayang, rahmat, dan nasihat Nabi ﷺ kepada umatnya, sehingga beliau tidak meninggalkan satu kebaikan pun melainkan menunjuki mereka kepadanya, dan tidak pula suatu keburukan melainkan beliau memperingatkan mereka darinya.

Di antara keburukan yang beliau peringatkan adalah menampakkan diri seolah-olah beribadah dengan tujuan memperoleh pujian manusia, karena hal itu merupakan syirik dalam ibadah. Meskipun termasuk syirik kecil, bahayanya sangat besar, sebab ia dapat menghapus amal yang dicampuri riya’.

Dan karena jiwa manusia secara tabiat menyukai kedudukan serta posisi di hati manusia — kecuali orang yang Allah selamatkan — maka inilah perkara yang paling dikhawatirkan menimpa orang-orang saleh, karena kuatnya dorongan menuju hal tersebut. Berbeda dengan dorongan kepada syirik besar, karena dorongan itu pada diri kaum mukminin yang sempurna imannya terkadang tidak ada sama sekali, atau jika ada maka sangat lemah.”

مناسبة الحديث للبابِ : أنَّ فيه الخوفَ مِنَ الشركِ الأَصغرِ كما أنَّ في الآيتين قبلَهُ الخوف مِنَ الشرك الأكبر ، والباب شامل للنوعين .

Kesesuaian hadis dengan bab: bahwa di dalamnya terdapat rasa takut terhadap syirik kecil, sebagaimana pada dua ayat sebelumnya terdapat rasa takut terhadap syirik besar. Dan bab ini mencakup kedua jenis syirik tersebut.

ما يُستفادُ مِنَ الحديثِ :

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

۱ - شدة الخوفِ مِنَ الوقوع في الشرك الأصغر ، وذلك من وجهين : 

1. Sangat besarnya rasa takut terhadap terjatuh ke dalam syirik kecil, dan hal itu ditinjau dari dua sisi:

الأول : أنَّ الرسول ﷺ تخوّف مِنْ وقوعِهِ تخوّفاً شديداً . 

Pertama: bahwa Rasulullah ﷺ sangat mengkhawatirkan terjadinya syirik kecil tersebut.

الثاني : أنه ﷺ تخوَّفَ مِنْ وقوعِهِ في الصالحين الكاملينَ فَمَنْ دونَهُمْ من باب أولى .

Kedua: bahwa beliau ﷺ mengkhawatirkan terjadinya syirik kecil pada orang-orang saleh yang sempurna, maka orang-orang yang berada di bawah mereka lebih layak untuk dikhawatirkan lagi.

۲ - شده شفقته ﷺ على أُمَّتِهِ وحرصه على هدايَتِهِمْ ونصحِهِ لَهُمْ .

2. Besarnya kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, serta besarnya perhatian beliau terhadap hidayah dan nasihat untuk mereka.”

٣ - أنّ الشرك ينقسم إلى أكبر وأصغر - فالأكبر هو أن يسوّي غيرَ اللهِ بِاللهِ فيما هو من خصائص الله ، والأَصغرُ هو ما أتى في النصوص أنه شرك ولم يصل إلى حدِّ الأكبر - والفرق بينهما : 

3. Bahwa syirik terbagi menjadi syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah. Adapun syirik kecil adalah perkara yang disebut sebagai syirik dalam nash-nash, namun belum sampai pada tingkat syirik besar.

Perbedaan antara keduanya adalah:

أ - أنَّ الأكبر يحبط جميع الأعمال ، والأصغر يحبط العمل الذي قارته .

a. Syirik besar menghapus seluruh amal, sedangkan syirik kecil hanya menghapus amal yang dicampuri olehnya.”

ب - أنَّ الأكبر يخلّد صاحبَهُ في النار ، والأصغر لا يوجب الخلود في النار .

b. Syirik besar menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan syirik kecil tidak mengharuskan kekal di dalam neraka.”

جــ - أنَّ الأَكبر ينقلُ عَنِ الملة ، والأصغر لا ينقلُ عَنِ الملةِ .

c. Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari agama (Islam), sedangkan syirik kecil tidak mengeluarkannya dari agama.

 

 

Kembali 15 | IndeX | Lanjut 17 

Senin, 18 Mei 2026

Kitab Tauhid : 15 (Bab tentang takut terhadap syirik)

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 14 | IndeX | Lanjut 16

 

 

باب الخوف من الشرك  

Bab tentang takut terhadap syirik




وقولِ اللهِ عزَّ وجلَّ : ﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَالِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن ﴾ [ السناء : ٤٨ ، ١١٦ ] . 

Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.’ (QS. An-Nisā’ : 48 dan 116) 

وقال الخليل عليه السلام : ﴿ وَاجْنُبْنِي وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ الأصنام ﴾ [ إبراهيم : ٣٥ ] . 

Dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berkata: ‘Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala.’ (QS. Ibrāhīm: 35)

مناسبة البابِ لكتاب التوحيد : أنَّ المصنف رحمه الله لما ذكرَ التوحيد وفضله وتحقيقه ناسب أن يذكرَ الخوف من ضدِّه وهو الشرك ، ليحذرة المؤمنُ ويخافه على نفسه . 

Kesesuaian bab ini dengan Kitab Tauhid : bahwa penulis rahimahullah ketika telah menyebutkan tauhid, keutamaannya, dan realisasi/pengamalannya, maka sesuai untuk menyebutkan rasa takut terhadap lawannya, yaitu syirik, agar seorang mukmin mewaspadainya dan takut syirik menimpa dirinya.”

الخوف : توقع مكروه ، وهو ضدُّ الأمن . 

Kata “Al-khauf" (takut) : adalah memperkirakan atau mengkhawatirkan sesuatu yang dibenci/tidak disukai, dan itu adalah lawan dari rasa aman.

الشرك : صرف شيءٍ مِنَ العبادة لغير الله . 

Kata “Syirik" : adalah memalingkan sesuatu dari ibadah kepada selain Allah.

لا يغفر أن يشركَ بِهِ : أي لا يعفو عن عبد لقيه وهو يعبد غيرَهُ . 

Kata ‘Tidak ada ampunan jika mempersekutukan dengan-Nya’ : maksudnya Allah tidak memaafkan seorang hamba yang menemui-Nya dalam keadaan beribadah kepada selain-Nya.

ويغفر ما دونَ ذلِكَ : أي يغفر ما دونَ الشركِ مِنَ الذنوب .

Kata ‘Dan Allah mengampuni dosa selain syirik’ : maksudnya Allah mengampuni dosa-dosa yang berada di bawah syirik.

لمن يشاءُ : أي لمن يشاءُ المغفرة لَهُ من عباده حسب فضلِهِ ، وحكمته . 

Kata ‘Bagi siapa yang Dia kehendaki’ : maksudnya bagi hamba-hamba-Nya yang Allah kehendaki untuk diberi ampunan sesuai dengan karunia dan hikmah-Nya.

الخليل : الذي بلغ أعلى درجاتِ المحبة ، والمراد به إبراهيم عليه السلامُ الذي اتَّخَذَهُ الله خليلاً . 

Kata “Al-Khalīl" : adalah orang yang mencapai derajat cinta yang paling tinggi. Yang dimaksud di sini adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih yang sangat dicintai).

اجنبنِي وبَنَيّ : اجْعَلْنِي وإياهُمْ في جانب وحيز بعيدٍ عَنْ ذلِكَ .

Kata ‘Jauhkanlah aku dan anak-anakku’ : maksudnya jadikanlah aku dan mereka berada di sisi dan tempat yang jauh dari hal tersebut (yaitu penyembahan berhala).

 

الأصنام : جمعُ صنم وهو ما كان منحوتاً على صورة البشر أو على صورة أي حيوان . 

Kata "Ashnam" (patung berhala) : bentuk jamak dari [صنم] yaitu sesuatu yang dipahat dalam bentuk manusia atau dalam bentuk hewan apa pun

المعنى الإجمالي للآية الأولى : أنَّ الله سبحانه يخبر خبراً مؤكَّداً أنه لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به ليُحذِّرنا مِنَ الشرك ، وأنه يغفرُ ما دونَ الشركِ مِنَ الذنوب لمن يشاءُ أن يغفر له تفضُّلا وإحساناً ؛ لِئَلاَّ نقنطُ مِنْ رحمة الله . 

Makna secara umum (global) ayat pertama: sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengabarkan dengan penegasan bahwa Dia tidak mengampuni seorang hamba yang menemui-Nya dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya, agar Dia memperingatkan kita dari syirik. Dan Dia mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki untuk diampuni sebagai bentuk karunia dan kebaikan-Nya, agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allah.

المعنى الإجمالي للآية الثانية : أنّ إبراهيم الخليل عليه الصلاة والسلام يدعو ربّه عزَّ وجلَّ أن يجعله هو وبنيه في جانب بعيدٍ عَنْ عبادةِ الأصنام وأن يباعد بينه وبينها ، لأنَّ الفتنة بها عظيمة ولا يأمن الوقوع فيها . 

Makna secara umum (global) ayat kedua: bahwa Nabi Ibrahim Al-Khalīl ‘alaihis ṣalātu was-salām berdoa kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla agar menjadikan dirinya dan anak keturunannya berada jauh dari penyembahan berhala, serta menjauhkan antara dirinya dengan berhala-berhala itu, karena fitnahnya sangat besar dan tidak ada yang merasa aman dari terjatuh ke dalamnya.

مناسبة الآيتين للبابِ : أنَّ الآية الأولى تدلُّ على أنَّ الشرك أعظم الذنوب ، لأنَّ من مات عليه لا يُغفرُ لَهُ ، وهذا يوجب للعبد شدة الخوف مِنْ هذا الذنب الذي هذا شأنه ، والآية الثانية تدلُّ على أنَّ إبراهيم خافَ الشرك على نفسه ودعا الله أن يعافيه منه ، فما الظَّنُّ بغيره ، فالآيتان تدلاَّن على وجوب الخوف من الشرك . 

Kaitan kedua ayat dengan bab: bahwa ayat pertama menunjukkan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, karena siapa yang mati di atas kesyirikan tidak akan diampuni. Hal ini mewajibkan seorang hamba sangat takut terhadap dosa yang demikian keadaannya.

Sedangkan ayat kedua menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim takut terjatuh ke dalam syirik atas dirinya sendiri, lalu beliau berdoa kepada Allah agar diselamatkan darinya. Maka bagaimana lagi dengan selain beliau?

Kedua ayat tersebut menunjukkan wajibnya takut terhadap syirik.

ما يُستفادُ مِنَ الآيتين :

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua ayat tersebut:

١ - أنَّ الشرك أعظم الذنوب ، لأَنَّ الله تعالى أخبر أنه لا يغفِرَهُ لمن لم يتب منه .

1. Bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, karena Allah Ta‘ālā mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuninya bagi orang yang belum bertaubat darinya.

٢ - أنَّ ما عدا الشركِ مِنَ الذنوب إذا لم يَتُبْ منه داخل تحت المشيئة - إن شاء الله غفرَهُ بلا توبة ، وإِن شاءَ عذَّبَ بِهِ ـ ففي هذا دليل على خطورة الشرك .

2. Bahwa dosa selain syirik, jika pelakunya belum bertaubat darinya, maka berada di bawah kehendak Allah: jika Allah menghendaki Dia mengampuninya tanpa taubat, dan jika Dia menghendaki Dia mengazab karenanya. Dalam hal ini terdapat dalil tentang besarnya bahaya syirik.

٣ - الخوفُ مِنَ الشركِ ، فإنَّ إبراهيم عليه السلام ـ وهو إمام الحنفاء والذي كسَّرَ الأَصنام بيدِهِ - خَافَهُ على نفسِهِ فَكَيفَ بِمَنْ دُونِهِ .

3. Takut terhadap syirik, karena Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām — padahal beliau adalah imam orang-orang hanif dan orang yang menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya sendiri — tetap takut syirik menimpa dirinya. Maka bagaimana lagi dengan orang yang kedudukannya di bawah beliau.

٤ - مشروعية الدعاء لدفع البلاء ، وأنَّهُ لا غِنَى للإِنسان عن ربِّه .

4. Disyariatkannya berdoa untuk menolak bala, dan bahwa manusia tidak dapat merasa cukup tanpa Rabbnya.

٥ - مشروعية دعاء الإنسان لنفسه ولذريَّتِهِ .

5. Disyariatkannya seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan untuk keturunannya.

٦ - الردُّ على الجهالِ الذين يقولون : لا يقعُ الشرك في هذه الأُمةِ فَآمِنُوا - منه فوقعوا فيه .

6. Bantahan terhadap orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa syirik tidak akan terjadi pada umat ini, sehingga mereka merasa aman darinya lalu akhirnya terjatuh ke dalam syirik. 

 

Kembali 14 | IndeX | Lanjut 16 

Senin, 11 Mei 2026

Kitab Tauhid : 14 (Bab tentang melaksanakan tauhid maka akan masuk surga tanpa hisaban )

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 13 | IndeX | Lanjut 15

 

 

باب مَنْ حقَّق التوحيد دخل الجنة بغير حساب 

Bab tentang orang yang merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka ia masuk surga tanpa hisaban



عن حصين بن عبد الرحمن قال : كنتُ عند سعيد بن جبيرٍ فقالَ : أَيُّكُمْ رَأَى الْكَوْكَبَ الَّذِي انْقَضَّ الْبَارِحَةَ ؟ فَقُلْتُ : أَنَا .ثمَّ قُلْتُ : أمَا إِنِّي لَمْ أَكُنْ في صَلاةِ وَلَكِنِّي لُدِغْتُ . قَالَ : فَما صَنَعْتَ ؟ قلت : ارْتَقَيْتُ . قَالَ : فَمَا حَمَلَكَ عَلَى ذَلِكَ ؟ قُلْتُ : حَدِيثُ حَدَّثَنَاهُ الشَّعْبِيُّ . قَالَ : وَما حَدَّثَكُمْ ؟ قُلْتُ : حَدَّثَنَا عَنْ بُرَيْدَةَ بن الْحُصَيْبِ أَنَّهُ قَالَ : لا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ ، قَالَ : قَدْ أحْسَنَ من انتَهَى إلى ما سَمِعَ . وَلَكِنْ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسِ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ : عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ والنَّبي وَمَعَهُ الرَّجُلُ والرَّجُلانِ والنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ فَظَنَنْتُ أنهُمْ أُمَّتِي ، فَقِيلَ لِي هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي هَذِهِ أُمَّتُكَ وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ . 

Diriwayatkan Dari Hushain bin Abdurrahman, ia berkata:

“Aku pernah berada di sisi Sa'id bin Jubair, lalu beliau berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang melihat bintang jatuh tadi malam?’ Aku menjawab, ‘Saya.’ Kemudian aku berkata, ‘Ketahuilah, sesungguhnya aku waktu itu tidak sedang shalat, tetapi aku terkena sengatan.’

Ia berkata, ‘Lalu apa yang kamu lakukan?’

Aku menjawab, ‘Aku meminta diruqyah.’

Ia berkata, ‘Apa yang mendorongmu melakukan itu?’

Aku menjawab, ‘Hadis yang diceritakan kepada kami oleh Asy-Sya'bi.’

Ia berkata, ‘Apa yang beliau ceritakan kepada kalian?’

Aku menjawab, ‘Beliau menceritakan kepada kami dari Buraidah bin Al-Hushaib bahwa beliau berkata: “Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit ‘ain atau sengatan berbisa.”’

Maka ia berkata, ‘Sungguh baik orang yang berhenti pada apa yang ia dengar. Akan tetapi, Ibnu Abbas telah menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat. Maka aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikut, ada nabi bersama satu atau dua orang pengikut, dan ada pula nabi yang tidak memiliki seorang pengikut pun. Tiba-tiba diperlihatkan kepadaku kumpulan besar manusia, maka aku mengira mereka adalah umatku. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah Nabi Musa dan kaumnya.’

Kemudian aku melihat lagi kumpulan besar manusia, lalu dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab (siksaan).’”

ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاصَ النَّاسُ فِي أُولَئِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ : فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللَّهُ ﷺ ، وَقَالَ بَعْضُهُم : فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الإِسْلامِ فَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئاً وَذَكَرُوا أَشْيَاء ، فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ : هُم الَّذِينَ لا يَسْتَرقُونَ وَلا يَكْتَوُونَ وَلا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يتوكلون . فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ : ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُم ، قَالَ : أَنْتَ مِنْهُمْ ، ثُمَّ قامَ رَجُلٌ آخَرَ فَقَالَ : ادْعُ اللَّهَ أَن يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ ، فَقَالَ : سَبَقَكَ بها عُكّاشة . 

Kemudian beliau bangkit lalu masuk ke rumahnya. Maka orang-orang pun membicarakan tentang mereka (tujuh puluh ribu orang itu). Sebagian mereka berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang menemani Rasulullah ﷺ.” Sebagian lagi berkata, “Mungkin mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun.” Mereka pun menyebutkan berbagai pendapat lainnya.

Lalu Rasulullah ﷺ keluar menemui mereka, kemudian mereka memberitahukan pembicaraan itu kepada beliau. Maka beliau bersabda:

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan kay (pengobatan dengan besi panas), tidak bertathayyur (menganggap sial karena pertanda tertentu), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.”

Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri lalu berkata, “Doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk golongan mereka.”

Beliau bersabda, “Engkau termasuk golongan mereka.”

Kemudian ada seorang laki-laki lain berdiri dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk golongan mereka.”

Beliau bersabda, “Ukasyah bin Mihshan telah mendahuluimu dalam hal itu.”

تراجم الرجال الواردة أسماؤهم في الحديث : 

Biografi singkat para perawi yang disebut dalam hadis:

حصين : هو حصين بن عبد الرحمن السلميُّ الحارثيُّ من تابعي التابعين مات سنة ١٣٦ وله ٩٣ سنة . 

Lafadz [حصين] : beliau adalah Husain bin ‘Abdurrahman As-Sulami Al-Haritsi, termasuk kalangan tabi‘i tabi‘in. Beliau wafat pada tahun 136 H dalam usia 93 tahun.

[تابعي التابعين : Seorang Muslim yang bertemu dengan salah satu sahabat Nabi ﷺ, beriman kepada beliau, dan meninggal dalam keadaan Islam. ]

سعيد بن جبير : هو الإمام الفقيه من أجلةِ أصحاب ابنِ عباس قتله الحجاج سنة ٩٥ ولم يُكمل الخمسين . 

Lafadz [سعيد بن جبير] : beliau adalah seorang imam dan ahli fikih, termasuk murid-murid terbaik Ibnu Abbas. Beliau dibunuh oleh Al-Hajjaj pada tahun 95 H, dan saat itu usia beliau belum mencapai lima puluh tahun.

الشعبيُّ : اسمُهُ عامرُ بنُ شُراحيل الهمدانيُّ وُلِدَ فِي خلافة عمرَ ، وهو من ثقات التابعين مات سنة ١٠٣ هـ . 

Lafadz [الشعبيُّ] : beliau adalah ‘Amir bin Syurahbil Al-Hamdani. Beliau lahir pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, termasuk tabi’in yang tsiqah (terpercaya), dan wafat pada tahun 103 H.

بريدة : بضمِّ أوله وفتح ثانيه ، ابن الحصيب بن الحارث الأسلميُّ صحابيُّ شهيرٌ ، مات سنة ٦٣ هـ . 

Lafadz [بريدة] : dibaca dengan dhammah pada huruf pertama dan fathah pada huruf kedua. Beliau adalah Buraidah bin Al-Hushaib bin Al-Harits Al-Aslami, seorang sahabat Nabi ﷺ yang terkenal. Beliau wafat pada tahun 63 H.

ابن عباس : هو الصحابي الجليل عبد الله بن عباس بن عبدالمطلب . ابن عمِّ النبي ﷺ دعا له النبيُّ ﷺ فَقالَ : « اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدين وعلِّمْهُ التأويل » فكانَ كذلك ومات بالطائف سنة ٦٨ هـ . 

Lafadz [ابن عباس] : beliau adalah sahabat yang mulia Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib, sepupu Nabi ﷺ. Nabi ﷺ pernah mendoakan beliau:

“Ya Allah, pahamkanlah dia dalam agama dan ajarkanlah kepadanya tafsir (ta’wil).”

Maka beliau benar-benar menjadi seorang yang sangat faqih dan alim dalam tafsir. Beliau wafat di Thaif pada tahun 68 H.

عكّاشة : هو عكاشة بن محصن بن حرثانَ الأَسديُّ كانَ مِنَ السابقين إلى الإسلام ، هاجر وشهد بدراً وقاتل فيها ، واستشهدَ في قتالِ الردةِ مع خالد بن الوليد سنة ١٢ هـ . 

Lafadz [عكّاشة] : beliau adalah ‘Ukasyah bin Mihshan bin Hirtsan Al-Asadi. Beliau termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam, berhijrah, serta ikut dalam Perang Badar dan turut berperang di dalamnya. Beliau gugur sebagai syahid dalam peperangan melawan kaum murtad bersama Khalid bin Walid pada tahun 12 H.

الكوكب : النجم . 

Lafadz [الكوكب] : artinya bintang 

انقضَّ : أي سقطَ منه الشهاب .

Lafadz [انقضَّ] : yaitu jatuh atau meluncurnya cahaya meteor (syihab) darinya.

[الشهاب  : nyala api atau cahaya terang yang melesat di langit. Dalam bahasa Indonesia sering disebut meteor atau bintang jatuh. Disebut dalam Al-Qur’an sebagai lemparan api yang digunakan untuk mengusir setan yang mencoba mencuri berita dari langit]

 

البارحة : هي أقرب ليلةٍ مَضَتْ : يُقالُ قبل الزوالِ رأيتُ الليلةَ ، وبعد الزوالِ رأيتُ البارحة . 

Lafadz [البارحة] : adalah malam yang paling dekat yang telah berlalu : Dikatakan: sebelum zawal (tergelincirnya matahari dari tengah langit) seseorang berkata “Aku melihat tadi malam” [الزوالِ], Sedangkan setelah zawal ia berkata "Aku melihat semalam" [البارحة]. 

 

لدِغْتُ : أي لدغته عقرب - واللدغ : اللسع - أي أصابته بسُمِّهَا . 

Lafadz [لدِغْتُ] : artinya “disengat kalajengking.” Sedangkan lafadz [اللَّدْغ] berarti sengatan atau tusukan. Maksudnya: kalajengking itu mengenai dengan racunnya. 

 

ارتقيتُ طلبتُ منْ يرقيني ، والرقية : قراءة القرآن والأدعية الشرعية على المصاب بمرض ونحوه . 

Aku meminta seseorang untuk meruqyahku. Sedangkan ruqyah adalah membaca Al-Qur’an dan doa-doa syar‘i kepada orang yang terkena penyakit dan semisalnya.

 

ما حملك على ذلك ؟ : ما حُجَّتُك على جوازِ ذَلِكَ ؟ 

Kata "Apa yang mendorongmu melakukan itu?" : maksudnya "Apa hujah (tujuan) atau alasanmu tentang bolehnya hal tersebut?"

لا رقية إلاّ من عين : العينُ : إصابةُ العَائِنِ غيرَهُ بعينه . 

Kata "Tidak ada ruqyah kecuali karena ‘ain (penyakit)" : Yang dimaksud dengan 'ain (penyakit) : adalah seseorang yang tertimpa (terkena) oleh pengaruh ‘ain (pandangan mata hasad atau kagum) dari orang yang memandangnya, sehingga menyebabkan mudarat dengan izin Allah.

[العائن : orang yang menimpakan ‘ain]
[بعينه : dengan pandangan matanya]

أو حمة : الحمةُ : سُمُّ العقرب وشَبَهُهَا . 

Kata "Atau humah" [حُمَة] : maksudmys  racun kalajengking dan yang semisal dengannya.

من انتهى إلى ما سمع : أي أخذ بما بلغَهُ مِنَ العلم بخلافِ من يعمل على جهل أو لا يعمل بما يعلم . 

Kata "Orang yang berhenti (berpegang) pada apa yang ia dengar" : maksudnya orang yang mengambil dan mengamalkan ilmu yang telah sampai kepadanya, berbeda dengan orang yang beramal di atas kebodohan atau tidak mengamalkan ilmu yang diketahuinya. 

 

عُرِضَتْ عليَّ الأُمم : قِيلَ كان ذلك ليلة الإسراء ، أي أراهُ اللَّهُ مِثَالَهَا إذا جاءت يوم القيامة . 

Kata “Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat” : Dikatakan hal itu terjadi pada malam Isra’, yaitu Allah memperlihatkan kepada beliau gambaran umat-umat tersebut ketika datang pada hari kiamat nanti.

الرهط : الجماعةُ دُونَ العشرة . 

Kata [الرهط] : adalah sekelompok orang yang jumlahnya kurang dari sepuluh.

ليس معه أحدٌ : أي لم يتبعه من قومِهِ أحد . 

Kata “Tidak ada seorang pun bersamanya” : maksudnya tidak ada seorang pun dari kaumnya yang mengikutinya.

سواد عظيم : أشخاص كثيرة . 

Kata [سواد عظيم] :  artinya sekumpulan manusia yang sangat banyak.

فظننتُ أنَّهم أمتي : أي لكثرتهم وبعده عنهم فلا يميز أعيانهم . 

Kata “Maka aku mengira bahwa mereka adalah umatku” : maksudnya karena jumlah mereka yang sangat banyak dan jauhnya beliau dari mereka, sehingga beliau tidak dapat membedakan orang per orang di antara mereka. 

 

موسى : أي : موسى بن عمران كليم الرحمن . 

Kata  [موسى] : maksudnya adalah Musa bin Imran orang yang diajak berbicara langsung oleh.

وقومه : أي أتباعه على دينه من بني إسرائيل . 

Kata  “Dan kaumnya” : maksudnya para pengikut beliau di atas agamanya dari kalangan Bani Israil.

بلا حساب ولا عذاب : أي : لا يحاسبون ولا يعذبون قبل دخولهم الجنة لتحقيقهم التوحيد . 

Kata  “Tanpa hisab dan tanpa siksaan” : maksudnya mereka tidak dihisab dan tidak di siksa sebelum masuk surga, karena mereka merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya.

ثم نهض : أي قام . 

Kata  “Kemudian beliau bangkit” : maksudnya: beliau berdiri.

فخاض الناسُ في أولئك : أي تباحث الحاضرون واختلفوا في هؤلاء السبعين بأيّ عمل نالوا هذه الدرجة ؟ فإنَّهم لم ينالُوهَا إلا بعمل فَمَا هُوَ ؟ 

Kata  “Maka orang-orang pun membicarakan tentang mereka” : maksudnya orang-orang yang hadir saling berdiskusi dan berbeda pendapat tentang tujuh puluh ribu orang tersebut, dengan amalan apa mereka memperoleh derajat itu? Karena mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan suatu amalan, maka amalan apakah itu?.

 

فأخبروه : أي ذكروا للنبي ﷺ اختلافَهُم في المراد بهؤلاء السبعين . 

Kata “Maka mereka memberitahukan kepadanya,” : maksudnya mereka menyampaikan kepada Nabi ﷺ perbedaan pendapat mereka tentang siapa yang dimaksud dengan tujuh puluh ribu orang tersebut.

لا يسترِقُونَ : لا يطلبونَ مَنْ يرقيهم استغناء عن الناس . 

Kata “Mereka tidak meminta diruqyah” : maksudnya mereka tidak meminta orang lain untuk meruqyah mereka, karena merasa cukup tanpa bergantung kepada manusia.

ولا يكتوون : لا يسألون غَيْرَهُم أَن يَكْوِيَهُمْ بالنارِ . 

Kata “Dan mereka tidak berobat dengan cara mengecos (besi panas)” : maksudnya: mereka tidak meminta orang lain untuk mengobati mereka dengan cara membakar menggunakan api.

[yakni pengobatan menggunakan besi panas atau api untuk membakar bagian tubuh tertentu sebagai terapi penyakit.]

ولا يتطيرون : لا يتشاءَمون بالطيور ونحوها . 

Kata “Dan mereka tidak beranggapan dengan tanda,” : maksudnya mereka tidak merasa sial karena burung atau sesuatu semisalnya.

[bertathayyur: yakni tidak merasa sial atau mengambil pertanda buruk dari burung, suara, arah tertentu, waktu, atau hal-hal semisalnya.] 

 

وعلى ربِّهم يتوكِّلون : يعتمدون في جميع أمورهم عليه لا على غيرِهِ ويفوِّضُون أمورَهُم إليه . 

Kata “Dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal” : maksudnya mereka bersandar dalam seluruh urusan mereka hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya, serta menyerahkan urusan-urusan mereka kepada-Nya.

سبقك بها عُكَّاشة : أي إلى إحراز هذه الصفاتِ أَوْ سَبَقَكَ بالسؤال . 

Kata “‘Ukkasyah telah mendahuluimu dalam hal itu” : maksudnya ia telah lebih dahulu memperoleh sifat-sifat tersebut, atau lebih dahulu meminta hal itu. 

 

المعنى الإجماليُّ للحديثِ : يصفُ لنا حصينُ بنُ عبدِ الرحمنِ حواراً دار في مجلس سعيد بن جبير بمناسبة انقضاض كوكب في الليل ، فأخبرَهُم حصينٌ أنَّه شاهَدَ انقضاضه لأنَّه لم يَكُن حينذاك نائماً ، إلا أنَّه خاف أن يظنَّ الحاضرون أنه ما رأى النجم إلاَّ لأنَّه يصلِّي ، فأراد أن يدفع عن نَفْسِهِ إيهام تعبُّدِ لم يفعَلْهُ كعادةِ السَّلَفِ في حرصِهِم على الإخلاص ، فأخبر بالسببِ الحقيقيِّ ليقَظَتِهِ وأنَّه بسبب إصابة حصلت له ، فانتقل البحث إلى السؤال عمَّا صَنَعَ حِيالَ تلك الإصابةِ ، فَأَخبر أنه عالَجَها بالرقية ، فسأله سعيد عن دليله الشرعيِّ على ما صَنَعَ ، فذكر له الحديث الوارد عن الرسول الله ﷺ في جواز الرقية ، فصوَّبه في عمله بالدليل . 

Makna secara global dari hadist ini : Husain bin ‘Abdurrahman menceritakan kepada kita sebuah dialog yang terjadi di majelis Sa‘id bin Jubair berkaitan dengan jatuhnya bintang pada malam hari. Husain memberitahukan kepada mereka bahwa ia melihat jatuhnya bintang tersebut karena saat itu ia belum tidur. Namun, ia khawatir orang-orang yang hadir akan mengira bahwa ia melihat bintang itu karena sedang melaksanakan salat malam. Maka ia ingin menepis prasangka bahwa dirinya melakukan suatu ibadah yang sebenarnya tidak ia lakukan, sebagaimana kebiasaan para salaf yang sangat menjaga keikhlasan. Karena itu, ia menjelaskan sebab sebenarnya mengapa ia masih terjaga, yaitu karena ia terkena sengatan.

Kemudian pembicaraan beralih kepada pertanyaan tentang apa yang ia lakukan terhadap sengatan tersebut. Husain menjelaskan bahwa ia mengobatinya dengan ruqyah. Lalu Sa‘id bertanya kepadanya tentang dalil syar‘i atas perbuatannya itu. Maka Husain menyebutkan hadist yang datang dari Rasulullah ﷺ tentang bolehnya ruqyah, sehingga Sa‘id membenarkan tindakannya karena didasarkan pada dalil. 

 

ثم ذكر له حالة أحسَنَ مِمَّا فعل ، وهي الترقِّي إلى كمال التوحيد بترك الأمور المكروهة مع الحاجة إليها ، توكلاً على الله كحالة السبعين الألف الذين يدخُلُونَ الجنةَ بلا حساب ولا عذاب ، حيث وصفهم الرسول ﷺ بأنَّهم يتركونَ الرقية والكيَّ تحقيقاً للتوحيد ، ويأخذون بالسبب الأقوى وهو التوكل على الله ، ولم يسألوا أحداً غيرَه شيئاً مِنَ الرقية فما فَوْقَها . 

Kemudian Sa‘id menyebutkan kepadanya suatu keadaan yang lebih baik daripada apa yang telah ia lakukan, yaitu naik kepada kesempurnaan tauhid dengan meninggalkan perkara-perkara yang makruh meskipun ada kebutuhan terhadapnya, karena bertawakal kepada Allah. Seperti keadaan tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, yang Rasulullah ﷺ sifatkan bahwa mereka meninggalkan ruqyah dan Mengecos (pengobatan dengan besi panas) demi merealisasikan tauhid, serta mengambil sebab yang lebih kuat, yaitu tawakal kepada Allah. Mereka juga tidak meminta sesuatu pun kepada selain Allah, mulai dari ruqyah dan yang lebih besar dari itu. 

 

مناسبة الحديث للبابِ : أنَّ فيه شيئاً من بيان معنى تحقيق التوحيد وثواب ذلك عندَ اللهِ تعالى . 

Kesesuaian hadist ini dengan bab : bahwa di dalamnya terdapat penjelasan tentang makna merealisasikan tauhid serta pahala dari hal itu di sisi Allah Ta‘ala. 

 

ما يُستفادُ مِنَ الحديث :

Pelajaran yang dapat diambil dari hadis :

۱ - فضيلة السلف ، وأنَّ ما يرونه مِنَ الآيات السماوية لا يعدُّونه عادةً ، بل يعلمون أنَّهُ آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللهِ .

1. Keutamaan para salaf, bahwa apa yang mereka lihat dari tanda-tanda di langit tidak mereka anggap sebagai sesuatu yang biasa, tetapi mereka mengetahui bahwa itu adalah salah satu tanda kebesaran Allah.

۲ - حرص السلف على الإخلاص وشدة ابتعادِهِم عَنِ الرياء .

2. Semangat para salaf dalam menjaga keikhlasan dan besarnya usaha mereka untuk menjauh dari riya’.

٣ - طلب الحجة على صحة المذهبِ وعناية السلف بالدليل .

3. Keharusan mencari hujah (dalil) atas kebenaran suatu pendapat, serta perhatian para salaf terhadap dalil.

٤ ـ مشروعية الوقوفِ عند الدليل والعمل بالعلم ، وأنَّ من عمل بما بلغه فقد أحسن .

4. Disyariatkannya berpegang pada dalil dan mengamalkan ilmu, serta bahwa siapa yang mengamalkan apa yang sampai kepadanya dari ilmu maka sungguh ia telah berbuat baik.

٥ - تبليغ العلم بتلطُّف وحكمة .

5. Menyampaikan ilmu dengan kelembutan dan hikmah.

٦ - إباحة الرقية .

6. Bolehnya ruqyah.

٧ - إرشادُ مَنْ أَخَذَ بشيء مشروع إلى ما هو أفضلُ منه .

7. Membimbing orang yang melakukan sesuatu yang disyariatkan kepada sesuatu yang lebih utama darinya.

٨ - فضيلة نبيّنا محمد ﷺ حيثُ عُرِضَتْ عليه الأمم .

8. Keutamaan Nabi kita Muhammad ﷺ, karena diperlihatkan kepadanya umat-umat terdahulu.

٩ - أنَّ الأنبياء متفاوتون في عدد أتباعهم .

9. Bahwa para nabi berbeda-beda dalam jumlah pengikut mereka.

١٠ - الردُّ على من احتجِّ بالأكثرِ ، وزعم أن الحقّ محصورٌ فيهم .

10. Bantahan terhadap orang yang berdalil dengan banyaknya jumlah pengikut, lalu menganggap bahwa kebenaran hanya terbatas pada mereka. 


١١ - أن الواجب اتباع الحقِّ وإِن قلَّ أهله .

11. Bahwa yang wajib adalah mengikuti kebenaran meskipun sedikit orang yang mengikutinya.

۱۲ - فضيلة موسى عليه السلام وقومه . 

12. Keutamaan Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya.

١٣ - فضيلة هذه الأمة وأنَّهم أكثر الأمم اتباعاً لنبيّهم ﷺ .

13. Keutamaan umat ini, dan bahwa mereka adalah umat yang paling banyak mengikuti Nabi mereka ﷺ.

١٤ - فضيلة تحقيق التوحيد وثوابه .

14. Keutamaan merealisasikan tauhid dan pahala yang diperoleh karenanya.

١٥ - إباحة المناظرة في العلم والمباحثة في نصوص الشرع للاستفادة وإظهار الحقّ .

15. Bolehnya berdiskusi dan berdebat dalam ilmu serta membahas nash-nash syariat untuk mengambil faedah dan menampakkan kebenaran.

[نصوص : teks-teks atau dalil-dalil yang jelas dari Al-Qur’an dan Hadist.]

١٦ - عمق علمِ السلفِ لمعرفتِهِم أنَّ المذكورين في الحديث لم ينالوا هذه المنزلة إلا بعمل .

16. Dalamnya ilmu para salaf, karena mereka mengetahui bahwa orang-orang yang disebutkan dalam hadis itu tidak memperoleh kedudukan tersebut kecuali dengan suatu amalan.

۱۷ - حرص السلف على الخير والمنافسة على الأعمال الصالحة . 

17. Semangat para salaf dalam meraih kebaikan dan berlomba-lomba dalam amal saleh.

۱۸ - أنَّ ترك الرقية والكيِّ من تحقيق التوحيد .

18. Bahwa meninggalkan meminta ruqyah dan meninggalkan mengecos (pengobatan dengan besi panas) termasuk bagian dari merealisasikan tauhid.

۱۹ - طلب الدعاء مِنَ الفاضل في حياتِه .

19. Bolehnya meminta doa kepada orang yang memiliki keutamaan ketika ia masih hidup.

٢٠ - علم مِنْ أَعلام نبوته ﷺ حيث أخبر أنَّ عكاشة مِنَ السبعين الذين يدخلون الجنة بلا حساب ولا عذاب فَقُتِلَ شهيداً في حروب الردّةِ رضي الله عنه . 

20. Termasuk tanda kenabian beliau ﷺ adalah bahwa beliau mengabarkan bahwa ‘Ukkasyah termasuk dari tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, lalu ia benar-benar wafat sebagai syahid dalam peperangan melawan kaum murtad. Semoga Allah meridhainya.

٢١ - فضيلة عكاشة بن محصن رضي الله عنه .

21. Keutamaan ‘Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu.

۲۲ - استعمال المعاريض وحسن خلقه ﷺ حيث لم يَقُلْ - للرجل الآخر - لست منهم .

22 - Bolehnya menggunakan ucapan sindiran (ma‘ārīdh) dan baiknya akhlak Nabi ﷺ, karena beliau tidak berkata kepada laki-laki yang lain itu: “Engkau bukan termasuk dari mereka.”

٢٣ - سدُّ الذرائع لئلا يقومَ مَنْ ليس أهلا فيردُّ ، والله أعلم .

23 - Menutup jalan yang dapat menimbulkan keburukan (saddudz dzarā’i‘), agar tidak ada orang yang bukan ahlinya lalu berdiri meminta hal yang sama kemudian ditolak. Wallahu a‘lam. 

 

 

Kembali 13 | IndeX | Lanjut 15 

Jumat, 08 Mei 2026

Kitab Tauhid : 13 (Bab tentang melaksanakan tauhid maka akan masuk surga tanpa hisaban )

 

  الملخص في شرح كتاب التوحيد

Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid  

Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan

 

Kembali 12 | IndeXLanjut 14

 

 

باب مَنْ حقَّق التوحيد دخل الجنة بغير حساب 

Bab tentang orang yang merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka ia masuk surga tanpa hisaban



وقولِ اللهِ تعالى : ﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتَا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يك مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴾ [ النحل : ١٢٠ ] . 

“Dan firman Allah Ta‘ālā: ‘Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (teladan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus di atas tauhid), dan dia bukan termasuk orang-orang musyrik.’” (QS. An-Nahl: 120)

وقالَ : ﴿ وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ ﴾ [ المؤمنون : ٥٩ ] . 

“Dan orang-orang yang mereka tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 59)

مناسبة الباب لكتاب التوحيد : إنَّ المصنف رحمه اللهُ لَمَّا ذكر التوحيد وفضله ناسب أن يذكر بيانَ تحقيقِهِ ، لأَنَّه لا يحصل كمالُ فضلِهِ إلا بكمال تحقيقه . 

Kesesuaian bab ini dengan Kitab Tauhid: Sesungguhnya penulis رحمه الله ketika telah menyebutkan tauhid dan keutamaannya, maka sesuai untuk beliau menyebutkan penjelasan tentang realisasi tauhid; karena kesempurnaan keutamaannya tidak akan diperoleh kecuali dengan sempurnanya realisasi tauhid tersebut.

حقّق التوحيد : أي خلَّصه وصفاه مِنْ شوائب الشرك والبدع والمعاصي . 

Lafadz [حقّق التوحيد] : yaitu memurnikan dan membersihkannya dari noda syirik, bid‘ah, dan maksiat.

بغیر حساب : أي لا محاسبة عليه . 

Lafadz [بغیر حساب] : yaitu tidak ada perhitungan amal atasnya.

أمة : أي قدوة ، وإماماً معلّماً للخير . 

Lafadz [أمة] : yaitu seorang teladan dan imam yang mengajarkan kebaikan

قانتاً : القنوتُ دوام الطاعة . 

Lafadz [قانتاً] : qunut adalah terus-menerus dalam ketaatan

حنيفاً : الحنيف المقبل على اللَّهِ المعرضُ عَنْ كُلِّ مَا سِوَاه . 

Lafadz [حنيفاً] : yaitu orang yang menghadap kepada Allah dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.

ولم يَكُ : أصلُها يَكُن حُذِفَتِ النونُ تخفيفاً . 

Lafadz [ولم يَكُ] : asal katanya adalah “yakun”, lalu huruf nun dihapus untuk meringankan bacaan.

من المشركين : أي قَدْ فارق المشركين بالقلب واللسان والبدن ، وأنكر ما كانوا عليه . 

Lafadz [من المشركين] : yaitu beliau telah menyelisihi orang-orang musyrik dengan hati, lisan, dan anggota badan, serta mengingkari apa yang mereka lakukan.

والذين هم بربّهم لا يشركون : لا يعبدون معه غَيْرَه .

Lafadz [والذين هم بربّهم لا يشركون] : yaitu mereka tidak menyembah selain-Nya bersama-Nya.

 

المعنى الإجمالي للآيةِ الأولى : أنَّ الله سبحانه وتعالى يصف خليله إبراهيم عليه السلام بأربع صفاتٍ : 

Makna ayat pertama secara umum (global): bahwa Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menyifati khalil-Nya, Ibrahim عليه السلام, dengan empat sifat:”

[خليله - kekasih, orang yang sangat dicintai]

الصفة الأولى : أنَّه كان قدوةً في الخير لتكميله مقام الصبر واليقين ، اللذين بهما تُنالُ الإمامة في الدين . 

Sifat pertama: bahwa beliau adalah teladan dalam kebaikan, karena kesempurnaannya dalam kedudukan sabar dan yakin, yang dengan keduanya diraih kepemimpinan dalam agama.

الصفة الثانية : أنَّه كان خاشعاً مطيعاً مداوماً على عبادة الله تعالى . 

Sifat kedua: bahwa beliau adalah seorang yang khusyuk, taat, dan terus-menerus dalam beribadah kepada Allah Ta‘ālā.

الصفة الثالثة : أنَّه كان معرضاً عن الشرك مقبلاً على الله تعالى . 

Sifat ketiga: bahwa beliau berpaling dari kesyirikan dan menghadap kepada Allah Ta‘ālā.

الصفة الرابعةُ : بُعدُهُ عَن الشرك ومفارقته للمشركين . 

Sifat keempat: jauhnya beliau dari kesyirikan dan sikapnya meninggalkan orang-orang musyrik.

مناسبة الآية الأولى للباب : أَنَّه وصف خليله بهذه الصفات ، التي هي الغاية في تحقيق التوحيد ، وقد أمرنا بالاقتداء به في قوله : ﴿ قد كَانَتْ لَكُمْ أَسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ ﴾ [ الممتحنة : ٤ ] . 

Kesesuaian ayat pertama dengan bab: bahwa Allah menyifati khalil-Nya dengan sifat-sifat ini, yang merupakan puncak dalam merealisasikan tauhid. Dan kita diperintahkan untuk meneladaninya dalam firman-Nya: ‘Sungguh telah ada bagi kalian suri teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.’ (QS. Al-Mumtahanah: 4)

مناسبة الآية الثانية للباب : أنَّ الله تعالى وصف المؤمنين السابقين إلى الجناتِ بصفاتٍ أعظَمها الثناء عليهم بأنَّهم بربهم لا يُشركون شيئاً مِنَ الشرك لا خفيّا ولا جليًّا ، ومن كان كذلك فقد بلغ من تحقيق التوحيد النهاية ودخل الجنة بلا حساب ولا عذاب . 

Kesesuaian ayat kedua dengan bab: bahwa Allah Ta‘ālā menyifati orang-orang beriman yang terdahulu menuju surga dengan sifat-sifat, yang paling agung di antaranya adalah pujian kepada mereka bahwa mereka tidak mempersekutukan Rabb mereka dengan sesuatu apa pun dari kesyirikan, baik yang samar maupun yang nyata. Barang siapa demikian keadaannya, maka ia telah mencapai puncak realisasi tauhid dan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

ما يُستفادُ مِنَ الآيتين :

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua ayat tersebut:

١ - فضيلة أبينا إبراهيم عليه الصلاة والسلام .

1. Keutamaan bapak kita Ibrahim عليه الصلاة والسلام.

٢ - الاقتداء به في هذه الصفاتِ العظيمة .

2. Meneladani beliau dalam sifat-sifat yang agung ini.

٣ - بيان الصفات التي يتمّ بها تحقيق التوحيد .

3. Penjelasan tentang sifat-sifat yang dengannya terwujud realisasi tauhid.

٤ - وجوب الابتعاد عن الشرك والمشركين والبراءةِ مِنَ المشركين .

4. Wajib menjauhi kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta berlepas diri dari orang-orang musyrik.

٥ - وصف المؤمنين بتحقيق التوحيد .

5. Disifatinya orang-orang beriman dengan realisasi tauhid.



Kembali 12 | IndeXLanjut 14