Rabu, 25 Juni 2025

Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW - Bagian ke : 43

 

 Raudhatul Anwar Fi Sirotin Nabiyyil Mukhtar

Oleh : Syaikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuriy

 

Kembali ke bagian 42 | IndeX | Selanjutnya ke Bagian 44

 

6- Nabi ﷺ menulis surat kepada penguasa Busra:

Dalam surat itu, beliau mengajaknya masuk Islam, dan mengutus surat tersebut bersama Harits bin ‘Umair al-Azdi – raḍiya Allāhu ‘anhu –. Ketika ia sampai di Mu’tah – yang termasuk wilayah al-Balqā’ di selatan Yordania – ia dihadang oleh Syurahbil bin ‘Amru al-Ghassāni, lalu dipenggal lehernya.

Ini merupakan tindakan paling agresif terhadap para utusan, karena tidak ada seorang pun utusan Rasulullah ﷺ yang dibunuh selain dia. Rasulullah ﷺ sangat bersedih atas kejadian itu, hingga peristiwa tersebut mengarah pada terjadinya Perang Mu’tah, yang akan kita bahas nanti.

 

7- Nabi ﷺ menulis surat kepada Hawdzah bin ‘Ali, penguasa Yamamah (sekarang di wilayah Najed, Arab Saudi):

Isi suratnya: 'Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Rasul Allah, kepada Hawdzah bin ‘Ali. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Ketahuilah bahwa agamaku akan tersebar hingga ke ujung wilayah unta dan kuda (yakni seluruh penjuru). Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Aku akan tetap memberimu kekuasaan atas apa yang ada di bawah kekuasaanmu.'

Nabi ﷺ mengutus surat itu bersama Sulaith bin ‘Amru al-‘Āmiri. Hawdzah pun memuliakannya, memberinya hadiah, dan memberinya pakaian dari kain tenun Hajar, lalu ia menulis balasan:

Alangkah indahnya ajakanmu dan betapa eloknya apa yang engkau serukan. Aku adalah penyair dan juru bicara bagi kaumku, dan orang-orang Arab segan kepadaku. Maka berikanlah aku sebagian kekuasaan, niscaya aku akan mengikutimu.

Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: 'Seandainya dia meminta kepadaku sepetak tanah pun, niscaya aku tidak akan memberikannya. Ia binasa, dan binasalah apa yang ada di tangannya.' Kemudian ia (Hawdzah) pun meninggal dunia sepulang Rasulullah ﷺ dari penaklukan Makkah.

#. Kata "باد" berarti binasa atau lenyap.

 

8- Rasulullah ﷺ menulis surat kepada Mundzir bin Sāwā, raja Bahrain:

Dalam surat itu, beliau mengajaknya masuk Islam. Beliau mengutus surat ini bersama al-‘Alā’ bin al-Ḥaḍramī. Maka al-Mundzir pun masuk Islam, dan sebagian penduduk Bahrain juga memeluk Islam, sementara yang lainnya tetap dalam agama mereka, yaitu Yahudi atau Majusi. Mundzir kemudian menulis surat kepada Rasulullah ﷺ untuk memberitahukan hal tersebut dan meminta petunjuk. Maka Rasulullah ﷺ membalas suratnya, memerintahkannya agar membiarkan kaum Muslimin tetap dalam keadaan Islam mereka, dan memungut jizyah [الجزية] dari orang-orang Yahudi dan Majusi. Dan (beliau bersabda): 'Selama engkau berlaku baik, kami tidak akan mencopotmu dari jabatanmu.'

#. Jizyah [الجزية] adalah pajak yang dibayar oleh non-Muslim sebagai bentuk perlindungan negara Islam, dan sebagai pengganti dari kewajiban militer.

 

9- Rasulullah ﷺ menulis surat kepada dua raja Oman, yaitu Jaifar dan saudaranya:

Isi suratnya: 'Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, Rasul Allah, kepada Jaifar dan ‘Abdu, putra-putra al-Julanda. Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. Amma ba‘du, aku mengajak kalian kepada ajaran Islam. Masuk Islamlah, niscaya kalian akan selamat. 

Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk seluruh manusia, agar aku memberi peringatan kepada orang yang masih hidup dan supaya pastilah ketetapan terhadap orang-orang kafir. 

Jika kalian berdua menerima Islam, aku akan mempertahankan kekuasaan kalian. Namun jika kalian menolak untuk menerima Islam, maka kekuasaan kalian akan lenyap, dan pasukan berkuda akan mendatangi halaman kalian, dan kenabianku akan mengalahkan kerajaan kalian.'

Rasulullah ﷺ mengutus surat itu bersama ‘Amru bin al-‘Āṣh – raḍiyallāhu ‘anhu. Ketika ia tiba di Oman, ia bertemu dengan ‘Abdi bin Julanda. ‘Abdi pun bertanya kepadanya tentang ajaran yang ia bawa. Maka ‘Amru menjawab: 'Untuk menyembah Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya; meninggalkan semua sesembahan selain-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.' 

Setelah terjadi dialog antara mereka, ‘Abdi pun bertanya lagi tentang ajaran-ajaran yang diperintahkan. 

Maka ‘Amru menjawab: 'Ia (Nabi ﷺ) memerintahkan untuk taat kepada Allah dan melarang maksiat kepada-Nya; memerintahkan kebaikan dan menyambung tali silaturahmi; melarang kezaliman, permusuhan, zina, meminum khamer, serta menyembah batu, berhala, dan salib.'

‘Abd berkata: 'Alangkah indahnya ajaran yang dia serukan ini. Andai saja saudaraku bersedia mengikutiku dalam hal ini, tentu kami akan segera berangkat untuk beriman kepada Muhammad dan membenarkannya. Tetapi saudaraku terlalu sayang terhadap kekuasaannya, sehingga enggan meninggalkannya dan menjadi pengikut (bukan pemimpin).'"

#. Kata [أضن بملكه] berarti terlalu pelit atau sayang untuk melepaskan kekuasaannya.

#. Secara harfiah lafadz [ذنبًا] berarti "ekor", namun dalam konteks ini bermakna "pengikut atau orang bawahan" – yakni bukan lagi pemimpin utama.

‘Amru berkata: 'Jika saudaramu masuk Islam, Rasulullah ﷺ akan tetap menjadikannya penguasa atas kaumnya. Ia akan mengambil zakat dari orang-orang kaya mereka lalu memberikannya kepada orang-orang miskin mereka.' Maka ‘Abdu berkata: 'Sungguh, ini adalah akhlak yang mulia.' 

Kemudian ia bertanya tentang zakat, dan ‘Amru menjelaskan rinciannya. 

Namun ketika sampai pada pembahasan tentang hewan ternak, ia berkata: 'Aku tidak melihat kaumku akan rela dengan hal ini.'

Kemudian ‘Abdu mengantarkan ‘Amru kepada saudaranya, Jaifar. Lalu ‘Amru menyerahkan surat (dari Rasulullah ﷺ), dan Jaifar pun membacanya, kemudian memberikannya kepada saudaranya (‘Abdu). 

Ia lalu bertanya kepada ‘Amru tentang apa yang telah dilakukan oleh kaum Quraisy. 

Maka ‘Amru memberitahunya bahwa mereka telah masuk Islam, dan bahwa jika ia (Jaifar) masuk Islam, maka ia akan selamat. Tetapi jika tidak, maka pasukan berkuda akan menginjak negerinya dan menghancurkan wilayah hijaunya (yakni memusnahkan kekuasaannya)."

#. Secara harfiah lafadz [خضراءه] berarti "yang hijau darinya", yaitu kiasan untuk tanah subur, kemakmuran, atau kekuasaan.

#. Ungkapan lafadz [وطئته الخيل] berarti "akan diinjak oleh pasukan berkuda", sebuah peringatan akan datangnya kekuatan militer Islam jika ajakan damai tidak diterima.

Jaifar menunda keputusannya sampai esok hari. 

Ketika hari esok tiba, ia menunjukkan sikap tegas dan seolah tetap bertahan. 

Namun ia menyendiri bersama saudaranya dan meminta pendapatnya. 

Lalu pada hari berikutnya, ia dan saudaranya pun masuk Islam, dan mereka memberi keleluasaan kepada ‘Amru untuk memungut zakat, serta menjadi penolong dalam menghadapi siapa saja yang menentangnya.

#. Lafadz [أبدى القوة والصمود] adalah sikap menunjukkan upaya menjaga wibawa dan posisi, meskipun dalam hati sudah mulai mempertimbangkan ajakan Islam.

Surat ini dikirim kepada ‘Abdu dan Jaifar setelah penaklukan Makkah, adapun surat-surat lainnya telah dikirim setelah Rasulullah ﷺ kembali dari Hudaibiyah.

 

Antara kaum Muslimin dan pihak-pihak lain

Perjanjian Hudaibiyah merupakan suatu kesepakatan yang menetapkan penghentian perang selama sepuluh tahun. Berkat perjanjian ini, Rasulullah ﷺ merasa aman dari musuh terbesarnya di Jazirah Arab, yaitu kaum Quraisy. Maka beliau pun dapat fokus untuk menyelesaikan urusan dengan musuh paling licik yang penuh tipu daya, pengkhianatan, dan hasutan terhadap al-Ahzab, yaitu kaum Yahudi. Mereka bermarkas di Khaibar dan daerah-daerah sekitarnya di bagian utara. Ketika beliau tengah bersiap-siap untuk berangkat menuju mereka, terjadi suatu insiden kecil lainnya, yaitu Perang Ghabah [الغابة].

#. Al-Ghābah [الغابة] adalah nama sebuah tempat yang terletak tidak jauh dari Madinah, kira-kira sekitar 9 mil (±14 km) di sebelah barat laut kota. Tempat ini memiliki pepohonan dan padang rumput yang sering digunakan oleh kaum Muslimin untuk menggembala ternak mereka, khususnya unta

#. Al-Ahzab" [الأحزاب] merujuk pada Koalisi musuh, Partai-partai atau golongan.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar