Kamis, 02 Juli 2026

Kitab Attibyan : 06h

 

 التبين في آداب حملة القرآن


Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an

 

Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi

 

Kembali 6g | IndeX | Lanjut 6i

 

 الباب السادس

Bab Keenam

 

 

[فصل] في استحباب تحسين الصوت بالقراءة

[Sub bab] Anjuran Memperindah Suara ketika Membaca Al-Qur'an

أجمع العلماء - رضي الله عنهم - من السلف والخلف من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء الأمصار أئمة المسلمين على استحباب تحسين الصوت بالقرآن، وأقوالهم وأفعالهم مشهورة نهاية الشهرة، فنحن مستغنون عن نقل شيء من أفرادها.

Para ulama—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat, baik dari kalangan salaf maupun khalaf, yaitu para sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka dari para ulama di berbagai negeri serta para imam kaum muslimin, bahwa memperindah suara ketika membaca Al-Qur'an adalah amalan yang dianjurkan (mustahab). Pendapat dan praktik mereka dalam hal ini sangat masyhur dan tersebar luas, sehingga kami tidak perlu lagi mengutip satu per satu riwayat atau pendapat mereka secara terperinci.

ودلائل هذا من حديث رسول الله ﷺ مستفيضة عند الخاصة والعامة، كحديث: زينوا القرآن بأصواتكم، وحديث: لقد أوتي هذا مزمارا، وحديث: ما أذن الله، وحديث: لله أشد أذنا، وقد تقدمت كلها في الفصل السابق.

Dalil-dalil mengenai hal ini dari hadis-hadis Rasulullah ﷺ sangat banyak dan telah tersebar luas, baik di kalangan para ulama maupun masyarakat umum. Di antaranya adalah hadis: "Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian," hadis: "Sungguh, orang ini telah dianugerahi salah satu seruling (suara merdu) dari keluarga Dawud," hadis: "Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu..." dan hadis: "Sungguh Allah lebih mendengarkan...". Semua hadis tersebut telah disebutkan pada pasal sebelumnya.

وتقدم في فضل الترتيل حديث عبد الله بن مغفل في ترجيع النبي ﷺ القراءة، وكحديث سعد بن أبي وقاص، وحديث أمامة رضي الله عنهما أنّ النبي ﷺ قال: من لم يتغنّ بالقرآن فليس منا. رواه أبو داود بإسنادين جيدين، وفي إسناد سعد اختلاف لا يضر.

Telah disebutkan pula dalam pembahasan tentang keutamaan membaca Al-Qur'an dengan tartil, hadis Abdullah bin Mughaffal mengenai bacaan Rasulullah ﷺ yang disertai tarji' (melagukan atau mengulang-ulang suara dengan indah). Demikian pula hadis Sa'd bin Abi Waqqash dan hadis Umamah, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa tidak bertaghanni (memperindah suaranya) ketika membaca Al-Qur'an, maka ia bukan termasuk golongan kami." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud melalui dua sanad yang baik. Adapun pada sanad riwayat Sa'd terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, namun hal itu tidak memengaruhi keabsahan hadis tersebut.

قال جمهور العلماء: معنى «لم يتغن»: لم يحسن صوته.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa makna sabda Nabi ﷺ, "tidak bertaghanni", adalah tidak memperindah suaranya ketika membaca Al-Qur'an.

وحديث البراء رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ قرأ في العشاء بالتين والزيتون، فما سمعت أحدا أحسن صوتا منه. رواه البخاري ومسلم .

Dari hadis Al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ membaca surah At-Tin dalam salat Isya. Aku belum pernah mendengar seorang pun yang lebih indah suaranya daripada beliau." Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

قال العلماء رحمهم الله: فيستحب تحسين الصوت بالقراءة، وترتيلها ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط، فإن أفرط حتى زاد حرفا، أو أخفاه فهو حرام.

Para ulama—semoga Allah merahmati mereka—berkata: Disunahkan memperindah suara ketika membaca Al-Qur'an dan membacanya dengan tartil, selama tidak melampaui batas bacaan dengan memanjangkan suara secara berlebihan (tamṭīṭ). Apabila berlebihan hingga menyebabkan penambahan huruf atau menghilangkan (menyembunyikan) suatu huruf, maka hal itu hukumnya haram.

وأما القراءة بالألحان فقد قال الشافعي رحمه الله في موضع: أكرهها.

Adapun membaca Al-Qur'an dengan alunan lagu (alḥān), maka Muhammad bin Idris al-Shafi'i رحمه الله berkata dalam salah satu pendapatnya, "Aku memakruhkannya."

قال أصحابنا: ليست على قولين، بل فيه تفصيل. إن أفرط في التمطيط فجاوز الحد فهو الذي كرهه، وإن لم يجاوز فهو الذي لم يكرهه.

Para ulama mazhab kami (Syafi'iyyah) berkata: Perkataan Imam asy-Syafi'i tersebut bukanlah menunjukkan adanya dua pendapat yang saling bertentangan, tetapi mengandung perincian. Jika seseorang berlebihan dalam memanjangkan bacaan (tamṭīṭ) hingga melampaui batas yang dibenarkan, maka itulah yang dimakruhkan oleh beliau. Adapun jika tidak melampaui batas, maka itulah yang tidak beliau makruhkan.

وقال أقضى القضاة الماوردي في كتابه الحاوي: القراءة بالألحان الموضوعة  إن أخرجت لفظ القرآن عن صيغته بإدخال حركات فيه، أو إخراج حركات منه، أو قصر ممدود، أو مد مقصور، أو تمطيط يخفي به بعض اللفظ، ويتلبس المعنى فهو حرام يفسق به القارئ، ويأثم به المستمع؛ لأنه عدل به عن نهجه القويم إلى الاعوجاج، والله تعالى يقول: ﴿ قرآنا عربيا غير ذي عوج ﴾. [الزمر : ٢٨]

Al-Mawardi, yang menjabat sebagai Qadhi al-Qudhat (Hakim Agung), berkata dalam kitab Al-Hawi:

"Membaca Al-Qur'an dengan lagu-lagu (irama) yang dibuat-buat, apabila menyebabkan lafaz Al-Qur'an keluar dari bentuk yang semestinya, seperti menambahkan harakat, menghilangkan harakat, memendekkan bacaan yang seharusnya dipanjangkan, memanjangkan bacaan yang seharusnya dipendekkan, atau memanjangkan suara secara berlebihan hingga sebagian lafaz menjadi samar dan maknanya menjadi rancu, maka hukumnya haram. Orang yang membacanya menjadi fasik karena perbuatannya, dan orang yang mendengarkannya juga berdosa, karena ia telah memalingkan bacaan Al-Qur'an dari jalan yang lurus kepada penyimpangan. Padahal Allah Ta'ala berfirman, 'Sebagai Al-Qur'an berbahasa Arab yang tidak mengandung kebengkokan.' (QS. Az-Zumar: 28)."

قال: وإن لم يخرجه اللحن عن لفظه، وقراءته على ترتيله، كان مباحا؛ لأنه زاد على ألحانه في تحسينه، هذا كلام أقضى القضاة.

Beliau melanjutkan: "Apabila lagu (irama) tersebut tidak mengeluarkan lafaz Al-Qur'an dari bentuknya yang benar dan tidak mengubah cara baca yang sesuai dengan tartilnya, maka hukumnya boleh, karena irama itu hanya merupakan tambahan untuk memperindah bacaan." Demikianlah penjelasan Qadhi al-Qudhat Al-Mawardi.

وهذا القسم الأول من القراءة بالألحان المحرمة مصيبة ابتلي بها بعض الجهلة الطغام الغشمة، الذين يقرؤون على الجنائز وبعض المحافل، وهذه بدعة محرمة ظاهرة، يأثم كل مستمع لها، كما قاله أقضى القضاة الماوردي. 

**Adapun bentuk pertama dari bacaan Al-Qur'an dengan lagu yang diharamkan ini merupakan musibah yang telah menimpa sebagian orang-orang bodoh, kasar, dan tidak berilmu. Mereka membacakan Al-Qur'an dengan cara seperti itu pada acara-acara pemakaman dan berbagai perkumpulan. Perbuatan ini adalah bid'ah yang jelas keharamannya. Setiap orang yang mendengarkannya turut berdosa, sebagaimana dinyatakan oleh Qadhi al-Qudhat Al-Mawardi.

ويأثم كل قادر على إزالتها، أو على النهي عنها، إذا لم يفعل ذلك. 

Dan setiap orang yang mampu menghilangkan praktik tersebut atau mampu melarangnya, tetapi tidak melakukannya, maka ia juga berdosa.

وقد بذلت فيها بعض قدرتي، وأرجو من فضل الله الكريم، أن يوفق لإزالتها من هو أهل لذلك، وأن يجعله في عافية.

Aku telah mengerahkan sebagian kemampuan yang kumiliki untuk mengingkari praktik tersebut. Aku berharap kepada Allah Yang Mahamulia agar Dia memberikan taufik kepada orang yang memiliki kemampuan dan kedudukan untuk menghilangkannya, serta menganugerahinya keselamatan dan kesejahteraan.

قال الشافعي في مختصر المزني : ويحسن صوته بأيّ وجه كان. قال: وأحب ما يقرأ حدرا وتحزينا.

Muhammad bin Idris as-Shafi'i berkata dalam Mukhtashar al-Muzani: "Hendaklah seseorang memperindah suaranya dalam membaca Al-Qur'an dengan cara apa pun yang dapat dilakukannya." Beliau juga berkata, "Aku lebih menyukai apabila Al-Qur'an dibaca dengan bacaan yang lancar (ḥadr) disertai nada yang menghadirkan kesedihan (taḥzīn)."

قال أهل اللغة: يقال حدرت بالقراءة إذا أدرجتها ولم تمططها.

Para ahli bahasa berkata: "Dikatakan ḥadartu bil-qirā'ah apabila seseorang membaca Al-Qur'an dengan lancar dan mengalirkannya tanpa memanjangkan suara secara berlebihan (tamṭīṭ)."

ويقال: فلان يقرأ بالتحزين إذا رقق صوته.

Dan dikatakan, "Si Fulan membaca dengan taḥzīn," yaitu apabila ia melembutkan dan melunakkan suaranya ketika membaca Al-Qur'an.

وقد روى ابن أبي داود بإسناده عن أبي هريرة - رضي الله عنه - أنه قرأ: ﴿ إذا الشمس كورت ﴾ يحزنها شبه الرثاء .

Ibn Abi Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa beliau membaca surah At-Takwir (﴿إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ﴾) dengan nada yang penuh kesedihan, menyerupai lantunan ratapan, namun tanpa melampaui batas yang dibenarkan.

 

وفي سنن أبي داود قيل لابن أبي مليكة : أرأيت إذا لم يكن حسن الصوت؟ فقال: يحسِّنه ما استطاع. 

Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan bahwa pernah ditanyakan kepada Ibnu Abi Mulaikah, “Bagaimana jika seseorang tidak memiliki suara yang indah?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia memperindah suaranya semampunya.”

 [فصل] في استحباب طلب القراءة الطيبة من حسن الصوت.

[Sub bab] Anjuran Meminta Orang yang Bersuara Indah untuk Membaca Al-Qur'an

اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون. 

Ketahuilah bahwa sekelompok ulama salaf dahulu biasa meminta orang-orang yang memiliki bacaan Al-Qur'an dengan suara yang merdu untuk membacakannya, sementara mereka mendengarkan.

وهذا متفق على استحبابه، وهو: عادة الأخيار، والمتعبدين، وعباد الله الصالحين.

Para ulama telah bersepakat bahwa hal ini hukumnya dianjurkan (mustahab). Ini merupakan kebiasaan orang-orang saleh, para ahli ibadah, dan hamba-hamba Allah yang bertakwa.

وهي سنة ثابتة عن رسول الله ﷺ فقد صح عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله ﷺ : اقرأ عليَّ القرآن، 

Amalan ini juga merupakan sunah yang tetap dari Rasulullah ﷺ. Telah diriwayatkan secara shahih dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku.”

فقلت: يا رسول الله أقرأ عليك وعليك أنزل. قال: إني أحب أن أسمعه من غيري. 

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membacakannya kepada engkau, padahal Al-Qur'an itu diturunkan kepadamu?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku senang mendengar 

 

فقرأت عليه سورة النساء حتى إذا جئت إلى هذه الآية: ﴿ فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد وجئنا بك على هؤلاء شهيدا ﴾ قال: حسبك الآن، فالتفت إليه فإذا عيناه تذرفان. رواه البخاري ومسلم .

Lalu aku membacakan kepada beliau Surah An-Nisa'. Ketika aku sampai pada ayat:

"Maka bagaimanakah (keadaan orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?" (QS. An-Nisa': 41)

Beliau bersabda, “Cukup sampai di sini.” Lalu aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau bercucuran air mata. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

وروى الدارمي وغيره بأسانيدهم عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه كان يقول لأبي موسى الأشعري : ذكّرنا ربّنا، فيقرأ عنده القرآن .

Ad-Darimi dan selainnya meriwayatkan dengan sanad-sanad mereka dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau sering berkata kepada Abu Musa Al-Asy'ari, “Ingatkanlah kami kepada tuhan kami.” Maka Abu Musa pun membacakan Al-Qur'an di hadapan beliau.

والآثار في هذا كثيرة معروفة.

Riwayat-riwayat tentang hal ini sangat banyak dan telah dikenal luas.

وقد مات جماعات من الصالحين بسبب قراءة من سألوه القراءة. والله أعلم.

Bahkan, telah diriwayatkan bahwa sejumlah orang saleh wafat ketika mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari orang yang mereka minta untuk membacakannya. Wallahu a'lam.

وقد استحب العلماء أن يستفتح مجلس حديث النبي ﷺ ويختم بقراءة قارئ حسن الصوت، ما تيسر من القرآن.

Para ulama juga menganjurkan agar suatu majelis penyampaian hadis Nabi ﷺ dibuka dan ditutup dengan bacaan Al-Qur'an oleh seorang qari yang memiliki suara yang indah, dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang mudah baginya.

ثم إنه ينبغي للقارئ في هذه المواطن أن يقرأ ما يليق بالمجلس ويناسبه، وأن تكون قراءته في آيات الرجاء، والخوف، والمواعظ، والتزهيد في الدنيا، والترغيب في الآخرة، والتأهب لها، وقصر الأمل، ومكارم الأخلاق. 

Selanjutnya, seorang qari pada kesempatan seperti itu hendaknya memilih ayat-ayat yang sesuai dengan tema majelis, seperti ayat-ayat tentang harapan akan rahmat Allah, rasa takut kepada-Nya, nasihat dan peringatan, anjuran bersikap zuhud terhadap dunia, dorongan untuk mencintai akhirat dan mempersiapkan diri menghadapinya, anjuran memendekkan angan-angan, serta ayat-ayat yang mengajarkan akhlak yang mulia. 

 

Kembali 6g | IndeX | Lanjut 6i

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar