الملخص في شرح كتاب التوحيد
Ringkasan dalam penjelasan Kitab Tauhid
Oleh: Syaikh DR. Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Kembali 14 | IndeX | Lanjut 16
باب الخوف من الشرك
Bab tentang takut terhadap syirik
وقولِ اللهِ عزَّ وجلَّ : ﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَالِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن ﴾ [ السناء : ٤٨ ، ١١٦ ] .
Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.’ (QS. An-Nisā’ : 48 dan 116)
وقال الخليل عليه السلام : ﴿ وَاجْنُبْنِي وَبَنِىَّ أَن نَّعْبُدَ الأصنام ﴾ [ إبراهيم : ٣٥ ] .
Dan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berkata: ‘Dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala.’ (QS. Ibrāhīm: 35)
مناسبة البابِ لكتاب التوحيد : أنَّ المصنف رحمه الله لما ذكرَ التوحيد وفضله وتحقيقه ناسب أن يذكرَ الخوف من ضدِّه وهو الشرك ، ليحذرة المؤمنُ ويخافه على نفسه .
Kesesuaian bab ini dengan Kitab Tauhid : bahwa penulis rahimahullah ketika telah menyebutkan tauhid, keutamaannya, dan realisasi/pengamalannya, maka sesuai untuk menyebutkan rasa takut terhadap lawannya, yaitu syirik, agar seorang mukmin mewaspadainya dan takut syirik menimpa dirinya.”
الخوف : توقع مكروه ، وهو ضدُّ الأمن .
Kata “Al-khauf" (takut) : adalah memperkirakan atau mengkhawatirkan sesuatu yang dibenci/tidak disukai, dan itu adalah lawan dari rasa aman.
الشرك : صرف شيءٍ مِنَ العبادة لغير الله .
Kata “Syirik" : adalah memalingkan sesuatu dari ibadah kepada selain Allah.
لا يغفر أن يشركَ بِهِ : أي لا يعفو عن عبد لقيه وهو يعبد غيرَهُ .
Kata ‘Tidak ada ampunan jika mempersekutukan dengan-Nya’ : maksudnya Allah tidak memaafkan seorang hamba yang menemui-Nya dalam keadaan beribadah kepada selain-Nya.
ويغفر ما دونَ ذلِكَ : أي يغفر ما دونَ الشركِ مِنَ الذنوب .
Kata ‘Dan Allah mengampuni dosa selain syirik’ : maksudnya Allah mengampuni dosa-dosa yang berada di bawah syirik.
لمن يشاءُ : أي لمن يشاءُ المغفرة لَهُ من عباده حسب فضلِهِ ، وحكمته .
Kata ‘Bagi siapa yang Dia kehendaki’ : maksudnya bagi hamba-hamba-Nya yang Allah kehendaki untuk diberi ampunan sesuai dengan karunia dan hikmah-Nya.
الخليل : الذي بلغ أعلى درجاتِ المحبة ، والمراد به إبراهيم عليه السلامُ الذي اتَّخَذَهُ الله خليلاً .
Kata “Al-Khalīl" : adalah orang yang mencapai derajat cinta yang paling tinggi. Yang dimaksud di sini adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, yang Allah jadikan sebagai khalil (kekasih yang sangat dicintai).
اجنبنِي وبَنَيّ : اجْعَلْنِي وإياهُمْ في جانب وحيز بعيدٍ عَنْ ذلِكَ .
Kata ‘Jauhkanlah aku dan anak-anakku’ : maksudnya jadikanlah aku dan mereka berada di sisi dan tempat yang jauh dari hal tersebut (yaitu penyembahan berhala).
الأصنام : جمعُ صنم وهو ما كان منحوتاً على صورة البشر أو على صورة أي حيوان .
Kata "Ashnam" (patung berhala) : bentuk jamak dari [صنم] yaitu sesuatu yang dipahat dalam bentuk manusia atau dalam bentuk hewan apa pun
المعنى الإجمالي للآية الأولى : أنَّ الله سبحانه يخبر خبراً مؤكَّداً أنه لا يغفر لعبد لقيه وهو مشرك به ليُحذِّرنا مِنَ الشرك ، وأنه يغفرُ ما دونَ الشركِ مِنَ الذنوب لمن يشاءُ أن يغفر له تفضُّلا وإحساناً ؛ لِئَلاَّ نقنطُ مِنْ رحمة الله .
Makna secara umum (global) ayat pertama: sesungguhnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengabarkan dengan penegasan bahwa Dia tidak mengampuni seorang hamba yang menemui-Nya dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya, agar Dia memperingatkan kita dari syirik. Dan Dia mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki untuk diampuni sebagai bentuk karunia dan kebaikan-Nya, agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allah.
المعنى الإجمالي للآية الثانية : أنّ إبراهيم الخليل عليه الصلاة والسلام يدعو ربّه عزَّ وجلَّ أن يجعله هو وبنيه في جانب بعيدٍ عَنْ عبادةِ الأصنام وأن يباعد بينه وبينها ، لأنَّ الفتنة بها عظيمة ولا يأمن الوقوع فيها .
Makna secara umum (global) ayat kedua: bahwa Nabi Ibrahim Al-Khalīl ‘alaihis ṣalātu was-salām berdoa kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla agar menjadikan dirinya dan anak keturunannya berada jauh dari penyembahan berhala, serta menjauhkan antara dirinya dengan berhala-berhala itu, karena fitnahnya sangat besar dan tidak ada yang merasa aman dari terjatuh ke dalamnya.
مناسبة الآيتين للبابِ : أنَّ الآية الأولى تدلُّ على أنَّ الشرك أعظم الذنوب ، لأنَّ من مات عليه لا يُغفرُ لَهُ ، وهذا يوجب للعبد شدة الخوف مِنْ هذا الذنب الذي هذا شأنه ، والآية الثانية تدلُّ على أنَّ إبراهيم خافَ الشرك على نفسه ودعا الله أن يعافيه منه ، فما الظَّنُّ بغيره ، فالآيتان تدلاَّن على وجوب الخوف من الشرك .
Kaitan kedua ayat dengan bab: bahwa ayat pertama menunjukkan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, karena siapa yang mati di atas kesyirikan tidak akan diampuni. Hal ini mewajibkan seorang hamba sangat takut terhadap dosa yang demikian keadaannya.
Sedangkan ayat kedua menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim takut terjatuh ke dalam syirik atas dirinya sendiri, lalu beliau berdoa kepada Allah agar diselamatkan darinya. Maka bagaimana lagi dengan selain beliau?
Kedua ayat tersebut menunjukkan wajibnya takut terhadap syirik.
ما يُستفادُ مِنَ الآيتين :
Pelajaran yang dapat diambil dari kedua ayat tersebut:
١ - أنَّ الشرك أعظم الذنوب ، لأَنَّ الله تعالى أخبر أنه لا يغفِرَهُ لمن لم يتب منه .
1. Bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, karena Allah Ta‘ālā mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuninya bagi orang yang belum bertaubat darinya.
٢ - أنَّ ما عدا الشركِ مِنَ الذنوب إذا لم يَتُبْ منه داخل تحت المشيئة - إن شاء الله غفرَهُ بلا توبة ، وإِن شاءَ عذَّبَ بِهِ ـ ففي هذا دليل على خطورة الشرك .
2. Bahwa dosa selain syirik, jika pelakunya belum bertaubat darinya, maka berada di bawah kehendak Allah: jika Allah menghendaki Dia mengampuninya tanpa taubat, dan jika Dia menghendaki Dia mengazab karenanya. Dalam hal ini terdapat dalil tentang besarnya bahaya syirik.
٣ - الخوفُ مِنَ الشركِ ، فإنَّ إبراهيم عليه السلام ـ وهو إمام الحنفاء والذي كسَّرَ الأَصنام بيدِهِ - خَافَهُ على نفسِهِ فَكَيفَ بِمَنْ دُونِهِ .
3. Takut terhadap syirik, karena Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām — padahal beliau adalah imam orang-orang hanif dan orang yang menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya sendiri — tetap takut syirik menimpa dirinya. Maka bagaimana lagi dengan orang yang kedudukannya di bawah beliau.
٤ - مشروعية الدعاء لدفع البلاء ، وأنَّهُ لا غِنَى للإِنسان عن ربِّه .
4. Disyariatkannya berdoa untuk menolak bala, dan bahwa manusia tidak dapat merasa cukup tanpa Rabbnya.
٥ - مشروعية دعاء الإنسان لنفسه ولذريَّتِهِ .
5. Disyariatkannya seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan untuk keturunannya.
٦ - الردُّ على الجهالِ الذين يقولون : لا يقعُ الشرك في هذه الأُمةِ فَآمِنُوا - منه فوقعوا فيه .
6. Bantahan terhadap orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa syirik tidak akan terjadi pada umat ini, sehingga mereka merasa aman darinya lalu akhirnya terjatuh ke dalam syirik.
Kembali 14 | IndeX | Lanjut 16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar