خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةِ الْأَحْكَامِ
Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatil-Ahkam
oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam
بابُ الغُسْلِ من الجَنَابةِ
Bab Mandi Wajib dari Keadaan Junub
Hadist ke Dua Puluh Delapan:
عنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيهُ فِي بَعْضِ طُرُقِ المَدِينَةِ، وَهُوَ جُنُبٌ. قالَ: فَانْخَنَسْتُ مِنْهُ، فَذَهَبْتُ فَاغْتَسَلْتُ، ثُمَّ جِئْتُ. فقالَ: (( أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ )) قالَ: كنتُ جُنُبًا. فَكَرِهْتُ أَنْ أُجَالِسَكَ، وَأَنَا عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ. فقالَ: (( سُبْحَانَ اللَّهِ! إِنَّ المُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ )) .
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ menemuinya di salah satu jalan di Madinah, dan saat itu ia dalam keadaan junub.
Abu Hurairah berkata: "Maka aku menghindar darinya, lalu aku pergi mandi, kemudian aku kembali."
Lalu Nabi ﷺ bersabda: "Ke mana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?"
Ia menjawab: "Aku sedang dalam keadaan junub, maka aku tidak suka duduk bersamamu dalam keadaan tidak suci."
Maka Nabi ﷺ bersabda: "Subhanallah! Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kosakata:
Lafaz [انْخَنَسْتُ] "inkhonastu" : Dengan huruf kha’ (خ), berasal dari kata khunūs [الخُنُوس], yang artinya mundur dan menyembunyikan diri (menjauh dan bersembunyi).
Lafaz [سُبْحَانَ] "subhaana" : Tasbih berarti menyucikan (Allah dari segala kekurangan), dan yang dimaksud di sini adalah sebagai bentuk ungkapan keheranan atau takjub.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bahwa junub bukanlah najis yang mengenai (menajisi) tubuh, dan dibolehkan untuk menunda mandi junub.
Kedua: Bahwa manusia tidak menjadi najis, baik dalam keadaan hidup maupun setelah meninggal.
Hadist ke Dua Puluh Sembilan:
عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا قالَتْ: كانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا اغْتَسَلَ مِن الْجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ، وتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ للصَّلَاةِ، ثُمَّ اغْتَسَلَ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدَيْهِ شَعْرَهُ، حتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ أَرْوَى بَشَرَتَهُ، أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
Rasulullah ﷺ apabila mandi dari junub, beliau mencuci kedua tangannya terlebih dahulu, lalu berwudu seperti wudunya untuk salat, kemudian mandi, lalu menyela-nyela rambut kepalanya dengan kedua tangannya, hingga beliau merasa bahwa air telah mencapai kulit kepalanya, kemudian beliau menuangkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali, lalu membasuh seluruh tubuhnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
وقالَتْ: كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، نَغْتَرِفُ مِنْهُ جَميعًا.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Aku dan Rasulullah ﷺ biasa mandi dari satu bejana (tempat air) yang sama, kami berdua mengambil air darinya secara bersamaan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kosakata:
Lafaz [أَرْوَى بَشَرَتَهُ] "arwa basyar" : Artinya ia telah menyampaikan air hingga ke akar rambutnya; dan al-basyarah [البَشَرَة] adalah lapisan luar kulit.
Lafaz [أَفَاضَ عَلَيْهِ] : Artinya menuangkan air pada rambutnya, yakni membasahi rambut dengan mengalirkan air di atasnya.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Wajibnya mandi karena junub.
Kedua: Tata cara mandi junub adalah seperti yang disebutkan dalam hadis ini, sesuai dengan urutan yang dijelaskan.
Ketiga: Bolehnya salah satu dari suami istri melihat aurat pasangannya.
Hadis ke Tiga Puluh:
عنْ مَيْمُونةَ بنتِ الحارثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَتْ: وَضَعَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءَ الْجَنَابَةِ، فَأَكْفَأَ بِيَمِينِهِ عَلَى يَسَارِهِ مَرَّتَيْنِ، أَو ثَلَاثًا، ثُمَّ غَسَلَ فَرْجَهُ، ثُمَّ ضَرَبَ يَدَهُ بِالأَرْضِ أَو الْحَائِطِ،- مَرَّتَيْنِ أَو ثَلَاثًا- ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ، وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ، ثُمَّ غَسَلَ جَسَدَهَ، ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ، فَأَتَيْتُهُ بِخِرْقَةٍ فَلَمْ يُرِدْهَا، فَجَعَلَ يَنْفُضُ المَاءَ بِيَدَيْهِ )) .
Dari Maimunah binti Harist, istri Nabi ﷺ, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ meletakkan air untuk mandi janabah, lalu beliau menuangkan air dengan tangan kanannya ke atas tangan kirinya dua atau tiga kali, kemudian membasuh kemaluannya, lalu menggosokkan tangannya ke tanah atau ke dinding — dua atau tiga kali — kemudian beliau berkumur dan menghirup air ke hidung, lalu membasuh wajah dan kedua tangannya, kemudian menuangkan air ke atas kepalanya, lalu membasuh seluruh tubuhnya, kemudian beliau berpindah tempat dan membasuh kedua kakinya. Aku membawakan kain kepada beliau (untuk mengeringkan badan), namun beliau tidak menginginkannya, dan beliau mengibaskan air dengan kedua tangannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Disyariatkannya membasuh kedua tangan sebelum mandi.
Kedua: Membasuh kemaluan, kemudian membersihkan tangan setelah itu.
Ketiga: Membasuh kedua kaki setelah membasuh seluruh tubuh.
Keempat: Bahwa mandi dari junub cukup dilakukan satu kali (yakni sekali membasahi seluruh tubuh).
Hadis ke Tiga Puluh Satu:
عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ، أنَّ عمرَ بنَ الخطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: يا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟ قَالَ: (( نَعَمْ، إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ )) .
Dari Abdullah bin Umar, bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:
"Wahai Rasulullah, apakah salah satu dari kami boleh tidur dalam keadaan junub?"
Beliau ﷺ bersabda: "Ya, apabila salah seorang dari kalian berwudu, maka tidurlah."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bolehnya orang yang junub tidur jika ia berwudu, namun yang lebih utama adalah mandi sebelum tidur.
Hadis ke Tiga Puluh Dua:
عنْ أمِّ سَلَمةَ -زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قالَتْ: جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ -امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ- إلى رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فقالَتْ: يا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِن الْحَقِّ، فَهَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ؟ فقالَ رسولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( نَعَمْ، إِذَا رَأَتِ المَاءَ )) .
Dari Ummu Salamah – istri Nabi ﷺ – ia berkata:
Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi apabila ia mengalami mimpi basah "ihtilam" [احْتَلَمَتْ]?"
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Ya, jika ia melihat air (mani)."
Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:
Pertama: Bahwa wanita wajib mandi ketika ia mengalami mimpi basah jika ia mengeluarkan mani.
Kedua: Termasuk adab yang baik dalam berbicara tentang hal-hal yang membuat malu adalah mendahuluinya dengan kalimat pengantar yang dapat meringankan atau memperhalus penyampaiannya.
Ketiga: Bahwa rasa malu tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk belajar ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar