Selasa, 19 Agustus 2025

Umdatul Ahkam : 12 (Kitab tentang Shalat)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 11IndeX | Lanjut 13

 

 

 بابُ حضورِ النساءِ المَسْجِدَ

Bab tentang kehadiran wanita di masjid

 

Hadis ke Lima Puluh Delapan: 


عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، عن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: إِذَا اسْتَأْذَنَتْ أَحَدَكُمُ امْرَأَتُهُ إلى المَسْجِدِ، فَلَا يَمْنَعْهَا )) قالَ: فقالَ بِلَالُ بنُ عبدِ اللَّهِ: واللَّهِ لنَمْنَعُهُنَّ. قالَ: فأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ فَسَبَّهُ سَبًّا سَيِّئًا، مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطُّ، وقالَ: أُخْبِرُكَ عنْ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَقُولُ: وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ!. 

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

"Apabila istri salah seorang di antara kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, maka janganlah ia melarangnya."

Bilal bin Abdullah berkata: "Demi Allah, sungguh kami akan melarang mereka."

Maka Abdullah pun menghadap kepadanya dan memakinya dengan makian yang buruk—aku belum pernah mendengarnya memaki seperti itu sebelumnya—lalu berkata:

"Aku memberitahumu (hadist) dari Rasulullah ﷺ, lalu engkau berkata: ‘Demi Allah, sungguh kami akan melarang mereka’!?" 

 

وفي لفظٍ لِمسلمٍ: (( لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ )) . 

Dan didalam lafadz hadist riwayat Muslim:

"Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah (wanita) dari masjid-masjid Allah." 

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist: 

Pertama: Dianjurkannya memberi izin kepada wanita untuk datang ke masjid selama tidak terdapat perhiasan (yang mencolok) dan fitnah. 

Kedua: Kecaman terhadap orang yang menentang sunnah Nabi ﷺ. 

 

 

Hadis ke Lima Puluh Sembilan: 

 

عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا قالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، ورَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ، وَركْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ، وَركْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ، وَركْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ )) . 

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Jum‘at, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya’.

 

وفي لفظٍ: (( فأَمَّا المْغْرِبُ وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ: ففِي بَيْتِهِ )) .

Dan didalam riwayat berikut:

Adapun Maghrib, Isya’, dan Jum‘at: beliau shalat di rumahnya.

وفي لفظٍ: أنَّ ابنَ عمرَ قالَ: حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانَ يُصَلِّي سَجْدَتْينِ خَفِيفَتَيْنِ بَعْدَمَا يَطْلُعُ الْفَجْرُ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا أَدْخُلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا.

Ddan didalam riwayat berikut disebutkan bahwa Ibnu Umar berkata:

Hafsah menceritakan kepadaku bahwa Nabi ﷺ biasa shalat dua rakaat yang ringan setelah terbit fajar, dan itu adalah waktu di mana aku tidak masuk menemui Nabi ﷺ.

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Dianjurkan mengerjakan shalat sunnah rawatib ini, serta menekankan pentingnya menjaga kebiasaan melakukannya. 

Kedua: Dianjurkan shalat sunnah rawatib Maghrib, Isya’, Subuh, dan Jum‘at dikerjakan di rumah, serta meringankan rakaat sunnah Subuh. 

 

 

Hadis ke Enam Puluh:


 عنْ عائشةَ رَضِيَ اللَّهُ عنهَا: قالَتْ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِن النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَي الْفَجْرِ )) . 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

Tidak ada shalat sunnah yang lebih dijaga oleh Nabi ﷺ dibandingkan dua rakaat (sunnah) sebelum Subuh.

 

وفي لفظٍ لِمسلمٍ (( رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِن الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا )) .

Dan didalam riwayat hadist Muslim:

Dua rakaat (sunnah) sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.


Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Dianjurkan dengan anjuran yang sangat kuat untuk mengerjakan dua rakaat sunnah sebelum Subuh, sehingga tidak selayaknya meninggalkannya.

Kedua: Keutamaan yang agung dari keduanya, sehingga dijadikan lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya, dan Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya baik dalam keadaan mukim maupun safar (berpergian). 

 

 

 

بابُ الأذانِ (الإقامةُ)

Bab tentang Adzān (dan Iqāmah)

 

Hadis ke Enam Puluh Satu:


عنْ أنسِ بنِ مالكٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ، وَيُوتِرَ الإِقَامَةَ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

Bilal diperintahkan untuk menggenapkan (melipatgandakan) lafaz adzan dan mengganjilkan lafaz iqamah.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Adzan dan iqamah hukumnya fardu kifayah, berdasarkan pengambilan hukum dari perintah Nabi ﷺ.

Kedua: Dianjurkan menggenapkan lafadz adzan, yaitu melafazkannya dua kali, kecuali empat takbir di awalnya dan kalimat tauhid di akhirnya (yang hanya sekali).

Ketiga: Dianjurkan mengganjilkan lafadz iqamah, yaitu melafadzkan setiap bagiannya sekali, kecuali dua takbir di awalnya dan kalimat "Qad qāmatish-shalāh" yang diucapkan dua kali. 

#. fardu kifayah hukumnya wajib berdosa apabila tidak ada yang melaksanakannya, dan menjadi gugur apabila sudah ada yang mewakilinya (Contoh: Adzan, Imam Shalat dan menguburkan Jenazah).

 

 

Hadis ke Enam Puluh Dua:


عنْ أبِي جُحيفةَ- وهبِ بنِ عبدِ اللَّهِ السُّوائِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ- قالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَهُوَ في قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ- قالَ: فَخَرَجَ بِلَالٌ بِوَضُوءٍ، فَمِنْ نَاضِحٍ وَنَائِلٍ. قالَ: فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، حتَّى كأنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ. قالَ: فَتَوَضَّأَ، وَأَذَّنَ بِلَالٌ. قالَ: فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هاهُنا وَهَاهُنَا، يقولُ- يَمِينًا وَشِمَالًا- حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ عَنَزَةٌ، فَتَقَدَّمَ فصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى العَصْرَ رَكْعَتَيْنِ. ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ حتَّى رَجَعَ إِلَى المَدِينَةِ )) .

Dari Abu Juhaifah — Wah'bi bin Abdullah As-Suwa’i radhiyallahu ‘anhu — ia berkata:

Aku mendatangi Nabi ﷺ saat beliau berada di sebuah kemah merah yang terbuat dari kulit. Lalu Bilal keluar membawa air wudhu, maka ada yang mengambil sebagian dan ada yang mendapatkan percikannya. 

Kemudian Nabi ﷺ keluar dengan mengenakan pakaian merah, hingga seakan-akan aku melihat putihnya kedua betis beliau. Beliau berwudu, lalu Bilal mengumandangkan adzan. Aku memperhatikan mulutnya bergerak ke sini dan ke sana, ke kanan dan ke kiri, saat mengucapkan: “Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah.” Kemudian ditancapkan tombak kecil (‘anazah) di hadapan beliau, lalu beliau maju dan shalat Zuhur dua rakaat, kemudian shalat Ashar dua rakaat. Setelah itu beliau terus-menerus shalat dua rakaat hingga kembali ke Madinah.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Dianjurkan bagi muazin menoleh ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan “Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah” untuk menyampaikan suara kepada orang-orang.

Kedua: Disyariatkan mengqashar shalat fardhu yang empat rakaat menjadi dua rakaat ketika safar (berpergian).

Ketiga: Dianjurkan menggunakan sutrah (pembatas) di hadapan orang yang shalat, sekalipun di Makkah. 

 

 

Hadis ke Enam Puluh Tiga:


عنْ عبدِ اللَّهِ بنِ عمرَ رَضِيَ اللَّهُ عنهُمَا، عنْ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قالَ: (( إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيلٍ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حتَّى تَسْمَعُوا أذَانَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ )) .

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah hingga kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.


Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Boleh mengumandangkan adzan Subuh sebelum masuk waktunya.

Kedua: Dianjurkan memberitahu penduduk suatu kota atau kampung tentang waktu adzan jika dilakukan di luar kebiasaan.

Ketiga: Keutamaan mengakhirkan sahur hingga mendekati waktu Subuh.



Hadis ke Enam Puluh Empat:


عنْ أبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا سَمِعْتُم الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ ما يَقولُ )) .

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

Apabila kalian mendengar muazin, maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan.

 

Pelajaran yang dapat diambil dari kedua hadist:

Pertama: Dianjurkan menjawab adzan dengan ucapan yang sama, kecuali pada lafadz “Hayya ‘alash-shalah” dan “Hayya ‘alal-falah”, maka yang menjawab mengucapkan: “Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.”

Kedua: Jawaban adzan diucapkan setelah muazin selesai mengucapkan setiap kalimat, berdasarkan sabda beliau: “Maka ucapkanlah,” karena huruf fa di situ menunjukkan urutan. 

 

Kembali 11IndeX | Lanjut 13

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar