Sabtu, 14 Juni 2025

TARIKH KHULAFA - Bagian ke : 17

TARIKH KHULAFA


Kembali 16IndeX | Lanjut 18

 

 

خطبة الصديق رضي الله عنه بعد البيعة

Khutbah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. setelah baiat



Dan Ibnu Ishaq berkata dalam as-Sirah: Telah menceritakan kepadaku az-Zuhri, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik, ia berkata:

(Ketika Abu Bakar dibaiat di Saqifah, dan keesokan harinya… Abu Bakar duduk di atas mimbar. Maka Umar berdiri dan berbicara sebelum Abu Bakar. Ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu berkata: 'Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan urusan kalian di tangan orang terbaik di antara kalian, sahabat Rasulullah ﷺ, orang kedua dari dua orang saat keduanya berada di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan berbaiatlah kepadanya.' Maka orang-orang pun berbaiat kepada Abu Bakar dengan baiat umum setelah baiat di Saqifah).



Lalu Abu Bakar berbicara, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata:

“Amma ba’du. Wahai manusia, sungguh aku telah diangkat (menjadi pemimpin) atas kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku. Dan jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku. Kejujuran itu adalah amanah, dan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Orang lemah di antara kalian adalah kuat di sisiku hingga aku mengembalikan haknya insyaAllah. Dan orang kuat di antara kalian adalah lemah di sisiku hingga aku mengambil darinya hak orang lain insyaAllah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah timpakan kehinaan atas mereka. Dan tidaklah perbuatan keji merajalela di suatu kaum, melainkan Allah akan menimpakan bala atas mereka seluruhnya. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatiku. Sekarang, marilah tegakkan shalat kalian, semoga Allah merahmati kalian.”



Diriwayatkan oleh Musa bin ‘Uqbah dalam al-Maghazi, dan al-Hakim (serta ia mensahihkannya) dari Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata:

"Abu Bakar berkhutbah, lalu berkata: 'Demi Allah, aku tidak pernah sedikit pun menginginkan jabatan kepemimpinan ini, tidak siang dan tidak malam, dan aku tidak pernah berharap memilikinya, serta tidak pernah aku memohon kepada Allah baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Namun aku khawatir akan terjadinya fitnah (perpecahan di tengah umat). Dan aku tahu, tidak ada dalam kepemimpinan ini suatu kesenangan bagiku. Sungguh aku telah dibebani dengan urusan yang sangat besar, yang aku tidak memiliki kekuatan dan kemampuan menghadapinya kecuali dengan pertolongan Allah.’



Lalu Ali dan Zubair berkata:

‘Kami tidak marah (atas apa yang terjadi) kecuali karena kami tidak diajak bermusyawarah. Dan kami memandang Abu Bakar adalah orang yang paling berhak atas urusan ini. Dialah sahabat di dalam gua bersama Rasulullah ﷺ. Kami mengenal kemuliaan dan kebaikannya. Dan sungguh, Rasulullah ﷺ telah memerintahkannya untuk mengimami shalat ketika beliau masih hidup.’



Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Ibrahim at-Taimi, ia berkata:

"Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Umar mendatangi Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, lalu berkata: ‘Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu. Karena engkau adalah orang kepercayaan umat ini di atas lisan Rasulullah ﷺ.’ Maka Abu ‘Ubaidah berkata kepada Umar: ‘Aku belum pernah melihatmu melakukan kekeliruan seperti ini sejak engkau masuk Islam. Apakah engkau hendak membaiatku, padahal di tengah kalian ada Ash-Shiddiq, orang kedua dari dua orang yang berada di dalam gua?’”



Kata "الفَهْة" artinya: lemah pendapatnya atau kurang tepat dalam berpikir.



Dan diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d juga dari Muhammad, bahwa Abu Bakar berkata kepada Umar:

"Ulurkan tanganmu, kami akan membaiatmu." Maka Umar berkata kepadanya: "Engkau lebih utama dariku."

Lalu Abu Bakar berkata: "Engkau lebih kuat dariku."

Umar menjawab: "Kalau begitu, kekuatanku akan menjadi pendukung bagi keutamaanmu."

Maka orang-orang pun membaiat Abu Bakar."



Diriwayatkan oleh Ahmad dari Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata:

"Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar berada di suatu tempat di pinggiran Madinah. Ia pun datang, membuka penutup wajah beliau, lalu menciumnya seraya berkata: 'Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, betapa harum engkau semasa hidup dan setelah wafat! Muhammad telah wafat, demi Tuhan Ka'bah…'” — kemudian ia menyebutkan kelanjutan hadis tersebut.



Kemudian Abu Bakar dan Umar berjalan beriringan hingga sampai kepada orang-orang. Lalu Abu Bakar berbicara, dan tidak menyisakan sedikit pun dari apa yang diturunkan tentang keutamaan Anshar atau yang pernah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ mengenai mereka, kecuali ia sebutkan.

Dan ia berkata: "Sungguh kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Seandainya manusia menempuh suatu lembah dan kaum Anshar menempuh lembah lain, niscaya aku akan menempuh lembah kaum Anshar.'

Dan sungguh engkau, wahai Sa’ad, telah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, dan saat itu engkau hadir: 'Quraisy adalah pemimpin urusan ini (kepemimpinan umat). Orang baik mereka akan diikuti oleh orang baik lainnya, dan orang jahat mereka akan diikuti oleh orang jahat lainnya.'”



Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata:

"Ketika orang-orang membaiat Abu Bakar… beliau melihat ada sebagian orang yang tampak enggan dan berat hati, maka beliau berkata: ‘Wahai manusia, apa yang membuat kalian enggan? Bukankah aku orang yang paling berhak atas urusan ini? Bukankah aku orang pertama di antara kalian yang masuk Islam? Bukankah aku…’ lalu beliau menyebutkan beberapa keutamaan lainnya.



Diriwayatkan oleh Ahmad dari Rafi’ ath-Tha’i, ia berkata:

"Abu Bakar telah menceritakan kepadaku tentang baiatnya, tentang apa yang dikatakan oleh kaum Anshar, dan tentang apa yang diucapkan oleh Umar. Beliau berkata: ‘Maka mereka pun membaiatku, dan aku menerima baiat itu dari mereka, namun aku khawatir akan terjadi fitnah yang bisa berujung pada kemurtadan setelahnya.’”



Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu ‘Aidh dalam Maghazinya bahwa ada seseorang berkata kepada Abu Bakar:

"Apa yang mendorongmu untuk memimpin urusan manusia, padahal engkau dahulu pernah melarangku untuk memimpin atas dua orang saja?" Maka Abu Bakar menjawab: 'Aku tidak melihat adanya jalan lain selain itu. Aku khawatir akan terjadinya perpecahan di tengah umat Muhammad ﷺ.'”



Diriwayatkan oleh Ahmad dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata:

"Aku pernah duduk bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq sebulan setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Lalu ada suatu peristiwa disebutkan, maka diumumkan kepada orang-orang: ‘Ash-shalatu jami’ah (shalat berjamaah)!’ — dan itu adalah seruan pertama yang dikumandangkan di kalangan kaum Muslimin dengan seruan 'Ash-shalatu jami’ah'. Maka orang-orang pun berkumpul, lalu Abu Bakar naik ke atas mimbar, dan berkata: ‘Wahai manusia, sungguh aku berharap seandainya urusan ini dipikul oleh selainku. Demi Allah, jika kalian menuntutku untuk mengikuti sunnah Nabi kalian… aku tidak akan sanggup sepenuhnya. Beliau adalah orang yang terjaga dari godaan setan, dan wahyu turun kepadanya dari langit.’”



Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari al-Hasan al-Bashri, ia berkata:

"Ketika Abu Bakar dibaiat… beliau berdiri berkhutbah lalu berkata:

'Amma ba’du. Sesungguhnya aku diangkat untuk mengemban urusan ini dalam keadaan aku membencinya. Demi Allah, sungguh aku berharap seandainya ada di antara kalian yang memikulnya menggantikan aku. Ketahuilah, jika kalian menuntutku untuk berbuat di tengah kalian seperti perbuatan Rasulullah ﷺ, niscaya aku tidak akan sanggup. Karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ adalah seorang hamba yang dimuliakan Allah dengan wahyu dan dijaga dengannya. Ketahuilah, aku ini hanyalah manusia biasa, bukan orang terbaik di antara kalian. Maka perhatikanlah aku. Jika kalian melihat aku lurus, ikutilah aku. Dan jika kalian melihat aku menyimpang, luruskanlah aku. Ketahuilah, sesungguhnya aku memiliki setan yang sesekali mempengaruhiku. Jika kalian melihat aku marah… jauhilah aku. Dan janganlah aku sampai berbuat zalim terhadap darah dan harta kalian.'”



Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dan al-Khatib dalam Ruwāt Mālik, dari ‘Urwah, ia berkata:

"Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah… beliau berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata:

'Amma ba’du. Sesungguhnya aku telah diangkat untuk memimpin urusan kalian, padahal aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Akan tetapi, Al-Qur’an telah diturunkan, dan Nabi ﷺ telah menetapkan sunnah-sunnahnya, lalu kami pun belajar dan memahami. Maka ketahuilah, wahai manusia, bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling bertakwa, dan orang yang paling lemah adalah orang yang berbuat maksiat. Dan ketahuilah, bahwa orang yang paling kuat di sisiku adalah yang lemah di antara kalian, sampai aku kembalikan haknya kepadanya insyaAllah. Dan orang yang paling lemah di sisiku adalah orang yang kuat di antara kalian, sampai aku ambil darinya hak orang lain insyaAllah. Wahai manusia, ketahuilah bahwa aku hanyalah seorang pengikut, bukan pembuat aturan baru. Maka jika aku berbuat baik… bantulah aku. Dan jika aku menyimpang… luruskanlah aku. Aku mengucapkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.'”




(Kata Imam Malik:)

"Tidak selayaknya seseorang menjadi pemimpin kecuali dengan syarat (seperti ini)."



Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:

"Ketika Rasulullah ﷺ wafat… Makkah pun gempar. Maka Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) mendengar suara kegemparan itu, lalu berkata: 'Ada apa ini?' Mereka berkata: 'Rasulullah ﷺ telah wafat.'

Beliau berkata: 'Peristiwa yang agung… Lalu siapa yang mengurus perkara (kepemimpinan) setelah beliau?'

Mereka menjawab: 'Putramu (Abu Bakar).'

Beliau berkata: 'Apakah Bani Abd Manaf dan Bani al-Mughirah rela dengan hal itu?'

Mereka menjawab: 'Ya.'

Beliau pun berkata: 'Kalau begitu, tidak ada yang bisa merendahkan sesuatu yang telah Allah angkat derajatnya, dan tidak ada yang bisa mengangkat sesuatu yang telah Allah rendahkan.'”



Diriwayatkan oleh al-Waqidi melalui berbagai jalur dari Aisyah, Ibnu Umar, Sa’id bin al-Musayyib, dan selain mereka:

"Bahwa Abu Bakar dibaiat pada hari wafatnya Rasulullah ﷺ, yaitu hari Senin, dua belas malam berlalu dari bulan Rabi’ul Awwal tahun sebelas hijriyah."


Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Awsath dari Ibnu Umar, ia berkata:

"Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak pernah duduk di tempat duduk Rasulullah ﷺ di atas mimbar hingga beliau wafat. Begitu pula Umar tidak pernah duduk di tempat duduk Abu Bakar hingga ia wafat, dan Utsman pun tidak duduk di tempat duduk Umar hingga ia wafat."

 

Kembali 16IndeX | Lanjut 18



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar