التبين في آداب حملة القرآن
Penjelasan tentang Adab-Adab Para Pengemban (penghafal) Al-Qur'an
Oleh: Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi
Kembali 6h | IndeX | Lanjut 6j
الباب السادس
Bab Keenam
حسن الوقف
Bagusnya Berhenti (Waqaf) dalam Membaca Al-Qur'an
[فصل] ينبغي للقارئ إذا ابتدأ من وسط السورة، أو وقف على غير آخرها، أن يبتدئ من أول الكلام، المرتبط بعضه ببعض.
[Sub bab] Seorang qari hendaknya, apabila memulai bacaan dari pertengahan suatu surah atau berhenti sebelum akhir surah, memulai dari permulaan suatu kalimat yang utuh dan saling berkaitan.
وأن يقف على الكلام المرتبط، ولا يتقيد بالأعشار والأجزاء، فإنها قد تكون في وسط الكلام المرتبط كالجزء الذي في قوله تعالى: ﴿ وما أبرئ نفسي ﴾ [يوسف : ٥٣]، وفي قوله تعالى: ﴿ وما كان جواب قومه ﴾ [الأعراف : ٨٢]، وقوله تعالى: ﴿ ومن يقنت منكن لله ورسوله ﴾ [الأحزاب : ٣١]، وفي قوله تعالى: ﴿ وما أنـزلنا على قومه من بعده من جند من السماء ﴾ [يٰس : ٢٨]، وفي قوله تعالى: ﴿ إليه يرد علم الساعة ﴾ [فصلت : ٤٧] ، وفي قوله تعالى: ﴿ وبدا لهم سيئات ﴾ [الجاثيه : ٣٣]، وفي قوله: ﴿ قال فما خطبكم أيها المرسلون ﴾ [الذريات : ٣١]، وكذلك الأحزاب كقوله تعالى: ﴿ واذكروا الله في أيام معدودات ﴾ [البقرة : ٢٠٣]، وقوله تعالى: ﴿ قل هل أنبئكم بخير من ذلكم ﴾ [ال عمران : ١٥].
Demikian pula, hendaknya ia berhenti pada akhir suatu rangkaian kalimat yang sempurna maknanya, dan tidak terpaku pada pembagian persepuluhan (al-'usyur) atau pembagian juz. Sebab, terkadang pembagian-pembagian tersebut berada di tengah kalimat yang masih saling berkaitan maknanya.
Contohnya adalah pembagian juz yang berada pada firman Allah Ta'ala:
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan)." (QS. Yusuf: 53)
"Dan jawaban kaumnya tidak lain hanyalah..." (QS. Al-A'raf: 82)
"Dan barang siapa di antara kamu yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Ahzab: 31)
"Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya setelah dia (meninggal) suatu bala tentara dari langit..." (QS. Yasin: 28)
"Kepada-Nya dikembalikan pengetahuan tentang Hari Kiamat..." (QS. Fussilat: 47)
"Dan tampaklah bagi mereka keburukan-keburukan..." (QS. Al-Jatsiyah: 33)
"(Ibrahim) berkata, 'Apakah urusanmu, wahai para utusan?'" (QS. Adz-Dzariyat: 31)
Demikian pula pembagian berdasarkan hizb atau kelompok bacaan, seperti pada firman Allah Ta'ala:
"Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya..." (QS. Al-Baqarah: 203)
"Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada itu semua?'" (QS. Ali 'Imran: 15)
فكل هذا وشبيهه لا ينبغي أن يبتدأ به، ولا يوقف عليه؛ فإنه متعلق بما قبله.
Oleh karena itu, semua contoh tersebut dan yang semisal dengannya tidak sepatutnya dijadikan sebagai tempat memulai bacaan ataupun tempat berhenti, karena semuanya masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya.
ولا يغترن بكثرة الغافلين له من القراء، الذين لا يراعون هذه الآداب، ولا يفكرون في هذه المعاني.
Janganlah engkau tertipu oleh banyaknya para pembaca Al-Qur'an yang lalai terhadap hal ini, yaitu mereka yang tidak memperhatikan adab-adab tersebut dan tidak merenungkan makna-makna Al-Qur'an.
وامتثل ما روى الحاكم أبو عبد الله بإسناده عن السيد الجليل الفضيل بن عياض رضي الله عنه قال: لا تستوحش طرق الهدى لقلة أهلها، ولا تغترن بكثرة الهالكين، ولا يضرّك قلة السالكين .
Pegang teguhlah nasihat yang diriwayatkan oleh Al-Hakim Abu Abdillah dengan sanadnya dari seorang tokoh mulia, Fudhail bin 'Iyadh radhiyallahu 'anhu, yang berkata:
"Janganlah engkau merasa asing menempuh jalan-jalan petunjuk karena sedikitnya orang yang melaluinya. Jangan pula tertipu oleh banyaknya orang yang binasa. Dan janganlah sedikitnya orang yang menempuh jalan yang benar membuatmu berkecil hati."
ولهذا المعنى قالت العلماء: قراءه سورة قصيرة بكاملها، أفضل من قراءة بعض سورة طويلة بقدر القصيرة؛ فإنه قد يخفى الارتباط على بعض الناس في بعض الأحوال.
Karena alasan inilah para ulama mengatakan bahwa membaca satu surah pendek secara utuh lebih utama daripada membaca sebagian dari surah yang panjang dengan kadar yang sama. Sebab, pada sebagian keadaan, keterkaitan makna antarayat dapat tersembunyi dari sebagian orang.
وقد روى ابن أبي داود بإسناده، عن عبد الله بن أبي الهذيل التابعي المعروف رضي الله عنه قال: كانوا يكرهون أن يقرؤوا بعض الآية ويتركوا بعضها.
Ibnu Abi Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Hudzail, seorang tabi'in yang terkenal, rahimahullah, bahwa beliau berkata:
"Mereka dahulu memakruhkan membaca sebagian dari suatu ayat lalu meninggalkan bagian lainnya."
[فصل] في أحوال تكره فيها القراءة
[Sub bab] Keadaan-keadaan yang Dimakruhkan Membaca Al-Qur'an
اعلم أن قراءة القرآن على الإطلاق مندوبة ومستحبة، إلا في أحوال مخصوصة جاء الشرع بالنهي عن القراءة فيها، وأنا أذكر الآن ما حضرني منها مختصرة بحذف الأدلة؛ فإنها مشهورة:
Ketahuilah bahwa membaca Al-Qur'an pada dasarnya adalah amalan yang dianjurkan dan disunnahkan dalam segala keadaan. Akan tetapi, ada beberapa keadaan tertentu yang disebutkan dalam syariat sebagai waktu atau kondisi yang dilarang atau dimakruhkan untuk membaca Al-Qur'an.
Berikut ini akan saya sebutkan secara ringkas beberapa di antaranya, tanpa menyertakan dalil-dalilnya, karena dalil-dalil tersebut telah masyhur dan dikenal luas.
١ - فتكره القراءة في حالة الركوع، والسجود، والتشهد، وغيرها من أحوال الصلاة سوى القيام.
1. Dimakruhkan membaca Al-Qur'an ketika sedang rukuk, sujud, tasyahud, dan keadaan-keadaan lain dalam salat selain saat berdiri.
٢ - وتكره القراءة بما زاد على الفاتحة للمأموم في الصلاة الجهرية إذا سمع قراءة الإمام.
2. Dimakruhkan bagi makmum membaca surah setelah Al-Fatihah dalam salat jahriah (salat yang bacaannya dikeraskan), apabila ia mendengar bacaan imam.
٣ - وتكره حالة القعود على الخلاء.
3. Dimakruhkan membaca Al-Qur'an ketika sedang duduk untuk buang hajat.
٤ - وفي حالة النعاس.
4. Demikian pula ketika sedang mengantuk.
٥ - وكذا إذا استعجم عليه القرآن.
5. Begitu juga apabila bacaan Al-Qur'an menjadi tidak jelas atau kacau pada lisannya (karena lupa, bingung, atau hilang konsentrasi), sehingga ia tidak mampu membacanya dengan benar.
٦ - وكذا في حالة الخطبة لمن يسمعها، ولا تكره لمن لم يسمعها بل تستحب، هذا هو المختار الصحيح، وجاء عن طاوس كراهيتها، وعن إبراهيم عدم الكراهة، فيجوز أن يجمع بين كلاميهما بما قلنا كما ذكره أصحابنا.
6. Demikian pula ketika khatib sedang berkhutbah, bagi orang yang dapat mendengar khutbah tersebut. Adapun bagi orang yang tidak dapat mendengarnya, maka membaca Al-Qur'an tidak dimakruhkan, bahkan dianjurkan. Inilah pendapat yang dipilih sebagai pendapat yang sahih.
Diriwayatkan pula dari Thowus bahwa beliau memakruhkan membaca Al-Qur'an saat khutbah secara mutlak. Sedangkan dari Ibrahim (An-Nakha'i) diriwayatkan bahwa beliau tidak memakruhkannya. Kedua pendapat ini dapat dipadukan sebagaimana penjelasan di atas, sebagaimana disebutkan oleh para ulama mazhab kami.
ولا تكره القراءة في الطواف، هذا مذهبنا، وبه قال أكثر العلماء، وحكاه ابن المنذر عن عطاء ومجاهد، وابن المبارك، وأبي ثور وأصحاب الرأي.
Membaca Al-Qur'an ketika sedang tawaf tidak dimakruhkan. Ini adalah pendapat mazhab kami, dan juga merupakan pendapat mayoritas ulama. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Mundzir dari Atho', Mujahid, Abdullah bin Mubarak, Abu Tsaur, dan para ulama Ashabur Ra'yi.
وحكي عن الحسن البصري وعروة بن الزبير ومالك كراهتها في الطواف، والصحيح: الأول.
Adapun Hasan Al-Bashri, Urwah bin Zubair, dan Imam Malik berpendapat bahwa membaca Al-Qur'an ketika tawaf hukumnya makruh. Namun, pendapat yang benar adalah pendapat pertama, yaitu tidak dimakruhkan.
وقد تقدم بيان الاختلاف في القراءة في الحمام، وفي الطريق، وفيمن فمه نجس.
Telah dijelaskan sebelumnya mengenai perbedaan pendapat tentang hukum membaca Al-Qur'an di dalam kamar mandi, di jalan, dan bagi orang yang mulutnya terkena najis.
البدعة المدروسة
Bid'ah yang Tercela
[فصل] من البدع المنكرة في القراءة ما يفعله جهلة المصلين بالناس في التراويح، من قراءة سورة الأنعام في الركعة الأخيرة في الليلة السابعة، معتقدين أنها مستحبة، فيجمعون أمورا منكرة:
[Sub bab] Di antara bid'ah yang diingkari dalam membaca Al-Qur'an adalah apa yang dilakukan oleh sebagian imam yang kurang memahami tuntunan syariat ketika mengimami shalat Tarawih. Mereka membaca Surah Al-An'am pada rakaat terakhir di malam ketujuh, dengan keyakinan bahwa amalan tersebut merupakan sesuatu yang disunahkan.
Dengan perbuatan itu, mereka telah menggabungkan beberapa kemungkaran sekaligus.
١ - منها اعتقادها مستحبة.
1. Meyakini bahwa amalan tersebut merupakan sesuatu yang disunahkan, padahal tidak ada dasarnya.
٢ - ومنها إيهام العوام ذلك.
2. Menimbulkan anggapan di kalangan orang awam bahwa amalan tersebut memang disyariatkan.
٣ - ومنها تطويل الركعة الثانية على الأولى وإنما السنة تطويل الأولى.
3. Memanjangkan rakaat kedua melebihi rakaat pertama, padahal yang sesuai dengan sunah adalah memanjangkan rakaat pertama.
٤ - ومنها التطويل على المأمومين.
4. Memberatkan para makmum dengan bacaan yang terlalu panjang.
٥ - ومنها هذرمة القراءة.
5. Membaca Al-Qur'an dengan terlalu cepat (hadramah), sehingga tidak memperhatikan tartil dan hak-hak bacaan.
ومن البدع المشابهة لهذا قراءة بعض جهلتهم في الصبح يوم الجمعة بسجدة غير سجدة الم تنزيل، قاصدين ذلك، وإنما السنة قراءة الم تنزيل في الركعة الأولى، وهل أتى في الثانية.
Di antara bid'ah yang serupa dengan hal tersebut adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang tidak memahami tuntunan agama, yaitu membaca pada salat Subuh hari Jumat surah yang mengandung ayat sajdah selain Surah As-Sajdah (Alif Lam Mim Tanzil), dengan sengaja untuk menggantikannya. Padahal yang sesuai dengan sunah adalah membaca Surah As-Sajdah (Alif Lam Mim Tanzil) pada rakaat pertama dan Surah Al-Insan (Hal Ata 'ala al-Insan) pada rakaat kedua.
[فصل] في مسائل غريبة تدعو الحاجة إليها
[Sub bab] Beberapa Masalah yang Jarang Dibahas tetapi Perlu Diketahui
١ - منها أنه إذا كان يقرأ فعرض له ريح، فينبغي أن يمسك عن القراءة، حتى يتكامل خروجها، ثم يعود إلى القراءة، كذا رواه ابن أبي داود وغيره عن عطاء، وهو أدب حسن.
1. Di antaranya, apabila seseorang sedang membaca Al-Qur'an lalu merasa akan keluar angin (kentut), hendaknya ia menghentikan bacaannya sampai angin tersebut benar-benar keluar, kemudian kembali melanjutkan bacaannya. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dan yang lainnya dari Atha'. Adab seperti ini merupakan adab yang baik.
٢ - ومنها أنه إذا تثاءب أمسك عن القراءة حتى ينقضي التثاؤب ثم يقرأ.
2. Di antaranya, apabila seseorang menguap ketika sedang membaca Al-Qur'an, hendaknya ia menghentikan bacaannya hingga selesai menguap, kemudian melanjutkan kembali.
قال مجاهد : وهو حسن، ويدل عليه ما ثبت عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله ﷺ : إذا تثاءب أحدكم فليمسك بيده على فمه فإن الشيطان يدخل. رواه مسلم .
Mujahid berkata, "Ini adalah adab yang baik." Hal ini juga didukung oleh hadis sahih dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya dengan tangannya, karena setan masuk (melalui mulut yang terbuka)." (HR. Muslim)
٣ - ومنها أنه إذا قرأ قول الله عز وجل: ﴿ وقالت اليهود عزير ابن الله ، وقالت النصارى المسيح ابن الله ﴾ [التوبة : ٣٠]، ﴿ وقالت اليهود يد الله مغلولة ﴾ [المائدة : ٦٤]، ﴿ وقالوا اتخذ الرحمن ولدا ﴾ [مريم : ٨٨]، ونحو ذلك من الآيات ينبغي أن يخفض بها صوته، كذا كان إبراهيم النخعي رضي الله عنه يفعل.
Di antaranya, apabila membaca firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Uzair adalah anak Allah,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Al-Masih adalah anak Allah.'" (QS. At-Taubah: 30)
"Orang-orang Yahudi berkata, 'Tangan Allah terbelenggu.'" (QS. Al-Ma'idah: 64)
"Dan mereka berkata, 'Ar-Rahman mempunyai seorang anak.'" (QS. Maryam: 88)
serta ayat-ayat lain yang serupa, maka hendaknya ia merendahkan suaranya ketika membacanya. Demikianlah yang dilakukan oleh Ibrahim An-Nakha'i rahimahullah.
٤ - ومنها ما رواه ابن أبي داود بإسناد ضعيف عن الشعبي أنه قيل له: إذا قرأ الإنسان: ﴿إن الله وملائكته يصلّون على النبي﴾ يصلي على النبي ﷺ ؟ قال: نعم.
4. Di antara adab membaca Al-Qur'an adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan sanad yang lemah, dari Asy-Sya'bi. Beliau pernah ditanya, "Apabila seseorang membaca ayat:
'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.'
apakah ia hendaknya bershalawat kepada Nabi ﷺ?"
Beliau menjawab, "Ya."
٥ - ومنها أنه يستحب له أن يقول ما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ أنه قال: من قرأ والتين والزيتون فقال: ﴿أليس الله بأحكم الحاكمين﴾ فليقل بلى وأنا على ذلك من الشاهدين. رواه أبو داود والترمذي بإسناد ضعيف، عن رجل عن أعرابي عن أبي هريرة رضي الله عنه.
5. Di antaranya lagi, disunnahkan bagi orang yang membaca Al-Qur'an untuk mengucapkan doa sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Barang siapa membaca Surah At-Tin hingga ayat:
'Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?'
maka hendaklah ia mengucapkan:
'Benar, dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas hal itu.'"
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad yang lemah, melalui seorang perawi dari seorang Arab Badui, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
قال الترمذي : هذا الحديث إنما يروى بهذا الإسناد عن الأعرابي عن أبي هريرة ، قال: ولا يسمى.
Imam At-Tirmidzi berkata, "Hadis ini hanya diriwayatkan melalui sanad tersebut, dari seorang Arab Badui, dari Abu Hurairah." Beliau juga berkata, "Nama orang Arab Badui itu tidak disebutkan."
وروى ابن أبي داود والترمذي : ومن قرأ آخر لا أقسم بيوم القيامة ﴿أليس ذلك بقادر على أن يحيي الموتى﴾؟ فليقل بلى .
Ibnu Abi Dawud dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan bahwa:
"Barang siapa membaca akhir Surah Al-Qiyamah hingga ayat:
'Bukankah (Allah yang berbuat) demikian itu berkuasa menghidupkan orang-orang yang mati?'
maka hendaklah ia mengucapkan:
'Benar.'"
ومن قرأ: ﴿فبأي آلاء ربكما تكذبان﴾ أو ﴿فبأي حديث بعده يؤمنون﴾ فليقل: آمنت بالله.
Barang siapa membaca ayat:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu berdua dustakan?"
atau membaca ayat:
"Maka kepada perkataan (wahyu) yang manakah setelah Al-Qur'an ini mereka akan beriman?"
maka hendaklah ia mengucapkan:
"Aku beriman kepada Allah."
وعن ابن عباس رضي الله عنهما وابن الزبير وأبي موسى الأشعري رضي الله عنهم أنهم كانوا إذا قرأ أحدهم: ﴿سبح اسم ربك الأعلى﴾ قال: سبحان ربي الأعلى .
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, dan Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhum, bahwa apabila salah seorang dari mereka membaca ayat:
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi."
maka ia mengucapkan:
"Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi." (Subḥāna Rabbiyal-A‘lā).
وعن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه كان يقول فيها: «سبحان ربي الأعلى» ثلاث مرات .
Diriwayatkan pula dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau ketika membaca ayat tersebut mengucapkan:
"Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi."
sebanyak tiga kali.
وعن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه أنه صلى فقرأ آخر سورة بني إسرائيل ثم قال : ﴿الحمد لله الذي لم يتخذ ولدا﴾ .
Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau pernah shalat, lalu membaca akhir Surat Al-Isra' (Bani Israil), kemudian mengucapkan:
"Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak."
وقد نص بعض أصحابنا على أنه يستحب أن يقال في الصلاة ما قدمناه.
Sebagian ulama dari kalangan mazhab kami (mazhab Syafi'i) telah menegaskan bahwa disunnahkan mengucapkan zikir-zikir yang telah disebutkan di atas, termasuk ketika sedang dalam shalat.
وفي حديث أبي هريرة في السور الثلاث، وكذلك يستحب أن يقال باقي ما ذكرناه وما كان في معناه، والله أعلم.
Demikian pula berdasarkan hadis Abu Hurairah mengenai tiga surat tersebut, disunnahkan mengucapkan jawaban-jawaban yang telah disebutkan, begitu juga setiap ucapan lain yang semakna dengannya ketika membaca ayat-ayat yang sesuai.
Kembali 6h | IndeX | Lanjut 6j
Tidak ada komentar:
Posting Komentar