Kamis, 20 November 2025

Umdatul Ahkam : 76 (Catatan Tentang Saudara Sesusuan)

 

  خُلَاصَةُ الْكَلَامِ عَلَى عُمْدَةُ الْأَحْكَامِ 

Ringkasan Penjelasan atas Kitab 'Umdatul-Ahkam  

oleh: Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih bin Hamd Al-Bassam

 

Kembali 75 | IndeX | Lanjut 77

 

 

 كتابُ الرَّضَاعِ

Catatan tentang Saudara Sesusuan

 

 

Hadist ke Tiga Ratus Dua Puluh Sembilan :


عنْ عقبةَ بنِ الحارثِ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ، قالَ: (( تَزَوَّجْتُ أُمَّ يَحْيى بنْتَ أَبي إِهَابٍ، فَجَاءَتْ أَمَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ: قَدْ أَرْضَعْتُكُمَا، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ للنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فأَعْرَضَ عَنِّي، قالَ: فَتَنَحَّيْتُ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ، فقالَ: (( وَكَيْفَ؟ وَقَدْ زَعَمَتْ أَنْ قَدْ أَرْضَعَتْكُمَا )) .

Diriwayatkan Dari ‘Uqbah bin Ḥārist radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

“Aku menikahi Ummu Yaḥyā binti Abī Ihāb. Lalu datang seorang budak perempuan berkulit hitam dan berkata: ‘Aku telah menyusui kalian berdua.’

Aku pun menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ, tetapi beliau berpaling dariku. Maka aku menjauh sejenak dan kembali menyebutkannya lagi kepada beliau.

Beliau bersabda: ‘Bagaimana mungkin (kamu tetap bersama), sedangkan perempuan itu mengaku telah menyusui kalian berdua?’”


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Apabila telah terbukti adanya penyusuan yang menyebabkan keharaman antara suami-istri, maka pernikahan keduanya batal (harus dipisahkan).

Kedua: Tetapnya (sahnya) penyusuan dan hukum-hukumnya dengan kesaksian satu orang perempuan saja.

Ketiga: Diterimanya kesaksian seorang hamba (budak) apabila ia adil, dan bahwa seluruh saksi harus memiliki sifat adil.

Keempat: Bahwa hubungan intim karena syubhat tidak mewajibkan hukuman had maupun ta‘zīr, dan pelakunya dimaafkan dari hukuman di dunia maupun siksa di akhirat.



Hadist ke Tiga Ratus Tiga Puluh :


عن البَرَاءِ بنِ عازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عنهُ قالَ: (( خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -يَعنِي مِنْ مَكَّةَ- فَتَبِعَتْهُم ابْنَةُ حَمْزَةَ، تُنَادِي: يا عمُّ! فَتَنَاوَلَهَا عَلِيٌّ، فأَخَذَ بِيَدِهَا، وَقَالَ لِفَاطِمَةَ: دُونَكِ ابْنَةَ عَمِّكِ، فَاحْتَمَلَها، فَاخْتَصَمَ فِيهَا عَلِيٌّ، وَزَيْدٌ، وَجَعْفَرٌ فقالَ عَلِيٌّ: أَنَا أَحَقُّ بِهَا، وَهِيَ ابْنَةُ عَمِّي، وَقَالَ جَعْفَرٌ: ابْنَةُ عَمِّي، وَخَالَتُهَا تَحْتِي، وَقالَ زَيْدٌ: ابْنَةُ أَخِي، فَقَضَى بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَالَتِهَا، وَقالَ: (( الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ )) وَقالَ لِعَلِيٍّ: (( أَنْتَ مِنِّي، وَأَنَا مِنْكَ )) وَقالَ لجعْفَرٍ: (( أَشْبَهْتَ خَلَقِي وَخُلُقِي )) وقالَ لِزَيْدٍ: (( أَنْتَ أَخُونَا وَمَوْلَانَا )) .

Diriwayatkan Dari Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah ﷺ berangkat (yakni keluar dari Makkah), lalu putri Ḥamzah mengikuti mereka sambil memanggil: ‘Wahai paman!’

Ali pun mengambilnya, memegang tangannya, dan berkata kepada Fāṭimah: ‘Ambillah anak perempuan pamanmu!’ Lalu Fāṭimah membawanya.

Kemudian Ali, Zaid, dan Ja‘far berselisih tentang siapa yang paling berhak mengasuhnya.

Ali berkata: ‘Aku lebih berhak atasnya; dia adalah putri pamanku.’

Ja‘far berkata: ‘Dia putri pamanku, dan bibinya berada di bawah tanggunganku (istriku).’

Zaid berkata: ‘Dia putri saudaraku.’

Maka Nabi ﷺ memutuskan agar ia diasuh oleh bibinya, dan beliau bersabda: ‘Bibi (dari pihak ibu) menempati kedudukan seperti ibu.’

Beliau berkata kepada Ali: ‘Engkau dariku, dan aku darimu.’

#. Engkau sangat dekat denganku, dan aku sangat dekat denganmu. Engkau termasuk bagian dari keluargaku dan pendukungku, serta aku pun mendukungmu. 

Dan kepada Ja‘far beliau bersabda: ‘Engkau menyerupai bentuk dan akhlakku.’

#. Engkau menyerupai penampilanku dan akhlakku 

Serta kepada Zaid beliau bersabda: ‘Engkau adalah saudara kami dan maulā kami.’ 

#. Engkau adalah saudara kami dalam Islam, dan engkau adalah orang yang kami muliakan dan kami merdekakan.


Kosakata: 


لفظ (دُونَكِ) : بكسرِ الكافِ، خطابٌ لأُنْثَى أيْ: خُذِيهَا.

Lafadz (دُونَكِ): dengan memecah huruf kāf (kasrah pada kāf), merupakan seruan kepada perempuan, dan maknanya: “Ambillah dia.”

لفظ (خَلَقِي) : بفتحِ الخاءِ واللَّامِ، الصِّفَاتُ الظَّاهِرَةُ.

Lafadz (خَلَقِي): dengan membuka huruf khā’ dan lām, maknanya adalah sifat-sifat lahiriah.

لفظ (خُلُقِي) : بِضَمِّ الخاءِ واللَّامِ، الصِّفَاتُ البَاطِنَةُ.

Lafadz (خُلُقِي): dengan men-dhammah-kan huruf khā’ dan lām, maknanya adalah sifat-sifat batin (akhlak).

لفظ (مَوْلَانَا) : أيْ عَتِيقُنَا، فالمَوْلَى يُطْلَقُ على المُعْتِقِ والعَتِيقِ.

Lafadz (مَوْلَانَا): yakni orang yang telah dimerdekakan oleh kami (ʿatīqunā). Kata mawlā digunakan untuk menyebut orang yang memerdekakan dan orang yang dimerdekakan.


Pelajaran yang dapat diambil dari hadist:

Pertama: Tetapnya hak hadhanah (pengasuhan) demi kepentingan anak kecil dan orang yang tidak berakal (bodoh), sebagai bentuk penjagaan, perlindungan, dan pemenuhan urusan-urusan mereka.

Kedua: Bahwa para kerabat laki-laki dari jalur ‘aṣabah memiliki hak dalam hadhanah selama tidak ada orang yang lebih berhak daripada mereka.

Ketiga: Mendahulukan ibu dalam hak hadhanah karena sempurnanya kasih sayangnya. Setelah ibu, yang didahulukan adalah bibi (dari pihak ibu), karena kedudukannya seperti ibu.

Keempat: Bahwa seorang wanita yang telah menikah tidak gugur hak hadhanahnya apabila suaminya ridha (mengizinkan) ia tetap melaksanakan pengasuhan.

Kelima: Baiknya akhlak Nabi ﷺ dan kebijaksanaan beliau, di mana beliau membuat semua pihak yang berselisih merasa puas. 

 

Kembali 75 | IndeX | Lanjut 77

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar